Archive for July, 2006

Data Komedian Indonesia [updated]

Tuesday, July 25th, 2006

Salam Humor,

Jojon Center menyampaikan duka cita kepada korban Gempa dan Tsunami yang melanda warga Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Semoga amal ibadahnya diterima di sisiNya. Dan buat yang selamat, mari kita tetap waspada.

Berikut ini adalah pembaharuan data sementara komedian dan grup lawak di Indonesia. Data terbaru kami beri warna hijau. Data ini akan selalu kami perbarui. Kami juga sangat membutuhkan bantuan Anda untuk turut melengkapi data-data ini.

Catatan:

Berdasar masukan-masukan Anda, mulai 15 Maret 2006 kami mengubah materi Data Komedian Indonesia dengan membagi antara data grup komedi dan komediannya. Terus terang susah juga mengumpulkan data-data grup dan anggotanya. Jadi kami mohon dengan hormat kesediaan Anda untuk membantu kami mengumpulkan data. Silahkan menghubungi kami di jojon.center@gmail.com atau 081931190424 (sementara ini baru bisa terima sms saja).

Keterangan Singkatan:

API: Audisi Pelawak TPI, ABG: Audisi Band Gelo, Alm.: Almarhum/almarhumah

Grup

#
69

A
Arboyo API
Aurat Sarat (Band)

B
Bagito
Bagio Cs. Grup
Bioss Op ABG (Jakarta)
Bajaj

C
Cagur

D
D’Bodors
Dagelan Mataram
Demimor (Jakarta)
D’KabayanD’Kabayan

E
Elbeha
Empat Sekawan

F

G
Geng Kobra (Band | Yogyakarta)
Glopot API
Gama (Yogyakarta)
Geblesan (Banyumas)
Gado-gado ABG (Cilacap)
Gaya Tho Band ABG (Malang)

H
Hoki API

I

J
Jayakarta Grup
Jamal Cs (Medan)

K

Kasas API
Kondo API
Kekel (Medan)
Koreo (Jakarta)
Kosan API (Jakarta)
Kaos (Surabaya)
Kocori ABG (Yogyakarta)
Kuch Kuch Hota Hae (Surabaya)

L
Limau API
LAS (Medan)

M
Mboys (Yogyakarta)
Markus (Bandung)

N
Ngelantur API
Nyahnyah API (Riau)
Nyiur Melambai (Band)

P
Patrio
Pancaran Sinar Petromax (Band| PSP)
Padhyangan Project (Band | Bandung)
Project Pop (Band | Bandung)
Plat AB (Yogyakarta)
Padat Karya (Band | Solo)
Pecas nDahe (Band | Solo)
Pengantar Minum Racun (Band | PMR)
Penyot Sexy (Jakarta)
Produk Gagal (Yogyakarta)
Puan (Riau)
Pemuda Harapan Bangsa (PHD)
Pembela Kebenaran (Bandung)
POP ABG (Jakarta)

Q

R
Rajasusujahe (Band)

S
Srimulat
SOS
SQL
Sastromoeni (Band | Yogyakarta)
Suku Apakah (Band | Solo)
Seboel alm.
Segitiga Pengaman ABG (Bandung)
Sepoy-sepoy ABG (Yogyakarta)

T
Trio EBI alm.
Tomtam
Tape Ketan ABG (Jember)
Teamlo (Band | Solo)
Tomtam
Tjap Tugu Pahlawan (Surabaya)
Tolbing (Parto dkk.)

U
Urban (Bandung)

V

W
Warkop DKI
Wong Pitoe (Band | Solo)
Wahaha ABG (Pontianak)

X

Y

Z

Pelawak

A
Abah Us Us
Akri Patrio
Atik, Mpok
Aming Sugandi
Arwah Setiawan
Asmuni
Ateng alm.
Anya Dwinov
Asti Ananta
Abidin Domba
Aden Bajaj
Ali Zainal Abidin (Ali Limau)
Aom Kusman
Aldo Iwak Kebo (Yogyakarta)
Asep Sunandar Sunarya
Afit (Jamal Cs)
Atmonadi
Abrar (Nyahnyah)
Alim (Kekel)
Aida (Demimor)
Abdul (Ngelenong Nyok)

