Senin, Juli 28, 2008

Humor Pesantren: Ketegangan yang Berbuah Tawa*

Oleh: Farid Mustofa**

“Yai, orang mati pas ditanya malaikat itu kita bisa ndengerin tidak?”, tanya santri.

“Ya nggak bisa, kan dikubur”, jawab Kyai sambil lalu.

Kan kita bisa nempelin telinga di tanah atau dipasangi mic. Bisa dengar gedobrakan siksa kalau nggak bisa njawab”.

Nggak. Alamnya beda. Mereka di akhirat”

“Berarti akhirat itu sudah ada?”

“Hm”

“Neraka juga sudah ada?”

“Hh”

Kan belum kiamat?”

“Biar”

“Kosong pa isi?”

“Isi”

“Isinya siapa?”

“Hh”

“Siapa e?”

“Isinya ya orang-orang kayak kamu itu, yang kalau tanya nggak mutu!”

***

Dialog di atas tidak pernah terjadi di pesantren. Di dunia pesantren Kyai adalah sosok sentral kharismatik, bijak, berilmu, dan sangat dihormati. Sementara santri adalah murid yang terhadap kyainya bukan hanya berkedudukan sebagai pencari ilmu tetapi juga sebagai pengharap berkah.

Santri – kata Dawam Rahardjo dalam bukunya Pesantren dan Pembaharuan-- adalah siswa yang tinggal di pesantren guna menyerahkan diri untuk memperoleh kerelaan dari kyainya. Gus Dur mengatakan kerelaan inilah yang dimaksud dengan barakah, berkah. Di hati santri kyai hadir sebagai sosok agung, beraura suci, teduh, wibawa, dan sekaligus nyaris tak tersentuh.

Dengan definisi ini berarti status santri adalah medium untuk menciptakan ketundukan pada tata nilai dalam pesantren kepada kyai yang merupakan hirarki kekuasaan tertinggi. Inilah tawadu-positioning yang tidak mudah dijelaskan dan akibatnya sering disalahpahami orang sebagai kultus. Posisi diametral kyai-santri ini lalu memunculkan tensionalitas (ketegangan), keengganan, dan bahkan ‘keterhimpitan’, yang tentu saja dialog seperti di atas jelas tidak memiliki ruang di dalamnya.

Namun Tuhan tidak membiarkan umatnya tidak nyaman di situasi yang sebenarnya baik-baik saja itu. Diberinya imajinasi. Satu anugerah dan bekal yang memungkinkan orang survive ketika terdesak, kreatif ketika terhimpit, dan mengubah ketegangan relasi kyai-santri seperti di atas menjadi kerenyahan, sekalipun sebatas realitas virtual. Dan apa yang bisa dibayangkan jika ternyata benar-benar terjadi dalam keseharian pesantren? Tentu kelucuan yang mengundang tawa.

“Kita tertawa”, kata filsuf Jerman Schopenhaeur, “bila secara tiba-tiba kita menyadari ketidaksesuaian antara konsep dengan realitas yang sebenarnya”. Menurut Teori Bisosiasi yang dirumuskan Arthur Koestler tapi berasal dari filsuf-filsuf besar seperti Blaice Pascal, Immanuel Kant, Herbert Spencer, dan Schopenhaeur ini, humor timbul karena orang menemukan hal-hal yang tidak diduga, atau kalimat, juga kata, yang menimbulkan dua macam asosiasi. Yang pertama disebut belokan mendadak (unexpected turn), dan yang kedua asosiasi ganda (puns).

