Archive for October, 2005

Lebaran di Layar Kaca: Masih Andalkan Komedi

Friday, October 28th, 2005
Jakarta, KCM Jumat, 28 Oktober 2005

Program unggulan di bulan puasa masih dijadikan jagoan oleh para pengelola stasiun televisi untuk memikat para pemirsa dalam merayakan Idul Fitri 1426 H, yang jatuh pada 3-4 November nanti. Jago-jago pengocok perut tetap diandalkan, di samping tentunya seabreg bintang bidang lain dunia hiburan.

Si sulung, RCTI, mencoba menarik pemirsa dengan menghadirkan acara gacoannya, STAR (Stasiun Ramadhan) Spesial Lebaran. Eko Patrio, Ulfa Dwiyanthi, Tukul, Jojon, dan Parto Patrio akan kembali menghangatkan suasana dengan gaya bobodoran mereka.

STAR edisi Lebaran lebih semarak lagi dengan menghadirkan sejumlah bintang tamu, yaitu artis-artis cilik Dea Imut dan Tina Toon, Dewi Persik, Laudya Chintya Bella, Firman Indonesian Idol 2005, Seurieus Band, Tequilla Band, dan kelompok tari Batavia Dancer.

Memilih STAR untuk menarik perhatian para pemirsa tentu bukan tanpa strategi. STAR termasuk tontonan bulan puasa yang paling digemari, di jam-jam sahur. “Rating terendah STAR 5,7 dengan share 29,5 persen. Rating tertinginya 6,8 dengan share 32,8″ terang Manajer Humas RCTI Danke Drajat, Rabu (26/10) di Jakarta.

Selama Lebaran nanti, tayangan tersebut akan menyapa pada pukul 10.30-11.30 WIB.

***
antv–stasiun televisi yang baru saja 20 persen kepemilikan sahamnya dikantongi oleh Raja Televisi Dunia Rupert Murdoch lewat unit usahanya yang bermarkas di Hong Kong, yaitu STAR TV–mencoba merebut minat para pemirsa pada sore hari lewat tayangan SBY alias Saling Bermaafan Yuk…!!

Acara itu mengandalkan kehadiran, lagi-lagi, Eko dan Parto Patrio, Ulfa, dan Jojon. Tapi, plus Dorce. Komedi tersebut akan menyemarakkan suasana Lebaran hari pertama pada pukul 16.30-18.00 WIB. “Selain mereka banyak juga artis lain yang terlibat,” kata Zoraya Perucha, Manajer Humas antv.

Pada Lebaran hari pertama dan kedua (3 dan 4 November), pagi hari (pukul 09.00-10.00 WIB), antv menyodorkan Jagoan Meteor Kampus Spesial Lebaran. Setelah itu ada film Warkop Dongkrak Antik (3/10) dan film Pintar-pintar Bodoh, yang dibintangi oleh Kadir dan Doyok (4/10).

Trans TV juga menebar pesonanya lewat Extravaganza dan Ketawa (masing-masing dengan embel-embel spesial Lebaran) serta Lebaran Bersama Ngelenong Yok.

Ya, seabreg tontonan komedi memang bakal menyerbu para pemirsa. TV 7 seperti tak mau ketinggalan. Disodorkannya komedi spesial ala TV dengan mengangkat kisah cinta legendaris Romeo dan Juliet. Tokoh Romeo dipercayakan kepada pemain sinetron Valentino dan Juliet kepada penyanyi Dewi Persik. Komedian Bolot, Jaja Miharja, Wieke Widowati, Ratna Anjani, dan Eddy Brokoli akan turut ambil bagian mengocok perut.

Global TV sama saja. Stasiun televisi tersebut akan menyuguhkan Lenong Sejuta Hiburan dan Ngajak Cengengesan dengan judul Si Kabayan di Hari Lebaran. Di dalam dua tontonan itu akan tampil Adi Bing Slamet, Oky Lukman, Donny Kesuma, dan Cut Memey.

