Archive for May, 2005

Kliping API

Monday, May 30th, 2005

Suara Merdeka

Senin, 30 Mei 2005 Halaman NASIONAL

Gren Pinal API

Dengan “Jaka Sembung”, SOS Juara


JAKARTA - Grup SOS akhirnya berhasil meraih juara pertama karena mendapatkan polling tertinggi dari pemirsa sebanyak 53 persen. Juara kedua diraih Bajaj dengan hasil 25 persen, sedangkan juara ketiga Limau 21 persen.

Para finalis tersebut berhasil meraih penghargaan Mustika API (Audisi Pelawak TPI). Juara pertama mendapatkan uang tunai Rp 125 juta, juara kedua Rp 100 juta, sedangkan juara ketiga Rp 75 juta.


Penonton yang memadati Teater Tanah Airku Taman Mini Indonesia Indah (TMII), semalam, benar-benar dibuat terpingkal atas lawakan yang dibawakan oleh Bajaj. Malam itu Bajaj membawakan tema “Bondong Bondowoso” dengan tampil berbusana siluman.

Sorak-sorai penonton yang menyambut kehadiran Bajaj bergemuruh. Malam itu, Grup Bajaj yang terdiri dari Aden, Melky dan Isa tampil lebih banyak tampil dengan tuturan kata ketimbang bermain ekspresi tubuh, seperti yang selama ini dibawakan oleh grup-grup lain.

Permainan kata tersebut misalnya: ada tiga buah siluman, siluman apa yang selalu mengejek? Aden menimpali wewe gombel, siluman yang selalu miskin? Aden menjawab kolor ijo.


Sementara Isa tidak mau kalah, malah mengajukan pertanyaan. Siluman apa yang memabukkan manusia? Isa menjawab sinuman keras yang beralkohol. Suatu ketika, Melky diajak demo oleh Isa. Dia menolak bahkan mengatakan: ”Gue gak mau demo. Gue bajaj bukan demo (bemo maksudnya-Red). Kemudian ada humor yang lebih lucu lagi seperti: “Kalau mau merasakan seorang cewek bisa dilihat dari umurnya. Cewek umur 20-an membuat hati kembang kempis. Umur 30-an membuat hati berbunga-bunga. Cewek umur 80-an… Lu rasain aja sendiri…”


Hadirin saat itu dibuat lebih terpingkal-pingkal mendengar jawaban tersebut.

Secara keseluruhan penampilan Bajaj semalam benar-benar kompak. Hal ini dapat dilihat dari komentar para pencela yang yang terdiri dari Omaswati, H Jaja Miharja, Parto, Bolot, dan Kang Ibing.


Bahkan Kang Ibing mengatakan: ”Pelawak lucu no problem. Tapi tidak ada pelawak yang tampil dengan dialog. Ini bukan lawak tetapi humor.” Dia juga berpesan kapada Bajaj untuk tidak lupa diri.

Sementara Bang Jaja Miharja mengatakan: ”Lu keliatan kompak. Paling gak lu mesti dapat cepek jigo kalo gak cepek aja gak apa-apa (maksudnya kalau tidak menjadi juara I pasti juara II-Red).”


Meniti Karier

Para personel Bajaj merupakan alumnus Fakultas Komunikasi Universitas Indonusa Esa Unggul. Pada awalnya, sebelum meniti karier di dunia lawak, mereka menjadi MC dan bermain band di kampus.


Sementara sebelum penampilan Bajaj, terlebih dulu tampil grup SOS dari Bandung yang terdiri dari Sule, Oni dan Ogi. Mereka memang adalah pelawak tulen. SOS tampil dengan materi lawakan “Perguruan Silat Jaka Sembung”. Sedangkan Limau grup lawak asal Jakarta mendapat giliran tampil paling akhir. Mereka terdiri dari Monox, Ali, dan Ucha yang berasal dari Universitas Muhammadiyah Hamka Jakarta.


Penonton yang berada di luar tempat pertunjukan hanya mampu melihat dari layar besar monitor yang disediakan panitia. Sesekali mereka dihibur oleh penampilan para kontestan yang telah lebih dahulu gosong atau tersungkur. Berbagai bentuk dukungan melalui spanduk tampak memenuhi di arena pertunjukan. Secara keseluruhan, para finalis ini telah menampilkan yang terbaik. Jaja Miharja berpesan: ”Gak masalah juara ketiga yang penting job lancar daripada juara 1 tapi gak lancar job percuma saja.”


