Archive for January, 2006

Personal Brand Rejuvenation, Mungkinkah?

Monday, January 30th, 2006
Oleh: Her Suharyanto

Catatan JC: Artikel ini sebelumnya telah diumumkan di www.pembelajar.com | 17 Januari 2006 - 13:03. Kami mengumumkan kembali atas ijin dari Bapak Her Suharyanto.

Djuhri Masdjan, pelawak dengan nama panggung “Jojon”, yang sangat populer di tahun 80an bersama Jayakarta Groupnya, sempat “tenggelam” di akhir tahun 90an dan awal dekade ini. Namanya seolah tenggelam seiring munculnya pelawak generasi Srimulat, yang disusul oleh kelompok Bagito, Eko-Patrio dan sejumlah pelawak generasi kemudian. Akan tetapi dalam dua atau tiga tahun terakhir Jojon, dengan ciri khas kumis ala Hitler-nya, “turun gunung” untuk kembali meramaikan panggung lawak Indonesia. Dia kembali terlibat dalam sejumlah program lawak televisi, bahkan juga membintangi layar lebar. Satu pertanyaan, apakah Jojon akan mengulang sukses yang pernah diraihnya tahun 80-an?

Apa yang dilakukan oleh Jojon saat ini, dalam dunia marketing, disebut sebagai proses brand rejuvenation, atau peremajaan merek. Produk yang ditawarkan oleh Jojon tetap sama, lawakannya yang khas, dengan cirinya yang khas pula, yakni kumis Hitler dan celana menggantung. Yang dilakukan oleh Jojon adalah memperkenalkan kembali produk lama yang pernah dijualnya bersama Jayakarta Group.

Jojon kembali turun gunung dengan metode co-branding, dengan cara manggung bersama pelawak-pelawak generasi kemudian yang cukup berhasil di pasar. Sesekali dia bermain bersama personil Srimulat, personil Patrio, atau bersama komedian lain yang “independen” seperti Cici Tegal, Kiwil dan lain-lain.

Yang tidak saya ketahui persis adalah, apakah dia kembali meramaikan dunia lawak atas inisiatif sendiri, atau sekadar diajak oleh mereka yang masih melihat Jojon sebagai produk yang layak dijual? Kalau yang terjadi adalah yang kedua, dikhawatirkan yang terjadi adalah sungguh-sungguh menjual stok lama, dengan personal brand lama.

Namun kalau dia comeback dengan inisiatif sendiri, kita bisa berharap dia akan menawarkan konsep yang baru. Akan tetapi di luar kemungkinan dua motif itu, ada satu hal yang pasti: Jojon masih bertahan dengan produk lamanya: menjual kebloonan, dengan kemasan kumis Hitler dan celana menggantung.

PASTI tidak mudah untuk memasarkan kembali brand yang “sudah hampir mati”. Tetapi banyak ahli pemasaran mengatakan menawarkan kembali brand yang sudah hampir mati tetap lebih mudah dibandingkan dengan membangun brand mulai dari nol. Venktesh Babu, seorang periset branding, mengatakan bahwa lebih dari 90 brand yang dilahirkan akhirnya mati. Karena itu, menurut dia, akan lebih mudah untuk meremajakan kembali brand yang “pernah hidup” ketimbang membangun dari nol. Lebih mudah menawarkan kembali seorang Jojon ketimbang mencetak seorang pelawak baru. Atau, lebih mudah mengemas ulang Jojon pelawak ketimbang menjadikannya seorang penyanyi, misalnya.

Tetapi lebih mudah bukan berarti mudah itu sendiri. Siapapun yang tengah melakukan proses peremajaan merek tetap harus memperhitungkan banyak faktor. Satu pertanyaan yang harus dijawab oleh Jojon atau siapapun yang hendak melakukan brand rejuvenation adalah: apakah dia harus mengubah platform lawakannya, ataukah dia harus mengubah sasaran pasarnya, atau mengubah kedua-duanya.

Mengubah sasaran pasar adalah satu hal yang layak dipertimbangkan, karena ada generasi baru yang tidak mengenal sejarah seorang Jojon. Generasi baru ini hidup dalam konteks yang sama sekali baru, termasuk mempunyai konsep humor yang baru pula.

