Sumber: Kompas |
SUASANA Agustusan bagaimanapun telah mengingatkan kembali kesibukan para seniman panggung melayani tanggapan, terutama para pelawak yang mendapatkan berkahnya. Tidak terkecuali bagi mantan para pemain Srimulat Surabaya, sekalipun tidak lagi bisa manggung di gedung yang pernah membesarkan mereka.Panggung Aneka Ria Srimulat di Kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya sekarang ini hanya meninggalkan kesan memprihatinkan. Situasi ini hampir disusul oleh Ketoprak Siswo Budoyo yang berada di kawasan yang sama. Para pemainnya hanya bisa hidup dari tanggapan-tanggapan dari luar, selain berjualan apa saja untuk sekadar bisa bertahan.
Salah seorang personel Srimulat Surabaya yang masih tetap berharap panggungnya kembali hidup, di antaranya Miarsih (52), kelahiran Pajeksan, Yogyakarta. Walaupun untuk Agustusan tahun ini ia menerima tidak kurang tiga kali tanggapan pentas bersama Vera, Kisbandiah dan Lutfi.
Suasana peringan HUT Kemerdekaan RI seperti sekarang ini justru mengingatkan akan kenangan manisnya. Bagaimanapun, dengan memiliki panggung tetap akan memberikan jaminan yang lebih baik. Bisa saja sekarang ramai tanggapan, namun sudah tentu ia berharap di bulan selanjutnya juga masih banyak yang membutuhkannya.
Pelawak perempuan kelahiran Pajeksan ini tidak pernah membayangkan panggung Srimulat Surabaya bakal redup bagai lampu teplok kehabisan minyak. Padahal, dekade awal 1990-an Aneka Ria Srimulat di THR Surabaya saat manajemennya dipegang Misran, penonton masih ramai dan sponsor pun mengalir.
“Pak Misran sempat menggadaikan sertifikat tanah dan harta benda miliknya sewaktu Srimulat butuh untuk hidup, namun setelah Srimulat bangkit barang-barang gadai itu bisa kembali dia dapatkan,” tuturnya.
Terakhir, Mia demikian sapaan untuk Miarsih, pentas gabungan bersama Timbul dan Tarsan, tahun 1997, di Gedung Aneka Ria Srimulat Surabaya, setelah itu jarang manggung setelah keadaan Srimulat mulai oleng karena penontonnya terus menyusut hingga memaksa panggung hiburan itu menghentikan aktivitasnya.
***
PENGALAMAN manis menghibur penonton di tempat hiburan malam yang ia rasakan itu kini tinggal sebuah kenangan belaka. Bukan hanya lawak tradisional, tetapi seni tradisional lainnya, seperti ketoprak dan wayang orang menghadapi nasib yang sama. “Sekarang ini mana ada tempat hiburan malam yang mementaskan kesenian tradisi,” ujar Miarsih.
Masa kejayaan Srimulat telah pula mengantarkan Miarsih pada kenangan indah, tatkala grup lawak rakyat ini berulangkali pentas di luar Surabaya. Tetapi, sekarang ini teramat sulit menggapai kembali masa keemasan itu. “Sekarang ini kok gak iso yo numpak pesawat terbang. Padahal, tahun 1980-an ketika dapat undangan pentas ke Jakarta, Bontang, dan Banjarmasin, naik-turun dengan pesawat terbang,” ujarnya.
Kenangan bersama Srimulat Surabaya kini kembali melayang-layang di benaknya. Lalu dia bercerita, setiap hari Jumat dan Sabtu malam penonton pun menunggu kisah-kisah panggungnya, karena karakteristik Srimulat amat khas, terlebih pada kisah-kisah horor dengan drakulanya.
“Rasanya bangga sekali waktu itu, tetapi sekarang kami yang menunggu penonton, dan yang ditunggu juga tidak pernah datang,” ujarnya sembari menyeka bulir-bulir airmata.
Mia mengaku sudah berulangkali memberikan pendapat kepada pimpinan Srimulat Surabaya Bambang Suroso, tetapi tidak pernah diperhatikan dengan baik. “Saya merasa membesarkan anak-anak saya dari Srimulat dan sekarang sebagian besar sudah berumah tangga. Karena itu, hati kecil saya ndak rela kalau sampai Srimulat berantakan lalu bubar,” ujarnya.
Kakak pelawak Marwonto ini merasa teramat susah dengan kondisi pemain dan manajemen seperti sekarang. “Mencari bibit-bibit pemain baru saja sudah sulit, apalagi sekarang ini orang tidak mau repot-repot menonton Srimulat, toh di televisi sudah ada dan acaranya apik-apik dan menarik,” ujarnya.
HARAPAN untuk bisa tampil bareng dengan para pemain Srimulat di Jakarta juga sangat kecil, karena mereka sudah sangat sibuk. Namun demikian, wajah Mia sesekali nongol di stasiun televisi Indosiar. Tipikal panggungnya masih mengesankan perempuan kenes, walaupun usianya sudah tak lagi muda.
“Selama tiga tahun saya diajak Mas Kirun main ludruk, dan bersama Ludruk Hoki-nya yang ditayangkan TPI itu saya bisa terus tampil menghibur penonton,” ujarnya.
Ketika kontrak Ludruk Hoki berakhir tahun lalu, Miarsih pun mendapat tawaran main bersama Srimulat Jakarta dalam paket Srimulat Indosiar. Keterlibatannya dalam Aneka Ria Srimulat Jakarta itu hanya sekadar bisa ikutan tampil ketika rekan-rekan Srimulat Jakarta membutuhkan kehadiran dirinya sebagai pemain.
“Ya, baru sekitar 10-15 episode bersama Srimulat Jakarta. Jadi, kalau teman-teman di Jakarta sedang membutuhkan, ya baru saya dipanggil,” katanya.
Sebelum berhimpun sebagai seniwati panggung Srimulat, Mia pernah bergabung dengan grup Ketoprak Wargo Utomo, Klaten, Jawa Tengah, tahun 1969 hingga 1972. “Waktu itu saya masih muda menjadi pemain ketoprak, sebelum memutuskan bergabung dengan Srimulat Surabaya, tahun 1972,” tuturnya.
Selang dua tahun berhimpun bersama Srimulat Surabaya, ibu tujuh anak-Endang Palupi, Sri Rejeki Jati, Gatot Tri Broto, Arif Patri Santoso, Hendro Arianto, Hendro Sulistiono dan Diah Anggita Sari-itu memutuskan keluar dari Srimulat dan bergabung dengan kelompok kesenian Koka (salah satu tempat hiburan malam milik LCC di kawasan Basuki Rachmat, Surabaya-Red).
“Tahun 1974 saya keluar dan bergabung dengan kesenian LCC yang setiap hari Rabu malam manggung memberikan hiburan kepada pengunjung,” ujarnya.
Tahun 1978 ia keluar dari Koka dan kembali lagi bergabung dengan Srimulat, karena pengunjung tempat hiburan malam itu mulai jenuh dengan sajian ketoprak, wayang orang, keroncong maupun tari-tarian. “Bersama Mbak Endang Sasmito saya sempat main wayang orang untuk hiburan pengunjung Koka,” kenangnya. (ABDUL LATHIEF)