Usnan ‘Ucok Baba’ Batubara: Badan Mungil, Kemauan Besar

Sumber: Republika Online | Minggu, 11 Mei 2003

Badan mungil adalah modal dasar yang dibawa Ucok Baba (32 tahun) ke dunia hiburan yang gemerlap. Kondisi fisik seperti ini memang menjadikannya mudah diingat orang. Apalagi ditambah dengan aksi yang heboh dan pembawaan lucu, kloplah Ucok Baba sebagai penghibur yang lekat di kepala audiensnya.

Ia tidak malu dengan kondisi fisiknya yang lain dengan orang kebanyakan. Padahal bukan sekali dua kali, ada lontaran tidak mengenakkan dialamatkan padanya. ”Biar aja, saya kan tidak minta makan atau minta apa sama orang itu,” tegas Ucok, dengan gayanya yang khas.

Tidak sekadar berusaha memunculkan rasa percaya diri untuk dirinya sendiri, Ucok juga mengajak teman-teman yang memiliki kondisi tubuh sama untuk berani percaya diri. Yakni, dengan mendirikan Unique Entertainment. Tidak mudah memang jalan untuk menuju semua itu. Tapi, ia berani melalui proses itu.

Rabu (7/5) lalu, Ucok menerima Ira Lasmidara, Muhammad Nurcholis, dan fotografer Teguh Indra dari Republika di kantornya di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta. Berikut petikan wawancara yang penuh tawa itu:

Anda mengajak orang-orang kecil bergabung di sebuah wadah, mengapa?

Saya minder sejak SMU. Sangat jengkel. Apalagi pas praktik olahraga, di situ aku jadi minder. Pastinya begitu juga dengan temen-temen yang lebih parah dari aku. Kan mereka bisa tambah minder. Supaya agak reda makanya aku ajak teman-teman ke sini supaya melatih tes mental. Tes mental. Dengan keberadaan aku di sini mereka bisa pede (percaya diri). Kok Ucok bisa seperti itu, kenapa kita tidak. Mungkin begitu cara mereka menumbuhkan rasa percaya diri mereka. Mereka bisa memiliki spirit hidup, gitu lho.

Dulu Anda minder banget?
Iyalah. Dengan umur yang sama dan keadaan tubuh yang berbeda, tentu orang akan melihat kita lain, kan. Tentu saja membuat kita-kita jadi lainlah. Karena bagaimana pun kita juga manusia yang berpikir gitu lho.

Kalau sekarang nggak, ya?
Wah, kalau sekarang sudah gilalah. Sudah pede. Sudah nggak karu-karuanlah.

Kalau dulu ada teman yang ngeledekin, bagaimana mengatasinya?
Contohnya baru kemarin-kemarin aja. Kalau kita jalan itu selalu diledek orang. Apalagi anak-anak kecil. ”Hei-hei kemana bol-cebol ” Apalagi kalau mama hamil. Pasti dia bilang, ”Amit-amit jabang bayi.” Kadang kita dengar, dan kita ini kan, ”Lho aku ini manusia bukan dari (ciptaanred.) manusia, tapi ciptaan Tuhan.” Jadi, lama-lama semakin banyak orang meledek semakin bebal kita. Kalau saya ya saya lawan dengan apalah. Kata kasarnya mungkin gini ya, ”Kalau lu bilang amit-amit, aku bilang bisa makan sendiri gitu lho. Kalau lu omong apa terserah.”

Pernah hadapi langsung orang yang meledek?
Pernah. Waktu sama temen, jalan berdua. Jalan bareng. Terus ada orang yang bertanya yang selalu mengarah ke ngeledek. ”Lu jadi orang kok kecil-kecil sih. Apa keturunan lu juga kecil?”, dan sebagainya. Pertanyaan menyinggung perasaan teruslah. Teman saya marah, dia bilang, ”Lu jangan ngomong begitu.” Saat itu, mereka kelihatannya suami-istri. Mungkin juga ingin tahu bagaimana saya, sebagai suami dengan istri saya.

