Archive for July, 2006

Seni Komedi Milik Sendiri

Saturday, July 15th, 2006

LODROK 1

Sumber: Situs Pemerintah Sumenep | Sabtu, 11 Februari 2006 pukul 21:42 wib.

Lodrok adalah pertunjukan teater musikal tanpa topeng dan saat ini sangat populer di daerah Sumenep. Terminologi yang digunakan berubah–ubah. Ia berasal dari bahasa Jawa yang diserap oleh bahasa Indonesia. Bentuk pertunjukan itu disebut dua istilah yang berasal dari jawa: Ludruk dan Kethoprak.

Di Jawa istilah “kethoprak” saat ini mengacu pada suatu jenis pertunjukan teater musikal tanpa topeng, yang menampilkan gabungan narasi dan nyanyian. Temanya biasanya berdasarkan cerita tentang pahlawan lokal atau legenda. Pertunjukan itu tampil dengan pemain berbusana jawa lama dengan iringan musik gamelan. Rombongan terdiri dari gabungan pemain laki – laki dan perempuan. Namun saat ini tidak lagi menampilkan pemain laki–laki dan perempuan, tetapi semua pemainnya laki–laki.

Kethoprak terdapat di seluruh pulau Jawa, tetapi konon berasal dari Jawa Tengah. Menurut suatu hipotesis asal–usulnya adalah raket, yaitu sejenis pertunjukan pendek tanpa topeng yang pada mulanya berdasarkan nyanyian dan tarian sewaktu menumbuk padi, kemudian kira – kira abad ke-14 dijadikan tarian keraton. Pada akhir abad ke-19 , kethoprak muncul sebagai genre pertunjukan teater tersendiri. Di dalamnya terkandung dongeng rakyat dan legenda kuno, pelawak serta gagasan awal cukup besar dari pewayangan, terutama pada tripologi tokoh di dalam tiga golongan, yaitu dewa leluhur, bangsawan, dan pelawak–pelayan.

Pada dasawarsa–dasawarsa pertama abad ke-20 kethoprak dipengaruhi oleh komedi stambul, yaitu suatu bentuk pertunjukan yang memperlihatkan ciri gabungan dari pengaruh eropa, timur tengah dan malaysia serta dari wayang orang dan akhirnya dari seni film. Kethoprak kini dianggap sebagai sejenis pertunjukan “ teater rakyat “.

Menurut sebagian besar penulis istilah “ kethoprak “ diperkirakan berasal dari tiruan bunyi “ prak – prak “ tiruan lesung . selain itu istilah itu diperkirakan terkait dengan istilah “ ketok “ ataupun istilah “ keprak “ sejenis kentongan kayu bercelah yang diperkirakan berasal dari lesung danyang digunakan sebagai pemberi isyarat dalam berbagai pertunjukan tari dan teater.

Lodruk, teater musikal tanpa topeng. Hanya terdapat di daerah Jawa Timur dan berasal dari Surabaya. Ia berasal dari badoot dan ludrug, yakni tari duet yang salah satu penarinya berbusana perempuan ( dan terbukti pada akhir abad ke-19) , yang berasal dari suatu tari duet banci laki – laki yang disebut “ lerok” . dalam bahasa Indonesia modern istilah badut berarti pelawak. Di dalam bahasa Madura luddruk atau loddrok berarti “ tukang lelucon atau pelawak “, dan mengacu pada con lelucon atau punakawan, dagel . Istilah – istilah tersebut menekankan pentingnya unsur jenaka didalam kemunculan jenis teater itu.

Setiap pertunjukan ludruk memperlihatkan baik unsur kebudayaan tradisional jawa dan Madura maupun tema modern nasionalis–komunis–Indonesia. Pertunjukan itu diiringi oleh gamelan dan sebagian dengan keroncong. Genre pertunjukan itu, yang bukan hanya dipentaskan dan dotonton oleh rakyat jelata dari daerah perkotaan tetapi juga dari daerah pedesaan, senantiasa tersangkut did alam pergolakan awal abad ke–20 (perjuangan kemerdekaan, penduduk jepang, Revolusi). Dan bersifat satiris tentang keadaan politik dan sosial. Pada tahun 1965 perkembanan ludruk itu terhenti secara mendadak dengan peralihan kekuasaan (dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto) yang disusul dengan pembersihan politik yang besar. Dewasa ini, sejak kira–kira sepuluh tahun terakhir, rombongan ludruk dibentuk kembali di bawah pengawasan ketat dari dinas intelejen. Meskipun pada awalnya rombongan itu hanya terdiri dari pemain laki – laki, kini perempuan ditampilkan juga.

