Archive for June, 2005

SOS SEJAK KECIL SUDAH PINTAR CARI UANG (2)

Sunday, June 12th, 2005
Sutisna (Sule)
Nari, Dongeng, dan Lawak

Sejak masih duduk di bangku kelas 3 SD, Sule sudah sering tampil di panggung tujuhbelas Agustusan, untuk menari. “Sejak umur lima tahun kalau dengar musik jaipongan bawaannya selalu joget. Aku memang senang sekali menari,” cetus lelaki berambut gondrong dan pirang ini.

Karena senang menari itulah, akhirnya orang tua mendaftarkannya ke sanggar Kandaga. “Mulai dari situ saya jadi sering dapat juara. Tidak hanya di Jawa Barat, tetapi juga sampai Jakarta,” ucap pria kelahiran Cimahi yang memiliki cita-cita menjadi pembawa acara berita ini.

KLIK - Detail Seperti halnya Oni, teman satu kelompoknya, Sule juga sudah terbiasa mencari uang sejak kecil. “Saya ingat banget dulu kalau mau dapat duit buat jajan, saya harus ikut bapak jualan.” Ayah Sule adalah pedagang bakso dan jagung rebus. Setiap pagi, Sule juga harus jualan es di sekolah. “Siangnya saya ngamen sambil bawa ember keliling kampung, bawain lagu-lagunya Koes Plus,” kisahnya sambil tersenyum geli.

Dari hasil ngamen, Sule tak hanya mendapat uang, tetapi juga pakaian. “Mungkin banyak yang kasihan melihat saya, karena dulu saya dekil banget,” cetusnya sambil tertawa. “Uang hasil berjualan jagung rebus ditabung, kemudian dibelikan tam-tam (gendang, Red.) buat saya ngamen.”

Untuk urusan belajar, ternyata Sule paling malas. “Kalau di kelas kerjanya main terus, nimpukin orang pakai kertas. Saya juga nakal dan sering diomelin Bapak. Makanya saya sering nyontek.”

Hobi menarinya sempat terhenti ketika duduk di bangku SMP. Baru tumbuh lagi saat masuk SMKI “Saya bisa masuk SMKI karena dibantu biaya oleh Apih Uun (sesepuh kesenian Jawa Barat, Red.).”

Sule yang jago menirukan suara perempuan ini sengaja mengambil jurusan Karawitan, bukannya tari sesuai minatnya, karena meng anggap jurusan tersebut agak berbau wanita. “Padahal, sih, waktu di SMP saya lebih sering bermain dengan teman perempuan. Mereka sering minta saya mendongeng cerita lucu. Pernah, suatu ketika saya menolak. Eh mereka malah patungan uang Rp 50 agar saya mau cerita.”

Boleh dibilang, Sule lah yang pertama kali mengajak Ogi dan Oni yang sudah sibuk dengan urusan masing-masing, untuk ikut audisi API. “Mungkin karena kita bertiga sudah sehati. Walaupun jauh tapi dekat di hati,” kata Sule yang menyerahkan uang hasil manggungnya untuk membantu membayar listrik keluarganya di kampung.

Menghadapi audisi, mereka bertiga latihan selama sebulan, termasuk melancarkan bicara Bahasa Indonesia mereka agar fasih. “Agak susah juga, lo, melawak dengan bahasa Indonesia, karena kita terbiasa dengan bahasa Sunda,” celetuk lelaki kelahiran 15 November 1976 ini.

Sule yang ingin memakai hadiah juara API untuk mencicil rumah ini senang-senang saja banyak dikenal orang sekarang ini. “Tapi ada enggak enaknya. Banyak SMS (pesan singkat) yang usil. Misalnya minta beliin telepon genggam, minta isiin pulsa dan masih banyak lagi,” ucap penyuka berat bubur ayam yang merasa semua obsesi dalam hidupnya selalu tercapai ini. “Termasuk obsesi saya untuk menjadi orang terkenal.”

Obien Wahyudin (Ogi)
Tampang Serius Bawa Hoki

Dari seluruh personel SOS, sosok Ogi-lah yang terlihat paling serius. Seperti kedua temannya, Ogi juga sudah menghasilkan uang sendiri sejak kecil. “Selain jualan kue, saya juga pernah menyabit rumput. Saya cuma ingin merasakan cari uang sendiri. Bukan karena orang tua tidak mampu membiayai, tapi karena memang saya iseng saja ingin cari uang sendiri.”