Di antara penonton yang saat itu terdapat Tarsan, Doyok, Miing, Didin, Akri, Eko, Taufik Savalas, Indro, Komar, Aditya Gumay, dan Agum Gumelar. Sebelum pengumuman pemenang juga diberikan penghargaan khusus kepada grup lawak Patrio yang telah lama berkiprah di TPI selama 10 tahun. (aih-45)

 

Jawa Pos

Senin, 30 Mei 2005,

SOS Menangi API

 

JAKARTA - Setelah “bertarung” tiga bulan lebih, grup lawak asal Bandung, SOS, akhirnya keluar sebagai juara pertama dalam Audisi Pelawak TPI (API). Dalam Gren Pinal yang disiarkan secara langsung lewat televisi tadi malam, SOS berhasil menyisihkan dua grup lawak lain asal Jakarta, yakni Bajaj dan Limau.


Kemenangan SOS benar-benar di luar dugaan. Sebab, sebelumnya, menjelang Gren Pinal, mereka hanya menempati peringkat paling bawah. Yang justru diunggulkan adalah Limau.

Tapi, SOS berhasil membalikkan semua. Tadi malam mereka mengantongi dukungan terbanyak dari penonton melalui pesan singkat atau short message service (SMS). SOS mengantongi 53,99 persen dukungan. Bajaj memperoleh 25,93 persen SMS dan menjadi juara kedua. Juara ketiga diraih Limau setelah “hanya” memperoleh 20,08 persen SMS.

Berkat kemenangan itu, SOS berhak atas hadiah uang tunai Rp 125 juta. Pemenang kedua menerima hadiah Rp 100 juta dan ketiga Rp 75 juta.


Para personel SOS mengaku tidak menyangka bakal memenangkan API. “Kita pasrah saja kok. Dapat juara tiga saja kita sudah senang,” aku Oni, salah satu personel SOS. Ternyata, merekalah yang menang. Oni maupun dua personel lain SOS, Ogi dan Sule, tidak dapat menyembunyikan kegembiraan mereka.


Bahkan, ketiganya sudah memiliki rencana ke depan setelah kemenangan tersebut. Salah satunya, akan mendirikan fans club di Jakarta. “Kami tentu saja akan pindah ke Jakarta. Fans club itu akan kami dirikan untuk memperlihatkan bahwa pelawak juga dapat eksis,” terang Oni.


Lantas, untuk apa uang hadiahnya? Ditanya demikian, mereka menjawab bahwa uang itu akan dipakai untuk bayar zakat dulu. “Baru sisanya akan dibagi bertiga,” ujar mereka berbareng.


Oni mengaku sudah punya rencana untuk uang hadiah yang diterimanya. “Saya mau pakai buat beli motor. Soalnya, saya dulu jual motor buat modal ikut API. Jadi, nanti kalau sudah ada duit lagi, saya mau pakai buat beli motor baru. Saya kan ikut klub motor di Bandung,” terangnya sambil tertawa. (dan/alv)

 

 

Cybertaintment

‘SOS’ Rebut Juara I API

Movie: Monday, 30 May 2005 9:12:44 WIB

 

Ajang adu lawak pertama di Indonesia telah melahirkan sebuah grup lawak baru. Dengan modal banyolan yang lumayan kocak akhirnya ‘SOS’ dari Bandung pun keluar sebagai juara pertama Audisi Pelawak Indonesia (API) yang ditentukan melalui sms.

Dalam acara Gren Pinal Api yang digelar Minggu (29/5/2005) malam di Teater tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah grup yang masuk dalam tiga besar diberi kesempatan masing-masing 15 menit untuk unjuk gigi. Mereka adalah ‘SOS’ (Bandung), ‘Bajaj’ (Jakarta), dan ‘Limau’ (Jakarta).


‘SOS’ yang terdiri dari tiga orang pria ini mendapat giliran tampil pertama. Penampilan mereka kurang mengundang tawa penonton selain para pendukungnya yang membawa spanduk, poster, dan memakai kaos bertuliskan SOS.