B
Basiyo alm. Yogyakarta
Bagiyo alm.
Bagiyo (partner Kirun)
Basuki
Bambang alm. Srimulat
Bambang Haryanto
Benyamin Sueb alm.
Bing Slamet alm.
Bedu
Betet
Bendot alm. (Srimulat)
Bolot, H
Bodong, H (lenong Betawi)
Beruk, Mbok (Yogyakarta)
Beni Kuncung (Yogyakarta)
Burhan (Pecas Ndahe)

C
Cici Tegal

D
Darto Helm alm.
Dono alm. | Warkop
Didik Nini Towok (Jogjakarta)
Didi Petet
Diran alm.
Dikin, Cak
Djudjuk Srimulat
Dedy “Miing” Gumelar (
Tubagus Dedy Gumilar) Bagito
Didin (
Tubagus Didin Pinasti) Bagito
Daan
Aria P Project
Derry 4 Sekawan
Deni Cagur
Deni (Wong Pitoe)
Dewo PLO (Yogyakarta)
Denny Chandra P Project
Doyok Srimulat
Dorce Gamalama
Dicky Candra
Dalijo (Yogyakarta)
Dibyo (Yogyakarta)
Deby Sahertian
Daryadi (Yogyakarta)
Darsono (Solo)
Didi (Jamal Cs)
Dera (Koreo)
Djuki (Dagelan Mataram)
David R (Mboys)
Doel Sumbing (Pecas Ndahe)

E
Edi Sud
Effendi Gazali
Engkus D’Bodor
Eman 4 Sekawan
Eko Patrio
Eko Srimulat
Engkus (
Uyan) D’Bodor
Ester
Elmi (Urban)
Emil (Pecas Ndahe)

F

Fani Fadila (Ucup Bajaj Bajuri)
Five-V
Fahmi (Nyahnyah)
Fahrul (Gama)
Faiq (Gama)
Firdaus
Farid (grupnya Reza Bukan)

G
Guno Susanto dari Jogjakarta
Gogon
Gito Yogyakarta
Gati Yogyakarta
Ginanjar 4 Sekawan
Gideon Grup
Gepeng alm.
Gareng Rakasiwi (Yogyakarta)
Gundi (Kondo | Yogyakarta)

H
Harry De Fretes
Helmy Harahap (LAS)Helby (Koreo)

I
Indro Warkop
Iwan Rajawali
Iszur Muchtar
P-Project
Ibing
Kusmayatna, Kang
Indra Safera alm.
Indra Birowo Extravaganza
Iskak alm.
IweL
Irfan Hakim
Iyang P Project
Isa Bajaj
Indra Dahfaldy (LAS)
I Bayu Priatno (Mboys)
Ipin (Kosan)

J
Jaya Suprana
Jimmy Gideon
Jojon
John Tralala (Banjarmasin)
Jatikusumo (personel Kuartet S)
Jamal API
Joned (Yogyakarta)
Junaidi alm. (Yogyakarta)
Joehana P Project
Jalal alm. (Madura)
Joni Gudel

K
Krisbiantoro
Kartolo (Surabaya)
Kasino alm. Warkop
Kirun
Karjo ACDC (Srimulat)
Kadir Srimulat
Kelik Pelipur Lara
Kiwil
Kubil
Komeng (
Alfiansyah)

L
Lesus
Lina (
Demimor)
Lina Puan
Lesmono

M
Malih
Mastur
Mamiek Slamet Srimulat
Mandra
Marwoto
Mat Solar (Nasrullah)
Misye Arsita
Mieke Amalia
Monox Limau (Sumono)
Mono (sering juga dipanggil Nomo)
Marsidah (Yogyakarta)
Memet
Melky Bajaj
Manyul/Topo (Yogyakarta)
Mang Diman (Badan Kesenian Angkatan Kesenian)

Mamay (Kosan)
Milko (Solo)

N
Nori, Mpok
Ngabdul (Yogyakarta)
Nunung Srimulat
Nurbuat Srimulat
Narji Cagur
Nani Widjaya
Noeroel (Pecas Ndahe)

O
Otong Lenong
Opie Kumis
Omaswati
Oon Project P
Odie Project P
Okki Lukman
Oni SOS
Ogi SOS
Ophe (Nyahnyah)
Ocha (Koreo)
Oyik (Kaos)

P
Parto Patrio (
Eddy Supono)
Polo
Paul alm. Srimulat
Pepeng
Pete Srimulat
Pretty Asmara
Pili Glopot
Pongge (Produk Gagal)
Putri (Demimor)
Pendhek (Pecas Ndahe)

