LODROK 1
Sumber: Situs Pemerintah Sumenep | Sabtu, 11 Februari 2006 pukul 21:42 wib.
Lodrok adalah pertunjukan teater musikal tanpa topeng dan saat ini sangat populer di daerah Sumenep. Terminologi yang digunakan berubah–ubah. Ia berasal dari bahasa Jawa yang diserap oleh bahasa Indonesia. Bentuk pertunjukan itu disebut dua istilah yang berasal dari jawa: Ludruk dan Kethoprak.
Di Jawa istilah “kethoprak” saat ini mengacu pada suatu jenis pertunjukan teater musikal tanpa topeng, yang menampilkan gabungan narasi dan nyanyian. Temanya biasanya berdasarkan cerita tentang pahlawan lokal atau legenda. Pertunjukan itu tampil dengan pemain berbusana jawa lama dengan iringan musik gamelan. Rombongan terdiri dari gabungan pemain laki – laki dan perempuan. Namun saat ini tidak lagi menampilkan pemain laki–laki dan perempuan, tetapi semua pemainnya laki–laki.
Kethoprak terdapat di seluruh pulau Jawa, tetapi konon berasal dari Jawa Tengah. Menurut suatu hipotesis asal–usulnya adalah raket, yaitu sejenis pertunjukan pendek tanpa topeng yang pada mulanya berdasarkan nyanyian dan tarian sewaktu menumbuk padi, kemudian kira – kira abad ke-14 dijadikan tarian keraton. Pada akhir abad ke-19 , kethoprak muncul sebagai genre pertunjukan teater tersendiri. Di dalamnya terkandung dongeng rakyat dan legenda kuno, pelawak serta gagasan awal cukup besar dari pewayangan, terutama pada tripologi tokoh di dalam tiga golongan, yaitu dewa leluhur, bangsawan, dan pelawak–pelayan.
Pada dasawarsa–dasawarsa pertama abad ke-20 kethoprak dipengaruhi oleh komedi stambul, yaitu suatu bentuk pertunjukan yang memperlihatkan ciri gabungan dari pengaruh eropa, timur tengah dan malaysia serta dari wayang orang dan akhirnya dari seni film. Kethoprak kini dianggap sebagai sejenis pertunjukan “ teater rakyat “.
Menurut sebagian besar penulis istilah “ kethoprak “ diperkirakan berasal dari tiruan bunyi “ prak – prak “ tiruan lesung . selain itu istilah itu diperkirakan terkait dengan istilah “ ketok “ ataupun istilah “ keprak “ sejenis kentongan kayu bercelah yang diperkirakan berasal dari lesung danyang digunakan sebagai pemberi isyarat dalam berbagai pertunjukan tari dan teater.
Lodruk, teater musikal tanpa topeng. Hanya terdapat di daerah Jawa Timur dan berasal dari Surabaya. Ia berasal dari badoot dan ludrug, yakni tari duet yang salah satu penarinya berbusana perempuan ( dan terbukti pada akhir abad ke-19) , yang berasal dari suatu tari duet banci laki – laki yang disebut “ lerok” . dalam bahasa Indonesia modern istilah badut berarti pelawak. Di dalam bahasa Madura luddruk atau loddrok berarti “ tukang lelucon atau pelawak “, dan mengacu pada con lelucon atau punakawan, dagel . Istilah – istilah tersebut menekankan pentingnya unsur jenaka didalam kemunculan jenis teater itu.
Setiap pertunjukan ludruk memperlihatkan baik unsur kebudayaan tradisional jawa dan Madura maupun tema modern nasionalis–komunis–Indonesia. Pertunjukan itu diiringi oleh gamelan dan sebagian dengan keroncong. Genre pertunjukan itu, yang bukan hanya dipentaskan dan dotonton oleh rakyat jelata dari daerah perkotaan tetapi juga dari daerah pedesaan, senantiasa tersangkut did alam pergolakan awal abad ke–20 (perjuangan kemerdekaan, penduduk jepang, Revolusi). Dan bersifat satiris tentang keadaan politik dan sosial. Pada tahun 1965 perkembanan ludruk itu terhenti secara mendadak dengan peralihan kekuasaan (dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto) yang disusul dengan pembersihan politik yang besar. Dewasa ini, sejak kira–kira sepuluh tahun terakhir, rombongan ludruk dibentuk kembali di bawah pengawasan ketat dari dinas intelejen. Meskipun pada awalnya rombongan itu hanya terdiri dari pemain laki – laki, kini perempuan ditampilkan juga.
Istilah lain adalah adjing (ajhing) yaitu genre drama Madura yang paling awal, yang konon mendahului lodrok di Madura. Paling Tidak di derah Sumenep. Ada juga “pandjhak” atau “nadjagha” (Bangkalan, Pamekasan) yaitu rekan sepermainan di dalam pertunjukan topeng, di dalam “Salabadhan” atau “Podjhijan. Istilah lain yang terkait dengan kegiatan musikal yang bersifat parodi dan ritual adalah semprong ; menyangkut pelawak atau perangkat gong dari bambu yang mengiringi mereka pada acara “Salabadhan”.
Keberadaan adjing di Madura (disebut ajing di Bangkalan, pojian di Pamekasan, salabadhan di Sumenep ) yang berbeda dari apa yang dikatakan oleh rombongan daerah Sumenep sebagai ajhing yang telah mereka kenal atau pentaskan. Ajing itu adalah suatu pertunjukan yang bersifat “doa pembawa kebaikan keagamaan “ yang dimainkan oleh sekelompok laki–laki dan diiringi oleh orkes Saronen secara berturut–turut dipentaskan “tari Baladewa“, “tari randing“, diikuti dagelan tentang kehidupan sehari–hari dan adegan yang dipetik dari kisah seribu Satu Malam.
