| 2005-07-02 | |||
|
Keadaan dunia komedi di indonesia sudah terasa menjemukkan, tak ada lagi suatu inovasi baru yang membuat segar penonton televisi di indonesia. Para komedian di indonesia sepertinya telah terjebak akan kultur materi lawakan yang berkisar mengenai kondisi fisik lawan mainnya atau plesetan - plesetan yang bagi saya hal tersebut tidaklah lucu bahkan bisa dikatakan “muak”. Adanya kontes bakat untuk mecari pemain lawak di indonesia seperti Audisi Pelawak Indonesia (API) di TPI, sebenarnya berharap mencari bakat - bakat lawak serta materi lawakan yang baru. Tetapi setelah melihat para kontestan API yang baru, saya sepertinya tak melihat sesuatu yang baru dari mereka. materi lawakan yang mereka usung tetaplah sama hanya berkisar “penghinaan” kondisi fisik lawan mainnya atau plesetan - plesetan suatu perkataan. akankan keadaan ini akan terus berlanjut. Sepertinya para penonton pun bosan mengenai acara - acara lawakan yang ada di televisi, karena hanya mengetengahkan materi - materi yang itu saja. Bagi saya acara komedi yang lucu dan segar itu hanya acara “Bajaj Bajuri”, sebab bagi saya materi yang mereka tampilkan baik. Kelucuan bukanlah ditimbulkan dari “penghinaan” fisik lawan mainnya atau plesetan - plesetan tetapi kelucuan mereka hadir karena situasi yang membuat hal tersebut menjadi lucu atau komedi situasi. oleh karena itu acara bajaj bajuri sangat diminati oleh permirsa karena mengetengahkan sesuatu yang baru bagi penonton Sebenarnya dunia pertelevisian di eropa atau Amerika telah lebih dahulu tahu mengenai kondisi penonton mengenai materi untuk acara komedi. makanya acara komedi yang bertema slapstik sudah ditinggalkan dan lebih memilih komedi situasi “sitkom” seperti serial friends. Semoga lebih banyak acara - acara komedi yang mengetengahkan hal - hal atau materi lawakan atau humor yang baru seperti bajuri - bajuri lainnya. Agar hidup kita lebih segar di tengah kehidupan yang “ruwet”. Semoga… sumber: Dody |
|||
Archive for July, 2005
Komedi di Indonesia yang Menjemukkan
Saturday, July 2nd, 2005Soal Ketawa, Pria dan Wanita Memang Klop
Saturday, July 2nd, 2005Sumber: Kompas Cybermedia | 02 Juli 2005
Jakarta, Sabtu
Tertawa itu menyenangkan. Tertawa itu bikin kita lebih bahagia. Dan gara-gara tawa juga kita bisa jatuh cinta pada seseorang…
Lihatlah tayangan-tayangan di TV kita. Ada satu jenis tayangan yang tidak pernah sepi penonton, yaitu tontonan komedi! Masih segar di ingatan kita ketika aksi lomba “Akademi Pelawak Indonesia” (API) menarik perhatian banyak orang. Acara ini makin mencolok justru di saat berbagai stasiun TV berlomba bikin kompetisi nyanyi atau model. Terus, yang sekarang masih, “panas” adalah acara “Extravaganza”. Aksi Tora, Aming, dan kawan-kawannya yang sebenarnya pelawak dadakan sangat sukses mengocok perut kita. Para pemainnya pun semakin ngetop di mana-mana. Semua atas nama kekuatan tawa!
Ya, tawa sudah menjadi barang yang sangat berharga. Semakin berharga karena kita hidup di tengah-tengah zaman yang dipenuhi stres. Rasanya setitik tawa saja begitu berarti untuk melemaskan persendian yang terlalu tegang dibebani kewajiban.
He he he …
* The power of laughing juga makin jelas karena banyak sekali hasil riset yang membuktikan bahwa tertawa bisa membuat stres kita jauh berkurang.
