Archive for April, 2005

Bila 300 Pelawak se Indonesia Bermusyawarah: Gus Dur Sempat Dicalonkan Jadi Ketua Umum

Saturday, April 23rd, 2005

Sumber: Pontianak Post | Sabtu, 23 April 2005

Oleh: AGUS MUTTAQIN, Jakarta

Jakarta,- Tak kalah pentingnya, acara MPI juga membicarakan AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) PaSKI. Mukadimah organisasi juga dibahas. Uniknya, Mukadiman PaSKI terkesan menyadur sebagian isi pembukaan (preambule) UUD 1945.

“… DIDORONG oleh keinginan luhur agar berkehidupan yang lebih baik maka perjuangan Seniman Komedi Indonesia telah sampai pada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa menghantarkan para seniman Komedi Indonesia kepada terbentuknya organisasi yang merdeka, bersatu, berdaulat, dan beradab.

Kemudian untuk membentuk suatu wadah yang melindungi, melestarikan, memajukan kesejahteraan serta membentuk kepribadian Seniman Komedi Indonesia yang berakhlak mulia yang berdasarkan rasa saling asah, asih, asuh, serta berkeadilan, maka diadakanlah Musyawarah para Seniman Komedi Indonesia di Jakarta….”

Dalam sidang komisi, proses pembahasan draf Mukadimah berjalan penuh keseriusan. Setiap pelawak bebas mengajukan pendapat asal tidak memaksa kehendak. Dan, sang ketua sidang komisi, Jatikusumo (personel Kuartet S), pun memimpin sidang dengan gaya khasnya yang kalem tetapi tegas mengambl keputusan.

“Saya ini dulu pelawak juga pernah jadi anggota DPR. Jadi, kalau urusan memimpin sidang komisi ya tidak kalah dengan Pak Qomar (anggota DPR dari Partai Demokrat),” ujar Jatikusumo mengawali persidangan. Jatikusumo datang jauh-jauh dari Malang untuk sekedar menghadiri acara musyawarah.

Selanjutnya, pada Kamis malam, acara yang ditunggu-tunggu peserta musyawarah tiba, yakni sesi pemilihan ketua umum PaSKI. Suasana pemilihan berlangsung cukup dinamis dan yang membanggakan kalangan pelawak benar-benar mengadepankan sportivitas. Namun, dasar pelawak, acara pemilihan ketua umum pun diwarnai joke-joke segar dan sahutan dukungan.

Ada tiga putaran dalam pemilihan ketua umum. Yang pertama adalah pemilihan bakal calon, dengan syarat setiap kandidat harus mengumpulkan minimal 20 suara. Ada lima kandidat yang tampil, yaitu Indro Warkop, Eko Patrio, Dedi ‘Miing” Gumelar, Tarzan, dan Nurul Qomar (kini anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat).

Nilai terendah dipegang Tarzan yang kemudian membuatnya mengundurkan diri. “Saya memilih mengundurkan diri. Saya lebih ingin mengayomi rekan-rekan (pelawak),” aku Tarzan. Simpatisan Tarzan yang sebagian berasal koleganya kalangan personel Srimulat pun kecewa. Akhirnya yang maju ke putaran berikutnya adalah empat kandidat sisanya.

Yang menarik, suasana jenaka juga mewarnai sesi pertama pemilihan ketua umum. Ada peserta yang nekat menuliskan nama Gus Dur (Abdurrahman Wahid) pada kertas pemilihan. Tak pelak, saat kertas pemilihan itu dibaca, semua peserta pun tertawa. “Hahaha, memangnya di sini ada Gus Dur. Wah, bisa-bisa saja,” kata Otong Lenong, pelawak tenar 1980-an yang menjadi saksi pemilihan. Hingga acara berakhir tak diketahui siapa peserta yang menulis karena proses pemilihan berlangsung rahasia.

Selanjutnya digelar sesi kedua. Teriakan, nyanyian, bahkan takbir mewarnai dukungan terhadap para kandidat terus membahana di ruang Kirana Hotel Kartika Chandra. Eko Patrio dan Miing Bagito mengundurkan diri pada sesi ini.