Keterlibatan Usnan Batubara, begitu nama asli Ucok, di dunia hiburan sangatlah kebetulan. Setelah lulus SMA, pria kelahiran Medan, Sumatra Utara, 10 Mei 1971 ini sempat menganggur. Ucok memang sempat ingin melanjutkan kuliah menjadi sarjana hukum. Tapi, orang tuanya yang petani tidak sanggup membiayai.

Maka tahun 1990, ia seorang diri pergi ke Jakarta. ”Waktu itu dilarang-larang untuk pergi ke Jakarta, tapi saya tetap ingin merantau ke Jakarta,” tegas Ucok. Diakuinya, sebagai bungsu dari sembilan bersaudara, ia memang sangat dilindungi orang tua dan kakak-kakaknya.

Toh, Ucok memang bertekad baja. Selama di Jakarta, Ucok tinggal di tempat abangnya yang membuka usaha foto kopi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Selama di Jakarta pula, ia kerap jalan-jalan sendiri naik bis kota. ”Kakak saya melarang karena takut hilang, tapi saya cuek aja jalan-jalan keliling Jakarta,” kenangnya.

Hingga suatu hari, ada seorang pria yang memfotokopi naskah skenario film di toko sang Abang. Pria tersebut ternyata kru salah satu film. Begitu melihat Ucok, ia langsung tertarik. ”Wah, kamu ini orang yang sedang dicari-cari bos saya untuk peran dalam film. Mau main film nggak?” kata si kru.
Bisa ditebak, Ucok mau. Maka mulailah ia syuting untuk film Bagi-bagi Dong. Itulah pertama kali ia terjun ke dunia hiburan. ”Waktu itu saya baru sekitar satu bulan di Jakarta,” ujar Ucok. Selain bermain film, Ucok juga kerap menjadi badut di beberapa acara hiburan.

Kemunculannya dalam film-film Warkop tidak terlepas dari dorongan yang diberikan almarhum Kasino. ”Almarhum Mas Kasino selalu terus ngasih dorongan dan agar jangan luntur semangat,” kata Ucok. Motivasi inilah yang menjadikannya terus mencari pengalaman dengan bergaul dengan sebanyak mungkin orang.

Belakangan beberapa sinetron ia bintangi. Antara lain, Moudy Juragan Kos bersama almarhum Pak Tile. Tapi nama Ucok Baba sendiri sebenarnya melambung seiring dengan kemunculannya sebagai pembawa acara dalam Piala Dunia di RCTI bersama Dik Doang. Kini, Ucok adalah pembawa acara tetap untuk kuis Nur Drei Minuten di stasiun televisi yang sama.

Sebelum di dunia hiburan, kerja apa?
Adalah. Sopir.

Anda bisa nyetir?
N
ggaklah, di belakang sopir (Ucok tertawa). Ya, tidak ada kerjaan. Coba mau kerja apa. Kalau dulu tertarik ke entertainment itu waktu lihat Mas Ateng. Dengan akting mereka dan kagum kepada dia. Itulah kuncinya. Saya harus banyak belajar dan membaca. Juga banyak tidur.

Proses menjadi pede itu bagaimana sih?
Ya, jelas nggak gampang. Prosesnya, waduh banyak yang harus kita jaga. Sebelum punya nama ada hal yang harus kita jaga. Pertama, pembicaraan, tingkah laku karena beda dengan manusia biasa. Saya dulu tidak yakin jadi presenter. Dulu biasa-biasa saja.

K
emudian saya bergaul dengan Dik Doang ketika bertemu pada sebuah acara di stasiun Indosiar dengan menjadi bintang tamu. Kita jadi deket. Belakangan, Dik Doang nawarin saya untuk ikut jadi pembawa acara World Cup di RCTI.
Dik Doang bilang, ”Cok, gimana kalau lu aku tawarin ke RCTI?”

Saya sempat nggak pede. Tapi Dik Doang itu benar-benar membesarkan hati saya. Dia bilang, ”Udah kamu tenang aja, tunggu kabar.” Dan ternyata aku diterima, awalnya kita juga nggak percaya.