Istilah lain adalah adjing (ajhing) yaitu genre drama Madura yang paling awal, yang konon mendahului lodrok di Madura. Paling Tidak di derah Sumenep. Ada juga “pandjhak” atau “nadjagha” (Bangkalan, Pamekasan) yaitu rekan sepermainan di dalam pertunjukan topeng, di dalam “Salabadhan” atau “Podjhijan. Istilah lain yang terkait dengan kegiatan musikal yang bersifat parodi dan ritual adalah semprong ; menyangkut pelawak atau perangkat gong dari bambu yang mengiringi mereka pada acara “Salabadhan”.

Keberadaan adjing di Madura (disebut ajing di Bangkalan, pojian di Pamekasan, salabadhan di Sumenep ) yang berbeda dari apa yang dikatakan oleh rombongan daerah Sumenep sebagai ajhing yang telah mereka kenal atau pentaskan. Ajing itu adalah suatu pertunjukan yang bersifat “doa pembawa kebaikan keagamaan “ yang dimainkan oleh sekelompok laki–laki dan diiringi oleh orkes Saronen secara berturut–turut dipentaskan “tari Baladewa“, “tari randing“, diikuti dagelan tentang kehidupan sehari–hari dan adegan yang dipetik dari kisah seribu Satu Malam.

Beberapa keterangan tentang sejarah dan perkembangan rombongan ajhing di beberapa daerah. Di kecamatan Ambunten Sumenep sebuah rombongan ajhing atau semprong masih berpentas pada upacara ritual tertentu (rokat) diiringi oleh orkes Saronen. Menurut informasi, pada waktu itu ceritanya mengandung banyak lelucon dan tidak menyebutkan kerjaan apapun. Yang muncul pertama adalah tokoh Cuntrot. Berebusana celana dan kemeja lengan pendek, dia memakai selendang di leher, sebuah keris disisipkan dibelakang pundaknya; kaca mata hitam dan berkumis. Dia berjalan santai tanpa topi, diiringi gendhing pancal bereng. Selesai mengelilingi pentas tiga kali, dia kembali ketempat persiapan pemain. Busananya biasa saja, seperti pakaian sehari–hari; songkok beledu, celana dan baju untuk laki–laki, kain batik, kain kebaya, dan tutup kepala menerawang (tanpa sanggul Jawa) untuk perempuan. Satu–satunya hiasan untuk fantasi adalah sebuah bando yang disisipi bulu ayam dan kaca mata kehitam–hitaman, yang dikenakan oleh tokoh raja, ratu dan patih. Para pemuda memakai sebuah penjhung, yaitu sejenis selendang yang dijadikan ikat kepala dengan ujungnya terkulai disebelah kanan. Sebelum tahun 60-an , ajhing tampil tanpa panggung yang sebenarnya dan hanya dengan sehelai tirai latar belakang saja. Tanpa menarik biaya masuk, tetapi berpentas atas dasar undangan ketika ada pesta atau upacara pribadi. Pada awalnya rombongan itu hadir tanpa nama khusus .

Ludruk Madura diilhami unsur dagelan ajhing lama; permainan kata, mimik, gerak badan, serta wajah berias, warna hitam dan putih. Pelayan–pelayan tidak memotong percakapan tokoh utama dan sebagian besar adegan lucu mereka bersifat visual atau kial: kaps di lubang hidung yang bergerak ketika tokoh bernafas, satu lengan kemeja yang dibiarkan melambai tidak dipakai dan sebagainya. Raja tidak boleh merayu perempuan dan langsung naik panggung tanpa menari. Sebaliknya, para patih (pate) dari dulu selalu menari, dan berdiri ketika raja masuk, sebelum duduk kembali. Tahap berikutnya adalah ludruk sandiwara : patih pada waktu memakai perhiasan pergelangan tangan dan leher seperti di dalam busana keraton Jawa, tanpa tutup kepala, dan panggung sudah lengkap dengan tiga kain sebagai Background. Terakhir muncul ludruk–kethoprak pada tahun 70 – an . Pada saat itu, nama ludruk harus dirubah menjadi “ kethoprak “ supaya cocok dengan keadaan yang berlaku di Jawa. Dan Bahkan cerita harus disusun oleh para guru atau pegawai.

