Archive for July 19th, 2006

Mbah Guno: Mencari Guru Lawak Itu Susah

Wednesday, July 19th, 2006

Sumber : Jaya Baya | 11 Mei 2006

Atas ijin pengelolanya, kami menerjemahkan naskah “Golek Guru Dhagelan Niku Angel” yang ada di blog Jaya Baya dan mengumumkan kembali untuk Anda. Shola.

Di kalangan pelawak Yogyakarta, nama Mbah Guno alias R. Susanto (79) sudah tidak asing lagi. Kaset album humornya tersebar ke mana-mana. Album yang terakhir berisi parodi lagu-lagu milik penyanyi Walang Kekek, Hj. Waljinah.

Album bertajuk “Kembang Kacang” yang keluar tahun 1900an itu laris ibarat kacang goreng. Di situ, Mbah Guno yang mendapat gelar Kangjeng Raden Tumenggung (KRT) Susanto Gunaprawiro dari Kraton Yogyakarta Hadiningrat, ini berduet dengan pentolan pelawak Mataram, Djunaedi alm. Salah satu bagian yang lucu adalah ketika Mbah Guno menyanyikan tembang dhandanggulo Badan Alus, “Ingkung wewe, bothokiro dhemit… gendruwo dipunsujeni, jrangkong garangaseme…”

Mbah Guno lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 3 Desember 1927. Menikah dengan Sri Palupi, anak seorang bupati Gunung Kidul (Mertodiningrat), dan dikaruniai 9 anak: Gunarso, Gunawati, Ratih Guntari, Endang Gunar Widiastuti, Wahyu Gupitawati, Guntoro, Hesti Gunarti, Novi Gunarsanti Gun Hartanto. Dari kesembilan anaknya itu ia dikaruniai cucu delapan orang. Pendidikan terakhir Mbah Guno adalah SMA Surakarta tahun 1950 dan pensiun dari guru STMN II Yogyakarta tahun 1987. Meskipun telah pensiun ia masih mengajar di jurusan teater ISI Yogyakarta sejak 1987 hingga sekarang.

Mbah Guno adalah putra ketiga abdi dalem Keraton Surakarta yang bernama Gunawan Sastroprawiro. Berikut ini wawancara Jayabaya dengan Mbah Guno di rumahnya di bilangan Mijilan Yogyakarta, 24 April 2006.

Mbah Guno kados taksih mucal ing ISI nggih? Leres, kula rumiyin asring tumut teater Asdrafi Jogja pimpinan Sri Murtono. Kula menika tiyang panggung, sok main wayang wong. Ing wayang wong dados dhapukan Petruk lan Cantrik Janaloka. Semanten ugi ing kethoprak lan dhagelan. Ing ISI (Institut Seni Indonesia) Jogja mulang dhagelan kangge kelengkapan mata kuliah teater. Pados guru dhagelan niku sakniki angel. Ora umum, ana guru kok dhagelan.

Mbah Guno masih mengajar di ISI (Institud Seni Indonesia, JC.) ya?

Benar. Saya dulu sering sekali ikut teater Asdrafi (Akademi Seni Drama dan Film) Yogyakarta pimpinan Sri Murtono. Saya ini orang Panggung, sering main wayang orang. Di wayang orang saya sering mendapat peran sebagai Petruk dan Cantrik Janaloka. Begitu juga di kethoprak dan lawakan. Di ISI Yogyakarta saya mengajar dhagelan untuk kelengkapan mata kuliah teater.

Mencari guru dhagelan itu sekarang susah. Tidak lazim, guru kok dhagelan. Guru dagelan itu modalnya harus cerdas, kalau tidak mana mungkin bisa. Pikirannya harus berisi humor setiap saat dan bisa membuat orang tertawa.

Meski umur saya sudah 78 tahun, tetapi belum pikun. Masih bisa nyanyi, nembang, keroncong stambulan, dan seriosa. Malah saya kenal dengan “Walang Kekek” Waljinah penyanyi keroncong Solo. Sebagai pelawak saya harus memiliki bahan yang banyak; bisa jadi aktor wayang wong, dhalang, dan pengrawit. Kaya perbendaharaan kalimat dan kata.

