Archive for March, 2006

Selamat Datang Di Jojon Center

Thursday, March 16th, 2006

Salam untuk Blogger dan Netter,

Terima kasih Anda telah mengunjungi Jojon Center. Semoga Anda nyaman berada di blog ini.

Kira-kira dua tahun silam saya pernah ngobrol dengan Mas Kelik Pelipur Lara di Kafenya, di Jalan Kaliurang Km 9 Yogyakarta. Waktu itu saya mengundang dia untuk menjadi pembicara di bedah buku Srimulat (karya Pak Anwari) yang saya selenggarakan. Dalam obrolan yang penuh tawa selama 1 jam itu Mas Kelik bercerita banyak tentang dunia komedi di Indonesia. Dari situlah saya berpikir, sebagai konsumen komedi apa yang bisa lakukan dan berguna bagi dunia komedi di Indonesia?

Setalah menimbang-nimbang, mengumpulkan bahan, dan juga keberanian, akhirnya saya dan kawan-kawan berusaha menjawab pertanyaan itu dengan mendirikan sebuah lembaga dokumentasi komedi. Cita-cita kami sih menjadi pusat dokumentasi komedi dan para pelakunya di Indonesia. Kami memberi nama Jojon Center. Tanpa mengurangi penghargaan kepada para komedian yang telah membuat Indonesia tertawa, nama Jojon Center kami pilih sebagai penghargaan atas dedikasi Pak Jojon di dunia komedi di Indonesia. Semoga totalitas dan profesionalitas yang ia tunjukkan selama ini bisa menjadi teladan bagi kita semua.

Awal Desember 2005 kami sepakat memilih blog sebagai media untuk langkah awal mewujudkan cita-cita kami. Hingga Pebruari 2006 saya dan kawan-kawan mengumpulkan artikel-artikel di internet tentang komedian di Indonesia. Alhamdulillah, meski pelan-pelan Jojon Center mulai dikenal oleh masyarakat. Beberapa pertanyaan, kritik, dan saran telah kami terima. Tentu saja kami menerima semua umpan balik itu dengan sangat bahagia. Bagi kami itu merupakan kepercayaan yang tidak mungkin bisa ditukar dengan apapun. Karena itulah kami juga akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kepercayaan yang telah Anda berikan.

Akhirul kalam sekali lagi kami ucapkan terima kasih atas kunjungan Anda. Dan dengan segala kerendahan hati, kami mohon dukungan dari Anda dan seluruh keluarga kepada Jojon Center. Dukungan bisa Anda wujudkan dalam bentuk saran, kritik, data, foto, atau sokur-sokur doa ke jojon.center@gmail.com atau pesawat 081931190424.

Salam hangat

Shola
Direktur* Jojon Center

*) Terima kasih kepada Mas Bambang Haryanto yang telah menganugerahi saya jabatan ini.

Wednesday, March 15th, 2006

Sumber: Kompas | 

SUASANA Agustusan bagaimanapun telah mengingatkan kembali kesibukan para seniman panggung melayani tanggapan, terutama para pelawak yang mendapatkan berkahnya. Tidak terkecuali bagi mantan para pemain Srimulat Surabaya, sekalipun tidak lagi bisa manggung di gedung yang pernah membesarkan mereka.Panggung Aneka Ria Srimulat di Kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya sekarang ini hanya meninggalkan kesan memprihatinkan. Situasi ini hampir disusul oleh Ketoprak Siswo Budoyo yang berada di kawasan yang sama. Para pemainnya hanya bisa hidup dari tanggapan-tanggapan dari luar, selain berjualan apa saja untuk sekadar bisa bertahan.

Salah seorang personel Srimulat Surabaya yang masih tetap berharap panggungnya kembali hidup, di antaranya Miarsih (52), kelahiran Pajeksan, Yogyakarta. Walaupun untuk Agustusan tahun ini ia menerima tidak kurang tiga kali tanggapan pentas bersama Vera, Kisbandiah dan Lutfi.

Suasana peringan HUT Kemerdekaan RI seperti sekarang ini justru mengingatkan akan kenangan manisnya. Bagaimanapun, dengan memiliki panggung tetap akan memberikan jaminan yang lebih baik. Bisa saja sekarang ramai tanggapan, namun sudah tentu ia berharap di bulan selanjutnya juga masih banyak yang membutuhkannya.