Ajhing juga merupakan “ritus lama” (slameddhan kona) yang diselenggarakan di makam keramat. Acaranya terdiri dari satu Ghambu yang ditarikan oleh dua orang penari laki–laki dan satu orang tarian ronggeng yang ditarikan oleh dua laki–laki berbusana perempuan. Seorang laki–laki berkaca mata hitam dan bersongkok, sambil menyandang tas, berjalan mengelilingi sebuah meja berisi sesajen 9 rasol) sambil terus berbicara dan bergurau. Para tokoh adegan yang menyusul adalah: Tuan (hampir pasti orang belanda), Pasoro Opas (pesuruh tuan di atas), Raden Abupati (bhupate) , Konieran (pelawak dan pasoro papate–pesuruh patih), dua dhinraddhin (raden) , dua ronggeng ( penari perempuan ) serta mantre tandhang ( juru tari ). Di kantornya, tuan tampak duduk , berdiri lalu memanggil pesuruhnya; mantre tandhang masuk lalu keluar; Raden Abupati lalu masuk ke kantor menari dan ke luar. Muncul para ronggeng, menari dan keluar sambil mengambil sesajen di meja; Tuan dan pesuruhnya lalu makan sisa sesajen di atas panggung sebelum keluar. Ghambhu memainkan peran sebagai pegawai Tuan dan Ronggeng sebagai pembantunya. Bentuk ajhing itu mirip slempangan yang mengejek serdadu yang telah mendaftar sebagai tentara Belanda maupun Belanda itu sendiri.

Pertunjukan yang disebut ronding atau saronen di Madura hanya merupakan sebagian pertunjukan ajhing lengkap. Perbedaan antara Lodrok dan kethoprak terutama tampak pada busana ; didalam loddrok , raja mengenakan baju berlengan panjang ; di dalam kethoprak , mereka bertelanjang dada dan hanya mengenakan berbagai perhiasan.

Di kalianget Barat , ajhing perempuan berkaca mata gelap dan mengenakan sejenis cadar. Pada saat bernyanyi ( ngejhung ) , mereka menutup mulut dengan sapu tangan karena malu ( todus ). Akan tetapi hal itu tidak laku di hadapan penonton, maka pertunjukan di ubah menjadi seperti yang ada sekarang.

Alhamdulillah, Republik BBM Tayang Lagi

Saturday, July 8th, 2006

Sumber: Kompas

Program parodi politik “Republik BBM”kerap dibaca Republik Benar-benar Mabok akan tayang kembali mulai Minggu 9 Juli, pukul 22.00 di Metro TV. Program yang pernah ditayangkan sejak Desember 2005 hingga Juni 2006 (26 episode) di Stasiun TV Indosiar itu terhenti dengan berbagai alasan.

Alasan yang dikemukakan “Presiden” Taufik Savalas pada episode terakhir (25 Juni), “Republik BBM” istirahat karena seluruh pejabat pemerintahan “negeri tetangga Indonesia itu” akan menonton Piala Dunia. Namun, Effendi Gazali, pakar komunikasi Universitas Indonesia yang juga pelaku dalam program tersebut, Jumat (7/7), mengatakan, hal itu sebagai dampak dari semacam pengetatan sensor dari pihak tertentu.

“Kami ingin tetap menjamin bahwa satu-satunya hasil reformasi yang masih kita banggakan, yakni kebebasan berekspresi, tetap berdiri tegak,” ujarnya. Ia menambahkan, karena hak siar Republik BBM ada di Indosiar, maka BBM hari Minggu nanti akan berarti “Benar-benar Bola Mania”. Ini dikaitkan dengan penayangannya pukul 22:00 sampai sejam menjelang final Piala Dunia antara Italia dan Perancis.

Seperti biasa, Republik BBM akan berisi parodi politik yang terkait dengan bola, mulai dari soal prestasi PSSI sampai soal penimbunan senjata dan lumpur. Bintang tamu yang akan sering menemani program ini selanjutnya adalah seniman Butet Kartaredjasa, yang akan memainkan dua karakter mantan presiden Indonesia. (NAR)

Menghumorkan Realitas Aktual

Sunday, July 2nd, 2006

Sumber: Kedaulatan Rakyat | Minggu, 2 Jul 2006

oleh Budi Wahyono


HUMOR nampaknya konsisten menjadi ‘menu hangat’ yang ditunggu banyak orang, tidak terkecuali produk televisi. Kita bisa sejenak membayangkan, bagaimana seandainya kehadiran televisi di ruang keluarga kita hanya dijejali iklan, tangisan pedih sinetron dan ‘sedikit’ ilmu pengetahuan. Siapapun sepakat pada kesimpulan, betapa masih hambarnya ragam tayangan itu. Kita masih perlu acara yang mampu mencairkan suasana. Kehadiran humor, khususnya humor yang berkualitas, pastilah memiliki energi yang mampu mengubah kebekuan.