Gordon WAilport, psikolog terkenal yang berasal dari Amerika, pernah bilang, so many tangles in life are ultimately hopeless that we have no appropriate sword other than laughter. Artinya, segala rintangan dalam hidup hanya bisa dilawan oleh senjata paling ampuh, yaitu tawa.
Sebuah riset membuktikan kalau tertawa memperkuat tubuh kita untuk melawan penyakit. Tawa akan meningkatkan kemampuan tubuh memproduksi bakteri dan virus pelawan penyakit yang disebut salivary immunoglobin A (S-IgA). Hormon yang memicu stres kita, yaitu cortical, juga semakin menurun saat kita tertawa.
Keberanian untuk menertawakan diri sendiri juga berguna. Ada sebuah penelitian yang melibatkan dua kelompok responden. Kedua kelompok ini diberikan pengalaman yang menaikkan tekanan darahnya. Ternyata, mereka yang cenderung menertawakan kesalahan diri mereka hanya meñgalami sedikit kenaikan tekanan darah. Sementara, yang menggunakan humor untuk menyerang orang lain justru paling tinggi kenaikan tekanan darahnya.
Hahaha..
* Membuat seseorang tertawa bukan hal mudah. Malahan sulit! Dan akhirnya, ketika ada seseorang yang berhasil bikin kita benar-benar terbahak, berubah pulalah pancaran aura orang itu. Seolah-olah ada lingkaran sinar yang membuat dia jauh lebih menarik.
Faktor fisik yang standar pun menjadi semakin samar karena dia terlihat kinclong dengan sense of humour-nya yang menggelitik. Lihat saja buktinya, banyak pelawak-pelawak dengan tampang ala kadarnya tapi berhasil mendapatkan pacar yang oke, he- he-he.
Sekarang juga sudah tidak zamannya bertampang keren selera humornya kering! “Buat aku lebih mending cewek yang biasa saja tapi humoris daripada cewek yang cakep banget. Soalnya kalau cakep tapi orangnya enggak asyik, kan sama saja bohong,” aku Iron, kelas III SMU Bopkri I, Yogyakarta.
Hal yang sama juga diakui Arin, kelas II SMU Bina Nusantara, Jakarta. “Mendingan cowok yang biasa saja tapi humoris daripada yang ganteng doang. Soalnya ganteng kan cuma luarnya, (jadi) gampang hilang!”
Salah satu hal yang membuat seseorang gampang tertarik pada lawan jenis yang kocak adalah karena mereka tidak membosankan. “Cowok yang aku suka itu harus bisa bikin aku ketawa. Soalnya cowok kayak begini enggak membosankan, selalu saja ada hal baru yang bisa diomongin sama dia,” ujar Samantha, kelas 3 SMP Pelita Harapan, Karawaci.
Di mata kita, seseorang yang kocak pun terlihat menyenangkan. “Salah satu sifat yang bisa bikin aku suka sama seseorang adalah humoris. Soalnya asyik, kayaknya hidup itu enggak ada beban. Mereka lebih menyenangkan, lebih easy going dan ramah,” cerita Putra, kelas I SMUN 78, Jakarta.
Menurut penelitian yang dilakukan Robert Provine (professor psikologi yang banyak meneliti soal tawa) terhadap 1200 kasus, wanita lebih sering tertawa daripada pria. Wanita tertawa 126 persen lebih banyak dibandingkan pria. Ini berarti wanita lebih sering memberikan tawa, sementara pria-lah yang jadi bahan tertawaan atau menghasilkan lelucon untuk membuat wanita ketawa. Contoh sederhananya, kita lihat orang-orang kocak di sekolah. Pasti, laki-laki. Kebanyakan pelawak juga laki-laki!
Kalau diperhatikan lebih lanjut, iseng-iseng baca kolom biro jodoh. Kebanyakan wanita akan mencari pria yang punya sense of humour. Sementara kebanyakan pria malah mempromosikan diri sebagai lelaki yang punya sense of humour. Nah, jelas, wanita lebih mencari pria yang kocak, sedangkan lelaki menuruti permintaan ini! Klop!