Sementara itu, kelompok Srimulat menjadi jagoan Indosiar. Tarzan, Kadir, Basuki, Gogon, Nurbuat, dan Tessy bakal menghibur lewat Mudik Heboh. Hadir pula di dalamnya Anya Dwinov, Five Vi, Natalie Sarah, dan Nita Thalia.

***
Kalau tak ingin menikmati komedi, para pemirsa bisa memindah saluran ke tayangan berbau religi, musik, film televisi (FTV) drama atau film layar lebar spesial Lebaran.

KH Abdullah Gymnastiar akan menyapa lewat acara Kembali Fitri Bersama AA Gym di RCTI. Acara tersebut bakal menjadi puncak dari rangkaian syiar AA Gym, dari Oase Ramadan, Cinta Ramadan, dan Tabligh Akbar.

Dikemas dalam format variety show, Tausiah dan Muhasabah dimeriahkan oleh Yovie & Nuno, Raihan, Amanda, Rampag Bedug, Chorie, Melanie Putria, Opick, Jauzah, Ravelina, Ferry Ardiansyah, Marshanda, dan Dwiki Dharmawan Big Band.

Sementara itu, SCTV pada malam takbiran nanti akan menghadirkan ustad yang tengah bersinar, Ustadz Jeffry Al-Buchori, dalam Gema Takbir.

Tidak hanya di SCTV, Ustadz Jeffry bakal ada di antv dalam Yang Muda yang Beragama. Obrolannya bertema Merayakan Kemenangan Mencapai Fitrah. Acara tersebut akan diramaikan oleh Opick, Edhu “Petir”, Wati “Petir” serta sejumlah siswa SMUN 1 Jakarta.

Di stasiun televisi lain, Indosiar, ada Ustadz Othsman Shibab, yang akan hadir lewat Hikmah Idul Fitri, yang akan diudarakan mulai pukul 05.30 WIB. Di samping itu, Indosiar akan menyiarkan langsung Sholat Ied dari Masjid Istiqlal, Jakarta.

Bermodal bintang-bintang Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Kontes Dangdut Indosiar (Kondang-In), Indosiar bakal mengudarakan dua drama musikal, yaitu Selagi Ada Waktu (3/10, mulai pukul 18.30 WIB) dan Asyik Juga Nich (4/10, pada jam yang sama).

Langkah yang sama juga diambil oleh TPI. Bintang-bintang Kontes Dangdut TPI 2 (KDI2) dan Audisi Pelawak TPI (API) diterjunkan. Runner up API, Bajaj, misalnya, akan menjajal akting lewat FTV berjudul Jomblo Gitu Loch. Mereka akan beradu akting dengan Basuki dan Debby Sahertian.

Adapun para bintang KDI 2 akan beradu akting dalam Dangdut Happy dengan Meriam Bellina dan Eko Dj.

Sementara itu RCTI menawarkan FTV drama Baju Baru untuk Rahman, yang dibintangi oleh Irgi Fahrezi dan Cicio. Drama tersebut bertema sosial, tentang orang urban yang mencoba bertahan di tengah hiruk-pikuk metropolitan.

Sajian musik spesial tak luput. Di antv ada Irama Dakwah Takbiran dan Lebaran menjelang penghujung malam, dengan menampilkan Raja Dangdut Rhoma Irama.

Peterpan, kelompok musik paling laris saat ini, bakal menghibur lewat Global TV, Trans TV, dan SCTV.

RCTI akan menyiarkan langsung konser Rhoma Irama dari Taman Impian Jaya Ancol, 5 November. Sesudahnya ada Radja (6/11), Ada Band (7/11), dan Ari Lasso (13/11).

So, tak usah kecil hati jika anda tidak bisa mudik tahun ini. Toh, sederet tontonan akan menghibur anda sepanjang hari dalam rangka merayakan Idul Fitri. Duduk saja sembari menyantap ketupat, opor ayam, dan sambal goreng buncis. Nyam… nyam… nyam…

Penulis: Eh

Demimor, Tak Mau Hanya Jadi

Monday, October 10th, 2005
Sumber: Tabloid Nova | Oktober 2005

Soal usia dan jam terbang di dunia lawak, tiga cewek Demimor ini memang terbilang masih anak bawang. Tapi soal kepiawaian berguyon di atas pentas, Lina, Aida, dan Putri sudah teruji.