Q
Qomar

R
Raswan Rajawali
Ranudikromo (Dagelan Mataram)
Rabies (Yogyakarta)
Ragil API
Ranto Edi Gudel (Solo)
Rieke Diah Pitaloka
Rini S Bonbon
Ronald Ekstravagansa
Rohana Srimulat
Roni Dozer Karli Extravaganza
Robi Tumewu
Rudi Ribut
Ria Irawan
Reggy Lawalata
Rudi Djamil (Solois Sunda)

Rifky (Kosan)

S
Sogi Indra Duaja Extravaganza
Setiawan Tiada Tara (Yogyakarta)
Sule SOS
Sol Saleh alm.
Subur alm. Srimulat

Sarpin (Dagelan Mataram)
Suparni (Dagelan Mataram)
Sofyan Hadi Waluyo alm. (Dagelan Mataram)
Suryana Fatah (D’Kabayan)

Suwanto (Gama)
Sukardi (Kaos)
Salim (Kekel)
Sion (Gideon)

T
Teguh Rahardjo (Pendiri Srimulat)
Timbul
Tile alm.
Tika Panggabean
Tessy (Kabul)
Tukul Arwana
Tesa Kaunang
Tike Priatna Kusuma Extravaganza
Tarsan
Taufik Savalas
Tora Sudiro Extravaganza
Trubus alm.
Tata Dado
Topan
Tompel
Tatang anak Gepeng
Tomo (Pecas Ndahe)
Tarida Gloria

U
Ulfa Dwiyanti
Udjo Project P
Unang ex. Bagito
U’uk alm. Jayakarta
Untung
Ucha Limau (M.Furqon)
Ucok Baba
Untung (Kekel)
Ucok (Kaos)

V
Vera Srimulat
Vera SQL
Virnie Ismail Extravaganza

W
Wak Iyah (Palembang)
Wendy Cagur
Wisben (Yogyakarta)
Wadino (a.k.a. Bandempo | Dagelan Mataram)
Wawan Hanura (P Project)
Wawan (Kondo | Yogyakarta)
Wanda (Urban)
Weka Adhi S. (Mboys)
Widi PuanWawa Sofyan (D’Kabayan)
Wisik (Pecas Ndahe)

Y

Yanto | Stock On You (meninggal Pebruari 2006)
Yati B29
Yati Pesek
Yossi Project P
Yulia Rahman
Yopi (Kondo | Yogyakarta)
Yeyen Puan
Yan Asmi (D’Bodor)
Yadi Sembako
Yoik (Pecas Ndahe)

Z
Zulfahmy Lubis (LAS)


Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mengirim data ke Jojon Center. Silahkan mengirim data ke jojon.center@gmail.com atau sms ke 081931190424.

Waduh! KPI Melarang RCTI Memutar Film WARKOP

Monday, July 24th, 2006

Sumber: Situs Resmi Komisi Penyiaran Indonesia

SIARAN PERS
Nomor : 31/K/KPI/SP/05/06

KPI PUSAT MINTA RCTI TIDAK MENAYANGKAN KEMBALI FILM WARKOP

Komisi Penyiaran Indonesia Pusat (KPIP) meminta dengan tegas kepada RCTI untuk menghentikan dan tidak lagi menyiarkan film-film komedi Nasional (Warkop) bernuansa seks pada pukul 13.00, yang sudah berlangsung sepanjang masa liburan murid sekolah ini (sejak 3 Juli 2006), baik untuk waktu sekarang maupun yang akan datang di kemudian hari.

KPI menilai Film-film Warkop yang disiarkan tersebut sangat jelas mengeksploitasi seks, mengandung banyak adegan mesum dan cabul, melecehkan perempuan sebagai objek seks serta bertentangan dengan nilai-nilai agama. RCTI bahkan secara tidak bijaksana menempatkan film-film tersebut sebagai tontonan anak-anak di seluruh Indonesia.