Dua pelawak kondang itu tampak tak kuasa menahan tangis haru ketika sebagian pendukungnya tetap menginginkan maju ke sesi berikutnya. “Saya makin terharu lagi dengan majunya Mas Indro. Dulu saat Warkop lagi jaya-jayanya dia pernah bilang tidak perlu fanatik membentuk organisasi profesi. Beliau takut ada kepentingan politis. Tapi, sekarang keangkuhan itu seolah runtuh,” tutur Miing sambil melirik ke arah Indro Warkop.

Dan, puncaknya, Indro Warkop berhasil mengungguli Qomar. Perolehan suaranya Indro Warkop mengumpulkan 137 suara dukungan. Sedang Qomar hanya 67 suara. Dua pelawak senior itu berusaha sportif di depan peserta musyawarah.

Rapat formatur pun digelar malam itu juga. Rincian kepengurusan sebagai berikut: Ketua Umum PaSKI Indro Warkop; Sekjen Miing; Bendahara Cici Tegal; Wakil Ketua I Tarzan; dan Wakil Ketua II Eko Patrio. Sedang Qomar tidak masuk dalam kepengurusan.

Lantas bagaimana komentar Indro Warkop? “Saya benar-benar terharu dengan amanat rekan-rekan pelawak. Saya berusaha berkomitmen untuk melaksanakan seluruh program kerja pada musyawarah ini,” kata Indro.

Ada dua agenda mendesak yang segera direalisasikan. Pertama, mengonsolidasikan PaSKI dengan membentuk kepengurusan daerah; kedua, selanjutnya menjalankan semua program kerja musyawarah.

“Dalam program kerja saya ingin menyejajarkan seni komedi dengan seni lainnya. Misalnya jika pada festival film ada aktor terbaik lantas kenapa selama ini tidak ada aktor komedi terbaik dan film komedi terbaik,” ujar satu-satunya pelawak Warkop yang masih tersisa. Selebihnya, Indro bakal menjajaki bagaimana meningkatkan kesejahteraan pelawak dengan cara menyosialisasikan pentingnya asuransi hari tua.

Indro juga mengaku terpilihnya menjadi ketua umum sejatinya merupakan spontanitas. Pelawak berkepala botak itu mengaku sejak awal tidak berobsesi untuk memimpin organisasi lawak. “Saya justru trenyuh dengan dukungan teman-teman pelawak yang menginginkan saya maju. Ada sebagian pelawak yang meragukan independensi PaSKI jika kelak dipimpin seorang politisi,” jelas Indro. Harus diakui naiknya Qomar sebagai salah satu kandidat ketua umum tak bisa dipungkiri banyak pelawak mengaitkan posisinya sebagai politisi di DPR, utamanya sebagai pengurus Partai Demokrat.

Indro pun berjanji tetap akan mengawal independensi organisasi PaSKI. Dan, jika kelak menjelang Pemilu 2009 ada pengurus yang mencoba-coba menarik PaSKI ke kancah perpolitikan, Indro bakal menjatuhkan sanksi keras termasuk upaya pemecatan. (jpnn)

Bila 300 Pelawak se-Indonesia Bermusyawarah; Juga Terungkap Kesenjangan Ekonomi Sesama Pelawak

Friday, April 22nd, 2005

Sumber: Kaltim Post Cyber News | Jumat, 22 April 2005

Oleh: AGUS MUTTAQIN, Jakarta

Tak selamanya pelawak identik dengan humor. Dalam acara musyawarah yang dihadiri ratusan pelawak di sebuah hotel di Jakarta justru para pelawak tak kalah kritisnya dengan anggota DPR. Mereka pun antusias membentuk wadah khusus profesi komedian pertama di Indonesia.

