|
Para pelawak muda tersebut sebagian besar materi lawakannya universal menyesuaikan tuntutan zaman. Meski ada sebagian yang menggunakan semangat Dagelan Mataram di antaranya Wisben, Joned, Gareng Rakasiwi. Bahkan Wisben bersama pelawak muda membikin grup Dagelan Mataram Plus (DMP) yang dijadikan wadah guyub dan aktivitas melawak.
Menurut Marwoto, keberadaan pelawak muda Yogya tersebut sangat potensial. Hanya saja, mereka harus mau belajar dan menambah wawasan agar bisa berkembang. Terlebih, kalau mau menembus tampil melawak di Jakarta harus bisa menunjukkan kemampuan dan membangun relasi. Sebab, kadangkala materi lawakan ditampilkan di Yogya lucu, namun ketika dibawakan di Jakarta menjadi tidak menarik. ”Karena itu, pelawak muda Yogya dituntut bisa menyesuaikan diri dan terus belajar kalau ingin berkembang. Sebab, masyarakat saat ini lebih pintar dan kritis jika pelawak tidak bisa mengimbangi dengan belajar akan ketinggalan,” pesan Marwoto.
Marwoto merasakan, kebanyakan pelawak Yogya materi lawakannya bernuansa Jawa. Kalaupun tampil dengan menggunakan bahasa Indonesia, cita rasa Jawa tetap kental. ”Saya kira wajar karena kalau melihat Ketoprak Humor, dengan menggunakan bahasa Indonesia namun logat Jawanya tetap terasa. Demikian juga, saya pernah bersama Butet Kartaredjasa, bikin Dagelan Mataram tahun 1990-an untuk TPI, juga menggunakan bahasa Indonesia agar bisa diterima pelbagai lapisan masyarakat. Secara terpisah pelawak Yati Pesek setuju, kalau pelawak muda ingin maju harus belajar agar bisa menyesuaikan tuntutan zaman. Meski pelawak muda Yogya kebanyakan sudah mampu melemparkan joke-joke humor universal. Hanya saja, sebaiknya pelawak Yogya tetap belajar bahasa Jawa dan mencari bahan-bahan lawakan Jawa yang dapat menambah kemampuan. ”Kita bisa belajar dari Dagelan Mataram, meski dengan menggunakan bahasa Jawa sebenarnya materi lawakan cukup kuat dan satir. Bisa belajar kaset Dagelan Mataram Pangkur Jenggleng Basiyo materi lawakannya sangat bagus hingga sekarang kalau didengarkan masih lucu,” jelas Yati Pesek.
***
INGAT grup lawak tentunya tak bisa melupakan nama Dagelan Mataram, yang menjadi salah satu icon Yogyakarta. Dagelan Mataram telah melahirkan banyak pelawak terkenal andalan Yogyakarta, salah satunya Marsidah BSc. Selain dikenal sebagai pelawak, Marsidah juga kondang sebagai pemain ketoprak yang selalu menjadi rol atau pemain utama. Marsidah juga pernah menjadi denyut kehidupan kelompok dagelan yang cukup punya nama pada tahun 70-an hingga 80-an, yakni Jenaka KR. Bersama almarhum Handung Kussudiarjo dan almarhum Suwariyun, penampilan Marsidah senantiasa ditunggu-tunggu penggemarnya. Ditemui di rumahnya di Jl Madubronto Patangpuluhan, Yogya, Marsidah menuturkan masalah utama dalam dunia kocok perut yakni pada sumber daya manusia (SDM). Sebuah pertunjukan akan mempunyai isi atau bobot jika tidak hanya sekadar menyajikan tontonan menarik, tetapi harus juga diiringi dengan tuntunan yang baik pula. Untuk menyampaikan sebuah guyon dibutuhkan kepintaran, jadi tidak hanya asal-asalan ataupun malah ‘jorok’. Guyon Parikeno Menurut Marsidah, agar kesenian lawak tidak terlindas zaman perlu kiranya setiap pelawak mengasah diri agar kemampuan yang dimiliki benar-benar memenuhi syarat. ”Agar tak terlindas zaman, diperlukan SDM yang baik karena sangat menentukan pada saat pengemasan suatu pertunjukan,” ujar Marsidah.