Adapun beberapa adegan maupun dialog yang termuat dalam beberapa contoh film tersebut yang menurut KPIP sangat tidak pantas antara lain film Warkop berjudul “Bisa Naik Bisa Turun” edisi Rabu, 5 Juli 2006 yaitu :

  • Terdapat adegan Dono, Kasino dan Indro yang mengintip celana dalam Kiki Fatmala. Pada saat itu, Kiki Fatmala mengenakan rok mini sedang menunduk untuk mengganti saluran televisinya.
  • Kemudian, adegan Dono meraba paha seorang wanita yang ditemuinya sedang duduk ditaman.
  • Adapula adegan dan dialog yang mengajak pemirsa membayangkan ukuran payudara wanita. Adegannya, seorang wanita gemuk tetangga Indro menanyakan tempat untuk meletakkan gula. Tetangganya tersebut menyodorkan bra-nya kepada Indro. Indro menuangkan gula dari toples hingga gula dalam toples tersebut habis. Pada saat itu, gambar film sedang meng-close up belahan payudara dan bra yang dijadikan tempat gula. Indro berkata, “Ampe kosong, nomor berape BH-nye?”
  • Pengambilan gambar secara close up pada wanita yang berpakaian bikini.
  • Setelah itu, adegan Dono, kasino dan Indro mengganggu wanita berbikini di pantai.
  • Terdapat juga dialog yang intinya mengajak pemirsa berasosiasi pada alat kelamin laki-laki. Adegannya, seoarang wanita gemuk sedang membeli sayur dan tiba-tiba dikagetkan oleh tetangganya hingga wanita gemuk itu terperanjat dan lantah. Wanita A: “Eh, bukan punya lu!”, Wanita B: “Punya lu panjang (menunjuk pada tukang sayur laki-laki), Eh panjang! Punya lu panjang kan (kembali menunjuk tukang sayur). Eh panjang lagi, bagaimana sih (menepuk wanita A yang tertawa). Punya lu panjang kan (menunjuk sekali lagi). Eh panjang lagi au deh ah”. Kemudian, Wanita A bertanya kepada tukang sayur: “Nggak ada yang lebih matang bang?” Wanita B spontan menyela: “Nggak ada yang lebih panjang?”

Kemudian, satu contoh lagi dalam film Warkop berjudul “Depan Bisa Belakang Bisa” yang ditayangkan pada Kamis, 6 Juli 2006 yaitu:

  • Percakapan antara Dono dan Michiko yang intinya berasosia pada payudara. Percakapan tersebut dilakukan di atas ranjang dengan menggunakan pakaian piama. Dialognya, Michiko: “Dono san, susu saya…”, Dono: “Iya kenapa susu kamu?” (sambil melihat ke arah payudara di Michiko), Michiko: “Bukan susumu. Maksud saya, saya biasa minum susu sebelum tidur.”
  • Kemudian, cara berpakaian Penny (sekretaris biro penyidik) dan Michiko sering kali memperlihatkan pahanya masing-masing.

Selanjutnya, KPIP meminta dengan sungguh-sungguh pada RCTI untuk membenahi dengan segera muatan siaran tersebut. Perlu dicatat, bahwa sejumlah stasiun televisi lain sudah menunjukkan upaya serius untuk terus membenahi kualitas tayangannya sehingga tidak merugikan kepentingan masyarakat.

Dalam kesempatan ini, KPIP masih percaya pada pengelola RCTI bahwa mereka tidak akan menyalahgunakan frekuensi siaran yang dipercayakan kepadanya untuk menyebarkan materi-materi siaran yang bertentangan dengan kepentingan dan nilai-nilai masyarakat luas.

Namun demikian, KPIP perlu mengingatkan jika seandainya RCTI tidak menunjukkan perubahan berarti dalam isi siarannya, KPIP akan mempertimbangkan sikap tersebut dalam proses pemberian Izin Penyelenggaraan Penyiaran serta akan membawa bukti-bukti rekaman pelanggaran yang selama ini dihimpun KPIP kepada pihak kepolisian sesuai dengan ketentuan UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.

Jakarta, 14 Juli 2006

Ade Armando

Mbah Guno: Mencari Guru Lawak Itu Susah

Wednesday, July 19th, 2006

Sumber : Jaya Baya | 11 Mei 2006

Atas ijin pengelolanya, kami menerjemahkan naskah “Golek Guru Dhagelan Niku Angel” yang ada di blog Jaya Baya dan mengumumkan kembali untuk Anda. Shola.

Di kalangan pelawak Yogyakarta, nama Mbah Guno alias R. Susanto (79) sudah tidak asing lagi. Kaset album humornya tersebar ke mana-mana. Album yang terakhir berisi parodi lagu-lagu milik penyanyi Walang Kekek, Hj. Waljinah.