Kamis, 21 April 2005 bisa jadi hari bersejarah bagi dunia lawak di tanah air. Betapa tidak, di hari istimewa itu sedikitnya 300 pelawak di tanah air berkumpul dan saling curhat di Kirana Room Hotel Kartika Chandra Jalan Gatot Subroto Jakarta. Mereka menggelar acara bertitel ‘Musyawarah Pelawak Indonesia (MPI)’.

Acaranya berlangsung cukup sederhana. Bahkan gaungnya kalah jauh di banding peringatan ke-50 Konferensi Asia Afrika (KAA). Akan tetapi, musyawarah kemarin merupakan momentum terbentuknya Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI), yang merupakan organisasi pertama untuk menghimpun pekerja seni tawa.

Yang terpenting lagi, musyawarah kemarin juga menjadi ajang silaturahmi pertama para praktisi dunia lawak. Mulai dari pelawak era 1970-an semisal Edi Sud dan Krisbiantoro dengan mereka yang angkatan 1980-an (Yanto Stock On You dan Abah Us Us), hingga pelawak era 1990 dan 2000-an. Mereka yang angkatan 1990-an seperti Otong Lenong, Jimmy Gideon, Harry De Fretes, Indro Warkop, Timbul, Grup Bagito, dan Grup Srimulat. Sedang yang angkatan termutakhir seperti Taufik Savalas, Kiwil, Eko Patrio, hingga peserta Audisi Pelawak Indonesia (API) di sebuah stasiun televisi swasta. Bahkan, juga dengan sebagian pelawak daerah seperi John Tralala (Banjarmasin), Pecas Dahe (Solo), Didik Nini Towok (Jogjakarta), dan sejumlah pelawak daerah lainnya.

Acara terasa kurang lengkap. Sebab, tidak dihadiri tokoh legenda yang mengklaim pertama kali membentuk grup lawak yakni Guno Susanto dari Jogjakarta. Pelawak berusia 86 tahun itu tidak hadir karena sedang sakit.

”Ini yang kita sayangkan,” kata Tarzan, Ketua Panitia MPI, ditemui di sela rehat kemarin. Guno Susanto adalah pelawak berusia 86 tahun yang mengklaim pertama kali mendirikan grup lawak di Indonesia pada 1957 saat kuliah di IKIP Jogjakarta.

Kehadiran MPI bisa dibilang juga menghapus dikotomi kalangan pelawak antara yang tradisional dan modern. Personel Bagito, Dedi ‘Miing’ Gumelar, mengaku tidak ada pengelompokan antara pelawak tradisional dan non-tradisional tetapi memang ada genre sejumlah pelawak yang mempunyai pangsa pasar masyarakat tradisional atau non-tradisional. ”Ya lewat MPI ini kita coba buktikan kalau kami (pelawak) bisa bersatu,” ujar Miing di sela acara.

Acara MPI dibuka pukul 09.30 WIB. Sejumlah tokoh di luar dunia lawak terlihat hadir seperti Agum Gumelar (mantan Menhub) dan Erman Suparno (anggota DPR). Menariknya, tak satu pun pejabat pemerintahan tidak terlihat di deretan kursi undangan VIP. Dua pejabat yang diundang yakni Menbudpar Jero Wacik dan Gubernur DKI Sutiyoso ternyata tidak hadir.

Panitia juga sengaja mendaulat pelawak Otong Lenong tampil di hadapan undangan untuk memamerkan keahliannya di bidang seni lenong. Setelah itu panitia memberikan cendera mata kepada Edi Sud atas jerih payahnya di dunia lawak khususnya di era 1970-an. Otong Lenong bisa jadi mewakili pelawak lawas yang kurang memanfaatkan ketenarannya sehingga hidup penuh ‘keterbatasan’ di hari sepi manggung.

Bahkan, Otong Lenong sekarang harus berhijrah dari Ibukota ke kampung halamannya di Pekanbaru.

Suasana acara berlangsung gayeng. Beberapa pelawak terlihat guyub membicarakan kabar dan kesibukannya masing-masing. Agenda acara diisi sejumlah materi persiapan pembentukan organisasi PaSKI beserta ketua umumnya. Miing didaulat memimpin rapat paripurna untuk membahas tata tertib persidangan. Nah, dari sesi ini para pelawak terlihat keseriusannya mengajukan argumentasi dari setiap materi tata tertib. Peserta saling menginterupsi ketika Miing menawarkan siapa yang layak duduk sebagai pimpinan sidang sementara.