Acara Anda sepertinya mengarah pada ledekan pada fisik Anda. Itu bagaimana?
D
ulu ada rencana yang mengarah ke situ. Tapi justru banyak yang menyukai saya karena apa adanya. Penggemar banyak dan RCTI justru meningkat rating-nya. Menurut saya, penonton suka karena saya. Acara itu awalnya humor mungkin, tapi kan kenyataannya berubah.
Jadi, ada perwakilan orang-orang pendek yang menonton. Jadi sayalah perwakilan orang-orang yang menonton itu.

Ngomong-ngomong, bagi Anda, pendek itu termasuk anugerah atau beban?
Kadang-kadang bisa menjadi beban. Kok saya pendek banget sih. Tapi kadang-kadang mungkin rezeki. Kalau tidak gini saya tidak jadi orang.

Bagaimana membentuk komunitas Unique Entertainiment?
Waktu itu tahun 2000. Awal-awalnya kami berempat, saya, Asep Rahman, Dani Acil, dan Kasmui. Kita bimbing temen-temen kita agar tidak direndahkan orang. Teman saya, Asep, sekolah tinggi sekali. Dengan kondisi seperti itu, dia tidak mau dong direndahkan seperti itu padahal dia kan sarjana. Dia bisa main piano, gitar dan punya keahlian lain.

Komunitas ini ke depannya mau apa?
Terus upayakan tes mental. Beri kepercayaan diri.

Apakah mereka melihat keadaan pendek menjadi kendala untuk maju?
Tentu tidak. Kami ajarkan mereka untuk nari. Terus saat peluncuran majalan Seru, itu entertainment kita semuanya yang nangani. Mulai dari bandnya, tariannya, dan lainnya. Pokoknya Unique dipakai oleh mereka. Ada banyak aktivitaslah.

Ada ceramah, dan lain-lain. Ini untuk memotivasikan mereka agar mereka bisa percaya diri di depan massa. Kalau
aku sih sudah bisa mengatasi itu, menghadapi massa. Kalau habis show, heboh. Sebagian ada yang meminta baju saya, jam tangan, tanda tangan, semua massa pada saat mengagumi saya. Tangan ini sakit, tarik sana-tarik sini oleh massa.

Setidak pede apa sih mereka?
Contohnya, ada dua anak pendek kembar yang tidak ingin keluar. Mereka kalau keluar rumah, akan main perasaan. Dia kan perempuan, perasaannya lebih tipis. Tapi, sekarang di Unique Entertainment, kedua anak perempuan kembar itu bisa mendapatkan tes mental yang baik.

Kalau laki-laki kan kemana aja lebih bisa mengatasi masalahnya. Kalau kepada mereka kita kasih dukungan. Salah satunya dengan memberi petunjuk bahwa dengan memiliki kondisi fisik seperti kita, dia bisa menampilkan tarian yang lucu. Meski tidak seperti cheerleaders untuk orang normal. Dan, alhasil, tarian itu bisa diterima penonton. Mereka pun senang dan muncul rasa kebanggaan terhadap diri sendiri. Jadi, mereka merasa sok artis.

Ucok tidak menampik, dirinya sempat tidak percaya diri juga ketika pertama kali terjun ke dunia hiburan. Tapi, kini ia sudah mulai bisa menuai hasilnya. Untuk itu, ia benar-benar merasa sangat bersyukur karena memiliki teman-teman yang memotivasi. Terutama Dik Doang yang dinilai Ucok sebagai sosok yang sangat baik padanya.

Kini, hari-harinya dipenuhi dengan kegiatan syuting. Pagi jam delapan, ia sudah harus pergi dari rumah. Jika tidak ada syuting, ia menyambangi Unique Entertainment yang berkantor di bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan.
Ucok memang gesit. Meski tubuhnya kecil, ia dengan tangkas menaiki tangga menuju kantornya yang terletak di lantai tiga. Demikian juga ketika duduk di sofa, yang tampak sangat besar bagi pria setinggi 91 cm ini. Hup, Ucok melompat ke sofa dan duduk dengan santainya. Di sela-sela obrolan, ia selalu melontarkan jokes.

Tapi, dari semua yang dibicarakan, matanya selalu berbinar kalau disinggung soal keluarga. Sejak tahun 1997 lalu, Ucok menikah dengan seorang wanita bernama Rina Angelina (22 tahun). Mereka menikah setelah berpacaran selama dua tahun. Dari buah cinta keduanya lahirlah Ahmad Usriano Batubara (2,5 tahun).