Album bertajuk “Kembang Kacang” yang keluar tahun 1900an itu laris ibarat kacang goreng. Di situ, Mbah Guno yang mendapat gelar Kangjeng Raden Tumenggung (KRT) Susanto Gunaprawiro dari Kraton Yogyakarta Hadiningrat, ini berduet dengan pentolan pelawak Mataram, Djunaedi alm. Salah satu bagian yang lucu adalah ketika Mbah Guno menyanyikan tembang dhandanggulo Badan Alus, “Ingkung wewe, bothokiro dhemit… gendruwo dipunsujeni, jrangkong garangaseme…”

Mbah Guno lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 3 Desember 1927. Menikah dengan Sri Palupi, anak seorang bupati Gunung Kidul (Mertodiningrat), dan dikaruniai 9 anak: Gunarso, Gunawati, Ratih Guntari, Endang Gunar Widiastuti, Wahyu Gupitawati, Guntoro, Hesti Gunarti, Novi Gunarsanti Gun Hartanto. Dari kesembilan anaknya itu ia dikaruniai cucu delapan orang. Pendidikan terakhir Mbah Guno adalah SMA Surakarta tahun 1950 dan pensiun dari guru STMN II Yogyakarta tahun 1987. Meskipun telah pensiun ia masih mengajar di jurusan teater ISI Yogyakarta sejak 1987 hingga sekarang.

Mbah Guno adalah putra ketiga abdi dalem Keraton Surakarta yang bernama Gunawan Sastroprawiro. Berikut ini wawancara Jayabaya dengan Mbah Guno di rumahnya di bilangan Mijilan Yogyakarta, 24 April 2006.

Mbah Guno kados taksih mucal ing ISI nggih? Leres, kula rumiyin asring tumut teater Asdrafi Jogja pimpinan Sri Murtono. Kula menika tiyang panggung, sok main wayang wong. Ing wayang wong dados dhapukan Petruk lan Cantrik Janaloka. Semanten ugi ing kethoprak lan dhagelan. Ing ISI (Institut Seni Indonesia) Jogja mulang dhagelan kangge kelengkapan mata kuliah teater. Pados guru dhagelan niku sakniki angel. Ora umum, ana guru kok dhagelan.

Mbah Guno masih mengajar di ISI (Institud Seni Indonesia, JC.) ya?

Benar. Saya dulu sering sekali ikut teater Asdrafi (Akademi Seni Drama dan Film) Yogyakarta pimpinan Sri Murtono. Saya ini orang Panggung, sering main wayang orang. Di wayang orang saya sering mendapat peran sebagai Petruk dan Cantrik Janaloka. Begitu juga di kethoprak dan lawakan. Di ISI Yogyakarta saya mengajar dhagelan untuk kelengkapan mata kuliah teater.

Mencari guru dhagelan itu sekarang susah. Tidak lazim, guru kok dhagelan. Guru dagelan itu modalnya harus cerdas, kalau tidak mana mungkin bisa. Pikirannya harus berisi humor setiap saat dan bisa membuat orang tertawa.

Meski umur saya sudah 78 tahun, tetapi belum pikun. Masih bisa nyanyi, nembang, keroncong stambulan, dan seriosa. Malah saya kenal dengan “Walang Kekek” Waljinah penyanyi keroncong Solo. Sebagai pelawak saya harus memiliki bahan yang banyak; bisa jadi aktor wayang wong, dhalang, dan pengrawit. Kaya perbendaharaan kalimat dan kata.

(Meski begitu) hidup sebagai pelawak itu sekarang susah. Sebab sekarang penonton banyak yang pintar melucu. Malah pernah ada yang bisa membuat pelawaknya tertawa. Aneh, kan? Kalau melawak isinya hanya mengambil dari lawakan orang lain bakal ketahuan, waduh seperti apa malunya.

Mbah Guno pernah jadi pedalang?

Benar. Saya pernah belajar atau kursus dalang wayang kulit di Kraton Surakarta. Waktu itu gurunya KRT Dutadilogo, RW Atmocendono, dan RL Jogopradonggo. Tempatnya di SD Kasatriyan. KRT Dutadilogo mengajar teori pewayangan, KRT Armocendono sabetan atau jejeran, dan RL Jogopradonggo mengajar sulukan, yang kalau dijogja istilahnya lagon. Pendidikannya hanya satu tahun, dapat ijasah yang ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Mendiknas, JC) waktu itu. Jadi dalang juga mendapat ijasah. Setelah itu lalu pindah ke Yogya ikut perkumpulan wayang wong Gagrak Solo di Arena Budaya pimpinan Pak Sunarto dan langsung disuruh menjadi dalang wayang orang.