Kelompok audiensi baru ini bisa jadi masih bisa mentertawakan kebloonan, tetapi mungkin sudah tidak peka pada kebloonan visual seperti wajah bego, kumis Hitler dan celana menggantung. Saraf humor audiensi sekarang lebih peka pada ketololan atau ketidaknyambungan verbal ala Unang (eks) Bagito, ketololan yang “cerdas” ala Mr Bean, ketidaknyambungan logika ala Bajaj Bajuri, atau plesetan di tingkat skenario ala Extravaganza.

Tentu saja masih ada audiensi dengan “selera lama”, yang bisa terbahak-bahak melihat plesetan visual ala Jojon. Tetapi rating tinggi untuk Extravaganza dan Bajaj Bajuri menunjukkan bahwa pasar humor telah mengalami perubahan selera.

Menghadapi pasar yang berubah ini, boleh saja Jojon bertahan dengan platform lawakannya yang lama. Tetapi itu berarti bahwa dia harus ekspansif, meningkatkan “brand awareness” di kalangan audiensi baru, sembari terus mempertahankan audiensi lamanya.

Tetapi yang lebih masuk akal kiranya adalah dengan mengubah atau menyesuaikan platform melawaknya, dan menyesuaikan diri dengan selera audiensi baru. Bisa saja dia tetap menjual “keblo’onan”, tetapi mesti dengan “keblo’onan” yang baru. Dia tidak boleh berhenti pada keblo’onan visual, tetapi harus bloon yang cerdas ala Mr. Bean, atau blo’on yang menyangkut plesetan logika ala Unang atau Oneng, atau sepenuhnya plesetan logika ala Extravaganza. Dengan perubahan platform ini, bahkan secara otomatis Jojon telah melakukan ekspansi pasar, ke segmen yang berbeda.

* Her Suharyanto adalah seorang motivator personal branding dan pemerhati masalah keuangan. Ia dapat dihubungi di her_suharyanto@hotmail.com.

Komentar | Contact Person

Monday, January 30th, 2006
Minggu kemarin ada dua pengunjung yang mengirim SMS ke JC berisi permintaan nomor telepon dan e-mail para pelawak. Berikut pesannya:

Dari: Dani Martin (0815907***)
Salam kenal, sy Dani Martin, sy sgt suka dgn situs JOJON CENTER, tp knp profil Jojonnya tdk lengkap? Boleh minta alamat Pak H.Jojon ga? mau silaturahmi.. :)

Jawaban JC
Salam kenal juga. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap blog ini. Saat ini kami sedang mengerjakan profil Jojon dan komedian yang lain. Tentang alamat Pak H. Jojon, sampai saat ini kami juga belum berhasil menghubungi beliau. Jadi, maaf ya. Tapi nanti begitu ada kabar, Anda akan segera kami hubungi.

Sekalian juga kami umumkan bahwa kami mengundang Anda (para pengunjung) yang memiliki minat untuk menjadi kontributor blog ini atau memiliki informasi yang sesuai dengan blog ini silahkan mengirim e-mail ke jojon.center@gmail.com atau bisa juga sms ke 081931190424.

Dari: anonim (0812213***)
Mohon dengan sangat alamat, e mail, dan fans klub group musik teamlo. Trims


Jawaban JC:
Terima kasih atas perhatian Anda. Maaf kami belum bisa memberikan permintaan Anda saat ini. Jika kami sudah mendapat yang Anda butuhkan kami akan segera menghubungi Anda. Salam hangat.

Kliping | Demi Tawa Penonton

Sunday, January 22nd, 2006
Sumber: Koran Tempo | Minggu, 22 Januari 2006

Kehidupan pelawak menawarkan pesona tersendiri seiring dengan makin menjamurnya stasiun televisi.

Di depan kamera penampilannya sungguh menggelikan, berkumis ala Charlie Chaplin, bercelana menggantung, dan kacamata berukuran besar. Satu lagi yang membuat unik adalah rambutnya yang disisir ke arah depan.

Penampilan itu masih ditambah dengan kata-kata yang meluncur dari mulutnya plus tingkahnya sukses memancing tertawa penonton. Tawa seolah tak pernah berhenti menyaksikannya beraksi bersama pelawak lainnya.

Siapa pun tentu mafhum, orang yang bergaya seperti itu adalah Jojon Juhri, pelawak senior di negeri ini. Penampilan dengan kumis dan celana menggantung adalah trade mark yang sulit dipisahkan dari pria yang mulai melawak sejak 34 tahun lalu itu. Melihat tampangnya saja, kadang orang pun langsung tertawa geli.