Beberapa humor pesantren juga bisa dijelaskan dengan Teori Pelepasan Inhibisi. Istilah inhibisi sendiri dari Sigmund Freud. Kita, kata Freud, banyak menekan ke alam bawah sadar kita pengalaman tidak enak atau keinginan yang tidak bisa kita wujudkan (yang secara sosial tidak bisa diterima, menurut istilah psikologi). Dorongan yang kita tekan ke bawah sadar itu lalu bergabung dengan kesenangan bermain dari masa kanak-kanak kita. Bila dorongan ini kita lepaskan dalam bentuk yang bisa diterima, kita melepaskan inhibisi. Kita merasa senang karena lepas dari sesuatu yang menghimpit kita. Kita melepaskan diri dari ketegangan. Suasana kaku, kikuk, tegang antara kyai-santri dilepas dan berubah akrab bahkan lucu. Bersama Freud, yang juga menganut teori ini adalah filsuf Charles Bernard Renouvier, Auguste Penjon, dan John Dewey.

Teori lainya adalah Superioritas. Menurut Plato orang tertawa bila menyaksikan sesuatu yang janggal. Orang juga geli melihat orang lain keliru, atau cacat, kata Aristoteles. Sebagai subyek, kita tertawa karena merasa punya kelebihan (superioritas), sedang obyek tertawa kita sifatnya rendah ‘menggelikan’. “Ketika tertawa”, kata Henry Bergson, “kita ternyata diam-diam bermaksud merendahkan”.

Teori ini menjelaskan tradisi guyon gasakan antar santri yang terkadang sangat ‘kejam’ karena boleh memperolok cacat atau kekurangan apapun lawannya. Seolah dilombakan seperti debat terbuka, guyon begini ditonton oleh banyak santri, dan baru berhenti setelah ada yang kalah, yaitu yang marah atau jengkel lantaran tidak tahan diolok. Konon ini salah satu latihan alami sebelum terjun ke masyarakat.
***
Menurut Darminto Sudarmo, Redaktur Majalah HUMOR, humor terjadi karena dua sebab: pertama, tak sengaja: kedua, disengaja. Humor tak sengaja berkait semua kejadian faktual lucu yang berkaitan dengan tokoh atau peristiwa. Humor sengaja, sebaliknya adalah hasil kreasi manusia. Bisa digolongkan sebagai buah karsa, karya dan cipta umat manusia.

Pertama, guyon parikena. Isi leluconnya bersifat nakal, agak menyindir. Tapi tidak tajam-tajam amat. Bahkan cenderung sopan. Dilakukan oleh bawahan kepada atasan atau orang yang lebih tua atau yang lebih dihormati. Atau kepada pihak lain yang belum akrab benar. Santri melakukan ini kepada santri lain, santri baru, paling banter pada kakak santri yang jadi pengurus. Tidak pernah pada guru apalagi Kyai.

Kedua, satire dan sinisme. Sama-sama menyindir atau mengkritik tapi muatan ejekannya lebih dominan. Bila tak pandai-pandai memainkannya, jurus ini bisa sangat membebani dan sangat tidak mengenakkan. Kecenderungannya memandang rendah pihak lain. Lelucon ini lebih banyak digunakan pada situasi konfrontatif. Targetnya, membuat lawan atau pihak lain, mati kutu. Bahkan, cemar! Ini khusus antar santri. Tidak ada yang berani mencoba ke Kyai.

Ketiga, pelesetan. Orang Barat menyebutnya imitation and parody. Di Indonesia, seringkali juga disebut parodi. Isinya memelesetkan segala sesuatu yang telah mapan atau populer. Ia menjadi semacam alat eskapisme dari kesumpekan keadaan. Terobosannya lewat pintu tak terduga dan ini cukup mengundang surprise. Istilah seperti ‘ulil albab’ diartikan ahli lobi, ‘ahli hisab’ jadi perokok, dan sebagainya.

Keempat, slapstick. Orang terjengkang. Kepala dipukul pakai tongkat. Pendek kata bernuansa fisik. Lelucon ini cukup efektif untuk memancing tawa. Beberapa film kartun untuk konsumsi anak-anak juga banyak menampilkan lelucon model ini. Guru ngaji galak biasa jadi bahan lelucon ini.

