Archive for February, 2005

Miing: Lawak Tak Perlu UU

Monday, February 21st, 2005

Sumber: Kompas | Jakarta, Senin, 21 Februari 2005

Pelawak Bagito, Dedi “Miing” Gumelar mengatakan dunia lawak tak perlu diatur Undang-undang karena hingga kini tak ada masalah serius di dunia lawak dan mati hidup grup lawak sejak dulu ditentukan mekanisme pasar.

Dalam Rapat Dengar Pendapat antara kalangan artis, pelawak dan pekerja industri hiburan dengan Komisi X DPR-RI, yang dipimpin Ketua Heri Akhmadi itu, Miing yang mewakili komunitas lawak mengatakan, “para pelawak menjalani hidupnya secara demokratis, karena mereka berkiprah berdasar pilihan rakyat.”

“Meski tak perlu diatur dengan UU, para pelawak punya aspirasi yang layak didengar oleh anggota DPR,” katanya di DPR, Senin.

Ia menjelaskan, kami tak perlu diatur dengan UU, namun kami punya imbauan agar BUMN yang melakukan hajatan mengundang pelawak,” katanya.

Miing berpendapat pemerintah saat ini perlu melakukan proteksi terhadap pekerja dunia hiburan dengan menempuh kebijakan yang diambil oleh negara-negara lain.

Ia mencontohkan, ketika Bagito diundang ke Australia (1989) untuk pentas, Bagito harus membayar semacam royalti kepada persatuan artis di negeri itu.

Hal serupa juga terjadi pada 1991, ketika Bagito mentas di Amerika Serikat. “Kami diharuskan membayar dari hasil kerja kami di sana pada persatuan artis setempat,” katanya.

Oleh sebab itu, Miing mendesak pemerintah agar perlindungan bagi artis domestik dalam kompetisi dengan artis asing segera diwujudkan. “Apakah Siti Nurhalizah yang dalam sebulan bisa berkeliling pentas di TV swasta kita juga harus membayar kepada organisasi artis Indonesia. Kalau tidak, ini salah artis kita sendiri,” katanya.

Banyak artis asing yang begitu mudah berkiprash di Indonesia, sementara negara lain mempersulit artis luar untuk masuk, katanya.

Menurut dia, Indonesia termasuk liberal dalam memberikan peluang masuknya artis mancanegara berkiprah di Indonesia. “Hal ini juga didukung masyarakat kita yang permisif,” kata Miing.

Sementara itu, bintang sinetron Anwar Fuadi yang mewakili kalangan artis film mengatakan, persoalan di organisasi artis film tidak ada.

Namun, ia hanya menyesalkan bahwa masih ada film Indonesia yang melecehkan nilai-nilai agama.

Produser film Chand Parwesh yang mewakili pekerja film meminta kalangan DPR untuk terus membantu berjuang memerangi para pembajak. “Para pekerja film bangkit tanpa bantuan pemerintah, namun kami masih harus berhadapan dengan pembajak film. Seringkali film baru yang belum beredar sudah dibajak,” katanya. (Ant/Eh)

Kliping | Kirun: Perlu Ada Sekolah Pelawak

Wednesday, February 16th, 2005
Sumber: Republika | Rabu, 16 Februari 2005

Membuat orang tertawa ternyata bukanlah pekerjaan mudah. Itu berlaku bagi seorang pelawak sesenior Kirun sekalipun. Menurut pegiat lawak Srimulat itu, pelawak merupakan profesi yang terbilang sangat sulit. Apalagi, kata dia, hingga kini belum ada lembaga pendidikan yang secara khusus mampu melahirkan pelawak. ”Saya merasa di Indonesia ini perlu ada sekolah yang bisa melahirkan pelawak,” ujarnya dengan mimik serius. Sulitnya melawak dan membuat orang bisa tertawa disadarinya saat Kirun menjadi juri audisi pelawak TPI. ”Bisa gila dan stres menjadi juri untuk menilai para pelawak,” imbuhnya.

Ia mengaku, banyak menyaksikan orang yang melawak, tapi tak lucu dan bisa membuat tertawa. Kirun mengaku sempat terpikir, bahwa ketika dirinya melawak, banyak orang yang justru tidak tertawa melihat lawakannya. Diakuinya, regenerasi pelawak di Indonesia memang sangat kurang. ”Hal itu karena menjadi pelawak sangat sulit,” tandasnya. Soal adanya anggapan bahwa nasib pelawak di hari tuanya selalu menderita, langsung ditepisnya.