Beberapa keterangan tentang sejarah dan perkembangan rombongan ajhing di beberapa daerah. Di kecamatan Ambunten Sumenep sebuah rombongan ajhing atau semprong masih berpentas pada upacara ritual tertentu (rokat) diiringi oleh orkes Saronen. Menurut informasi, pada waktu itu ceritanya mengandung banyak lelucon dan tidak menyebutkan kerjaan apapun. Yang muncul pertama adalah tokoh Cuntrot. Berebusana celana dan kemeja lengan pendek, dia memakai selendang di leher, sebuah keris disisipkan dibelakang pundaknya; kaca mata hitam dan berkumis. Dia berjalan santai tanpa topi, diiringi gendhing pancal bereng. Selesai mengelilingi pentas tiga kali, dia kembali ketempat persiapan pemain. Busananya biasa saja, seperti pakaian sehari–hari; songkok beledu, celana dan baju untuk laki–laki, kain batik, kain kebaya, dan tutup kepala menerawang (tanpa sanggul Jawa) untuk perempuan. Satu–satunya hiasan untuk fantasi adalah sebuah bando yang disisipi bulu ayam dan kaca mata kehitam–hitaman, yang dikenakan oleh tokoh raja, ratu dan patih. Para pemuda memakai sebuah penjhung, yaitu sejenis selendang yang dijadikan ikat kepala dengan ujungnya terkulai disebelah kanan. Sebelum tahun 60-an , ajhing tampil tanpa panggung yang sebenarnya dan hanya dengan sehelai tirai latar belakang saja. Tanpa menarik biaya masuk, tetapi berpentas atas dasar undangan ketika ada pesta atau upacara pribadi. Pada awalnya rombongan itu hadir tanpa nama khusus .
Ludruk Madura diilhami unsur dagelan ajhing lama; permainan kata, mimik, gerak badan, serta wajah berias, warna hitam dan putih. Pelayan–pelayan tidak memotong percakapan tokoh utama dan sebagian besar adegan lucu mereka bersifat visual atau kial: kaps di lubang hidung yang bergerak ketika tokoh bernafas, satu lengan kemeja yang dibiarkan melambai tidak dipakai dan sebagainya. Raja tidak boleh merayu perempuan dan langsung naik panggung tanpa menari. Sebaliknya, para patih (pate) dari dulu selalu menari, dan berdiri ketika raja masuk, sebelum duduk kembali. Tahap berikutnya adalah ludruk sandiwara : patih pada waktu memakai perhiasan pergelangan tangan dan leher seperti di dalam busana keraton Jawa, tanpa tutup kepala, dan panggung sudah lengkap dengan tiga kain sebagai Background. Terakhir muncul ludruk–kethoprak pada tahun 70 – an . Pada saat itu, nama ludruk harus dirubah menjadi “ kethoprak “ supaya cocok dengan keadaan yang berlaku di Jawa. Dan Bahkan cerita harus disusun oleh para guru atau pegawai.
Ajhing juga merupakan “ritus lama” (slameddhan kona) yang diselenggarakan di makam keramat. Acaranya terdiri dari satu Ghambu yang ditarikan oleh dua orang penari laki–laki dan satu orang tarian ronggeng yang ditarikan oleh dua laki–laki berbusana perempuan. Seorang laki–laki berkaca mata hitam dan bersongkok, sambil menyandang tas, berjalan mengelilingi sebuah meja berisi sesajen 9 rasol) sambil terus berbicara dan bergurau. Para tokoh adegan yang menyusul adalah: Tuan (hampir pasti orang belanda), Pasoro Opas (pesuruh tuan di atas), Raden Abupati (bhupate) , Konieran (pelawak dan pasoro papate–pesuruh patih), dua dhinraddhin (raden) , dua ronggeng ( penari perempuan ) serta mantre tandhang ( juru tari ). Di kantornya, tuan tampak duduk , berdiri lalu memanggil pesuruhnya; mantre tandhang masuk lalu keluar; Raden Abupati lalu masuk ke kantor menari dan ke luar. Muncul para ronggeng, menari dan keluar sambil mengambil sesajen di meja; Tuan dan pesuruhnya lalu makan sisa sesajen di atas panggung sebelum keluar. Ghambhu memainkan peran sebagai pegawai Tuan dan Ronggeng sebagai pembantunya. Bentuk ajhing itu mirip slempangan yang mengejek serdadu yang telah mendaftar sebagai tentara Belanda maupun Belanda itu sendiri.
Pertunjukan yang disebut ronding atau saronen di Madura hanya merupakan sebagian pertunjukan ajhing lengkap. Perbedaan antara Lodrok dan kethoprak terutama tampak pada busana ; didalam loddrok , raja mengenakan baju berlengan panjang ; di dalam kethoprak , mereka bertelanjang dada dan hanya mengenakan berbagai perhiasan.
Di kalianget Barat , ajhing perempuan berkaca mata gelap dan mengenakan sejenis cadar. Pada saat bernyanyi ( ngejhung ) , mereka menutup mulut dengan sapu tangan karena malu ( todus ). Akan tetapi hal itu tidak laku di hadapan penonton, maka pertunjukan di ubah menjadi seperti yang ada sekarang.