Demimor yang satu ini tentu bukan Demi Moore si aktris Hollywood yang melambung lewat film Ghost. Walau memang terinspirasi dari nama itu, Demimor yang ini memiliki kepanjangan Demi Kamu Kami Berhumor. Grup lawak asal Jakarta yang terdiri tiga cewek ini baru terbentuk Mei silam. Pertemuan antara Lina Sugianto (20), Aida Agustina (21), dan Putriyani (18) pun tidak disengaja.

KLIK - Detail “Saya ketemu dengan Aida di tempat pengambilan formulir API 2. Ternyata kami cocok. Dan akhirnya, Aida mengajak saya latihan di sanggarnya, yaitu perkumpulan Lenong H. Saran. Kami dilatih Mbak Lilis di GOR Youth Center, Kampung Melayu. Agak sulit juga karena Lenong itu, kan, beda dengan lawak,” ungkap Lina yang memiliki wajah mirip Oky Lukman.

Mereka juga sempat kesulitan mencari satu orang teman lagi untuk membuat grup. Sempat hunting berhari-hari dari kampus hingga ke mal, tapi hasilnya nihil. “Eh, malah tidak diduga waktu latihan di GOR kami bertemu Puteri. Kami merasa dia cocok dan ternyata dia bersedia ikut. Terbentuklah Demimor,” papar Aida yang dijuluki si capung jarum.

Uniknya, mereka bertiga mengaku sama sekali tidak punya basic lawak. Sebelum bergabung di API 2, Lina bekerja sebagai karyawan di tempat hiburan anak-anak, Aida masih berstatus mahasiswa di salah sebuah perguruan tinggi di Jakarta, sementara Putri baru lulus SMU dan aktif di teater SMU. Bisa dibilang mereka benar-benar anak bawang di dunia lawak. “Jadi, kami harus rajin menimba ilmu dari para tutor, pelawak senior, dan teman-teman API 2 yang lain,” ujar Aida yang awalnya tak direstui orang tua ikutan lenong dan API 2.

Jadi “Juru Kunci”
Selama latihan tak jarang ketiganya berselisih paham soal peran ataupun konsep cerita. Maklum, mereka masih terbilang muda. Kalau sudah begini bisa jadi acara ngambek-ngambekan. “Tapi untung tidak lama-lama. Kami cepat-cepat berpikir, kalau mau sukses tak boleh begitu. Dan sekarang, kalau ada masalah selalu bisa kami selesaikan. Kami sudah kompak,” ungkap Puteri.

Kekompakan mereka terbawa hingga ke luar panggung. Mereka sering jalan-jalan bareng, curhat-curhatan soal cowok yang mereka taksir, beli barang yang seragam, sampai hunting kostum untuk pentas. Ya, satu keunikan Demimor setiap tampil mereka selalu berkostum dan berdandan habis-habisan.

Mereka berprinsip, walaupun melawak harus tampil selalu cantik dan percaya diri. “Tidak masalah keluar modal besar, asal penampilan kami cantik. Kami ingin memperlihatkan ke semua orang bahwa pelawak itu tidak identik dengan penampilan kucel, jelek, ataupun seadanya. Pelawak juga harus dandan, dong,” ucap Lina lagi.

Makanya, tak jarang untuk mendapatkan kostum yang benar-benar sesuai tema dan sesuai karakter yang cantik, fungky, dan ABG, mereka menghabiskan jutaan rupiah. Misalnya saja, kostum saat mereka tampil membawakan tema senam aerobik, kontes putri kecantikan atau selebritis dengan gaun penuh bulu-bulu.

Namun, lantaran tampil cantik itu mereka bertiga sempat jadi bahan cemoohan. “Kami pernah tuh dikata-katain orang atau peserta lain yang usil gara-gara dandan habis-habisan. Dibilang salah tempat lah, salah kostum lah. Awalnya sedih juga, tapi lama-lama kami, sih, pe-de aja, deh,” ucap Aida.