”Saya interupsi. Yang paling layak memimpin sidang adalah Miing. Dia memang ahlinya karena sudah saya ajari,” ujar Derry Empat Sekawan mengawali interupsi. Hampir lima pelawak mengemukakan pendapatnya. Materi yang diajukan cukup berbobot meski sesekali disertai joke segar. Selanjutnya Mamik Slamet, personel Srimulat, mengacungkan jarinya untuk mengemukakan pendapatnya.

”Ada baiknya teman-teman bersepakat untuk menghemat waktu. Kita dibatasi waktu karena malam ini jam duabelas harus selesai,” kata Mamik yang disambut koor ’setuju’ peserta lain.

Melihat rekan-rekannya beradu argumentasi, peserta lain terlihat ikut mengamati serius. Sebagian lagi ada yang asyik berbicara sesama pelawak. Seperti Marwoto, misalnya, yang duduk di bagian belakang tampak berbincang santai dengan pelawak Untung. Demikian juga Eko Patrio yang terlihat bercengkerama dengan Akri dan Parto. Tiga personel Patrio itu memang duduk di kursi sederet. Sedang Timbul juga terus menyimak serius Miing yang memimpin rapat. Toh, bisa jadi karena tidak tahan duduk di kursi, Timbul pun duduk santai dengan kaki bersila. Timbul sesekali juga ngobrol dengan seorang lelaki teman duduknya.

Menariknya, saat jam istirahat sejumlah pelawak terlihat berdiri bergerombol sambil menyantap hidangan makan siang. Rupanya mereka sedang kasak-kusuk membicarakan pencalonan ketua umum. Sejumlah tim sukses bemanuver untuk mencari dukungan demi terpilihnya sang kandidat yang dijagokan.

Ada sejumlah kandidat yang hendak maju dalam pemilihan ketua umum PaSKI, yakni Tarzan, Miing, Indro Warkop, dan sejumlah nama beken lainnya. Bahkan, menjelang acara berlangsung, Eko Patrio disebut-sebut juga bakal maju untuk menjadi salah satu kandidat. Hingga berita ini ditulis belum diketahui siapa kandidat yang terpilih menjadi ketua umum PaSKI untuk kali pertamanya.

Tak kalah pentingnya, acara MPI juga membicarakan AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) PaSKI. Mukadimah organisasi juga dibahas. Uniknya, Mukadiman PaSKI terkesan menyadur sebagian isi pembukaan (preambule) UUD 1945. Isinya sebagai berikut,”

Didorong oleh keinginan luhur agar berkehidupan yang lebih baik maka perjuangan Seniman Komedi Indonesia telah sampai pada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa menghantarkan para seniman Komedi Indonesia kepada terbentuknya organisasi yang merdeka, bersatu, berdaulat, dan beradab.

Kemudian untuk membentuk suatu wadah yang melindungi, melestarikan, memajukan kesejahteraan serta membentuk kepribadian Seniman Komedi Indonesia yang berakhlak mulia yang berdasarkan rasa saling asah, asih, asuh, serta berkeadilan, maka diadakanlah Musyawarah para Seniman Komedi Indonesia di Jakarta….”

Dalam sidang komisi, proses pembahasan draf Mukadimah berjalan penuh keseriusan. Setiap pelawak bebas mengajukan pendapat asal tidak memaksa kehendak. Dan, sang ketua sidang komisi, Jatikusumo (personel Kuartet S), pun memimpin sidang dengan gaya khasnya yang kalem tetapi tegas mengambl keputusan. ”Saya ini dulu pelawak juga pernah jadi anggota DPR. Jadi, kalau urusan memimpin sidang komisi ya tidak kalah dengan Pak Qomar (anggota DPR dari Partai Demokrat),” ujarnya mengawali persidangan.