(Meski begitu) hidup sebagai pelawak itu sekarang susah. Sebab sekarang penonton banyak yang pintar melucu. Malah pernah ada yang bisa membuat pelawaknya tertawa. Aneh, kan? Kalau melawak isinya hanya mengambil dari lawakan orang lain bakal ketahuan, waduh seperti apa malunya.

Mbah Guno pernah jadi pedalang?

Benar. Saya pernah belajar atau kursus dalang wayang kulit di Kraton Surakarta. Waktu itu gurunya KRT Dutadilogo, RW Atmocendono, dan RL Jogopradonggo. Tempatnya di SD Kasatriyan. KRT Dutadilogo mengajar teori pewayangan, KRT Armocendono sabetan atau jejeran, dan RL Jogopradonggo mengajar sulukan, yang kalau dijogja istilahnya lagon. Pendidikannya hanya satu tahun, dapat ijasah yang ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Mendiknas, JC) waktu itu. Jadi dalang juga mendapat ijasah. Setelah itu lalu pindah ke Yogya ikut perkumpulan wayang wong Gagrak Solo di Arena Budaya pimpinan Pak Sunarto dan langsung disuruh menjadi dalang wayang orang.

Jadi dalang itu harus menguasai gending dan tari. Waktu itu THR (Taman Hiburan Rakyat, JC) Yogya belum ada wayang orang. Paguyuban tari Gagrak Solo yang ada di Yogya ada empat: Langen Indria, Langen Beksa Wiromo, Puri Eka Budaya. Dan di wayang orang Tiong Hoa pimpinan Oh Wi Sun yang ada di Magelang saya juga ditunjuk menjadi dalangnya.

Sekeca dados dhalang menapa dhagelan? Kangge dhagelan racake sing nanggap remen kula ndhagel macak ngangge pantalon biru, dhasi, jas lan pecis. Benten kaliyan dados dhalang. Sisah sanget, sukune saged gringgingen melek sewengi. Sami-sami ongkose wekdal semanten HR dhalang wayang kulit Rp 300.000 lan dhagelan Rp 250.000. Kula nggih milih dhagelane, boten repot. Jalaran dhalang kedah ndhatengaken gamelan, sindhen, wayang kulit, lsp.

Mana lebih enak, menjadi dalang atau pelawak?

Untuk menjadi pelawak biasanya yang menanggap senang kalau saya memakai kostum pantalon biru, berdasi, berjas dan memakai peci. Beda dengan menjadi dalang. Susah sekali, kaki bisa kesemutan karena begadang semalaman. Karena itu sama-sama honor waktu itu menjadi dalang wayang kulit Rp 300.000 dan pelawak Rp 200.000, saya ya milih menjadi pelawak. Tidak repot. Sebab kalau mendalang harus mendatangkan gamelan, sinden, wayang kulit, dan sebagainya.

Selama saya menjadi pelawak, murid saya sudah banyak. Yang ada di Jakarta seperti Edy Sud, Bagio, Iskak, dan Drs. Sunarto. Malah waktu itu saya bikin grup Trio SGM (Sunarto, Guna, Murtadi) dan pernah dishooting TVRI Yogyakarta.

Selain menjadi pelawak saya juga merangkap menjadi MC berbahasa Jawa yang kalau pas kosong diisi dengan lawakan. Selain itu saya juga senang memberi kursus pranata adicara (MC juga cuma bahasanya Jawa, JC) se-DIY serta membuka penyembuhan tradisional alternatif supranatural untuk orang yang sakit maag, jantung, ginjel, liver, dan asma.

Sebagai orang Jawa saya punya tanggung jawab sebagai pengawal, pengawas, dan penjaga bahasa Jawa. Dan konskuensinya kalau ada penyiar radio yang salah menggunakan kalimat atau kata Jawa, langsung saya telepon. Gara-gara ini saya sering mendapat undangan kalau ada seminar atau sarasehan. Karena sekarang ini banyak orang salah menggunakan bahasa Jawa.

Nanti Konggres Basa jawa IV di Semarang saya akan mengusulkan tentang tatanan Hanacaraka dengan cara yang berbeda. Dialoritik tanda E dihilangkan seperti kata gendheng dan gendheng tulisannya sama tetapi artinya berbeda karena tanda itu tidak ada di mesin ketik atau komputer. Gendheng bisa berarti orang gila atau stress, dan bisa juga berarti atap rumah.(R. Dwi S. JB)