Buktinya, makin lama Demimor makin banyak digemari. Tak jarang para penggemar datang ke asrama hanya untuk ngobrol atau membawakan hadiah. “Bahkan waktu cari kostum kemarin, mobil kami sampai dibuntuti, lo. Ternyata mereka itu penggemar Demimor,” ujar Lina dengan logat Betawi yang kental.

Harapan mereka kini, menang ataupun tidak mereka bertekad menjadi grup lawak perempuan pertama di Indonesia. “Selama ini, kan, pelawak perempuan hanya menjadi bumbu-bumbu atau pemanis saja. Kami ingin perlihatkan bahwa pelawak perempuan juga bisa jadi pemegang peran,” sambung Aida yang beberapa kali sempat mencoba menjadi figuran di sinetron.

Punya cerita berkesan selama masuk API 2 ? “Pernah suatu hari, usai pentas kami menangis bareng di belakang panggung gara-gara diteriaki enggak lucu. Dan kami memang sadar waktu itu kami tampil jelek banget. Drop banget rasanya. Tapi syukurnya enggak gosong. Minggu depannya, kami bertekad tampil lebih baik,” kisah Puteri yang mengakui selama ini Demimor sering menjadi “juru kunci” alias urutan kedua dari bawah.

Fahmi

Monday, October 10th, 2005

Sumber: Taboid Nova | 3-10 Oktober 2005


KLIK - Detail Fisiknya sudah cukup unik, hanya memiliki tinggi badan 112 sentimeter, membuat sosok Fahmi mudah dikenal orang. Namun bagi pria bernama lengkap Mohammad Iqbal Fahmi yang dilahirkan 23 April 1976, keterbatasan fisik yang dimilikinya bukan alasan untuk berhenti berkarya. Tentunya keberhasilan yang Fahmi peroleh tak mudah. Banyak suka dan duka yang harus ia lewati.

Fahmi berkisah, ia mulai tertarik dengan dunia melawak sejak duduk di bangku SD di Pekanbaru, Riau. “Enggak tahu kenapa, asyik sekali kalau sudah menonton lawak. Tidak mau diganggu, deh. Perasaan saya selalu senang. Disamping itu, diantara teman-teman saya sendiri orangnya memang dikenal suka bercanda. Mulai SD hingga SMA,” tutur Fahmi yang oleh teman-temannya dijuluki si gendut.

Namun, sebetulnya disamping sifatnya yang suka bercanda, Fahmi juga seringkali minder dengan bentuk tubuhnya yang pendek. “Sering juga dicerca orang karena badan saya begini. Dikata-katai yang buruk-buruk. Apalagi dalam satu keluarga, hanya saya yang bertubuh seperti ini, padahal saya pun lahir normal. Sampai kadang saya pikir, saya banyak bercanda hanya untuk menutupi kepedihan saya itu,” ujar anak ke-7 dari 9 bersaudara pasangan alm. Zulkifli Habib dan Rosma ini.

Untunglah, keluarga dan beberapa kawan kerap membesarkan hatinya. Dan salah seorang yang paling berjasa baginya adalah alm. dr. Yusril. Perkenalan Fahmi dengannya berawal sejak tahun 1985. “Waktu itu saya masih SD. Badan saya sangat ringkih, mudah sakit, dan punya asma parah. Sedikit-sedikit kambuh dan harus selalu minum obat. Nah, saya rutin berobat ke dr. Yusril. Kondisi saya sangat menyedihkan, sakit-sakitan, dan minder,” kisahnya.

Sejak itulah dr. Yusril menjadi penyemangat Fahmi. Seperti orang tua sendiri, dr. Yusril memberi dorongan semangat untuk Fahmi agar jangan putus asa. “Katanya, di balik bentuk tubuh yang diberikan Tuhan, pasti ada kelebihan juga yang diberikan. Dan kelebihan itu adalah melawak atau melucu,” tuturnya.