Mengenai spesifikasi Dagelan Mataram, dijelaskan Marsidah, Dagelan Mataram lebih mengedepankan guyon parikena. Ibarat orang mencubit, yang dicubit tidak terasa sakit. Kalau pun para pelawak harus menyampaikan kritik, kritik itu disampaikan dengan cara yang santun sehingga yang dikritik tidak akan marah, melainkan hanya klecam-klecem. Hal lain yang menjadi ciri khas Dagelan Mataram adalah setiap penampilan selalu menyertakan cerita khas dengan alur cerita runtut. ”Improvisasi dalam Dagelan Mataram tidak sekental layaknya pentas lawak lainnya,” jelasnya. Menurut Marsidah, Dagelan Mataram sesungguhnya merupakan embrio lahirnya dagelan dengan nuansa plesetan.
Marsidah kemudian menyebut ‘mbahne pelawak’ Yogyakarta, yakni Basiyo sebagai pelawak komplit. Selain bisa memposisikan diri sebagai pemain, Basiyo juga piawai menyusun naskah lawak. Tak mengherankan jika sampai sekarang kaset rekaman lawakan Basiyo masih laris manis. Marsidah menjelaskan, seorang pelawak wanita dianjurkan jangan berperan sebagai pemanis saja atau bahan omongan saja tetapi ia juga sebaiknya mampu ikut ambil bagian dalam lakon tersebut, atau secara kasar dapat dikatakan ia dapat menyetir situasi. Dalam melemparkan leluconnya, Dagelan Mataram selalu santun, mereka mengandalkan kekuatan kata. Tidak pernah menggunakan bahasa tubuh sebagai pemancing tawa, apalagi gerakan kasar seperti memukul kepala dan sebagainya. Penilaian ini diberikan oleh budayawan M Habib Bari mantan penyiar RRI, TVRI dan sekarang menjadi konsultan TVRI Yogyakarta, serta pernah menggarap pentas gabungan dagelan se kota Yogyakarta.
Dagelan Mataram juga selalu ada ceritanya, bahkan, orang selalu mengidentikkan Dagelan Mataram dengan Ketoprak Mataram. Pantolan Ciri utama Dagelan Mataram, ada ceritanya, kemudian pancingan tawa mengandalkan dialog. Tidak ada adegan gerak tubuh dibuat-buat, kata-kata tidak kasar, tidak ada makian yang keterlaluan, dan tidak pernah jorok. ”Mereka tetap bisa lucu tanpa menggunakan kata-kata jorok,” kata Habib Bari. Kata-kata yang digunakan selalu menggelitik akal sehingga orang jadi tertawa. Misalnya mengucapkan kata yang pengertiannya tidak masuk akal. Sebagai contoh, pernah ada adegan dagelan. Seorang kaya tapi pelit. Kemudian ada tetangganya datang mau pinjam uang. Si pelit mau meminjami, dengan syarat si peminjam harus berendam di kolam selama satu malam. Istri calon peminjam mendorong suaminya untuk menerima syarat itu, nanti dia akan membakar sampah agar suaminya tidak kedinginan. Penonton dan pendengar tertawa ketika tahu bahwa si istri mengatakan akan membakar sampah di tempat yang jaraknya 100 meter dari kolam. Dalam jarak sejauh itu adalah tidak mungkin bisa menghangatkan suaminya yang sedang berendam di kolam.
Dunia dagelan berkembang.
Muncul beberapa kelompok dagelan yang menamakan diri Dagelan Mataram. Meskipun penampilannya sudah tidak seperti pendahulunya. Mereka tampil dengan pakaian pantalon (celana panjang) dan berbahasa Indonesia. Namun mereka tetap menamakan diri dagelan Mataram. Karakteristik Dagelan Mataram sangat bervariasi, tetapi jika dilihat dari lahirnya Dagelan Mataram tempo dulu, konsepnya berdasarkan dengan kelucuan, canda yang sifatnya mengundang tawa, dengan sejumlah plesetan -plesetan yang menarik. Baik dari iringan gamelan karawitannya, melodi, syair, lagu dan irama yang bersifat lucu. Menurut Ketua Program Studi Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Drs Trustho MHum, semuanya menjadi khas, karena iringan dari gamelan disesuaikan dengan tema-tema lucu yang dikeluarkan dari dagelan itu sendiri.
