Archive for September, 2006

Protes Adegan Bajaj Bajuri TransTV

Wednesday, September 13th, 2006
Sumber: detik.com Penulis : Ilham Putranto,

detikcom - Jakarta, Pada salah satu episode sinetron Bajaj Bajuri: Salon Oneng yang ditayangkan oleh Trans TV, diceritakan tokoh Mila hamil di luar hubungan nikah. Dalam cerita tersebut Emak danOneng berusaha membantu Mila untuk menemukan orang yang bertanggung jawab dan harus menikahi Mila.

Di salah satu adegan, dimana calon mempelai pria terkena serangan jantung (tidak sadarkan diri) dan dibawa ke ruang UGD, tokoh-tokoh dalam cerita tersebut menjadi kebingungan karena acara ijab kabul tidak dapat dilakukan. Akhirnya salah satu karakter tokoh menyarankan agar Mila menikahi dengan Yadi, yakni karakter tokoh yang menyukai Mila, namun cintanya ditolak oleh Mila.

Kemudian sampai pada adegan dimana Yadi berhasil didatangkan untuk melakukan ijab kabul, namun dalam kondisi mabuk dengan diilustrasikan karakter tokoh tersebut membawa botol miras. Sambil dalam keadaan mabuk, penghulu tetap meneruskan acara ijab kabul, meskipun ternyata batal karena Yadi tidak dapat mengucapkan ijab kabul.

Sejauh yang saya ketahui (mohon dikoreksi bila saya salah), ijab kabul nikah dalam agama Islam wajib dilakukan dalam kondisi sadar 1000%. Dalam adegan tersebut, penghulu yang digambarkan sebagai pemuka agama, tetap meneruskan acara tersebut walaupun karakter tokoh Yadi sedang dalam kondisi mabuk. Apakah tim kreatif Trans TV tidak melakukan survei terlebih dahulu? Walaupun acara tersebut hanya berupa banyolan, namun sungguh sangat tidak pantas untuk ditayangkan (khususnya pada adegan ijab kabul dengan orang dalam kondisi mabuk).

Menurut saya pribadi, akan lebih baik jika nilai-nilai agama yang mengajarkan peningkatan dan perbaikan budi pekerti manusia, disampaikan dengan cara yang lebih baik dan dalam bentuk yang lebih konstruktif. Dan semoga tim kreatif Trans TV (Sinetron Bajaj Bajuri: Salon Oneng), bisa lebih kreatif dalam menemukan ide cerita dan tetap memberikan sentuhan komedi segar bagi masyarakat.

ilham.putranto@indosat.com

Transvestisme, Apa Itu?

Sunday, September 10th, 2006

Sumber: Kompas Cybermedia | 10 September 2006

Oleh: Sawitri Supardi Sadarjoen, Psikolog

Belakangan ini banyak sekali tayangan televisi, terutama pada acara lawak, menampilkan peran laki-laki yang berpakaian perempuan.

 

Lepas dari memang ada motif kelainan perkembangan psikoseksual atau tidak dari pemainnya, sering kali pemain peran tersebut sebenarnya adalah sosok individu yang secara biologis dan psikologis seutuhnya berjenis kelamin laki-laki, dan pada dasarnya perkembangan seksualnya pun berlangsung sehat.

Pada umumnya tayangan lawak tersebut ditandai berbagai tiruan gerakan dan gaya bicara perempuan. Namun, karena yang memerankan sebenarnya berjenis kelamin laki-laki, maka gaya keperempuanannya tidak sempurna dan justru ketidaksempurnaannya (perilaku “banci”) itu dijadikan bahan tertawaan bagi pemirsa.

Kondisi spesifik lain yang terungkap dalam setiap tayangan adalah pemeran tersebut sering dijadikan sasaran pelecehan dan cercaan dengan tujuan cara penerimaan kehadiran tokoh “banci” yang di satu sisi menjadi tujuan lawakan itu sendiri dan pada sisi lain guna memancing tawa pemirsa.

Dilihat dari segi popularitas, memang pemain peran “banci” peningkatan penghasilannya tidak dapat dimungkiri. Namun, pada sisi lain timbul keprihatinan mendalam atas kondisi semacam itu karena kita seyogianya menyimak kemungkinan-kemungkinan ekses negatif bagi perkembangan psikoseksual, terutama bagi anak-anak, yang biasanya menjadi pemirsa terbesar acara lawak semacam itu di televisi.