Mengaku sebagai anak penurut, Ogi selalu mendapat nilai bagus di sekolah. “Saya selalu ranking satu. Pelajaran favorit saya adalah matematika, dan selalu mendapat nilai sembilan,” ujar pria yang sewaktu kecil memiliki hobi main wayang dari daun singkong ini.
KLIK - Detail
Ogi juga memiliki jiwa kepemimpinan. Dari kelas 1 sampai 6 SD ia selalu jadi ketua kelas. Ketika SMP pun Ogi terpilih sebagai ketua OSIS. Bahkan ketua OSIS se-Bandung Raya. “Mungkin saya terpilih karena cara bicara saya yang tidak belepotan kesana-kemari, alias selalu terarah. Selain itu, saya orangnya serius. Saya enggak menyangka sekarang bisa menjadi pelawak.”

Sebagai siswa yang gemar berorganisasi, ketika sekolah di SMKI, Ogi pernah dikirim mewakili Jawa Barat untuk Temu Bakti Siswa Tingkat Nasional. “Di sana ada temu budaya dan teknologi, dimana akhirnya kami mendapat juara pertama untuk seni dan budaya,” cetus Ogi yang sempat didaulat untuk menjadi MC kehormatan di acara tersebut. “Nah, waktu saya jadi MC itulah, banyak orang tertawa melihat gaya saya ngomong. Padahal menurut saya itu biasa saja. Mungkin karena saya sedang berada dengan banyak orang serius, saya dianggapnya lucu, ya,” tutur kelahiran Bandung 9 Juli 1977 ini merendah.

Meskipun tidak pernah sama sekali menganggap dirinya lucu, toh lelaki bernama lengkap Obien Wahyudin ini akhirnya membentuk sebuah grup lawak bersama. Lulus dari SMKI, Ogi meneruskan kuliah di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung, mengambil jurusan Karawitan. “Mungkin karena saya orangnya “Sersan”, alias serius tapi santai, jadi saya terpilih lagi menjadi ketua senat di STSI,” kata Ogi yang mengaku tak pernah kehilangan mood untuk melawak setiap kali berada di atas pentas ini.

Sebetulnya, pemilik hobi menulis puisi ini ingin menjadi wartawan. “Saya tertarik ingin jadi wartawan karena hobi menulis. Ternyata saya hanya tahan enam bulan saja bekerja di sebuah koran. Saya suka kesal sendiri kalau berita yang saya kerja ternyata tidak up to date.”

Meskipun tidak lagi menjadi wartawan, Ogi masih tetap menyalurkan bakat menulisnya dengan menjadi penulis skenario. Itupun hanya bertahan 3 episode saja. “Karena ternyata saya lebih senang yang jadi pemainnya. Enggak pusing mikirin ceritanya.”

Menjadi jawara API, membuat nama SOS cukup dikenal dan tarif mereka pun dengan sendirinya meningkat. “Sekarang kami lebih profesional, karena kami punya tim manajemen dan tim kreatif sendiri,” kata Ogi yang ingin membelanjakan hadiahnya untuk menambah uang pembelian tanah ini mantap.

SOS SEJAK KECIL SUDAH PINTAR CARI UANG (1)

Sunday, June 12th, 2005

Sumber: Tabloid Nova | 6-12 Juni 2005

KLIK - Detail Dari hasil perolehan SMS saat final API minggu lalu, kelompok SOS dari Bandung mendapat 50 persen lebih. Jauh mengungguli dua rivalnya, Bajaj dan Limau. Yuk, mengenal lebih dekat dengan personel yang kerap mengangkat budaya Sunda dalam lawakannya.

Suwarman (Oni)
Hadiah untuk Nebus Sawah

Saat kecil, lajang kelahiran Subang, 5 Maret 1978 ini mengaku minder dan pemalu. Bahkan, ia tak gampang tertawa saat melihat pelawak beraksi di televisi. “Makanya saya heran, sekarang, kok, saya malah jadi pelawak,” kata Oni yang kali ini tak bermaksud melawak.

Ajaibnya, meski tak punya cita-cita menjadi pelawak, saat kelas IV SD Oni sempat ikut lomba lawak di kota kelahirannya. Anehnya lagi,ia justru keluar sebagai juara pertama se-Kabupaten Subang. “Sejak itu rasa minder dan pemalu itu lama-lama jadi hilang.”

Kehidupan Oni kecil juga jauh dari lucu. Sejak kecil ia sudah terbiasa hidup mandiri. “Saya pernah jualan kue serabi dan bala-bala (bakwan, Red.).” Saat musim petasan, Oni juga mencoba meraup rezeki dengan dagang petasan. Ia pun kerap keluar masuk kampung, ikut main kesenian tradisional Sisingaan. “Meski bayarannya hanya Rp 250, saya bangga bisa ikut sisingaan. “Uang segitu bisa beli bakso 10 mangkuk.”