Pelawak perempuan kelahiran Pajeksan ini tidak pernah membayangkan panggung Srimulat Surabaya bakal redup bagai lampu teplok kehabisan minyak. Padahal, dekade awal 1990-an Aneka Ria Srimulat di THR Surabaya saat manajemennya dipegang Misran, penonton masih ramai dan sponsor pun mengalir.

“Pak Misran sempat menggadaikan sertifikat tanah dan harta benda miliknya sewaktu Srimulat butuh untuk hidup, namun setelah Srimulat bangkit barang-barang gadai itu bisa kembali dia dapatkan,” tuturnya.

Terakhir, Mia demikian sapaan untuk Miarsih, pentas gabungan bersama Timbul dan Tarsan, tahun 1997, di Gedung Aneka Ria Srimulat Surabaya, setelah itu jarang manggung setelah keadaan Srimulat mulai oleng karena penontonnya terus menyusut hingga memaksa panggung hiburan itu menghentikan aktivitasnya.

***

PENGALAMAN manis menghibur penonton di tempat hiburan malam yang ia rasakan itu kini tinggal sebuah kenangan belaka. Bukan hanya lawak tradisional, tetapi seni tradisional lainnya, seperti ketoprak dan wayang orang menghadapi nasib yang sama. “Sekarang ini mana ada tempat hiburan malam yang mementaskan kesenian tradisi,” ujar Miarsih.

Masa kejayaan Srimulat telah pula mengantarkan Miarsih pada kenangan indah, tatkala grup lawak rakyat ini berulangkali pentas di luar Surabaya. Tetapi, sekarang ini teramat sulit menggapai kembali masa keemasan itu. “Sekarang ini kok gak iso yo numpak pesawat terbang. Padahal, tahun 1980-an ketika dapat undangan pentas ke Jakarta, Bontang, dan Banjarmasin, naik-turun dengan pesawat terbang,” ujarnya.

Kenangan bersama Srimulat Surabaya kini kembali melayang-layang di benaknya. Lalu dia bercerita, setiap hari Jumat dan Sabtu malam penonton pun menunggu kisah-kisah panggungnya, karena karakteristik Srimulat amat khas, terlebih pada kisah-kisah horor dengan drakulanya.

“Rasanya bangga sekali waktu itu, tetapi sekarang kami yang menunggu penonton, dan yang ditunggu juga tidak pernah datang,” ujarnya sembari menyeka bulir-bulir airmata.

Mia mengaku sudah berulangkali memberikan pendapat kepada pimpinan Srimulat Surabaya Bambang Suroso, tetapi tidak pernah diperhatikan dengan baik. “Saya merasa membesarkan anak-anak saya dari Srimulat dan sekarang sebagian besar sudah berumah tangga. Karena itu, hati kecil saya ndak rela kalau sampai Srimulat berantakan lalu bubar,” ujarnya.

Kakak pelawak Marwonto ini merasa teramat susah dengan kondisi pemain dan manajemen seperti sekarang. “Mencari bibit-bibit pemain baru saja sudah sulit, apalagi sekarang ini orang tidak mau repot-repot menonton Srimulat, toh di televisi sudah ada dan acaranya apik-apik dan menarik,” ujarnya.

HARAPAN untuk bisa tampil bareng dengan para pemain Srimulat di Jakarta juga sangat kecil, karena mereka sudah sangat sibuk. Namun demikian, wajah Mia sesekali nongol di stasiun televisi Indosiar. Tipikal panggungnya masih mengesankan perempuan kenes, walaupun usianya sudah tak lagi muda.

“Selama tiga tahun saya diajak Mas Kirun main ludruk, dan bersama Ludruk Hoki-nya yang ditayangkan TPI itu saya bisa terus tampil menghibur penonton,” ujarnya.

Ketika kontrak Ludruk Hoki berakhir tahun lalu, Miarsih pun mendapat tawaran main bersama Srimulat Jakarta dalam paket Srimulat Indosiar. Keterlibatannya dalam Aneka Ria Srimulat Jakarta itu hanya sekadar bisa ikutan tampil ketika rekan-rekan Srimulat Jakarta membutuhkan kehadiran dirinya sebagai pemain.

“Ya, baru sekitar 10-15 episode bersama Srimulat Jakarta. Jadi, kalau teman-teman di Jakarta sedang membutuhkan, ya baru saya dipanggil,” katanya.