Kelucuan yang bisa ditampilkannya merupakan buah dari perjalanan panjangnya dalam rangka mengocok tawa penonton. Jojon merupakan sedikit dari pelawak yang sanggup bertahan hingga kini.

Ciri yang kerap ditampilkannya di atas panggung merupakan tipikal pelawak yang muncul pada 1970-an. Pada masa itu, masing-masing grup memang harus tampil dengan ciri khasnya tersendiri. Tanpa itu, agaknya sulit untuk bersaing.

Perjalanan Jojon dan grupnya untuk sampai pada popularitas yang diinginkannya pun cukup jauh. Mulai melawak pada 1972, Jayakarta grup menuai sukses 7 tahun kemudian. Pada 1980-an, grup ini kerap menjadi bahan omongan karena kelucuannya.

Film, rekaman kaset lawakan, dan jadwal manggung menjadi agenda rutin mereka saat itu. “Medianya memang terbatas sekali pada masa itu. Kami bahkan pernah manggung di klub malam,” kenang Jojon.

Pelawak berusia 61 tahun itu sudah mengalami pahit-getir jadi pelawak. Dia pun berkisah, pernah suatu ketika lawakannya sama sekali tidak berhasil memancing gerrr penonton.

Padahal, menurut dia, semua pingpong (istilah di kalangan pelawak untuk dialog memancing kelucuan) sudah berjalan dengan baik. Tapi, ketika sampai di puncak, reaksi penonton di luar dugaan. Mulut mereka terkunci.

Hal itu merupakan bencana bagi pelawak di mana pun. Keringat segede biji jagung pun tiba-tiba meluncur dari pori-porinya. Jojon mengaku itu merupakan pengalaman yang memalukan.

“Kalau sudah begitu, rasanya mau pulang saja harus cari jalan belakang biar nggak ketemu orang yang menonton saya,” katanya dengan mimik serius. Semua perjuangan di panggung, termasuk kostum andalannya, menjadi sia-sia.

Tidak hanya itu. Saat meniti karier sebagai pelawak dia pun kerap mengalami dilema. Dia sering mendapatkan laporan anaknya yang diolok teman-temannya. “Katanya, bapak elo lucu banget, sih.” Bisa dibayangkan bagaimana perasaan anaknya ketika itu.

Jojon pun paham. Yang dia lakukan kemudian adalah berusaha tampil sebaik mungkin. Lambat laun hal itu menjadi biasa. Keluarganya bisa memahami semua yang dilakukannya adalah upaya menjalankan seni peran. “Rasanya senang bukan kepalang kalau penonton tertawa karena lawakan yang kami buat,” ujarnya.

Seiring dengan perjalanan waktu, dunia komedi atau lawak telah mengalami perubahan. Pelawak di zaman milenium baru tidak lagi memerlukan dandanan yang unik bin nyentrik.

Ini tak lepas dari kehadiran Warkop DKI, Bagito, Patrio, dan pelawak generasi berikutnya. Mereka tidak pernah berdandan aneh-aneh untuk tampil di panggung. Tampilan mereka disesuaikan dengan peran atau cerita yang akan dibawakan. Lawakannya terbukti tetap mengena di hati.

Buahnya sudah kelihatan. Kehidupan pelawak masa kini pun boleh dibilang jauh lebih nyaman.

Lihat saja Eko Hendro Purnomo, 35 tahun, anggota grup lawak Patrio. Hidupnya sukses. Rumah mentereng, mobil mengkilap, serta badannya pun selalu wangi dan terawat. Dari kegiatan melawak, bapak beranak dua ini punya berbagai usaha, di antaranya rumah produksi. “Tapi profesi saya adalah pelawak seperti yang tertulis di KTP,” ucapnya tanpa bermaksud melucu.

Kehidupan pelawak memang menawarkan pesona tersendiri sejalan dengan makin menjamurnya stasiun televisi. Sebagai salah satu program andalan, sampai kapan pun mereka memerlukan materi lawakan. Karena suplainya masih kurang, alhasil pelawak yang muncul itu-itu juga. Job melawak bagi mereka seolah tak pernah berhenti.