Setelah lebih dari tiga jam acara berlangsung, akhirnya sekitar pukul 23.00 WIB prosesi anugerah Mustika API dimulai. Pemenang ditentukan berdasarkan hasil polling SMS.

‘SOS’ berhasil mengumpulkan 53,99 persen sms. ‘Bajaj’ (Jakarta) yang cenderung mengundang tawa penonton mendapat 25,93 persen suara, hanya menduduki kursi juara ke-2. Sementara ‘Limau’ (Bandung) berada di posisi bontot dengen perolehan 20,08 persen.


‘Tim Pencela’ dalam acara ini adalah para juri yang terdiri dari lima orang. Mereka adalah Ferry Parto, Kang Ibing, Omas, Bolot, dan Jaja Miharja. Sesuai dengan profesinya, pelawak, mereka juga tidak memberi komentar terlalu serius untuk masing-masing grup. Malah terkesan seadanya dan diulang-ulang.


Komentar tentang kekompakan, juara tidak masalah, dan sederet pesan-pesan lain yang itu-itu saja mewarnai penilaian ‘Tim Pencela’.

Di sela-sela penampilan para finalis, acara juga diisi oleh grup kolaborasi. Mereka adalah gabungan dari masing-masing grup yang tidak masuk dalam tiga besar. Sayangnya, mungkin karena mereka tidak berasal dari grup yang sama lawakan pun terasa garing dan kurang lucu.(dit)


 

 

 

Pikiran Rakyat

BERITA UTAMA

Senin, 30 Mei 2005

 

SOS Gondol Rp 125 Juta

 

AJANG proses hangus-menghanguskan, Audisi Pelawak TPI (API) yang menyisakan SOS grup lawak asal Bandung, Bajaj dari Jakarta dan Limau dari Tangerang Banten di Gren Pinal API sebagai puncak acara berakhir sudah semalam (29/5).

Bertempat di Teater Tanah Airku Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, API menyatakannya, SOS dari Bandung sebagai juara pertama dan berhak mendapatkan uang tunai sebesar Rp 125 juta. Sementara juara kedua diraih Bajaj dari Jakarta berhak atas uang sebesar Rp 100 juta dan ketiga disabet grup Limau yang berhak membawa uang tunai sebesar Rp 75 juta.


Saat SOS dinyatakan meraup 53,99 % suara pilihan pemirsa, Kang Ibing yang duduk sebagai Tim Pencela tidak kuasa menahan tangis. Bahkan saat Omas dan Parto menggodanya, Kang Ibing tetap tidak beranjak dari tempat duduk sambil membiarkan air mata terus keluar dari kedua kelopak matanya.

 

Hal tersebut pantas terjadi pada diri Kang Ibing karena SOS grup lawak asal Bandung yang beranggotakan Suwarman (Oni), Obin Wahyudin (Ogi), Sutisna (Sule), berada di bawah bimbingannya. Bahkan Kang Ibing pernah berujar kalau gaya lawakan hingga logat bicara dirinya akan sangat bangga kalau hal itu dipertahankan.

“Terus pertahankan karena kamu akan menjadi generasi penerus lawakan gaya nyunda,” ujarnya saat duduk sebagai Tim Pencela.


Demikian pula halnya dengan Parto. “Gaya lawakan kamu benar-benar sangat sama dengan bapak (Kang Ibing), mudah-mudahan menjadi penerusnya,” ujar Parto dengan gaya kocaknya akibat terus digoda Ulfa dan Komeng.

Sementara Bajaj dari Jakarta yang beranggotakan, R. Asep Saefuloh, Meilia Balipa Emil, Isa Wahyu Prastantyo, yang selama ini difavoritkan akan menjuarai API pertama harus puas menduduki peringkat runner up dengan perolehan suara 25,93.%.

Sementara Limau dari Tangerang Banten beranggotakan Ali (Ali Zainal Abidin), Mono (Sumono), Ucha (M.Furqon) di tempat ketiga dengan perolehan suara 20,08 %.

 

Di hadapan Tim Pencela (komentator), Parto, Kang Ibing, Omas, Bolot dan Jaja Miharja, dengan mengambil tema Kebudayaan, ketiga kontestan tampil sangat bagus. “Luar biasa, suatu saat kelak kalian akan menjadi pelawak besar,” ujar Jaja Miharja yang ditimpali Bolot dengan acungan jempol dan ungkapan yang sama.