Ketika disinggung soal istri, Ucok berpaling pada seorang gadis di sampingnya. ”Mah, ceritain dong kapan kita pertama ketemu,” ujarnya dengan muka serius. Si gadis yang ternyata staf Unique Entertainment tertawa. ”Jangan gitu, nanti mamah yang di rumah marah lho,” katanya disambut derai tawa Ucok.

Ucok mengaku sangat bersyukur bisa menikah dengan seorang perempuan yang ‘tidak normal’. Lebih dari itu, Rina adalah orang yang benar-benar mengerti dirinya. ”Saya tidak akan bisa seperti sekarang ini tanpa adanya keyakinan dari istri saya,” tegas Ucok dengan mimik serius.

Kapan pertama ketemu istri?
Pada waktu pertama di suatu tempat saudaranya. Dia lihat saya pertama kaget, sementara saya sendiri juga sreg banget. Wah, cocok banget, nih. Kebetulan perempuan idola saya juga yang seperti itu. Ya udah kenal dan terus setelah itu proses ya kita coba untuk bersikap dewasa, ngobrol/I> berdua, serius, dan bagaimana untuk selanjutnya. Dan, akhirnya sebagian ya harus kawin, sebagian pacaran. Saya masuk kategori yang pertama. Kami pacaran dua tahun dari tahun 1995 sampai 1997.

Perjalanan cintanya lancar?
Pertama sih nggak. Satu pihak. Kami nikah tahun 1997. Ada pihak kedua yang menolak. Masak seperti itu sih jadi menantu. Itu dari keluarganya.

Cara Anda menghadapinya?
Mungkin dengan kebijakan istri kepada keluarga. Katanya, kalau aku tidak kawin dengan Bang Ucok aku akan pergi dari rumah ini. Dari pada aku jadi orang gini-ginian, lebih baik aku jadi kawin beneran. Akhirnya orang tua istri saya mengalah. Saat itu saya hampir membintangi sinetron.

Pernah ditolak cinta?
Wah, banyak bener deh. Kita cinta dia tidak mau. Ada juga sih yang tidak jelas. Dia tidak bilang ‘tidak’. Bilang ‘ya’ juga tidak. Kami dekat. Tapi, akhirnya belakangan dia bilang hanya berteman. Waktu itu stres juga, sih. Nangis? Ya ndaklah masak nangis.

Apa yang diharapkan pada anak?
Anak saya satu, lahir tahun 2000. Dengan keadaan sekarang, susah juga sih. Saya juga harus jaga wibawa bener. Tugas bapak harus jaga itu. Ini untuk menghindari agar dia tidak durhaka. Dengan wibawa, anak akan menuruti orang tua. Istri juga harus turut membantu. Istri saya, kalau saya tidak ada, mengajarkan yang serupa. Seperti bilang, ‘jangan pegang itu, nanti ayah marah’. Tapi meski jaga wibawa, saya tetap menjaga suasana humor. Masa orang lain saya buat ketawa, keluarga sendiri enggak.

Kalau dengan istri?
Saya juga selalu kasih nasihat tentang tetangga-tetangga yang, maaf yah, lebih susah daripada kita. Jadi gini, mereka cuma hidup dari situ. Mama harus bisa lihatlah mereka, dengan suami seperti saya bagaimana kelebihannya. Jadi beri kemauanlah. Tapi, yang jelas harus jalan-jalan ke mal semingu sekali sambil membawa anak.

Hari apa saja untuk keluarga?
Hanya Sabtu dan Minggu. Hari Senin sampai Jumat tidak pernah dekat dengan anak. Jadi hanya dua hari itu saya bisa sempatkan waktu dengan keluarga. Coba bayangkan jam delapan pagi sudah berangkat. Kalaupun pulang, saya jam delapan malam harus sudah pergi lagi ke RCTI untuk kuis. Begitu setiap hari.

Apa rencana Anda ke depan?
Saya tuh pingin memanfaatkan vokal saya. Bikin lagu. Tapi, khusus anak-anak. Penggemar saya kan banyak anak-anak. Baru cita-cita sih, belum ada produser yang berminat. Sejauh ini belum jalan, masih ada dalam jalan pikiran kita.