Itu sebabnya, dunia ini sekarang tak ubahnya dengan gemerlap kehidupan para bintang sinetron atau dunia hiburan lainnya. Mereka kerap menjadi bahan berita yang mengasyikkan. Bahkan boleh bertaruh, pelawak saat ini lebih tenar ketimbang menteri-menteri.

Maklum, sekarang ini menteri bisa berganti dalam hitungan bulan atau tahun, tapi pelawak–seperti halnya Jojon–mampu bertahan dalam benak orang Indonesia selama bertahun-tahun bahkan sampai anak mereka lahir.

Sebenarnya bagaimana penghasilan seorang pelawak? Eko yang memiliki beberapa acara lawakan di televisi enggan buka rahasia soal pendapatan teman-temannya.

Tentu ada alasannya. Kata Eko, bagian keuangan di perusahaannya yang paling paham urusan itu. “Meskipun kami berteman, ini bisnis. Bayarannya profesional, kok,” katanya. Biasanya, menurut dia, untuk ikut dalam seorang program acara, seorang pelawak dikontrak untuk masa tertentu.

Tak ada angka pastinya, memang. Namun, melihat banyaknya tayangan lawak yang tersebar di beberapa stasiun televisi, tak pelak hal ini mendatangkan rezeki tersendiri bagi pelakunya.

“Pelawak sekarang jauh beruntung. Mereka mendapatkan wadah untuk tampil. Berbeda dengan ketika saya dulu,” ujar Jojon. Banyak wadah bisa berarti jalan untuk menjala fulus bisa jadi tidak pernah kering.

Hal itu pula yang dialami Eko dan teman-temannya. Dalam sehari, dia bisa melakukan pengambilan gambar untuk beberapa acara di televisi. Hari itu setelah syuting di studio televisi di kawasan Taman Mini, petang hingga tengah malam dia beraksi di studio televisi lainnya. Capek, tentu saja. Tapi jerih payahnya pun cukup memuaskan. Irfan Budiman

Kalau Jojon tanpa Kumis

Sesekali temuilah Jojon Juhri tanpa makeup dan kostum kebesarannya. Dengan rambutnya yang disisir rapi, busana dandy yang membungkus posturnya yang tinggi besar ditambah dengan mimik wajahnya yang serius, membuat dia tak layak disebut pelawak. Tongkrongannya tak jauh beda dengan bos kantoran atau pengusaha sukses.

Banyak orang yang biasa melihatnya di televisi akan kecele. Dan itu bukan sekali saja terjadi. Dia punya cerita. Ketika Jayakarta–grup lawaknya–mengadakan pertunjukan di daerah, mereka kedatangan seorang wanita. Jojon, yang kebetulan sedang rileks, menerima wanita itu. Namun, si wanita itu tetap ingin bertemu dengan grup lawak pujaannya. Katanya, dia pun ingin berfoto.

Tidak dikenali wanita itu Jojon malah keenakan. Dia pun segera memanggil personel lainnya. Katanya, ada yang ingin berfoto bersama. Tiga rekannya pun datang. Dia pun memilih untuk ngeloyor. Si wanita antusias sekali. Dia memasang kamera, tapi tiba-tiba dia merasa ada yang kurang. “Jojon ke mana?” tanyanya.

Pertanyaan itu sontak menerbitkan tawa. Padahal mereka biasanya yang kerap memancing orang untuk tertawa. “Lo, yang tadi Ibu ajak ngobrol itu Jojon,” kata salah satu dari mereka. Nah, si wanita itu pun hanya bengong melongo. Tak disangka orang yang serius dengan dandanan yang berbeda itu adalah Jojon, pelawak yang kerap tampil nyentrik dengan banyolan yang mengundang tawa. Irfan

Pengukuhan PJP Dimeriahkan Kirun

Wednesday, January 18th, 2006
Sumber: Suara Merdeka | Sabtu, 06 Agustus 2005

SEMARANG - Ekshibisi enam petinju cilik akan ikut memeriahkan pengukuhan 131 atlet dan 43 pelatih Pelatda Jangka Panjang (PJP) yang akan dilakukan oleh Gubernur Jateng H Mardiyanto, Rabu (10/8) mendatang di Gedung Gradika Bhakti Praja pukul 09.30 WIB.