 

Hal senada diingatkan oleh Kang Ibing. “Ingat! Kalian akan menjadi pelawak besar tetapi kalian harus siap untuk menerima risikonya. Kalian harus siap dipuji saat kalian melucu, tetapi kalian juga harus siap ditinggalkan bila sudah tidak lucu,” ujarnya.

Di hadapan sederet pelawak senior tanah air seperti Indro (Warkop DKI), Didin dan Miing (Bagito), Doyok, Tarzan, Kirun, Eko Patrio, Taufik Savalas dan lainnya, pada awal perolehan dukungan melalui pesan singkat (SMS) Limau meraih 45,12 % menduduki peringkat pertama, disusul Bajaj (37,48) dan SOS (17,40). Secara berturut-turut Limau terus menduduki peringkat pertama perolehan dukungan diikuti Bajaj dan SOS.


Namun menjelang detik-detik terakhir setelah SOS tampil pertama dengan “Jaka Kembung” diikuti Bajaj dengan “Bodong Bondowoso” yang berkesempatan tampil ke dua, posisi Limau yang tampil ketiga dengan “Sangkuriang Meriang” posisinya terus merosot dan SOS mengambil posisi pertama diikuti Limau dan Bajaj.

 

Hal ini terlihat dalam perolehan suara pada pertengahan acara, Limau memperoleh 44,49 %, Bajaj (40,01%), dan SOS (15,50%), tampilan suara ke tiga Limau (42,54%), Bajaj (38,34%), SOS (19,12%).

Baru pada tampilan suara keempat SOS menyodok ke peringkat pertama dengan perolehan 37,69% dukungan suara, diikuti Limau (32,58%), Bajaj (29,73%). Kelima SOS (36,76%), Limau (33,24%) dan Bajaj (30,07%).

Tampilan suara keenam, SOS (36,95%), Limau (33,24%) dan Bajaj (30,07%). Hingga posisi terakhir SOS (40.22%), Bajaj (35,40%) dan Limau (24,38%).

 

Audisi Pelawak TPI (API) merupakan ajang unjuk prestasi bagi grup pelawak muda berpotensi yang belum mendapat kesempatan unjuk kemampuan berkompetisi menjadi grup lawak terbaik. Di sisi lain, kehadiran pelawak-pelawak baru di layar kaca dirasakan menjadi salah satu kebutuhan saat ini, karena kondisi objektif saat ini menunjukkan kehadiran pelawak yang sama dalam satu malam pada berbagai stasiun televisi yang berbeda. Dengan demikian API diharapkan mampu menghadirkan pelawak-pelawak baru berkualitas, sehingga menambah panjang daftar pelawak-pelawak di tanah air.


API muncul di tengah meriahnya tontonan reality show pencarian bakat, seperti KDI, AFI, Indonesian Idol dan lainnya, yang mencari bakat-bakat baru penyanyi.

“Ini reality show, tetapi kemasannya kontes lawak. Kami mengombinasikan reality show dan kontes lawak,” kata Daniel G Resowijoyo, Direktur Program dan Produksi TPI API dalam sambutannya.

 

Hasilnya API mendapat respons hangat penonton. Ia pernah mendapat rating sampai 10,2 dengan audience share sebesar 25,6 persen (artinya, 25,6 persen pemirsa pada jam tayang tersebut menonton API). Rating itu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan acara lawak di stasiun televisi lain dalam minggu sama yang “hanya” mencapai 3,4 atau bahkan ada yang tidak masuk daftar 100 acara televisi yang paling banyak ditonton pemirsa. Seluruh elemen acara Kembang API dipotensikan sebagai pengundang tawa.


Elemen utamanya adalah peserta API. Setiap grup diberi waktu tampil selama sekira tujuh menit. Ini bisa disebut inti suguhan. Disambung kemudian dengan komentar para pencela. Mereka memberi semacam evaluasi dan saran dengan gaya melawak.