Namun demikian pada intinya, keutamaan dari Dagelan Mataram adalah dialog kelucuan. Meskipun Karawitan yang mengiringi Dagelan Mataram bisa konser mandiri dan melucu, tapi tetap hanya sebagai musik pendukung saja. Santai Dijelaskan Trustho, Warga Yogya dan Solo sama-sama ‘Kroni’ Mataram, tetapi memang keduanya memilki temperamen yang berbeda, yaitu budaya keraton Yogyakarta lebih bersifat simbolik, sedangkan budaya keraton Solo lebih bersifat romantik, sehingga Dagelan Mataram dapat lepas dari kedua sifat-sifat tersebut, tetapi tergantung dengan karakter masing-masing orang yang membawakannya. Drs H Muhammad Saleh MBA, Kepala Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI Yogyakarta mengatakan. Dagelan Mataram telah menjadi ikon Yogyakarta. Sebagai aset budaya pihaknya ingin melestarikan acara tersebut melalui program yang sama meski dengan pemain yang berbeda. Ini sekaligus sebagai media untuk memberikan kesempatan pelawak-pelawak muda untuk berkembang. Namun diakuinya, dari sisi materi hal tersebut tidak akan sehebat pada masa Basiyo.
***
DEWASA ini, dunia lawak sudah menjadi komoditas bisnis. Alhasil, tak sedikit bermunculan organizer yang menangani grup lawak ini. Salah satunya, Abad Entertainment, event organizer yang terkenal paling unjuk gigi dalam bisnis pertunjukan lawak. Di balik nama besar Abad yang masih berusia 8 tahun ini, tersimpan upaya keras dari seluruh awak kapalnya saat meretas jalan menggapai kesuksesan pertunjukan demi pertunjukan lawak hingga seperti sekarang.
Anang Batas, pemilik Abad Entertainment membagi kisahnya kepada KR pada pertengahan hari yang cukup panas di markas abad di Jl Wijaya Kusuma. Anang yang saat itu terlihat santai dengan penampilan khasnya, kemeja dan celana gombrong selutut mengaku mengalami banyak hambatan dalam menggolkan proyek lawakan. Anang sendiri tak pernah sengaja mendirikan Abad. Menurutnya, ide awalnya adalah untuk memfasilitasi teman-teman pelawak untuk menggelar pertunjukan.
”Pelawak itu banyak ide namun susah sekali untuk mewujudkannya dalam suatu pementasan yang komersil. Jadi, sebenarnya ide awal didirikannya abad adalah mencoba menjembatani teman-teman agar bisa lebih disiplin lagi dalam menggarap ide mereka, mewujudkannya dalam suatu skrip yang jelas, mengatur performance mereka di atas panggung. Jika sudah seperti itu, akan jauh lebih mudah untuk membuat proposalnya untuk menggaet sponsor. Nah, itu adalah tugas saya,” kata Anang. q-o Banyaknya kendala tak tak menyurutkan pria kelahiran 12 Mei 1969 ini.
Baginya dunia lawak, terutama humor dan plesetan adalah nafas kehidupannya. Baginya, seluruh kegiatan yang dilakukan dengan rekan pelawak dan senimannya tak harus berujung pada keuntungan dan materi. Namun, lebih pada kepuasan batin. ”Memang, kita tak dapat menghiraukan masalah materi, namun bagi saya apa yang saya lakukan harus bisa mengandung 2 hal, materi dan kepuasan batin. Jika salah satu sudah didapat, cukuplah buat saya. Toh apa yang saya peroleh sekarang juga dari sini,” kata Anang yang telah menunjukkan bakatnya di bidang humor. Bagi dunia pertunjukan lawak, untuk menggandeng sponsor sangat susah. Masih banyak perusahaan yang tak berminat mengucurkan dana promosi mereka kepada pertunjukan lawak. Diceritakan Anang sebagai salah satu contoh, sejak tahun 1999 saat pertama kali menggarap Java Haha. ”Pada saat sama sekali tidak ada pihak sponsor yang mau melirik. Namun, kami tetap melanjutkannya. Pokoknya, even ini sekalian jadi kawah teman-teman. Ternyata niatan kami terkabul, buktinya banyak pelawak yang akhirnya tenar dari program Java Haha, salah satunya Teamlo. Dulu bayaran mereka cukup 250 ribu sekarang? Dan bagi saya, mendengar berita seperti ini saja sudah senang,” ungkap Anang.