Celakanya, membuat tayangan humor ternyata tidak semudah yang dibayangkan orang. Beragam tayangan humor silih berganti tumbang lantaran kurang mampu menunjukkan taring kualitasnya. Zamannya booming lawak di tahun sembilanpuluhan, bisa kita catat betapa masing-masing stasiun sudah memiliki ‘semacam’ kelompok lawak tertentu. Mereka mampu guyub bersaing. Segmentasi penonton pun beragam. Malah tidak jarang, karena sekelompok orang memang keranjingan lawak. Mereka bisa langsung menggemari sejumlah kelompok lawak. Dari Srimulat, Bagito sampai Eko Pa- trio Cs.

Tetapi ke mana ledakan-ledakan humor para pelawak legendaris itu sekarang?! Waktu dan tuntutan penonton yang mungkin sulit diimbangi produk kekuatan lawakan, menjadikan mereka mudah tergilas. Kita masih lumayan terhibur ketika beberapa bulan berselang TPI mampu menjaring dan merangsang grup-grup lawak andal dengan hadiah yang lumayan menakjubkan.

Namun, seperti yang kita duga, ketika lepas dari cengkeraman dewan juri dan kurang berani melahirkan gebrakan kreativitas berarti, mereka menjadi kurang berkembang. Melihat kondisi yang demikian, apa salahnya kita meledek mereka hanya sebatas ‘pelawak lomba’? Mudah-mudahan ledekan semacam ini dijawab oleh mereka dengan kemampuan menunjukkan letupan-letupan lawakan yang mampu menggugah rasa ingin tahu penontonnya.

Beruntunglah kita masih ada Teamlo yang kampiun menghadirkan suguhan beragam. Setidaknya, selain mengocok perut lewat ide-ide uniknya, mereka bisa memelesetkan syair lagu sampai (Sigit, salah satu vokalisnya) masih mempunyai kelebihan luar biasa: Menirukan gaya dan suara sejumlah penyanyi. Prestasi yang bukan main. Namun setelah itu?! Tantangan demi tantangan harus menyusul.

Di sisi lain, kehadiran Extravaganza yang idenya mengalir deras, mampu merekonstruksi narasi dongeng, mithe, ketoprak dalam alur kekinian lengkap dengan humor yang kuyub — diam-diam telah membangun komunitas penonton dalam segmen yang beragam. Terpingkal-pingkalnya penonton tidak hanya bisa kita saksikan secara langsung dari studio televisi tetapi juga meledak di sekitar kita.

Belum lagi penggemar surut, kita masih beruntung ada tayangan lawak yang lebih menjanjikan dari perspektif intelektual. Tayangan itu bernama ‘Republik BBM’ yang dulu muncul di Indosiar setiap Senin malam.

Salah satu daya pikat yang tidak tertandingi dari acara ‘Republik BBM’ adalah kemampuannya merespons secara kolektif terhadap fenomena atau isu aktual yang baru berlangsung di ‘negeri tetangga’. Dengan modal berupa problematik, ketidakberesan (biar lebih eufemistis: ketidakcocokan) sudut pandang, Effendi Gazali dan kawan-kawan yang biasa saling ledek di panggung siaran langsung itu nampaknya ingin memberi pelajaran kepada kita bahwa kritik sepedas apapun ternyata bisa menjadi tontonan yang cair. Lagipula, kita tidak perlu nakal mengusut latar belakang intelektual para aktor di panggung yang biasa dijaga Taufiq Savalas, Keliek, Denny Chandra serta Effendi Gazali sendiri.

Tamu yang diundang pun juga beragam. Faisal Basri, Amien Rais, Wimar Witular, Sarlito Wirawan sampai Taufiequrrachman Ruki bisa terkekeh-kekeh dan cukup familiar ketika menonjokkan humor-humornya. Di titik inilah kita semakin paham ternyata semua orang lapar humor. Di balik itu kita juga paham mana tokoh yang terbiasa menerima humor dan siapa tahu suatu saat akan dimunculkan tokoh-tokoh yang bertelinga tipis lantaran tidak tahan menerima kritik? Jika obsesi ini terjadi, kita akan mendapatkan menu humor dengan rasa lain. Mungkin rasa kecut atau rasa ‘sangat lucu’ — tergantung dari sudut mana titik pijak kita panjatkan.