Pembawa acara Komeng dan Ulfa Dwiyanti serta petugas penggosong, Narji, juga tampil dalam kapasitas sebagai pelawak. Begitulah API, kontes lawak untuk mencari bakat baru lawak yang bisa dinikmati sebagai pentas lawak. (Retno HY/PR)***

API Ditonton Bupati

Wednesday, May 25th, 2005

Sumber: KCM | Rabu, 25 Mei 2005

Jakarta, Warta Kota

Pentas Kembang API, Minggu (22/5), malam lalu, grup lawak SOS, mendapat kehormatan ditonton oleh Bupati Subang, Eep.

Namun, bukan lantaran itu SOS bisa menduduki posisi lebih tinggi dari grup Bajaj dan Limau dalam pengumpulan SMS API. “Kami pikir, masyarakat cukup obyektif memilih grup lawak yang disukainya,” tutur personel SOS, Sule, usai penampilannya di Kembang API.

Menurut dia kehadiran bupati yang mendukung SOS itu tanpa disangka-sangka. Pasalnya, beberapa waktu lalu ketika SOS tampil di Subang dan berkunjung ke rumah Bupati Subang. “Tapi waktu sowan, Pak Bupati tidak ada,” kata Sule lagi.

Ia menambahkan ketika SOS masuk empat besar di Kembang API, orang suruhan Bupati menelpon SOS dan meminta tiket API. “Bupati ingin nonton API,” ujarnya.

Grup Bajaj juga tidak mau ketinggalan. Grup asal Jakarta itu mengundang Bupati Magetan, Jawa Timur, Saleh, untuk menonton Bajaj di Gren Pinal API, Minggu (29/5). Grup Bajaj memang terbentuk di Jakarta. Namun, Isa, seorang personelnya berasal dari Magetan. “Ibu dan bapak saya tinggal di Magetan, saya ke Jakarta hanya karena sekolah,” tutur Isa yang “merekrut” dua temannya, Melky dan Aden, mendaftar API.

“Beberapa hari lalu Bajaj promosi dan silaturahmi ke Magetan, sekalian mengunjungi orangtua di sana. Mudah-mudahan orang-orang Magetan bisa mendukung kami,” kata Isa. “Di sana, kami sempat bertemu dengan Bupati Magetan, Saleh, rencananya, Gren Pinal API, akan datang ke Jakarta dan nonton API,” katanya lagi.

Grup Bajaj asal Jakarta berharap penampilannya di Gren Pinal bisa menyedot perhatian penonton. Tiga personelnya, Aden, Melky, dan Isa, juga berharap penonton yang semula mengirimkan SMS ke grup Ngelantur yang “gosong” pada Minggu (22/5), bisa beralih memilih Bajaj.

“Bajaj akan berusaha tampil maksimal dan terima kasih kepada semua yang sudah mendukung Bajaj,” tutur Melky.

Saat ini grup lawak API yang tersisa tinggal tiga kelompok, yakni SOS, Bajaj, dan Limau. Ketiganya berhak mengikuti babak puncak API di Gren Pinal API untuk memperebutkan hadiah juara pertama uang Rp 125 juta (bukan Rp 150 juta seperti ditulis Warta Kota, Senin 23/5-Red), juara kedua Rp 100 juta, dan juara ketiga Rp 75 juta. (tan)

Ketika Televisi Berburu Pelawak

Sunday, May 22nd, 2005
Sumber: Republika | 22 Mei 2005

Semuanya bermula dari keinginan mencari pelawak baru. Dont worry, be API! Teriakan khas itulah yang mengantar segmen demi segmen acara Audisi Pelawak TPI (API). Sesuai namanya, acara ini melakukan audisi pada kelompok pelawak-pelawak baru yang telah lolos seleksi. Namun, langkah mencari kelompok lawak itu tidak sederhana. Seperti ajang pencarian bakat yang lebih dulu marak, perjalanan memburu kelompok pelawak itu melalui rangkaian panjang.

Semuanya bermula dari proses audisi di lima kota seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Dari proses itu, muncul 800 kelompok lawak yang lantas diseleksi dan ‘digosongin’ (istilah eliminasi di API). Menurut produser API, Ali Mahmudin, proses seleksi dalam audisi API menggunakan kriteria umum. ”Pokoknya harus lucu,” ujarnya. Serupa pula dengan ajang pencarian bakat yang lain, API juga mencari dukungan pemirsa lewat SMS dan premium call. Bedanya, jika di ajang bakat menyanyi hadir tim juri yang akan menilai penampilan para penyanyi baru, API justru dibuat meriah dengan ‘celaan’ para pelawak senior yang bakal mengkritik aksi lucu kelompok baru itu.