Selain faktor sponsorship, sangat sulit membentuk konsumen untuk datang ke acara lawak. Mereka sering membandingkan tiket dengan pertunjukkan lain, dan masih beranggapan bahwa selembar tiket Rp 25 ribu sangat mahal untuk menonton pertunjukkan lawak. ”Dari situ saja, gimana tidak rugi, setiap kali pertunjukan, biaya produksi memakan banyak sekali biaya sementara pendapatan hanya mengandalkan pada jumlah pengunjung yang hanya 200 orang dari kapasitas 250 kursi,” ungkapnya. Namun begitu, Anang tetap nekat menggelar Java Haha yang hingga November ini sudah mencapai gelaran ke 20.
Meski sudah ada kemajuan karena sudah ada beberapa sponsor yang melirik pertunjukan namun tetap saja, pertunjukan yang mendatangkan profit hanya bisa dihitung dengan jari. ”Mau saya kasih bocoran? Hanya sekitar 2-3 kali mendapat untung, sedang 17 kalinya tekor,” terangnya sembari tertawa. Dengan keadaan seperti itu, harusnya Abad tak bertahan. Untungnya, Abad tak meggantungkan diri pada gelaran pertunjukan lawak saja, tetapi hanya sekitar 20 persen dibanding seluruh kegiatan perusahaan perusahaan yang menancapkan kuku pada entertainment, event organizer, production, marketing communication. ”Tidak tahu juga kenapa saya begitu bersemangat menggarap pertunjukan lawak. Bagi saya, hanya dengan aneka pertunjukkan ini bisa menjadi ajang bagi teman-teman untuk berproses dan mempermudah jalan mereka agar bisa dikenal publik. Seperti yang saya bilang, banyak dari pelawak yang masih ragu memilih lawak menjadi profesi dengan ketidakaturan pendapatan, karena yang seperti saya bilang tadi, kebanyakan dari mereka tak bisa marketing mereka sendiri. jika tak ada yang mengenal, mana ada yang akan memberika job,” terangnya. Anang sendiri mengaku, meski telah mempunyai bakat, pelawak biasanya paling tak mampu memarketkan diri mereka sendiri.
Kesulitan ini lah yang membuat sebagian besar masyarakat berpikiran bahwa pelawak bukanlah suatu pekerjaan yang mampu menjamin pendapatan yang terus menerus. ”Saya ingin menepis anggapan tersebut, saya tidak ingin calon pelawak muda kita yang punya potensi menjadi lemah dan patah semangat karena tidak yakin dengan masa depan mereka. Toh, sudah banyak yang membuktikan bahwa pelawak yang sukses bisa terus eksis selama mereka belajar dan berinovasi. Kehadiran Abad merupakan salah satu upaya untuk itu,” katanya.
Anggapan tersebut telah ditepis sendiri oleh Anang. Karena segala sesuatu yang dilakukan dalam hidupnya adalah karena bakat yang dimilikinya dan selalu berusaha keras untuk terus berkembang. Terbukti, nama Anang cukup dikenal sebagai mc yang doyan mengocok perut namun tak menghilangkan tujuan acara yang dipandunya. ”Sedari dulu, saya memang suka humor. Dalam berbagai program acara pun, di Abad misalnya, saya selalu menyisipkan humor untuk program yang diinginkan klien. Bagi saya, acara yang disisipi humor akan lebih cair dan jika kita bisa mengemasnya maka akan lebih bisa mengena meski launching suatu produk. Biasanya, klien pun lebih memilih konsep acara yang lebih santai dibanding yang serius,” terang Anang yang kini tengah menaruh perhatian pada dunia ketoprak ini.
Untuk itu, anang memberi tips, untuk menjadi pelawak, tak hanya membutuhkan bakat namun juga harus terus mengasah kemampuan. ”Pertunjukan ini merupakan ajang yang bagus karena mereka harus bekerjasama untuk membentuk lawakan yang bagus. Mereka harus mengikuti aturan, dan skrip yang ditentukan,” katanya. Jika mereka bekerja keras, ungkap Anang, hslnya tak akan sia-sai, mereka akan memukau banyak penonoton dan eksistensinya akan diakui. Mereka juga yang akan memetik hasilnya. Job mereka akan terus mengalir. Peliput : Aksan Susanto, Warisman, Diah Susanti, Haryadi, Anna Karenina, Sifura Yuli Astuti, Khocil Birawa, W Poer, Ronny SV .
|