Jadi dalang itu harus menguasai gending dan tari. Waktu itu THR (Taman Hiburan Rakyat, JC) Yogya belum ada wayang orang. Paguyuban tari Gagrak Solo yang ada di Yogya ada empat: Langen Indria, Langen Beksa Wiromo, Puri Eka Budaya. Dan di wayang orang Tiong Hoa pimpinan Oh Wi Sun yang ada di Magelang saya juga ditunjuk menjadi dalangnya.

Sekeca dados dhalang menapa dhagelan? Kangge dhagelan racake sing nanggap remen kula ndhagel macak ngangge pantalon biru, dhasi, jas lan pecis. Benten kaliyan dados dhalang. Sisah sanget, sukune saged gringgingen melek sewengi. Sami-sami ongkose wekdal semanten HR dhalang wayang kulit Rp 300.000 lan dhagelan Rp 250.000. Kula nggih milih dhagelane, boten repot. Jalaran dhalang kedah ndhatengaken gamelan, sindhen, wayang kulit, lsp.

Mana lebih enak, menjadi dalang atau pelawak?

Untuk menjadi pelawak biasanya yang menanggap senang kalau saya memakai kostum pantalon biru, berdasi, berjas dan memakai peci. Beda dengan menjadi dalang. Susah sekali, kaki bisa kesemutan karena begadang semalaman. Karena itu sama-sama honor waktu itu menjadi dalang wayang kulit Rp 300.000 dan pelawak Rp 200.000, saya ya milih menjadi pelawak. Tidak repot. Sebab kalau mendalang harus mendatangkan gamelan, sinden, wayang kulit, dan sebagainya.

Selama saya menjadi pelawak, murid saya sudah banyak. Yang ada di Jakarta seperti Edy Sud, Bagio, Iskak, dan Drs. Sunarto. Malah waktu itu saya bikin grup Trio SGM (Sunarto, Guna, Murtadi) dan pernah dishooting TVRI Yogyakarta.

Selain menjadi pelawak saya juga merangkap menjadi MC berbahasa Jawa yang kalau pas kosong diisi dengan lawakan. Selain itu saya juga senang memberi kursus pranata adicara (MC juga cuma bahasanya Jawa, JC) se-DIY serta membuka penyembuhan tradisional alternatif supranatural untuk orang yang sakit maag, jantung, ginjel, liver, dan asma.

Sebagai orang Jawa saya punya tanggung jawab sebagai pengawal, pengawas, dan penjaga bahasa Jawa. Dan konskuensinya kalau ada penyiar radio yang salah menggunakan kalimat atau kata Jawa, langsung saya telepon. Gara-gara ini saya sering mendapat undangan kalau ada seminar atau sarasehan. Karena sekarang ini banyak orang salah menggunakan bahasa Jawa.

Nanti Konggres Basa jawa IV di Semarang saya akan mengusulkan tentang tatanan Hanacaraka dengan cara yang berbeda. Dialoritik tanda E dihilangkan seperti kata gendheng dan gendheng tulisannya sama tetapi artinya berbeda karena tanda itu tidak ada di mesin ketik atau komputer. Gendheng bisa berarti orang gila atau stress, dan bisa juga berarti atap rumah.(R. Dwi S. JB)

Ludruk

Monday, July 17th, 2006

Beberapa definisi tentang ludruk

Seni ludruk merupakan seni rakyat tradisional yang banyak digemari masyarakat. Pertunjukan ini merupakan semacam teater rakyat yang membawa cerita-cerita: Balada kepahlawanan misalnya Sawunggaling, Trunodjojo, Tragedi yang berupa persitiwa yang menyedihkan misalnya cerita: Branjang Kawat, Sarip Tambakyoso, atau cerita yang bersifat komedi. Pada dasarnya pertunjukan ludruk merupakan perpaduan dari seni panggung dengan operette (sandiwara yang sebagian besar dialognya dilagukan). Dalam ludruk nyanyian yang didendangkan disebut Gendingan Jula-juli. Bentuknya menyerupai pantun yang biasa disebut parikan. Isinya berupa nasehat, sindiran atau sketsa masyarakat yang berbau kritik (biasanya kritik sosial). Dibawakan oleh pelawak yang dinyanyikan atau didendangkan secara humoris, diiringi oleh gamelan.