Acara API sendiri melalui sejumlah tahap. Bermula dari acara ‘Percik Api’ yang akhirnya menetapkan 16 finalis. Setelah itu ke-16 finalis itu berkompetisi melalui program acara ‘Korek Api’. Dari hasil perolehan suara itulah hadir 12 kelompok yang berhak maju ke babak ‘Kembang Api yang berlangsung selama tiga bulan. Selama kompetisi berlangsung, peserta diwajibkan mengikuti masa karantina yang disebut ‘Godok Inap’ di Wisma Wiradatika Taman Bunga Cibubur. Di tempat itulah mereka mendapatkan pelajaran berupa teori dan praktik dari sejumlah pelawak senior. Sekarang, hanya tinggal empat kelompok lawak saja yang tersisa. Mereka inilah yang akan unjuk kebolehan saat ‘Gren Pinal API’. ”Tinggal selangkah lagi kita mengetahui siapakah yang terbaik dari yang terbaik,” kata Direktur Program dan Produksi TPI, Daniel G Resowijoyo, saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/5).

Seluruh perjalanan panjang itu bermula dari satu keinginan: mencari pelawak baru. Bagi Daniel, mencari pelawak baru itu lebih susah dibandingkan artis baru. ”Tidak ada sekolahnya untuk menjadi pelawak. Seorang pelawak itu melalui proses pencarian sendiri, menentukan tema sendiri, persiapan yang matang, harus memiliki wawasan, dan pergaulan yang luas,” kata Daniel. Belum lagi muncul alasan lambatnya proses regenerasi di dunia lawak yang boleh dibilang tidak sebanding dengan tingkat kebutuhan dan minat masyarakat yang begitu tinggi pada tontonan komedi. Untuk menjawab kebutuhan itulah, API dibuat. ”Program API ini diadakan untuk memunculkan wajah-wajah baru pelawak yang dapat memberikan lawakan baru dan segar,” ujar Daniel.

Apalagi, ”Secara bisnis investasinya juga bagus,” tambah Daniel. Buktinya, berdasarkan survei AC Nielsen, tayangan API berhasil masuk dalam jajaran lima program teratas untuk seluruh stasiun televisi. API juga berhasil meraih posisi tertinggi untuk kategori komedi di seluruh stasiun televisi dengan perolehan rating 10,2 dan share 27,8 persen. Bahkan, program API juga menjadi salah satu kontributor terbesar yang mendongkrak posisi stasiun televisi ini ke posisi tertinggi. Akhirnya, setelah sukses mengorbitkan grup lawak Patrio dan Cagur, kini TPI sudah memiliki 12 grup lawak yang akan siap diorbitkan. Kelompok lawak yang berasal dari API.

Di mata Narji, salah seorang personel kelompok lawak Cagur, inilah saatnya dunia lawak berada di tempat yang layak sehingga profesi lawak dapat disejajarkan dengan profesi lainnya. Termasuk juga untuk urusan fulus. ”Ajang ini merupakan kesempatan bagi pelawak-pelawak muda di seluruh Indonesia untuk bisa terkenal dan yang pasti kesempatan untuk mendapat uang yang lebih banyak. Maklum pasti akan banyak order dan berimbas pada banyak mendapat honor.”Baginya, pelawak adalah profesi yang disenangi semua orang. ”Orang sedih bisa tertawa karena kita, orang diam bisa tertawa karena kita, orang marah bisa tertawa karena kita. Tapi, bisa juga sih sebaliknya, orang tertawa bisa jadi marah karena kita dan yang paling parah orang pada ngedumel karena lawakan kita nggak lucu. He…he…he….”

Pelawak Kampus

Ajang API ini menyisakan empat kelompok lawak, yaitu SOS dari Bandung, Bajaj dan Limau dari Jakarta serta Ngelantur dari Surabaya. Uniknya, dua di antara mereka, Bajaj dan Limau, adalah kelompok lawak yang muncul dari kampus atau setidaknya berawal dari kebersamaan mereka di lingkungan tersebut. Ini seolah mengingatkan pada masa 1980-an ketika para mahasiswa merambah dunia lawak dan meroket. Sebutlah seperti Warkop DKI dan Sersan Prambors. Jejak itulah yang diikuti oleh grup lawak Limau. Mereka mengawali kariernya dari lingkungan kampus Universitas Muhammadiyah Prof DR Hamka-Jakarta (UHAMKA). Bahkan, para personelnya Ali (Ali Zainal Abidin), Mono (Sumono), dan Ucha (M.Furqon) telah sering pentas di pesantren-pesantren.