Para pria pun bisa gampang tahu kapan seorang wanita senang terhadap mereka. Lihat saja seberapa sering dia tertawa selama ketemu. Sebaliknya, pria juga lebih suka pada wanita yang tertawa lepas saat mereka lagi bersama. He-he- he… Dan menurut kesimpulan penelitian lain Robert Provine, salah satu tanda suatu hubungan pacaran berjalan sehat adalah ketika si wanita banyak tertawa.
Hi hi hi…
* Memang, jadi seseorang yang kocak pasti banyak yang menyukai. Tapi, juga mesti hati-hati, tertawa itu kan juga dipengaruhi oleh persepsi.
Suatu joke yang membuat seseorang tertawa belum tentu bikin orang lain lagi tertawa. Faktor kebudayaan seseorang pun sangat memengaruhi humor yang kita buat. Ingat iklan susu yang dibintangi anak laki-laki dan perempuan, lalu si anak lelaki berkata, “Ini teh susu?” Kemudian dijawab anak perempuan itu, “Ini susu, bukan teh.” Kita yang mengerti bahasa Sunda, pasti akan tertawa mendengar percakapan keduanya. Tapi, kita yang tidak mengerti, akhirnya cuma bisa bengong.
Malahan kalau kita sembarangan, humor pun bisa menyinggung lawan bicara kita. Seperti, humor yang mengandung unsur seks. Ben Leung dari the Education faculty’s Institute of Human Development and Counselling Monash University membuktikan kalau humor berunsur seks lebih disukai pria daripada wanita.
Sifat humoris yang berlebihan juga kurang disukai oleh banyak orang. Samantha dan Putera mengakui hal ini. Mereka berdua merasa pacarnya yang humoris jadi susah diajak ngobrol serius karena bawaannya bercanda melulu. Lain lagi dengan Belen yang duduk di kelas 2 SMP Tarakanita 1, Jakarta. “Enggak asyiknya (pacaran sama cowok humoris) kalau dia bercandanya jayus,” katanya.
Menjadi “pelawak” buat si pujaan hati adalah hal yang sulit. Tapi akan lebih menyenangkan kalau kita tidak memaksakan bakat humoris kita. Lagi pula, tertawa adalah suatu hal yang alami dan secara otomatis terjadi. Saat kita memang benar-benar menyukai seseorang, otomatis dia akar tersenyum ketika menatap kita dan tertawa meskipun jokes kita jayusnya minta ampun. (Trinzi Mulamawitri/Tim Muda)
Tujuh Rahasia Tertawa …
Friday, July 1st, 2005Jakarta, Jum’at
1. Anak-anak tertawa sekitar 400 kali dalam sehari, sementara orang dewasa biasa tertawa 15 kali sehari.
2. Tawa itu sebenarnya menular, lho! Makudnya, kita cenderung tertawa kalau lawan bicara kita tertawa. Pada tahun 1962, di Tanzania terjadi penyebaran tawa! Dimulai dari sekelompok anak-anak asrama cewek yang tertawa terbahak-bahak. Tawa ini memengaruhi murid-murid lain dan akhirnya sekolah terpaksa ditutup. Virus tawa saat itu bahkan menyebar hingga ke masyarakat sekitar Tanzania.
3. Tawa itu bukan hanya karena lelucon saja. Seorang peneliti pernah mencuri dengar percakapan di mal dan mencatat kenapa dan seberapa sering seseorang tertawa. Kurang dari 20 persen orang cenderung tertawa ketika mendengar cerita lucu. Tapi kebanyakan tawa terjadi ketika seseorang sedang menyambut atau mengucapkan selamat tinggal ke orang lain.
4. Walaupun humor sangat berkaitan erat dengan budaya, bunyi tawa sebenarnya sama di seluruh kebudayaan. Bahkan, bunyi tawa itu sangat gampang dikenali meskipun direkam dan diputar secara terbalik di tape.