Di balik digelarnya MPI juga terungkap banyaknya kesenjangan ekonomi di antara kalangan pelawak. Utamanya antara pelawak yang sedang ngetop dengan pelawak lawas yang tidak ada kepastian kapan manggung lagi. Seperti kisah sedih Iwan dan Raswan (personel Grup Rajawali). Iwan mengaku sekarang hidupnya seolah berkebalikan dengan semasa dirinya jaya di era 1980-an, utamanya saat job manggung di TVRI terus mengalir. Sekarang hidupnya digantungkan dari pekerjaannya sebagai kepala sekolah.

”Saya dulu bisa mengumpulkan uang banyak. Tapi, sekarang seperti yang Anda lihat. Semua seadanya,” kata Iwan yang sekarang menjadi Kepala Sekolah di SMP Arena di Bekasi. Tapi, Iwan bisa jadi lebih beruntung.

Sebab, sebagian mantan pelawak sekarang ada yang beralih profesi menjadi tukang jual obat gatal, bahkan ada juga yang nekat dagang kakin lima. Salah satu mantan pelawak yang kurang beruntung itu adalah alm. Trubus, yang pernah mangkal dagang kaki lima di dekat kantor DPP Partai Golkar di Slipi Jakarta Barat. ”Mas Trubus dulu berjualan ikat pinggang di dagangan kaki limanya,” ujar Iwan.

Hal yang sama juga diakui Otong Lenong. Sekarng pria berubuh cebol itu beraktivitas sebagai pemilik warung nasi di Pekan Baru. ”Untuk menyalurkan lawakan, saya beruntung bisa berkiprah di televise lokal di Riau,” jelas Otong Lenong. Pelawak yang terkenal dengan logat Betawi memang asli Pekan Baru. Sebagian hidupnya di era 1990-an untuk dunia lawak, utamanya lenong. Tetapi, seiring dengan krisis moneter dan terserang sakit radang tenggorokan menahun, Otong pun pulang kampung ke Pekan Baru.

Baik Otong Lenong maupun Iwan Rajawali berharap lewat MPI, rekan-rekannya yang sedang ngetop dapat membantu untuk bisa manggung lagi.

”Ya, saya berharap mereka bisa mengangkat kami lagi,” jelas Otong. Agar tidak menghilangkan tali silaturahmi, Otong dibantu rekannya dari Pekan Baru menulis nomor telepon sejumlah pelawak terkenal di Jakarta, termasuk Taufik Savalas dan Indro Warkop.

Ajang MPI ternyata juga untuk menyusun kode etik profesi seniman komedi seluruh Indonesia. Harapannya dengan adanya kode etik ini pelawak dapat mengembangkan kreativitasnya secara sehat dan intelektual. Kode etik itu bakal diberlakukan sebagai panduan etika tampil di pentas. ”Semacam kode etik begitu. Jadi kalau ada pelawak yang ngomong porno, ngomong binatang di panggung, bisa kita tegur bareng-bareng,” kata Miing.

Pentolan grup Bagito ini mengatakan, sudah masanya seniman komedi meningkatkan kemampuan intelektualnya sehingga tidak lagi melawak dengan mengandalkan bakat alami dan mengeksploitasi anggota badan.

Menurut Miing, gaya lawakan seperti itu seharusnya diganti dengan lawakan berdasar skenario dan etika tertentu. Dengan demikian lebih mengesankan profesionalitas.

”Sekarang banyak seniman komedi yang berasal dari kampus, beda dengan seniman komedi zaman dulu yang berawal dari tobong ketoprak atau ludruk. Masa lawakannya nggak bisa lebih santun seperti almarhum S.Bagyo,” kata Miing.

Sementara itu, Ketua Panitia MPI Tarzan mengatakan pembentukan PaSKI tidak untuk mengatur rejeki individu seniman komedi. Meski demikian, salah satu sesi dalam MPI akan diselipkan presentasi konsultan keuangan yang akan mengulas manajemen keuangan dan manajemen pribadi. “Pikiran itu dilandasi kenyataan banyak pelawak yang meninggal dalam keadaan kekurangan materi. Itu akibat ketika jaya, pegang banyak uang, hobinya hanya main judi dan tidak berinvestasi untuk menyiapkan diri ketika tidak laku lagi,” katanya.

