Archive for February, 2007

Menjual Tema + Tawa, Pelawak jadi ujung tombak talk show di televisi.

Wednesday, February 21st, 2007
Sumber: Koran Tempo | Rabu, 21 Februari 2007

Banyak waria hadir di studio televisi Indosiar, Senin malam itu. Mereka datang untuk menonton langsung acara Senin Malam Show (SMS) yang ditayangkan secara langsung oleh Indosiar. Kala itu, acara yang dipandu Taufik Savalas bersama Indro “Warkop” itu memang menyuguhkan topik tentang kehidupan waria alias wanita pria.

Yang dibahas adalah kehidupan Chenny Han, desainer busana pengantin dan ratu waria sejagat Amerika pada 1990-an. Itu termasuk suka-duka Chenny berubah dari laki-laki yang memiliki jiwa perempuan. Chenny hadir sebagai bintang tamu bersama Robby Tumewu, kawan akrabnya sejak kecil, juga Sarah Sechan.

Sesuai dengan tema, Taufik pun berdandan seperti waria. Ia berbaur bersama penonton di studio. Bulu mata Taufik lentik memakai maskara. Selendang ungu tersampir di bahu, ditingkahi gaya bicara mirip perempuan. Tapi suasana tidak banyak diwarnai tawa, seperti tayangan SMS biasanya. Agaknya, itu dikarenakan temanya agak sensitif.

Sebetulnya, ini tema humanis. “Kami memang ingin mengusung tema yang lebih humanis,” kata Indro. Tema humanis, hangat, dan terbaru, menurut juru bicara Indosiar, Gufron Sakaril, memang menjadi penguat acara bincang-bincang mereka. “Tema humanis yang ditampilkan lebih fleksibel,” tutur Gufron.

SMS hanya salah satu acara bincang-bincang santai di televisi yang dipandu komedian atau pelawak. Di RCTI, dari Senin hingga Jumat tepat pukul 08.00 pagi, ada acara Catatan Si Tukul (Senin dan Selasa), Catatan Si Komeng (Rabu), Catatan Si Tessy (Kamis), dan Catatan Si Eko (Jumat dan Sabtu).

Kecenderungannya sama: talk show itu memiliki tema yang santai dan lebih banyak muatan humornya. Misalnya, ada yang mengangkat masalah “Beda Profesi Satu Hati” atau “Ibuku Manajerku”, yang mengangkat pengalaman aktris muda Nia Ramadhani dan ibunya. Umumnya, yang dihadirkan adalah figur publik alias selebritas.

Para pelawak, muda dan tua, kebanjiran rezeki karena acara semacam ini. Tidak ada kesan tanpa kehadiran mereka. “Ini sebuah terobosan acara talk show. Kami memang mengakomodasi beberapa pelawak top dan berkumpul membuat semacam catatan harian,” kata produser acara, Boim Lebon.

Menurut Boim, acara-acara itu menjadi tontonan setia para ibu, remaja putri, dan para pembantu. Hasilnya, dari sisi rating cukup signifikan: rata-rata 2 dengan share penonton 24 persen.

Ia mengakui talk show di televisi lain yang sukses menjadi inspirasi bagi mereka untuk membikin acara sejenis, misalnya suksesnya acara Empat Mata Tukul Arwana di Trans-7. “Acara Empat Mata yang dibawakan Tukul bisa berdampak,” katanya jujur. Tapi, “Kami berusaha tidak membuat yang terlalu mirip.”

Caranya? Ya, dengan memberi variasi atau elemen tertentu sehingga menjadi berbeda. Namun, ada benang merah dari catatan pelawak satu ke catatan lain di televisi itu. Seperti Catatan Si Tukul, yang lebih banyak unsur lawakannya. “Tukul banyak berinteraksi dengan pelawak pendukung lain karena dia tipe pelawak bukan monolog,” kata penulis cerita dan pemain film Lupus itu.

Catatan Si Komeng lebih banyak membahas tema kasus, seperti aktris yang punya masalah. Menurut Boim, dalam acara itu, para artis punya kesempatan melakukan klarifikasi. Sebenarnya, acara ini tak jauh berbeda dengan Super Show yang pernah dibuat Trans TV setahun yang lalu. Sementara itu, Catatan Si Eko murni talk show dan Catatan Si Tessy semakin ramai dengan kehadiran banyak pelawak top.

Di SCTV, acara bincang-bincang yang serupa juga ada. Saksikan saja acara Midnight Show pukul 23.00 WIB. Tapi televisi itu menampik bahwa acara tersebut mengekor kesuksesan bincang-bincang yang dipandu Tukul di Trans-7. “Kami bukan pengikut atau follower. Bila dibanding acara serupa, kastanya berbeda,” ujar produsernya, Fido.