Bekal Petuah
Lulus SMA, dr. Yusril mengajak Fahmi bekerja mengurus bagian keuangan Wisma Sukajadi, sebuah penginapan kecil di Pekanbaru. “Bayarannya dipakai untuk tambahan uang kuliah. Kalau pagi kerja, sore hingga malam saya kuliah hukum di Universias Islam Riau. Sekitar tahun 2001, dr. Yusril meninggal. Beliau berpesan saya harus lulus kuliah dan tidak boleh berputus asa,” ungkapnya.

Berbekal petuah itulah, Fahmi mencoba mengikuti lomba lawak di kampung halamannya. “Awalnya iseng-iseng. Lihat ada iklan lomba lawak di koran, saya ikuti. Itu dalam rangka memperingati ulang tahun grup lawak Semekot (Semeter Kotor) yang anggotanya orang pendek semua,” katanya lagi.

KLIK - Detail Tak disangka, Fahmi meraih juara I perorangan se-provinsi Riau. Kepercayaan dirinya pun meningkat. Apalagi tak lama kemudian ia diajak salah seorang anggota Semekot, Udin Semekot, untuk membentuk grup lawak baru. Berdirilah grup Kacang Tojin sekitar tahun 2000 yang beranggotakan Fahmi dan Udin.

“Sejak itu saya mulai ada job di berbagai acara daerah dan televisi lokal Riau. Kadang juga dapat job ke luar Pekanbaru, seperti Batam, Tanjung Pinang, Bengkalis, dan lain-lain. Tapi kuliah dan kerja, sih, jalan terus. Paling-paling kalau ada job, izin beberapa hari,”paparnya yang berhasil mengantongi gelar sarjana tahun lalu.

Makin banyak jam terbang Fahmi, kepiawaiannya melawak pun makin terasah. Tak jarang ia tampil sepanggung dengan senior, seperti Fakhry Semekot, adik kandung Otong Lenon. Fahmi mengaku banyak mempelajari seni melawak dari senior-seniornya seperti S. Bagyo, Ateng, dan Otong Lenon. Ia tak pernah mengikuti pelatihan ataupun sekolah khusus, semuanya murni bakat.

Wabah “Suay”
Di ajang pentas-pentas daerah itu jugalah Fahmi bertemu dengan Abrar dan Ophe, dua personel Nyanyah lainnya. Tetapi waktu itu Abrar masih tergabung di grup lawak Pagora, sedangkan Ophe di grup lawak Ongol-Ongol. Beberapa kali pentas bersama mereka pun merasa klop, Fahmi bisa dipasang sebagai si pembanyol, Ophe si serius, sementara Abrar sebagai pemancing. “Nah, waktu ada audisi API 2 di Medan kami bertiga coba ikut. Apalagi kami juga mendapat dukungan dari senior-senior lawak di Pekanbaru,” tuturnya lagi.

Mereka pun nekat pergi ke Medan di bawah bendera grup lawak Nyanyah. Soal nama Nyanyah, ketiganya mengaku menemukan nama itu tanpa sengaja. “Ide nama itu dari Fakhry Semekot. Nyanyah berasal dari bahasa Melayu. Artinya, ngelantur alias enggak pernah serius,” papar Fahmi.

Ternyata Nyanyah berhasil menundukkan ratusan pesaing dan kini terbukti melenggang mulus ke grand final API 2. Sebagai grup asal ranah Melayu, ciri khas Nyanyah tak lain adalah pantun-pantunnya yang kocak. Selain pantun, Nyanyah juga terkenal dengan celetukan “suay”-nya yang kini sudah mulai mewabah. Artinya, cocok atau pas.

Ini tentu saja disyukuri luar biasa oleh Fahmi. “Setelah Nyanyah dikenal orang, semuanya berubah. Dulu kami hanya pelawak lokal yang walaupun pernah masuk televisi, tapi merasa dibuang. Dipandang sebelah mata. Sekarang banyak orang menghargai kami,” ucapnya yang kadang terharu menerima perlakuan seperti itu.