Sumber: http://www.petra.ac.id/

*** 

 

Ludruk adalah seni panggung yang berasal dari Jawa Timur. Awalnya, Ludruk muncul dari kesenian rakyat, Besutan. Seni Besutan dulunya dipentaskan di jalan raya dan ditonton oleh orang banyak.

Ludruk telah menyebar ke seluruh pelosok Jawa Timur yang berbudaya Arekan, mulai dari Jombang hingga Jember.

Ludruk berbeda dengan kethopra, karena ludruk bercerita tentang kehidupan sehari-hari dan terkadang bercerita tentang situasi yang sedang terjadi saat ini seperti apa yang sedang terjadi di pemerintaha. Biasanya ludruk dibuka dengan tandhakan (tarian) seperti Tari Ngremo, atau beskalan Putri untuk ludruk gaya Malang. Pembukaan pertunjukan ludruk biasanya diisi dengan parikan (tembang) yang isinya merespon situasi yang sedang hangat di masyarakat.

Dialog dalam ludruk biasanya menggunakan dialek Surabaya (Suroboyoan), sedangkan untuk ludruk di Probolinggo, Lumajang, dan Jember menggunakan bahasa Madura.

Salah satu tokoh ludruk yang protagonis dan terkenal adalah tokoh Jawara dari Madura bernama Sakera.

Sumber: Wikipedia

***

Ludruk, merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Pementasan ludruk Dapat disaksikan di hari tertentu di Surabaya Mall People Ammucement Park (THR) Jl.Kusuma Bangsa 110 atau Taman Budaya Cak Durasim Jl.Genteng Kali Jam 20.00 - 24.00 WIB.

Sumber: Situs Pemerintahan Surabaya 

***

Aslinya Gagap Teknologi

Saturday, July 15th, 2006

Sabtu, 15 Juli 2006

Gelar “muka kampung rezeki kota” yang sering disandang almarhum Benyamin Suaeb tampaknya layak juga disandangkan kepada Tukul Arwana. Pelawak bertampang “seadanya” itu belakangan kian moncer. Wajahnya bisa dilihat hampir di setiap stasiun televisi. Tapi belakangan langkah Tukul kian gesit saja. Buktinya, pria berusia 43 tahun itu dipercaya menjadi presenter talk show bertajuk Empat Mata di TV7. Meski baru masuk episode keenam, Tukul mengaku acara ini rating-nya cukup tinggi. “Saya merasa lebih intelek,” katanya saat dihubungi Tempo kemarin.

 

Acara yang menampilkan bintang tamu selebritas ternama itu banyak dipuji orang. “Mereka bilang tampang saya konvensional, tapi rezeki modern,” ujarnya terkekeh. Berbicara soal modern, Tukul memang harus terlihat piawai memainkan komputer jinjing yang selalu ada di mejanya saat dia memandu acara itu. “Aslinya saya gagap teknologi. Wong masalah komputer saya nggak ngerti babar blas,” ujarnya kocak.

Tapi, demi tuntutan acara, Tukul pun sering mencoba sebisanya. Nah, saat mencoba mengutak-atik Internet misalnya, Tukul mengaku pernah kehilangan surat elektronik yang harus dibalasnya. “Tiba-tiba terhapus atau hilang,” katanya terbahak. Untunglah dia pandai berimprovisasi sehingga surat elektronik yang seharusnya dibaca itu bisa diakalinya dengan penampilan khasnya.

Gara-gara acara itu pula banyak orang menjulukinya mirip Oprah Winfrey. Tapi pemilik nama asli Riyanto itu tak besar kepala. “Wah, masak saya dibilang Oprah. Ya, mestinya saya lebih hebat daripada Oprah,” guraunya. Kalau masih gagap dengan dunia maya, lalu dari mana Tukul mendapat berbagai informasi dan ilmu terbaru? Meski tak kuliah, Tukul mengaku mendapat banyak ilmu dari komunikasi dengan banyak orang. “Kata orang dari sana saya ngilmu,” ujarnya sambil mengatakan dia juga sering memperhatikan gaya presenter kondang lain. Soal gaya, Tukul mengaku lebih senang dengan gaya khasnya. “Kalau awalnya saya nyemplung sebagai pelawak tapi sekarang jadi presenter, artinya saya punya potensi diri yang oke.” HADRIANI