Kelima, olah logika. Lelucon bergaya analisis. Sering disinggung oleh Arthur Koestler dalam teori bisosiatifnya. Lelucon ini banyak digemari oleh masyarakat tertentu, terutama dari kalangan terdidik.
“Kita harus mewaspadai bahaya provokasi dan provokator!” teriak santri dalam sebuah latihan pidato. “Apa bedanya?” Tanya Kyai. “Provokasi itu tingkat propinsi, Yai. Kalau provokator itu tingkat pusat.”

Keenam, superioritas-interioritas. Lelucon yang muncul karena melihat cacat, kesalahan, kebodohan, pihak lain.
Perhatikan dialog dua orang tuli berikut.
“Darimana, Kang? Dari mancing ya?”
“Nggak. Dari mancing kok”
“Oalah, saya kira dari mancing”

Ketujuh, kelam. Sering juga disebut black humor atau sick joke. Isinya soal malapetaka. Kengerian. Lelucon tentang orang yang dipenggal kepalanya, bunuh diri, pemerkosaan dan sejenisnya. Pendek kata berisi tentang segala sadisme dan kebrutalan.

Kedelapan, seks. Bukan seks dalam arti gender atau jenis kelamin, tetapi seks yang mengandung makna menjurus ke porno-pornoan. Atau bahkan, full porno. Karena sifatnya yang ringan tak perlu mikir lelucon ini efektif mengundang tawa.

Kesembilan, apologisme. Ini bukan untuk melucu, tetapi justru untuk berlindung di balik lelucon. Semacam senjata. Upaya pembenaran yang tergolong "pengecut" karena ketidakberdayaan mempertanggungjawabkan lontaran, pernyataan atau perbuatannya yang ternyata tak memiliki dasar/argumen. Untuk menetralisasikan, karena biasanya enggan mengakui kesalahan, lalu berkilah, "Ah, hanya guyon kok.”
***
Humor adalah energi budaya yang kandungan pengertiannya amat rumit. Humor yang muncul karena persinggungan budaya, bahasa, bahkan simbol-simbol religi; humor karena kenaifan atau kejujuran karena salah perhitungan dan lain-lain, adalah fakta yang membuktikan bahwa efek kelucuan bisa dicapai dengan banyak sekali jurus. Tidak peduli itu terjadi di kantor, sawah, rumah, pasar, bahkan pesantren dan seminari.
Rejodani, 24 Juli 2008

*Tulisan ini merupakan makalah yang disampaikan penulis dalam diskusi Jojoncenter bersama Impulse dengan tema "Ayat-ayat Tawa; Dialog Tawa di Pesantren-Seminari" yang diselenggarakan di halaman Kanisius pada Kamis, 24 Juli 2008.
**Penulis adalah pengajar di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Posted by JC at 18:31:26 | Permanent Link | Comments (0) |

Jumat, May 30, 2008

Korap Cak!*

Oleh: Adrozen Ahmad

Namanya Bintang Maulana Zakariya. Usianya baru 14 tahun tapi sudah ‘menjabat’ sebagai penerbit sekaligus penulis media Korap Cak! alias ‘Korane Wong Sarap’—kata ‘Cak’ dimaksudkan sebagai kata panggilan akrab bagi orang Jawa Timur.

Koran yang baru terbit dua edisi ini adalah kreasi murid kelas dua Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Malang. Ditulis tangan di atas kertas folio bekas, di tengahnya diberi tagline berbunyi ‘Selalu Ada yang Lama’ dengan mencantumkan label harga Rp. 1.000. Dicetak 12 halaman dengan oplah tergantung sisa kertas kerja ayahnya, Khoirul Abadi, dosen Universitas Muhammadiyah Malang.

Sistem rubrikasinya juga tak kalah sophisticated dengan media cetak beneran. Beberapa di antaranya ada rubrik sastra dan olahraga.

Yang menarik lagi adalah isinya; reportase imajiner khas anak kreatif. Untuk ilustrasi fotonya digunting begitu saja dari koran atau majalah atau membikin sendiri karikatur atau komik—lantas dikasih judul, caption dan content sesuka hatinya.