Mengapa keprihatinan seyogianya dimunculkan?

Karena anak laki-laki yang menjadi penggemar acara tersebut masih berada dalam proses perkembangan psikoseksual yang masih labil dan kepribadiannya pun belum mantap sehingga pelaku “banci” populer, apalagi kaya, akhirnya bisa dijadikan tokoh ideal untuk dijadikan figur identifikasinya.

Peluang anak laki-laki untuk kemudian hari benar-benar menjadi “banci” menjadi lebih besar, karena contoh konkret perilaku “banci” menjadi makanan sehari-hari mereka. Peluang tokoh tersebut ditirukan pun besar oleh kepopuleran dan keberhasilan berperan sebagai pelawak “banci”.

Anak-anak tersebut bisa saja menirukan gaya “banci” pelawak yang tanpa disadari membawa mereka untuk akhirnya menjadi penderita transvestisme.

Transvestisme

Transvestisme adalah jenis gangguan perkembangan psikoseksual yang membuat anak laki-laki memiliki kecenderungan untuk senang memakai pakaian perempuan, untuk kemudian saat berpakaian perempuan tindakan dan perilakunya meniru tindakan dan perilaku perempuan, dan biasanya pada saat yang sama anak tersebut memperoleh kenikmatan erotik-seksual khusus.

Perolehan figur identifikasi dan tokoh idola dari tayangan yang secara intens ditonton bisa saja menjadi salah satu penyebab berkembangnya perilaku transvestisme tersebut.

Penyebab perkembangan transvestisme lain adalah keinginan ibu yang kuat untuk memiliki anak perempuan karena beberapa anak terdahulu berjenis kelamin laki-laki.

Keinginan yang kuat itu membuat anak tertentu, biasanya anak bungsu, diperlakukan dan diasuh sebagai anak perempuan, antara lain dipakaikan rok, dipanjangkan rambutnya, dan didandani sebagai anak perempuan. Biasanya anak bungsu itu pun mewarisi karakteristik fisik ibu yang cantik, imut-imut, dan lembut.

Ekses spesifik lain dari pola asuh anak perempuan membuat anak lebih dekat dengan ibu dan mendapat kesempatan lebih banyak mengambil alih karakteristik keperempuanan dari kepribadian ibu. Dengan demikian, kenyamanan anak laki-laki tersebut berperilaku keperempuanan akan lebih besar daripada berperilaku kelelakian.

Sebagai penyertaan lanjut dari kondisi tersebut adalah berkembangnya minat erotik-seksual anak kemudian hari justru tertuju pada laki-laki (sejenis) daripada terhadap perempuan (lain jenis). Dan perlu disimak perkembangan lanjut dari keadaan transvestisme akan mengarah pada perkembangan ke arah kepribadian homoseksual.

Mencegah atau mengurangi tayangan televisi acara lawak untuk tidak menghadirkan tokoh “banci” bukanlah suatu yang mudah karena bisa saja justru lawakan demikian akhirnya menjadi salah satu kebutuhan dan pilihan pemirsa. Namun, membiarkan semakin banyaknya anak laki-laki sebagai generasi penerus kita mengarah pada perkembangan psikoseksual transvestisme juga tidak bijaksana.

Satu-satunya jalan untuk meminimalisasi akibat eksesif tersebut adalah sebanyak mungkin mendampingi anak saat mereka menonton acara lawak jenis tersebut dengan memberikan penjelasan yang relevan agar anak laki-laki tidak menirukan apa yang mereka tonton, apalagi menjadikan pemeran tokoh “banci” sebagai idola mereka.

Kecuali itu, mewaspadai apakah kita termasuk salah seorang ibu yang memaksakan salah satu anak kita untuk berperan sebagai anak perempuan demi kepuasan kita sendiri, seperti seolah-olah kita punya anak perempuan?

Jika demikian, maka segeralah mengubah pola asuh dengan pola asuh yang relevan bagi perkembangan psikoseksual yang wajar dan optimal bagi anak laki-laki tercinta kita. ***