Selain itu, Tarzan mengaku sedang terobsesi mengumpulkan para pelawak di tanah air. Ide tersebut bukan sekedar ingin sekedar menyatukan para pengocok perut. Tetapi, pria yang berpostur tinggi besar itu mengaku trenyuh ketiadaan kelembagaan dunia lawak berimbas pada ketidakjelasan nasib para pelawak.

”Lain soal kalau ada lembaga khusus yang menaruh perhatian bagi para pelawak. Mungkin saja lembaga itu kelak dapat berfungsi semacam koperasi, bahkan menghimpun dana pensiun untuk pelawak,” ujarnya sambil terkekeh.

Lewat lembaga itu Tarzan ingin mengencangkan tali silaturahmi antar pelawak, baik di Jakarta maupun di pelosok daerah. ”Saya kadang kehilangan komunikasi dengan teman-teman di daerah. Mau tahu alamatnya saja sulitnya minta ampun. Padahal, kita ingin tahu agar kelak dapat melayat kalau teman kita itu meninggal (dunia),” beber Tarzan. (***)

Study: Humor Menguatkan Harapan

Tuesday, April 19th, 2005

Sumber: Kompas | 19 April 2005

Jakarta, Selasa

Sedikit canda bisa membuat harapan Anda makin kuat, demikian diungkapkan dalam sebuah penelitian.

Orang-orang yang menonton video komedi selama 15 menit mendapat angka tertinggi dalam sebuah survey mengenai besarnya pengharapan seseorang, dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk bercanda.

Temuan itu menunjukkan bahwa humor bisa menjadi sebuah cara untuk menghilangkan stres dan menjaga kesehatan, kata para peneliti dalam sebuah tulisan yang dipublikasikan dalam International Journal of Humor Research.

Penelitian sebelumnya menyatakan tertawa adalah obat yang baik. Laporan yang dikeluarkan University of Maryland Medical Center bulan lalu itu menemukan, tertawa akan membuat aliran darah berfungsi lebih baik, menyebabkan otot pembuluh darah membesar, sehingga aliran darah lancar. Study lain juga menyimpulkan bahwa tertawa dan perasaan humoris bisa melindungi seseorang terhadap serangan jantung.

Namun bagaimana humor bisa meningkatkan harapan seseorang? Mungkin karena tertawa bisa mengusir pemikiran negatif, kata psikolog David H. Rosen, salah satu peneliti yang juga menuliskan laporannya.

“Tertawa bisa merangsang pemikiran dan menyebabkan peningkatan respon perilaku otomatis sehingga seseorang bisa lebih menghasilkan ide-ide kreatif,” kata Rosen. “Ini menimbulkan rasa percaya diri yang lebih dan suatu kecenderungan untuk mengembangkan jalan keluar dalam menghadapi masalah.”

Penelitian melibatkan 200 orang berusia 18-42 tahun. Tidak hanya senyum dan tawa yang diukur, tetapi juga bagaimana para peserta bereaksi terhadap humor.

Seseorang yang tidak banyak tertawa ketika melihat film lucu mungkin masih tetap menganggap film tersebut cukup lucu, sehingga mendapatkan dampak yang menguntungkan sebagaimana mereka yang tertawa terus sepanjang pemutaran film,” ujar pimpinan peneliti, Alexander Vilaythong dari University of North Texas.

Saran bagi mereka yang putus asa?

“Saya akan menyarankan agar ia menonton film-film komedi sebanyak mungkin,” kata Vilaythong. “Sebenarnya sumber tawa lain juga akan menimbulkan dampak positif, seperti canda dalam kehidupan sehari-hari, namun saya akan menyimpannya untuk penelitian lebih lanjut.” (LiveScience.com/wsn)