Dalam rubrik olahraga misalnya, sebuah foto guntingan bergambar mobil balap Ferrari dikasih judul ”Lho.. Ferrari Kok Ngadat Ya?”. Kemudian di kolom beritanya ditulis, ‘Felippe Massa, pembalap Ferrari, merasa dirinya goblok lantaran mobilnya ngadat saat bertanding. ”My car is very bad,” ungkap Felippe saat ditemui tim Korap Cak! di Australia kemarin..”

Selanjutnya, coba tebak apa yang ada di rubrik sastra; plesetan sejumlah peribahasa. Misalnya: “Air susu dibalas dengan air mail”, “Ma’lu bertanya Ma’gue yang jawab”, “Nasir sudah menjadi tukang bubur,” dan lain sebagainya.

Itu belum apa-apa. Korap Cak! juga memiliki space untuk iklan yang tak kalah kocak. Misalnya, gambar Mak Erot digunting dan teksnya diganti. “Awas! Mak Erot ‘tembakan’. Cari Mak Erot asli.”

Tidak berhenti sampai di situ. Selain Korap Cak! Bintang juga bikin pamflet dan poster dari kalender bekas. Inilah penyebab dia diadukan ke Kepolisian karena pamflet bikinan Bintang dianggap mencemarkan nama baik sebuah Yayasan Pendidikan dan anak salah seorang pengelola Yayasan tersebut. Padahal Bintang terhitung masih di bawah umur, apakah hukum bisa menjangkaunya?

Terlepas dari masalah hukum dan personal affair (jika ada) di antara kedua pihak, inilah apa yang diperdebatkan Henri Bergson dan beberapa analis komedi—salah satunya adalah Earl Shaftesbury, tentang pertanyaan kunci mengenai humor. Bergson mengajukan gagasan bahwa yang inti adalah ’Apa yang menyebabkan seorang individu tertawa?’** sedangkan Shaftesbury bertanya sebaliknya, ’Apa efek sosial dari lelucon?’***

Dalam konteks Bintang dan Korap Cak!-nya perdebatan kedua kubu ini relevan. Bintang memandang lelucon dari sudut pandang Bergson bahwa ia akan mendapatkan efek dari lelucon dengan koran mini usil dan pamflet sederhana bikinannya yang ditempel pada dinding bangunan Yayasan tersebut.

Sementara pihak Yayasan penggugat keluarga Bintang melihat dari sudut pandang Shaftesbury, bahwa lelucon bikinan Bintang bisa mengakibatkan rusaknya nama baik Yayasan dan keluarga penggugat—sebagai efek dari lelucon bikinan Bintang.

Tapi apapun itu, bagi saya bintang adalah anak yang cerdas. Bahkan almarhum Romo Mangun punya istilah yang lebih tepat untuk anak macam dia yaitu, ‘nakal’ alias banyak akal.**** ‘Nakal’ karena komentar-komentar dalam koran mininya, dan banyak akal karena produktivitas dan kreativitasnya dalam berkarya.

Kalau saya punya institusi yang bisa kasih penghargaan untuk Bintang, akan saya beri dia penghargaan Komedian Award 2008 untuk kategori kreator media cilik.

*Cerita tentang Bintang dan Korap Cak!-nya ini merupakan Laporan dalam rubrik Hukum Majalah Tempo edisi 26 Mei-1 Juni 2008 hal. 48 dengan judul Pencemaran Nama Baik; Poster Usil Koran Folio. Disunting sebagian oleh penulis dengan mengubah teks seperlunya.

**Henri Bergson, Laughter; An Essay on The Meaning of Comic, terj. Cloudesley Brereton and Fred Rothwell, 2003.

***Michael Billig, Laughter and Ridicule; Toward a Social Critique of Humour, 2005.

****YB. Mangunwijaya, Impian dari Yogyakarta, 2003.

Posted by JC at 16:34:59 | Permanent Link | Comments (0) |