”Selain menampilkan ekshibisi petinju cilik, acara akan dimeraihkan oleh penampilan pelawak Kirun. Pengukuhan akan dimulai pukul 10.00 WIB sehingga kami berharap 30 menit sebelumnya, para tamu undangan sudah hadir,” jelas Kabid Binpres KONI Jateng Drs Mugio Hatono MPd seusai rapat panitia PJP kemarin.

Petinju cilik yang dimaksud adalah petinju-petinju yang baru berusia 10-12 tahun dari Sasana Kuda Sakti Semarang. Mereka akan memamerkan dasar tinju selama 10 menit. Tiga puluh atlet PPOP Jateng dari cabang renang, taekwondo, angkat berat dan angkat besi juga akan dihadirkan dalam pembukaan PJP menuju PON XVII Kaltim tahun 2008 tersebut.

”60 atlet Pelatnas asal Jateng yang kini sedang bergabung dengan atlet-atlet SEA Games XXII Manila juga akan kami datangkan ke Semarang. Sebab, mereka juga bagian dari atlet PJP,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejak awal bulan Mei, KONI Jateng sudah melakukan PJP bagi 131 atlet dari 32 cabang olahraga, dengan 43 atlet pendamping. Namun baru hari Rabu mendatang dikukuhkan oleh Gubernur.

Dia berharap saat pengukuhan nanti, semua atlet dan pelatih mengenakan seragam PJP yang sudah mulai dibagikan kepada mereka. Dengan demikian, tidak ada alasan saat pengukuhan berlangsung mereka tidak menggunakan seragam.

Mantan pemain PSIS ini juga tidak mengelak ketika ditanya tentang ada penambahan 100 atlet PJP. ”Terhitung mulai bulan Agustus ini mereka sudah resmi masuk PJP, jumlahnya sekitar 100 atlet dan 30 pelatih. Mengenai cabang -cabangnya, tunggu sampai hari Rabu, biar dalam pengukuhan nanti ada surprise,” tandasnya. (C16-28m)

PELAWAK LEYSUS MENINGGAL

Wednesday, January 18th, 2006
Malang (ANTARA News) - Karangan bunga krisan putih kiriman Ketua KONI pusat Agum Gumelar mengantar kepergian pelawak kondang asal Malang, Leysus (47 tahun), ke peristirahatan terakhir menghadap sang khalik.

Pelawak pasangan Topan itu, Rabu, dimakamkan sekitar pukul 12.00 WIB di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kerenengan Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang setelah disemayamkan satu malam di rumah duka di Jalan Panglima Sudirman 147 Sumberpucung.

Menurut salah seorang saudara Leysus, Wendy, sebelum meninggal, Leysus merasakan sakit sudah sejak Oktober bahkan sempat dijenguk Gubernur Jatim Imam Utomo di rumah salah seorang istrinya di Ngawi.

“Waktu itu bapak (Topan) sudah bilang sama saya bahwa oom Leysus harus dirawat di rumah sakit secara terus menerus dan oom merasakan sakit mulai parah setelah Lebaran November lalu sampai ajal menjemputnya,” katanya.

Jenazah almarhum Leysus tiba di Malang dari Pondok Sunan Drajat Lamongan sekitar pukul 04.00 WIB (4/1) setelah menjalani perawatan intensif dengan cara pengobatan alternatif, karena serangan penyakit kanker mulut.

Hadir dalam prosesi pemakaman tersebut beberapa rekan Leysus di antaranya Kirun dan personel group lawak Galajapo, sedangkan para anggota Persatuan Lawak Indonesia (Perki) dan Sujud Pribadi yang dijadwalkan hadir, belum terlihat hingga pemakaman berakhir.

Leysus yang lahir 47 tahun silam dari pasangan Abdul Gani dan Malsamah itu mempunyai nama asli Sugeng Winarso dan meninggalkan dua orang istri masing-masing Ririn yang dikaruniai empat orang putra putri dan Nana Darlina yang dikaruniai seorang putri.

Sementara itu Kirun yang juga teman akrab almarhum mengatakan, Leysus adalah pelawak yang cukup cerdas dan ide-idenya juga bagus, selalu menerima kritik dan keras, walaupun memang sedikit `mbeling`.

“Kami berharap akan muncul pelawak-pelawak sekelas Leysus lagi dari daerah Malang ini, karena dalam pelawak generasi saya, dia salah satu pelawak yang paling hebat,” katanya.(*)