”Itu dulu, sekarang pelawak sudah tak sengsara lagi,” paparnya. Ia pun mencontohkan, beberapa kawannya yang terbilang sukses. Menurut Kirun, para pelawak kini sudah mulai hidup lebih baik. ”Jangan ditakut-takuti kalau pelawak itu masa tuanya akan sengsara. Nanti, tak ada orang yang mau jadi pelawak.” hri

Pelawak belum dianggap artis

Tuesday, February 15th, 2005
Sumber: Harian Terbit | 15 February 2005 - 16:54
KEHADIRAN pelawak di dunia hiburan, ternyata belum mendapatkan pengakuan sebagai seniman artis. Selain karena ’status sosial’ pelawak di masa lalu yang terkesan kurang glamour, jumlah pelawak di negeri ini masih bisa dihitung jari. Berbeda dengan profesi artis yang tidak terhitung. Para pelawak pun angkat bicara soal profesi mereka.

Profesi pelawak yang identik dengan kelucuan dan gelak tawa rupanya tak begitu saja mampir dalam keseharian mereka. Sejumlah pelawak bahkan mengeluh dan merasa prihatin dengan anggapan sebagian besar masyarakat yang membedakan profesi artis dengan pelawak, sehingga profesi pelawak kerap dianggap sebelah mata.

“Padahal, untuk melawak itu membutuhkan skill dan pengetahuan, yang akhirnya menjadi bagian dari ekspresi berkesenian. Para pelakunya biasa disebut artis,” kata Didin Pinasti, anggota grup lawak Bagito, kemarin di Jakarta.

Menurut pelawak yang juga adik kandung pelawak Dedi ‘Miing’ Gumelar, munculnya dikotomi profesi antara artis dan pelawak tersebut, yang dirugikan adalah para pelawak. Karena, seolah-olah lingkungan para pelawak berbeda dengan artis.

“Hal ini memberikan kesan, seolah-olah profesi pelawak lebih rendah derajatnya daripada artis,” katanya.

Hal senada diungkapkan pelawak Kirun, yang menyatakan ketidaksetujuannya atas munculnya ‘kultus sosial’ yang menyebut, kehidupan pelawak tidak punya jaminan masa depan. Dikatakan oleh Kirun, kesejahteraan pelawak sekarang ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang sebagian diantaranya sudah sangat tua bahkan ada yang meninggal dunia.

“Saya sangat memahami dunia pelawak kita. Ketika zamannya Heri Koko dan Joni Gudel, masalah kesejahteraan merupakan sesuatu yang masih mahal. Bahkan, di akhir hayat beberapa pelawak ketika itu dalam keadaan kesulitan ekonomi. Tetapi, zaman sudah berubah karena banyak pelawak sekarang hidupnya makmur,” kata Kirun kepada Harian Terbit, di kemarin .

Kesejahteraan pelawak itu semakin mendukung persepsi bahwa dunia pelawak tak menjanjikan sebagai profesi yang dapat ‘menghidupkan’ dan menghasilkan uang. Tetapi, kata Kirun, kenyataannya sekarang adalah justru para pelawak sekarang hidup berkecukupan. “Tarsan dari Srimulat itu kan, pelawak dari generasi tua. Tetapi, sekarang dia kalau pulang kampung sudah bisa membuat lahan pekerjaan di luar bidangnya sebagai pelawak,” kata Kirun, salah satu pengajar di Akademi Pelawak TPI (API).

Perubahan kesejahteraan pelawak tersebut, menurut Kirun disebabkan adanya pergeseran pandangan masyarakat terutama di industri pertelevisian saat ini.

“Beruntungnya, saat ini semakin banyak stasiun televisi yang memanfaatkan jasa para pelawak. Hal ini memberikan peluang bagi kehadiran pelawak-pelawak muda,” katanya.

Selain Kirun, ada Gogon dan Didin Pinasti yang dilibatkan sebagai tutor di ajang pencarian bakat pelawak API yang kini memasuki tahap seleksi terhadap 12 grup finalis. Keduabelas grup tersebut berasal dari empat daerah yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya. Seluruh peserta masuk dalam karantina dan akan dipilih berdasarkan masukan dari jumlah SMS yang masuk. (mam)