Nari, Dongeng, dan Lawak
Sejak masih duduk di bangku kelas 3 SD, Sule sudah sering tampil di panggung tujuhbelas Agustusan, untuk menari. “Sejak umur lima tahun kalau dengar musik jaipongan bawaannya selalu joget. Aku memang senang sekali menari,” cetus lelaki berambut gondrong dan pirang ini.
Karena senang menari itulah, akhirnya orang tua mendaftarkannya ke sanggar Kandaga. “Mulai dari situ saya jadi sering dapat juara. Tidak hanya di Jawa Barat, tetapi juga sampai Jakarta,” ucap pria kelahiran Cimahi yang memiliki cita-cita menjadi pembawa acara berita ini.
Seperti halnya Oni, teman satu kelompoknya, Sule juga sudah terbiasa mencari uang sejak kecil. “Saya ingat banget dulu kalau mau dapat duit buat jajan, saya harus ikut bapak jualan.” Ayah Sule adalah pedagang bakso dan jagung rebus. Setiap pagi, Sule juga harus jualan es di sekolah. “Siangnya saya ngamen sambil bawa ember keliling kampung, bawain lagu-lagunya Koes Plus,” kisahnya sambil tersenyum geli.
Dari hasil ngamen, Sule tak hanya mendapat uang, tetapi juga pakaian. “Mungkin banyak yang kasihan melihat saya, karena dulu saya dekil banget,” cetusnya sambil tertawa. “Uang hasil berjualan jagung rebus ditabung, kemudian dibelikan tam-tam (gendang, Red.) buat saya ngamen.”
Untuk urusan belajar, ternyata Sule paling malas. “Kalau di kelas kerjanya main terus, nimpukin orang pakai kertas. Saya juga nakal dan sering diomelin Bapak. Makanya saya sering nyontek.”
Hobi menarinya sempat terhenti ketika duduk di bangku SMP. Baru tumbuh lagi saat masuk SMKI “Saya bisa masuk SMKI karena dibantu biaya oleh Apih Uun (sesepuh kesenian Jawa Barat, Red.).”
Sule yang jago menirukan suara perempuan ini sengaja mengambil jurusan Karawitan, bukannya tari sesuai minatnya, karena meng anggap jurusan tersebut agak berbau wanita. “Padahal, sih, waktu di SMP saya lebih sering bermain dengan teman perempuan. Mereka sering minta saya mendongeng cerita lucu. Pernah, suatu ketika saya menolak. Eh mereka malah patungan uang Rp 50 agar saya mau cerita.”
Boleh dibilang, Sule lah yang pertama kali mengajak Ogi dan Oni yang sudah sibuk dengan urusan masing-masing, untuk ikut audisi API. “Mungkin karena kita bertiga sudah sehati. Walaupun jauh tapi dekat di hati,” kata Sule yang menyerahkan uang hasil manggungnya untuk membantu membayar listrik keluarganya di kampung.
Menghadapi audisi, mereka bertiga latihan selama sebulan, termasuk melancarkan bicara Bahasa Indonesia mereka agar fasih. “Agak susah juga, lo, melawak dengan bahasa Indonesia, karena kita terbiasa dengan bahasa Sunda,” celetuk lelaki kelahiran 15 November 1976 ini.
Sule yang ingin memakai hadiah juara API untuk mencicil rumah ini senang-senang saja banyak dikenal orang sekarang ini. “Tapi ada enggak enaknya. Banyak SMS (pesan singkat) yang usil. Misalnya minta beliin telepon genggam, minta isiin pulsa dan masih banyak lagi,” ucap penyuka berat bubur ayam yang merasa semua obsesi dalam hidupnya selalu tercapai ini. “Termasuk obsesi saya untuk menjadi orang terkenal.”
Obien Wahyudin (Ogi)
Tampang Serius Bawa Hoki
Dari seluruh personel SOS, sosok Ogi-lah yang terlihat paling serius. Seperti kedua temannya, Ogi juga sudah menghasilkan uang sendiri sejak kecil. “Selain jualan kue, saya juga pernah menyabit rumput. Saya cuma ingin merasakan cari uang sendiri. Bukan karena orang tua tidak mampu membiayai, tapi karena memang saya iseng saja ingin cari uang sendiri.”
Mengaku sebagai anak penurut, Ogi selalu mendapat nilai bagus di sekolah. “Saya selalu ranking satu. Pelajaran favorit saya adalah matematika, dan selalu mendapat nilai sembilan,” ujar pria yang sewaktu kecil memiliki hobi main wayang dari daun singkong ini.

Ogi juga memiliki jiwa kepemimpinan. Dari kelas 1 sampai 6 SD ia selalu jadi ketua kelas. Ketika SMP pun Ogi terpilih sebagai ketua OSIS. Bahkan ketua OSIS se-Bandung Raya. “Mungkin saya terpilih karena cara bicara saya yang tidak belepotan kesana-kemari, alias selalu terarah. Selain itu, saya orangnya serius. Saya enggak menyangka sekarang bisa menjadi pelawak.”
Sebagai siswa yang gemar berorganisasi, ketika sekolah di SMKI, Ogi pernah dikirim mewakili Jawa Barat untuk Temu Bakti Siswa Tingkat Nasional. “Di sana ada temu budaya dan teknologi, dimana akhirnya kami mendapat juara pertama untuk seni dan budaya,” cetus Ogi yang sempat didaulat untuk menjadi MC kehormatan di acara tersebut. “Nah, waktu saya jadi MC itulah, banyak orang tertawa melihat gaya saya ngomong. Padahal menurut saya itu biasa saja. Mungkin karena saya sedang berada dengan banyak orang serius, saya dianggapnya lucu, ya,” tutur kelahiran Bandung 9 Juli 1977 ini merendah.
Meskipun tidak pernah sama sekali menganggap dirinya lucu, toh lelaki bernama lengkap Obien Wahyudin ini akhirnya membentuk sebuah grup lawak bersama. Lulus dari SMKI, Ogi meneruskan kuliah di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung, mengambil jurusan Karawitan. “Mungkin karena saya orangnya “Sersan”, alias serius tapi santai, jadi saya terpilih lagi menjadi ketua senat di STSI,” kata Ogi yang mengaku tak pernah kehilangan mood untuk melawak setiap kali berada di atas pentas ini.
Sebetulnya, pemilik hobi menulis puisi ini ingin menjadi wartawan. “Saya tertarik ingin jadi wartawan karena hobi menulis. Ternyata saya hanya tahan enam bulan saja bekerja di sebuah koran. Saya suka kesal sendiri kalau berita yang saya kerja ternyata tidak up to date.”
Meskipun tidak lagi menjadi wartawan, Ogi masih tetap menyalurkan bakat menulisnya dengan menjadi penulis skenario. Itupun hanya bertahan 3 episode saja. “Karena ternyata saya lebih senang yang jadi pemainnya. Enggak pusing mikirin ceritanya.”
Menjadi jawara API, membuat nama SOS cukup dikenal dan tarif mereka pun dengan sendirinya meningkat. “Sekarang kami lebih profesional, karena kami punya tim manajemen dan tim kreatif sendiri,” kata Ogi yang ingin membelanjakan hadiahnya untuk menambah uang pembelian tanah ini mantap.