Saat di SMP, kepercayaan diri Oni makin besar. Ia pun mulai sadar, punya bakat melawak. “Di SMP itulah, saya merasa kalau memiliki bakat melawak, dan bisa membuat banyak orang tertawa,” cetus pria yang masih kental logat Sundanya “Banyak yang bilang kalau kelucuan saya karena suara dan logat saya ini. Padahal ini enggak dibuat-buat sama sekali, lo. Sudah dari pabriknya.”
KLIK - Detail
Selain menjuarai lomba lawak, Oni juga jago berorasi. Ia pernah juara lomba pidato dari kelas I sampai kelas 3 SMP. “Wah, saya senang banget, lo, bisa ikutan lomba pidato mewakili Subang. Yang lebih senang, saya bisa ke Bandung,” ujar Oni yang pada saat itu membawakan pidato mengenai kebudayaan yang mengangkat pembangunan. “Melihat kemampuan saya di bidang seni, guru saya langsung menganjurkan untuk nerusin sekolah di SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Negeri Bandung).”

Nasihat sang guru dituruti. Meski untuk biaya sekolah di Bandung sang orang tua harus menggadaikan sawah. Oni akhirnya masuk jurusan Pedalangan. “Itu atas saran orang tua. Karena di jurusan Pedalangan banyak belajar tentang kesenian, misalnya karawitan, gamelan, wayang, sekaligus belajar akting.”

Di kampus itulah Oni menemukan komunitas lawaknya. Bersama beberapa teman mereka membentuk grup lawak dan rajin mengikuti lomba. Sule dan Ogi adalah teman Oni yang kini bergabung di SOS. “Hanya saja, dulu saya enggak pernah punya nama grup, karena setiap kali mentas selalu berganti personel,” ujar Oni yang hobi main catur ini.

Seiring dengan seringnya mereka bertiga mengikuti lomba lawak, Oni, Suge, dan Ogi akhirnya memutuskan untuk memberi nama SOS pada grup mereka tahun 1994. “SOS itu awalnya nama personel, Suwarman, Obin, dan Sutisna.” Tetapi belakangan nama itu tak lagi berarti singkatan nama-nama mereka. “Nama panggung kami sekarang berubah semua. Saya menjadi Oni, Sutisna menjadi Sule, dan Obin menjadi Ogi. Semuanya serba spontan. Mungkin nama itu lebih menjual, ya,” ujarnya sambil tertawa lepas.

Ide untuk ikut audisi API datang dari Sule. “Tumben saya langsung mengiyakan. Padahal, saya sering enggak bisa, karena saya, kan, harus melatih kesenian tradisional mahasiswa baru di Unpad. Itu sebabnya, mereka berdua lebih sering manggung sendiri tanpa saya. Saya baru gabung kalau ada kejuaraan. Rasanya ada kepuasan tersendiri,” tutur Oni yang sekarang masih kuliah di jurusan Public Relation program Ekstensi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Bandung.

Oni punya cara unik untuk mendapat inspirasi melawak. “Yang paling sering, sih, inspirasi datang ketika saya sedang di toilet. Sambil nyanyi-nyanyi di kamar mandi, terkadang dapat ide, kemudian saya rekam dalam ingatan,” kata penyuka minuman bajigur ini.

Setelah menjadi orang yang cukup dikenal masyarakat, Oni menjamin dirinya tidak akan berubah. “Dijamin 100 persen, saya tidak akan berubah. Sekarang saja saya masih shock kalau disebut sebagai public figure. Enggak sedikit orang yang menyapa, lantas memberi baju, jaket, dompet, atau topi. Saya masih kaget aja ada yang begitu baik terhadap saya,” ujar lelaki yang menganggap semua ini adalah rezeki dari Tuhan. “Mungkin perbedaannya, sekarang saya jadi jarang main dengan tetangga atau teman-teman yang lain. Itu juga karena kesibukan saya, bukan karena saya sombong. Karena saya bisa seperti sekarang ini juga berkat masyarakat.”

Lantas, akan diapakan hadiah sebagai juara pertama API sebesar Rp 125 juta tersebut? “Yang pasti, sih, dizakatin dulu, baru kemudian dibagi 3,” katanya. Selain itu, Oni dan teman-temannya berencana mendirikan base camp di Bandung, bagi teman-teman yang belum lolos audisi API. “Mereka akan kami jadikan tim kreatif untuk SOS. Karena kita enggak mau menjadi pelawak yang umurnya cuma seumur jagung, jadi kami ingin terus berkarya bersama teman-teman lain.”

Keinginan pribadi? “Saya ingin nebus sawah yang pernah digadai orang tua saya sebesar Rp 8 juta ketika saya masuk SMKI. Lalu, saya juga mau nerusin kuliah lagi buat nambah ilmu,” ujarnya mantap.