Seperti halnya belum lama ini ketika mereka pulang ke Riau. Warga di sana sangat antusias dengan kehadiran Nyanyah. “Bahkan, sewaktu ingin bertolak kembali ke Jakarta, kami sempat terjebak masa demostran di depan gedung pemerintahan Riau. Semua mobil distop tak boleh lewat. Tapi ketika tahu Nyanyah yang mau lewat, para demonstran memberi jalan. Bahkan memberi ucapan semoga sukses,” ucapnya.

Satu harapan Fahmi, jika kariernya berjalan mulus ia hanya ingin membahagiakan keluarga. “Ibu selalu pesan jika sudah berada di atas pun, jangan pernah tinggal salat. Saya ingin bahagiakan beliau. Kalau bisa membawa ke tanah suci,” ucap Fahmi yang kini punya banyak penggemar, terutama anak-anak kecil yang suka mengerubuti dan minta tanda tangan.

Kosan, Rebut Mustika API 2

Monday, October 3rd, 2005

Sumber: KCM | Senin, 03 Oktober 2005

Jakarta, KCM

“Gren pinal” Audisi Pelawak TPI (API) 2 usai sudah digelar. Grup lawak asal Jakarta, Kosan (Komedi Santai), memboyong Mustika API 2 setelah berhasil mengumpulkan simpati penonton lewat polling SMS, pada ajang API 2, yang berlangsung di Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (2/10) malam.

Kelompok yang diawaki Kudil, Mamay, Ipin dan Rifki ini, berhasil mengumpulkan 32,65 persen suara, mengungguli pesaing terberatnya, Nyanyah (Medan), dan Demimor (Jakarta), yang harus puas di urutan dua dan tiga.

Atas kemenangan itu, Kosan berhak atas hadiah berupa uang sebesar Rp150 juta, sedangkan Nyanyah dan Demimor, masing-masing sebesar Rp125 juta dan Rp100 juta.

Kehadiran Kudil, menjadi semacam magnet bagi kelompok Kosan. Ia mampu mencuri perhatian lantaran gaya bicara dan lawakannya yang mengingatkan pada sosok pelawak Komeng. Dan, ternyata Kudil memang pernah menjadi pemenang juara satu lomba lawak mirip Komeng yang diadakan sebuah stasiun radio.

Tapi bukan berarti kemampuan lawak grup ini tak semata-mata karena Kudil, tiga rekan lainnya pun mampu membuka ruang bagi Kudil untuk tampil lebih greget.

Jika di grup Kosan punya Kudil yang jadi bintang, maka Nyanyah, grup asal Pekanbaru yang mewakili kota Medan, justru punya Fahmi. Sosoknya yang (maaf) mungil dengan lawakannya yang cerdas membuat penonton meliriknya.

Sementara itu, Demimor, menjadi grup lawak perempuan yang berhasil mendapat kursi di tiga besar. Setelah sebelumnya, mengungguli grup lawak perempuan asal Jakarta lainnya, Koreo.

Mei lalu, saat digelar API 1, grup lawak asal Bandung, SOS, berhasil menempatkan dirinya menjadi jawara di ajang API 1. Tiga personelnya, Ogi, Sule, dan Oni pun berhak meraih uang Rp125 juta dan kontrak kerja dengan TPI selama tiga tahun.

Penulis: Eh

Kongres Komedi Indonesia

Sunday, October 2nd, 2005
Sumber: Sinar Harapan | Oktober 2005
Oleh: Donny Anggoro

Kongres Kesenian Indonesia (KKI) II 2005 baru saja berlalu. Kongres yang berlangsung di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah itu berakhir Kamis (29/9) malam, dengan salah satu keputusannya mendesak DPR dan pemerintah untuk membentuk UU Kesenian.

Jauh-jauh hari sebelum kongres berlangsung, bahkan ketika KKI II sudah dimulai, terjadi perdebatan seru terutama mengenai pentingnya kongres yang sempat tertidur lama akibat situasi sosial-politik.
Catatan pendek ini bukan ditulis untuk meneruskan ihwal perdebatan kongres kesenian yang masih berlangsung atau keluh kesah semata, melainkan sekadar menengarai bahwa setelah terbukanya kesempatan memerbaiki keadaan (dalam hal ini para seniman), terselenggaranya kongres yang diharapkan peserta (terutama dari luar daerah yang sulit mencapai akses untuk berpijak dari kondisi yang menghambat dirinya dalam berkesenian) ternyata tak lebih menjadi pathos yang menyedihkan.