Selain melawak, Limau (singkatan dari Lawakan Intelek Mono Ali Ucha) juga dikenal sebagai master of ceremony (MC) pada berbagai acara di lingkungan kampus, maupun beberapa event di luar kampus yang berkaitan dengan dakwah. Berbeda dengan tiga anak muda personel Bajaj. Mereka mengaku bukan pelawak. Kebersamaan mereka bermula dari kebiasaan menjadi MC dan bermain musik di kampusnya, Universitas Indonusa Esa Unggul, Jakarta. Karena selalu bertiga, mereka –R Asep Saefuloh, Meilia Balipa Emil, dan Isa Wahyu Prastantyo– dianggap seperti roda bajaj oleh kawan-kawan satu kampus.

Panggilan itulah yang kemudian menjadi inspirasi saat mereka memutuskan mengikuti API. Nama Roda Bajaj, yang belakangan berubah menjadi Bajaj, kemudian dieksplorasi habis-habisan menjadi tema lawakan dalam babak audisi. ”Kami tidak mempunyai satu kiblat dalam melawak, karena dunia ini dunia baru banget buat kita. Yang jelas, konsep lawakan yang kami bawakan adalah humor metropolis. Artinya, semua bisa kami jadikan bahan lawakan secara intelek dan daya tarik kami adalah wajah kami bertiga yang ganteng-ganteng. Jarang kan pelawak wajahnya ganteng-ganteng,” ujar mereka. (ruz)

Komedi

Sunday, May 1st, 2005

Sumber: Republika | 01 Mei 2005

Oleh: Taufiqurrachman Bachdari, Wartawan Republika

Sukses Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) menggelar Audisi Pelawak TPI (API), rupanya menggoyang stasiun televisi lain. Sekalipun tidak menggelar paket acara yang sama, sejumlah stasiun televisi memoles tayangan komedi yang ada, agar lebih menarik dan memiliki daya pikat. Selain API dan Nyalain Lagi Kembang API–tayangan ulang Kembang API Live–, TPI juga menayangkan komedi bertajuk Goyang Pansus.

Indosiar, misalnya, memoles Aneka Ria Srimulat menjadi Kampung Srimulat. Pada Kampung Srimulat, muncul sejumlah pemain baru dan bintang tamu. Seting panggung juga diubah sedemikian rupa.

Indosiar menambah ‘porsi’ komedi dengan meluncurkan paket Dangdut Humor, paket gado-gado antara komedi dengan dangdut. Paket ini mengingatkan kita pada acara Campur Sari TVRI, atau Goyang Pansus TPI, yang memadukan Campur Sari dengan Komedi.

Sementara itu TransTV yang sukses dengan ExtraVaganza–termasuk ExtraVaganza Malam Mingguan–, menambah lagi porsi komedi dengan menayangkan Ketawa Spesial Ala TransTV. Komedi baru di TransTV ini, mengusung format yang berbeda. Bila Anda sempat menikmati tayangan ini, ada semacam inovasi pada tayangan komedi. TransTV mengusung tiga panggung dengan grup lawak yang berbeda, yang bermain bergantian.

Panggung pertama menampilkan format Lenong Rumpi yang populer tahun 1980-an. Panggung kedua menampilkan Teamlo yang menyanyikan parodi lagu-lagu pop. Sedangkan panggung ketiga menampilkan komedi (tradisional) gaya Srimulat. TransTV juga melakukan rerun Mr Bean, setiap Rabu Malam. Bila Bajaj Bajuri masuk tayangan komedi, paket komedi yang ditayangkan TransTV relatif banyak.