Dulu sering diledek, sekarang sudah beken. Sebenarnya, bagaimana sih perasaan di lubuk hati Anda sekarang?
Ya sekarang kita balik. Kita bisa sombong. Tapi, tidak sombong seperti yang dilarang. Karena kita seperti ini kan dari mereka juga.

Bangga dengan tubuh Anda?
Jelas dong. Ada orang kecil seperti ini jelas jarang dong. Ucok Baba yang baru muncul kemarin sudah laku. Apa yang menjadi pertimbangan perempuan dari kita. Cari makan saja nanti gimana. Tapi, istri saya luar biasa. Dengan keyakinan dia sang suami pasti bisa sukses nanti.

Kayanya bangga banget nih sama istri?
Bangga sekali. Saya bersyukur sekali punya istri dia. Dengan keyakinan sang istri, bagaimana dengan banyak pertimbangan. Juga tentu dia berpikir bisa nggak sih, kebutuhan batin dan luar batin. Sisi materi, bisakah atau mampukah suami menafkahi ekonomi kelurga?

Keyakinan itu dia miliki. Bahkan dengan itu dia bisa tahan, dan yakin pada pertimbangannya itu. Saya bisa seperti sekarang juga karena keyakinan yang dimiliki istri saya. Jadi, kenapa tidak bangga dengan istri saya seperti itu? Kok kita bisa harmonis sih. Padahal antara kita seperti Merak dan Bakauheuni (tertawa). Iya kan, jauh banget? Kalau sesama orang normal menikah kan biasa. Tapi kami kan lain. Saya kecil, istri saya tidak. Jadi, kami memiliki keunggulan.

Di keluarga ada yang kecil seperti Anda?
Saya bungsu dari sembilan bersaudara. Paling kecil sendiri. Ibu dulu rencananya sudah tidak ingin punya anak. Cuma bapak tidak tahan, hahaha. Dulu dari Medan. Di keluarga tidak ada keturunan yang pendek seperti saya. Kakak-adik saya banyak yang tani.

Bagaimana kasih sayang orang tua. Peran orang tua?
Sama orang tua, saya paling disayang oleh orang tua. Juga dulu kalau mau ke Jakarta itu susah. Orang tua tidak yakin. Dulu di Jakarta ke tempat abang, main aja. Kalau itu datang rezeki, ya begitulah. Tuhan Maha Pemurah.

Obsesi Anda selanjutnya?
Unique entertainmet, akan menggiatkan usaha. Salah satunya dengan mengupayakan para anggotanya agar lebih mampu mengoptimalkan kemampuan diri.

Ada pengalaman unik dengan sesama teman yang lain?
Ada teman-teman lain yang seperti saya, justru malu ketemu saya. Padahal kita ingin bantu. Kasihan sebenarnya melihat mereka. Saat itu ada asongan di Kampung Rambutan sehabis saya mengantar teman ke terminal.

Mereka yang ingin saya temui tapi dia malah kabur. Begitu juga saat aku pernah ketemu di mal. Dia tidak mau ketemu. Padahal kami siap dan bersedia menerima mereka agar bergabung dengan Unique Entertainment.

Ucok sendiri kini tinggal di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, bersama dengan istri dan anaknya. Ia mengakui perjuangan hidup keluarganya cukup berat. Lelaki kelahiran Medan ini mengenang pengalaman di masa krisis 1997-1998-lah yang masa yang paling sulit. Saat itu dunia hiburan dan film, tempat ia menyandarkan hidupnya, hancur.

”Cari makan dengan apa? Terpaksa harus ngutang ke temen-temen yang masih kuat,” katanya, ”Dari situ saya bangga dengan istri saya. Dia kuat dan mampu hidup sebagaimana pun itu.” Dari cobaan yang berat itu, Ucok menarik hikmahnya. ”Kita dalam menjalani hidup banyak bergaul. Kalau sakit, banyak yang mendoain. Waktu sulit, banyak teman-teman yang mau bantu.” ()

Tags:

Comments are closed.