Dengan semakin banyaknya para tokoh yang diundang di ‘Republik BBM’, boleh jadi akan mendidik masyarakat untuk memberi semacam uji kepatutan dan kelayakan terhadap tokoh yang dimaksud. Minimal jika suatu ketika mereka dikampanyekan menjadi pemimpin di negeri ini. Tokoh-tokoh yang mudah tersinggung, tidak bisa menikmati kritik dan humor, sudah semestinya tidak perlu diunggulkan. Lebih bijak jika dipinggirkan dulu. Bayangkan, rakyat mana yang kuat menderita jika suatu saat mempunyai presiden yang mutungan?!

Kembali ke dunia lawak, utamanya menyangkut kualitas lawak yang dihasilkan dan mengelaborasikan dengan kehadiran ‘Republik Benar-benar Mabuk’, nampaknya para pelawak juga perlu diuji di forum ini. Di ‘Republik BBM’ sendiri penonton akan bisa menilai, kuat mana improvisasi Taufiq yang jadi presiden dan Keliek yang jago plesetan dan menjadi wakil presiden. Pada jaringan yang lebih luas, setelah kita mencatat kehebatan pelawak Narji yang kecerdasan humornya luar biasa ketika menjadi tamu di ‘Republik BBM’, apakah puluhan pelawak lain bisa diantre dan mampu menunjukkan kinerja lawakannya? Kalau gagasan ini diwujudkan Effendi dan kawan-kawan, barangkali, untuk menjaga gengsi intelektualnya, para pelawak kita akan terus belajar dan belajar. Minimal seperti Kang Thukul Arwana yang mulai cerdas bahasa Inggrisnya. How? q - k

*) Budi Wahyono, Guru SMK 7 Semarang, Pecinta humor.

PaSKI Gelar Lomba Lawak dan Mirip Wajah Tokoh Riau

Saturday, July 1st, 2006
Sumber: Riau Pos | Sabtu, 01 Juli 2006


KOTA (RP) - Persatuan Artis Seniman Komedi Indonesia (PaSKI) Riau, menggelar dua lomba secara bersamaan, yakni lomba mirip wajah tokoh Riau dan lomba lawak, 27-30 Juli, di Bandar Serai (Purna MTQ) Pekanbaru. Lomba tersebut akan memperebutkan total hadiah sebanyak Rp17 juta dan piala tetap dari Ketua PaSKI Pusat, Indro Warkop.


‘’Kita akan menggelar lomba lawak dan lomba mirip wajah tokoh Riau. Pendaftaran kita buka sejak 1-25 Juli, sedangkan lombanya dilaksanakan 27-30 Juli mendatang,’’ ujar Ketua Panitia Lomba, Bens, kepada Riau Pos, Jumat (30/6), di Sekretariat PaSKI Riau.

Dijelaskannya, tema lawak bebas, asal tidak berbau SARA maupun terlalu vulgar atau berbau porno. Satu grup maksimal tiga orang dengan mengirimkan satu lembar foto grupnya. Sementara itu khusus untuk lomba mirip wajah tokoh Riau, baik pejabat, pahlawan, budayawan/seniman dan sebagainya. Peserta lomba ini juga harus mengirimkan satu lembar foto close up. Pendaftaran tidak dipungut bayaran dan boleh sebanyak-banyaknya.

Juara 1-3 akan direkomendasikan PaSKI Riau untuk mengikuti audisi API 4 dan festival lawak tingkat nasional lainnya. Rencananya, pada iven tersebut, Ketua dan Sekjen PaSKI Pusat akan hadir menyaksikan bersama. Karena itu, Bens mengharapkan kepada masyarakat yang berminat untuk ikut lomba ini segera mendaftarkan diri ke sekretariat PaSKI Riau, Bandar Serai (Purna MTQ) Pekanbaru, Jalan Sudirman.

Pelawak senior Riau Otong Lenon yang menjabat Ketua PaSKI Riau menyebutkan, lomba ini merupakan upaya PaSKI untuk mencari bibit-bibit pelawak handal.

Apalagi di Riau dunia lawak sudah semakin marak dengan munculnya dua grup lawak ke tingkat nasional, yakni NyaNyaH dan tak lama lagi Puan.

‘’Kita akan merekomendasikan grup yang menang untuk ikut API 4 dan lomba lawak lainnya ditingkat nasional. Karena itulah, kita mengharapkan pesertanya sebanyak mungkin, agar bisa menyaring grup yang berkualitas,’’ ungkapnya mengakhiri.(fed)