Yang juga masuk kategori paket komedi pendatang baru adalah Sabtu Ria yang ditayangkan ANTV. Sementara itu, Lativi masih mempertahankan paket Komedi Tengah Malam, tayangan yang mirip dengan Nah Ini Dia yang pernah ditayangkan SCTV. Banyaknya acara komedi di televisi, sedikit banyak memberikan suatu gambaran kepada kita bahwa komedi atau humor, diminati pemirsa televisi. Masalahnya kemudian, komedi seperti apa yang diminati publik. Mengapa Nah Ini Dia yang menghebohkan justru ditinggalkan pemirsa?

Belajar dari sukses TPI menempatkan API pada peringkat teratas rating televisi untuk kategori hiburan. Atau keberhasilan TransTV mendudukan ExtraVaganza masuk dalam 10 besar rating kategori hiburan, menyadarkan kita bahwa sesuatu yang baru–baik pemain, gaya berkomedi, maupun kemasan komedi itu sendiri–, memiliki daya tarik tersendiri.

Ia semakin memiliki daya pikat, karena apa yang disampaikan nyambung dengan apa yang ada dalam hati dan pikiran seseorang. Ditengah gencarnya liputan mengenai korupsi di KPU, lawakan yang menyentil soal korupsi atau olok-olok mengenai korupsi, tentu lebih menarik. Jika dibandingkan dengan thema soal keluarga berencana atau transmigrasi.

Content, isi atau pesan, menjadi sesuatu yang penting. Teamlo, misalnya. Grup musik yang mengandalkan parodi lagu-lagu pop ini, berhasil ‘menyihir’ penggemarnya melalui medley dengan irama musik yang berubah-ubah, sesuai kemauan sang pelantun lagu. Teamlo tak sendirian. Ada Sastro Moeni dan sejumlah grup lain yang memilih format serupa. Jika ditarik ke belakang, apa yang dilakukan Teamlo tak berbeda jauh dengan apa yang dilakukan Project P atau Project Pop. Djadug dengan Orkes Keroncong Sinten Remen atau Orkes Melayu Waton Moeni, juga menyelipkan banyak unsur humor dalam karya-karyanya.

Lebih ke belakang lagi, parodi atau plesetan lagu-lagu pop pernah dipopulerkan Orkes Melayu Pancaran Sinar Petromax (PSP) atau Orkes Melayu Jaran Goyang di tahun 1970-an. Karena yang dilantunkan Teamlo lagu pop terkini, ia masih nyambung dengan apa yang ada dalam benak penontonnya.

Gaya Teamlo juga mengingatkan kita pada Warkop DKI. Gaya melawak tiga sekawan ini dirujuk banyak para pelawak-pelawak muda. Ngelaba, misalnya, banyak diilhami sukses Warkop DKI. Tak hanya di panggung, komedi slapstick versi Warkop DKI juga mewarnai tayangan televisi lain, seperti sinetron.

Srimulat–yang mengacu konsep lawak pada kesenian tradisional seperti Ketoprak, Wayang Orang atau Goro Goro pada wayang kulit– dan telah berusia puluhan tahun, tetap bertahan hingga saat ini. Gaya lawaknya mengilhami para pelawak tradisional, termasuk pelawak-pelawak pendatang baru. Yang masih langka adalah melawak gaya Charlie Chaplin atau Rowan Artkinson yang berperan sebagai Mr Bean. Kita belum memiliki figur yang mampu melawak seperti mereka.

Terlepas dari apa gaya melawak yang ditampilkan atau disajikan kepada publik, atau melalui media apa pesan itu disampaikan, ada satu hal yang menjadi pengikat antara pelawak dan penikmat lawakan. Dalam bahasa sederhana, pengikat itu adalah content atau isi lawakan. Komedi adalah dunia tanpa batas, no boundaries kata sebuah iklan. Ia menjadi menarik, setelah pelawak atau komedian memberinya bingkai dan mengolok-olok apa yang ada di dalam bingkai itu.

Mengapa Teamlo atau ExtraVaganza mampu menembus kompetisi yang ketat dalam jagad komedi Indonesia saat ini, jawabannya adalah content lawakan. Dua grup ini mampu mendekati apa yang ada dalam kepala penikmatnya. Ia mampu mengangkat isu-isu hangat yang ada di tengah masyarakat, dan mengolok-oloknya. Komedi, pada gilirannya, adalah olok-olok terhadap persoalan keseharian kita yang menonjol. Dari persoalan serius seperti korupsi, hingga persoalan sepele seperti antri tiket.