Perbedaannya, bila acara pesaing itu sifatnya hanya gergeran, produknya lebih menampilkan sisi edukasi dan lawakan intelek, dengan kehadiran Denny Chandra yang berkolaborasi dengan pelawak Komeng. Kendati berselisih satu jam setelah acara Empat Mata pada hari yang sama, Fido mengaku, dari lima episode yang sudah tampil, didapat angka 4,2 untuk rating dengan share penonton 18,8 persen

TPI juga tidak ketinggalan. Di sana ada Dewi Dewi Malam pada pukul 22.00 WIB, yang dipandu oleh Eko Patrio. Acara ini membahas masalah ringan dengan bintang tamu, misalnya Ki Joko Bodo, yang menari ala kuda lumping dan memberi terawangan supranatural.

SUKSES, PENTAS KETOPRAK GOJECK ; KOMEDI HOROR GOYANG WONOGIRI

Tuesday, February 6th, 2007

Sumber: Kedaulatan Rakyat | 6 Februari 2007


PENTAS ketoprak keliling 16 kota di DIY-Jateng, putaran kedua menggelar cerita ‘Mayat Hidup’ disutradarai Nano Asmorodono, digelar di Alun-alun Wonogiri, Sabtu (3/2) malam mampu menghibur ribuan penonton.

Kesuksesan pentas ketoprak kemasan komedi horor malam itu didukung cuaca cerah dapat mendukung permainan para pendukung tampil di atas pentas secara maksimal yang mampu menciptakan humor segar yang membuat penonton terpingkal-pingkal. Apalagi pentas ketoprak berlabel ‘Khe Too Park Gojeck’ Djarum 76 malam itu, selain menampilkan pelawak Marwoto, Den Baguse Ngarso, Sudi Sronto, Stefanus Dalijo, Hargi Sundari, Rini Widyastuti, Soimah Poncowati dan dimeriahkan bintang tamu pelawak Kirun serta Milko pentas berdurasi 2,5 jam berlangsung semarak. Pentas ketoprak keliling 16 kota di DIY-Jateng tersebut terselenggara berkat kerja sama Jaran Production, ‘Sieben’ dan ‘A to Z’ dan disponsori Djarum 76. Penata musik Pardiman Djojonegoro bersama Doyok Kadipiro, Maryono, Encik, Warsana Kliwir, Hadi SE (Sarjana Elekton), penata artistik Agus Leyloor dan rias-kostum Sarwiyah Sugiarto.

Pelawak Kirun, senang melihat ribuan penonton tampak terhibur. Artinya, kesenian tradisional ketoprak yang dikemas humor semakin digemari pelbagai lapisan masyarakat. “Saya gembira bisa ikut tampil bersama seniman ketoprak, pelawak Yogya dalam program pentas ketoprak keliling 16 kota di Wonogori. Karena itu, saya masih akan ikut tampil memeriahkan pentas ketoprak keliling di Kebumen, tanggal 10 Maret mendatang,” ujar Kirun, sambil menunggu giliran tampil di balik panggung malam itu. Jadual pentas ketoprak keliling putaran ketiga, akan digelar di Alun-alun Sragen, Rabu (7/2) malam mulai pukul 20.00 WIB, dengan cerita ‘Suminten Ora Edan’ terbuka untuk umum dan gratis. Para pemain yang mendukung Marwoto Kawer, Yuningsih Yu Beruk, Den Baguse Ngarso, Hargi Sundari, Soimah Poncowati, Rini Widyastuti, Endrawati dan Dirjo Tambur.

Jadual pentas ketoprak keliling selanjutnya,

Karanganyar Sabtu (10/2),

Boyolali Rabu (14/2),

Batang Sabtu (17/2),

Sukorejo Rabu (21/2)

Wonosari Sabtu (24/2),

Bantul (28/2),

Tempel Sabtu (3/3),

Wates Rabu (7/3),

Kebumen (10/3),

Purbalingga Rabu (21/3),

Banjarnegara (21/3),

Wonosobo Sabtu (24/3) dan terakhir khusus di Magelang Minggu (1/4).

Pentas ketoprak keliling 16 kota di DIY-Jateng tersebut menampilkan lakon ‘Mayat Hidup’, ‘Suminten Ora Edan’, ‘Lindu Setengah Mati’ dan ‘Sri Minggat’. Ketoprak keliling dimeriahkan bintang tamu Yati Pesek, Bambang Rabies, Dirjo Tambur dan Didik Nini Thowok. (Cil)-m