Sebelum berhimpun sebagai seniwati panggung Srimulat, Mia pernah bergabung dengan grup Ketoprak Wargo Utomo, Klaten, Jawa Tengah, tahun 1969 hingga 1972. “Waktu itu saya masih muda menjadi pemain ketoprak, sebelum memutuskan bergabung dengan Srimulat Surabaya, tahun 1972,” tuturnya.

Selang dua tahun berhimpun bersama Srimulat Surabaya, ibu tujuh anak-Endang Palupi, Sri Rejeki Jati, Gatot Tri Broto, Arif Patri Santoso, Hendro Arianto, Hendro Sulistiono dan Diah Anggita Sari-itu memutuskan keluar dari Srimulat dan bergabung dengan kelompok kesenian Koka (salah satu tempat hiburan malam milik LCC di kawasan Basuki Rachmat, Surabaya-Red).

“Tahun 1974 saya keluar dan bergabung dengan kesenian LCC yang setiap hari Rabu malam manggung memberikan hiburan kepada pengunjung,” ujarnya.

Tahun 1978 ia keluar dari Koka dan kembali lagi bergabung dengan Srimulat, karena pengunjung tempat hiburan malam itu mulai jenuh dengan sajian ketoprak, wayang orang, keroncong maupun tari-tarian. “Bersama Mbak Endang Sasmito saya sempat main wayang orang untuk hiburan pengunjung Koka,” kenangnya. (ABDUL LATHIEF)

Aming, Sopir Taksi Yang Tak Bisa Nyetir

Tuesday, March 14th, 2006

Sumber: Kapanlagi.com

Berkah baru datang pada Aming Supriatna Sugandhi alias Aming. Komedian bertubuh kerempeng itu kini akhirnya bisa menyetir mobil sendiri. Kemauan Aming untuk mau belajar menyetir mobil tersebut karena didorong tuntutan perannya sebagai sopir taksi, dalam film BERBAGI SUAMI.

“Aku tuh orangnya malesan, dari dulu males mau belajar nyetir. Ini bisa juga terpaksa karena ada adegan nyetir,” ujarnya, ketika dijumpai di Gedung Kesenian Jakarta, belum lama ini.

Demi peran tersebut, Aming ikut kursus menyetir. Sayang, karena jadwal padat dan niat untuk belajar tidak terlalu besar, dia hanya satu kali saja hadir di kursus itu.

“Jangankan dapat SIM, pokoknya bisa ngegas saja sudah sukur, aku memang males sih ya,” jelasnya. Dengan kemampuan menyetir yang pas-pasan itu, Aming menjalani perannya sebagai sopir taksi.

Syuting pertama dilakukan di sebuah gang sempit. Cara Aming membawa mobil sempat diprotes lawan-lawan mainnya.

“Taksi saya itu membawa Rieke Diah Pitaloka sama Shanty. Mereka berdua sampai panas dingin lho disopiri saya. Sudah gitu, adegannya harus diulang berkali-kali,” ujarnya lantas terbahak.

Meski keterampilan menyetir mobil masih pas-pasan, Aming tak berniat merampungkan jadwal kursus. Anak kesembilan dari 12 bersaudara itu berniat menunggu saja tawaran peran sebagai sopir lagi.

“Aku akan nerusin kursus kalau dapat peran jadi sopir lagi. Aku memang nggak berminat bisa menyetir, harus ada motivasi khusus untuk kursus,” papar mahasiswa Desain Tekstil Institut Teknologi Bandung itu.

Terlepas dari itu, Aming mengaku puas dengan aktingnya sebagai sopir taksi tersebut. Dia juga mendapatkan sanjungan dari Nia Dinata sebagai sutradara atas kemampuannya melepaskan diri dari sosok Aming.

“Aku disitu sama sekali nggak kelihatan sosok Aming-nya, itu yang buat aku bangga,” ujar pria kelahiran Jakarta, 7 November 1980 itu.

Selama ini, Aming memang lebih sering muncul sebagai cameo dalam film-film layar lebar. Tapi, hal itu sama sekali tidak membuatnya berkecil hati. Sekecil apa pun peran dalam sebuah film, Aming tetap berusaha tampil maksimal.

“Aku sadar, kadang penampilanku di film cuma untuk ’selling point’, tapi nggak apa-apa kok,” tutur bintang Variety Show ‘Extravaganza’ itu.