Semula, keterlibatan saya sebagai peserta tak lain mengharapkan adanya titik temu antara pemerintah dan pelaku kebudayaan, sehingga tercipta sinergi, lantaran selama ini posisi kesenian dan kebudayaan cenderung diletakkan sebagai paria dan aksesoris penyambut turis semata. Syukur-syukur ada ide yang bisa disampaikan.
Dari hari ke hari selama kongres berlangsung, ragam topik acara yang disusun ternyata begitu campur aduk antara suasana diskusi panel, workshop, dan rapat kerja. Campur aduknya ini barangkali disengaja, agar suasana kongres tampak lain dari kongres sebelumnya yang
berlangsung pada 1995.

Namun, campur aduknya ini malah makin menunjukkan ketidakjelasan maksud KKI II dilangsungkan. Tokoh-tokoh seni maupun orang penting yang duduk dalam pemerintahan pun banyak yang absen. Mereka, para seniman-budayawan bukannya enggan hadir, melainkan memang tak diundang. Seorang budayawan yang tampil sebagai pembicara malah hadir setelah acara selesai. Sehingga pantaslah, Sutanto Mendut, budayawan yang hadir sebagai pembicara di hari ketiga dalam topik “Mengembangkan Gerakan Kesenian Lokal yang Mandiri dan Sinambung” tanpa tedeng aling-aling malahmengutarakan keluh kesah tanpa membawakan makalahnya.

Baiklah, di luar carut marutnya penyelenggaraan KKI II ini, saya tak bermaksud menghujat niat mulia penyelenggara kongres yang sedari awal pembukaan sudah diprotes seniman yang khawatir KKI II ini bakal melegalkan pembentukan Dewan Kesenian Indonesia (DKI), yang berlangsung 22-25 Agustus 2005. Tapi, selama kongres berlangsung ego dan arogansi klan yang dibalut retorika indah masih ada.

Jangankan mengharapkan pra kongres sebagai ajang pemanasan, persiapan hal paling sederhana dan mendasar ketika kongres berlangsung sekalipun juga tak nampak. Sebutlah, karena tak tersedianya fasilitas Internet untuk pers yang meliput acara KKI. Spanduk dan umbul-umbul sponsor yang bertaburan ternyata hanya lebih sedap dipandang, seolah KKI II ini telah berhasil menyita perhatian banyak media massa. Sehingga pantaslah, KKI II tak lebih sebagai pentas komedi setengah hati belaka, bukan kongres sungguhan.

Persiapan yang terburu-buru, satu hal yang lazim dilakukan dalam semangat SKS, “Sistem Kebut Semalam” (hanya karena alasan berbenturan dengan ibadah Puasa?), dengan tak melibatkan banyak pihak, mulai dari tokoh seniman-budayawan, pemerintah (dalam hal ini bidang pajak, KADIN yang dijadwalkan panitia di hari kedua), bahkan keterlibatan produsen kesenian dalam jembatan antarproduser-seniman-masyarakat seperti penerbit buku, majalah, rumah produksi dan lain-lain pun, sebagai penggembira saja tak nampak.

Bagaimana sebuah kongres besar berskala nasional dapat berlangsung walau sudah disadari kongres ini sebetulnya bertujuan positif, yaitu bagaimana seniman harus bersikap menghadapi proses globalisasi serta bagaimana cara mendesak pemerintah untuk mengangkat derajat kesenian?

Sungguh menggelikan, memang, di malam yang diam dalam perjalanan pulang dari KKI sebelum penutupan, tiba-tiba saya berpikir, inikah yang namanya kongres nasional dengan semangat militan saja? Wallahualam. Betapa malangnya, wahai seniman Indonesia.

Rawamangun, Oktober 2005

*) Eseis, peneliti pada komunitas Matabambu dan redaktur jurnal Aksara, tinggal di Jakarta.