5. Manusia mulai tertawa sejak masih berusia empat bulan dan tawa inilah yang membantu kita semakin dekat dengan ibu.
6. Hewan pun ternyata bisa tertawa! Tikus akan mencicit riang ketika sedang bergulat dengan tikus lain atau dikelitiki majikannya. Simpanse menunjukkan keceriaannya lewat perubahan anatomi dan tarikan napasnya. Anjing juga punya suara khusus untuk mondorong anjing lain bermain. Merekam suara anjing yang sedang gembira ini bisa mengurangi kadar stres anjing-anjing yang berada di kandang.
7. Sekelompok ilmuwan dari Vanderbilt University di Nashville, Tennessee, Amerika, menemukan bahwa jika kita tertawa selama 10-15 menit, kita bisa membakar 50 kalori, tergantung pada ukuran tubuh dan intensitas tawa. Jadi kalau tiap hari tertawa selama 10-15 menit, kita bisa membakar kalori hingga 2 kilogram setahun.
Meningkatkan Kadar Kelucuan Kita
1. LATIHAN NGOMONG.
Latihan ngomong di depan kaca dan perhatikan ekspresi wajah kita saat melontarkan jokes. Soalnya mungkin saja jokes kita lucu banget, tapi ekspresi muka kita seperti hendak menggigit orang. Bubar, deh, jokes kita! Latihan di depan sobat oke juga, supaya ada yang memberi feedback.
2. LATIHAN KETAWA
Kalau sudah latihan ngomong, coba latihan ketawa yang asyik. Latihan ketawa bisa bikin pikiran kita lebih lepas dan santai sehingga lebih lancar melontarkan kelucuan-kelucuan. Banyak-banyak ketawa juga bikin aura muka kita jadi tambah menyenangkan, urat-uratnya tidak tegang terus. Orang jadi betah berlama-lama sama kita. Asal jangan kebanyakan ketawa, nanti malah dipandang curiga oleh sekitar kita!
3. TEMAN HUMORIS
Rajin nongkrong dengan teman-teman yang humoris biar kadar kelucuan mereka menular ke kita! Kita jadi belajar untuk lebih santai. Kita juga bisa mencontek humor-humor paling gres keluaran para tukang lawak tersebut!
4. BERBAGAI SUMBER
Cari bahan-bahan melucu darimana saja. Mulai dan koran, majalah, internet, televisi, radio, dan darimana saja. Ingat, seorang humoris yang baik adalah yang punya wawasan luas! Sehingga lelucon-leluconnya tidakk pernah mati ditelan waktu, soalnya selalu up to date! Ingat sebenarnya apa saja bisa dijadikan lelucon. Tapi pilih-pilih audience-nya juga. Jangan sampai kita dijitak orang gara-gara mengeluarkan lelucon pada orang yang salah!
5. REAKSI CEPAT
Salah satu kesuksesan melucu adalah reaksi kita yang cepat. Cepat merespons sesuatu dengan yang lucu. Misalnya, ketika teman kita sedang menceritakan pengalamannya, kita sentil lagi di bagian yang lucu, ditambah dengan bumbu-bumbu jokes ala kita sendiri. Semakin cepat dan smart cara bercanda kita, semakin besar kemungkinan kita sukses jadi orang yang lucu. He…he…he… tidak gampang memang, tapi kan practise makes perfect!
6. MENCELA DIRI
Latihan mencela diri sendiri dan tidak marah. Kenapa? Soalnya kalau sudah mulai bercanda-canda gila dengan teman-teman, kita menjadi korban celaan teman-teman yang lain. Kalau kita mudah ngambek, kemungkinannya dua: kita makin dicela sampai puas atau kita jadi dijauhi kalau teman-teman bercandanya sudah mulai overdosis.
7. LATIHAN BERKELIT
Latihan berkelit kalau kita mulai dicela. Caranya belokkan celaan itu ke hal yang lain, kalau bisa ke si pencela. Jangan serius tentunya, harus bisa dengan lucu. Kalau tidak, bisa berantem dan akibatnya kita dijauhi lagi! (Nina Setiawati, Tim Muda)