Begitu juga dalam film yang akan diluncurkan 23 Maret mendatang itu, Aming hanya kebagian beberapa scene saja. Syuting pun cukup diselesaikan tiga hari.

“Tapi bagiku, ini sebuah peran besar karena bisa memerankan orang kecil,” tuturnya merendah. (zee/bun)

Ingin Hamil, Ulfa Kurangi Aktivitas

Tuesday, March 14th, 2006

Update : 2006-03-13 13:22:37

DeMo, MARGASATWA - Keinginan presenter kocak Ulfa Dwiyanti untuk memiliki momongan dari darah dagingnya sendiri tidak pernah berhenti. Menurut dia, keinginan itu lumrah dan seperti ibu rumah tangga lainnya. Keinginan itu diungkapkan Ulfa saat merayakan ulang tahun anak angkatnya, Muaffa Rizky Hakim atau biasa disapa Affa, yang keempat di Hotel Putri Duyung, Ancol, Jumat malam lalu. Ulfa yang didampingi sang suami, Abdul Hakim mengaku, selama ini sudah berusaha keras mewujudkan keinginan itu. Tapi, Tuhan belum mengabulkannya. “Tapi, kita nggak pernah berantem gara-gara belum punya anak, lho,” sahut Ulfa, sambil tersenyum dan melirik suaminya. Saat ini Ulfa berusaha mengurangi aktivitas. Dia percaya bahwa terlalu banyak aktivitas bisa mempengaruhi rangsangan untuk segera hamil. “Kebetulan aku dikasih kelonggaran sama produser yang kontrak aku. Begitu pun suamiku. Akhir-akhir ini kegiatannya sudah berkurang,” sahutnya. Ditanya tentang Affa, Ulfa mengaku memperlakukan bocah itu seperti anak kandungnya sendiri. Ulfa juga mengatakan bahwa Affa berharap mempunyai adik. Hal itulah yang semakin memotivasi keinginan Ulfa untuk segera punya momongan. “Affa sih maunya punya adik cewek. Kalau papa sama mamanya sih, yang penting jadi aja,” tandasnya lantas tertawa. Akhir-akhir ini Ulfa merasa sering mendapat pertanyaan tentang kapan mempunyai momongan. Padahal, hal itu diakuinya sebagai sebuah tekanan yang sangat mengganggu. “Ya, semacam tekanan psikologis gitu. Kalau kata orang Sunda, jadi pundung,” ungkapnya. Selain itu, Ulfa mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Ulfa mengaku siap keluar dari dunia artis jika suami menginginkan. Beruntung, sampai saat ini suaminya masih mendukung semua aktivitasnya itu. “Itulah untungnya,” pungkasnya.(*/jpnn)

KOMEDI DORR!!

Tuesday, March 14th, 2006

Sumber: Global TV |

Jadwal Tayang setiap Kamis 19.30 WIB

Mau yang lucu? Mau yang seru? Mau yang bikin deg-degan? Jangan lewatkan “Komedi Dorr!!” tentu cuma di Global TV!

“Komedi Dorr!!” adalah acara kocak produksi inhouse Global TV yang bertujuan memberikan hiburan yang seru, yaitu memberikan lelucon atau guyonan di tempat-tempat yang sedikit tidak biasa, seperti sekolah, kampus, perkantoran, atau tempat-tempat favorit buat nongkrong sambil bersantai.

Tim “Komedi Dorr!!” sebelumnya akan mempersiapkan aksinya secara tersembunyi, dan ketika tiba waktunya mereka akan mengejutkan penonton dengan aksi kocak yang disampaikan dalam bentuk stand up comics atau menyajikan lelucon monolog dan mengajak audience yang ada untuk ikut berinteraksi. Di akhir acara, tim “Komedi Dorr!!” akan membagikan bermacam-macam souvenir menarik persembahan Global TV.

Acara “Komedi Dorr!!” dibagi dalam 4 segmen yang meliputi gambaran gimana serunya suasana lokasi kejutan, target audience, persiapan crew, sampai persiapan tantangan atau games seru.

Ingin dikunjungi tim “Komedi Dorr!!”?
Kirimkan saja email berisi nama+alamat sekolah kamu plus keterangan singkat mengapa sekolah kamu pantas didatangi tim “Komedi Dorr!!”, ke : komedidorr@globaltv.co.id.