Archive for March, 2007

Mendiknas Kena Demam Tukul

Wednesday, March 28th, 2007
Tukul yang muncul setiap malam dari Senin hingga Jumat di Trans 7 membuat banyak orang terkena demam, termasuk Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo (54).

Di tengah orasi ilmiahnya berjudul “Percepatan Pemberantasan Buta Aksara” di Universitas Negeri Semarang, Sabtu (24/3), Bambang sempat mengatakan bahwa dia dan istrinya hingga sekitar pukul 23.00 menonton acara yang edukatif. “Ya, itu, acaranya Tukul,” kata dia sambil menunjuk dengan dua jari, menirukan gaya Tukul.

Kontan, peserta orasi ilmiah tertawa dan bertepuk tangan. Menurut pria kelahiran Temanggung, 8 Oktober 1952 ini, Tukul merupakan sosok edukator yang luar biasa. Selebriti terkenal pun bertekuk lutut ketika berhadapan dengan tukul. “Saya pribadi memberikan rating tinggi untuk Tukul,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, Tukul memberi sentuhan pada aspek kemanusiaan. Dagelan yang dibawakan Tukul berbeda dengan acara lain yang cenderung lebih banyak menjelek-jelekkan dan menertawakan orang lain. “Dagelan Tukul yang menertawakan diri sendiri lebih sehat,” kata dia. (AB1)

Undangan

Monday, March 12th, 2007

Salam humor,

Dear Blogger dan Netter, kami mendapat e-mail dari pengelola Funkymadmonkey.com. Isinya undangan untuk berkarya di bidang komedi. Berikut petikan emailnya:

Hello,

FunkyMadMonkey bertujuan untuk menjadi wadah bagi pelawak untuk menyalurkan bakat bakat mereka. Komedi yang sehat bebas dari SARA dan bersifat kekeluargaan. Kami membeli lelucon-lelucon dengan harga yang sangat pantas.

Mungkin anda tahu dimana mencari pelawak2 yang berbakat dan bagaimana menghubungi mereka?

 Terima Kasih sebelumnya

 FunkyMadMonkey Team

Puas, Puas, Puas?

Sunday, March 11th, 2007

Sumber: Kompas Minggu 11 Maret 2007

Oleh: Garin Nugroho

“Puas, puas, puas?” Inilah salah satu ciri pertanyaan Tukul, selesai memperolok diri ataupun diperolok tamu-tamu program “Empat Mata“. Bisa diduga, pertanyaan tersebut disambut dengan teriakan yang riuh rendah, mengiringi gerakan Tukul yang penuh olok-olok terhadap tubuhnya sendiri, entah berjoget ala topeng monyet atau ala seekor anjing.

Yang harus dicatat, kata “Puas” dan ungkapan-ungkapan Tukul lainnya, seperti “kutukupret” hingga “tak sobek-sobek mulutmu”, justru menjadi ruang pertalian akrab dengan masyarakat Indonesia. Sosok masyarakat yang kini tumbuh menjadi masyarakat televisi, yang dipenuhi berita berbagai bentuk krisis, bencana, penyakit, musibah kecelakaan dan anomali nilai-nilai pascareformasi.

Oleh karena itu, sangat menarik memberi catatan sendiri terhadap fenomena Tukul dalam perspektif budaya populer.

Antagonis kultural

Kebudayaan populer, seperti yang ditulis Adorno, senantiasa melahirkan berbagai bentuk kepopuleran yang penuh antagonis kultural. Sebutlah di televisi, di satu sisi melahirkan ikon glamor, ikon kegantengan, hingga ikon kecantikan. Di sisi lain, melahirkan ikon wajah ndeso, ikon sensualitas, hingga ikon kebugaran, maupun kebrutalan. Hal ini bisa dilihat dari konfigurasi tamu yang diundang di Empat Mata, dari Basuki, penjual koran, hingga personel Gigi.

Tukul adalah ikon dari ketertindasan. Ia adalah antagonis dari berbagai bentuk kekuasaan yang serba elite dan glamor yang menghidupi televisi. Inilah dunia wong ndeso. Inilah ikon rakyat jelata yang rela dimaki bersama dan boleh mengolok-olok dengan kata-kata kasar.

Jangan heran, penonton di studio rela memakai kaus bertajuk “Wong Ndeso”, jangan heran pula banyak kata yang sering dianggap tabu terlontar dengan rileks dalam bincang-bincang tersebut. Sebutlah, memperolok tubuh gemuk tamunya, memperolok penggunaan bahasa Inggris dan istilah intelektual yang menjadi gaya hidup dunia modern, ataupun olok-olok lewat kuisnya. Contoh kecil, kuis yang menanyakan jumlah tahi lalat Naysila Mirdad yang populer dengan seri sinetron Intan.

Inilah fenomena kebudayaan populer yang menjadikan ukuran–ukuran kewajaran porak poranda. Bisa diduga, fenomena Tukul telah memorakporandakan rumus bincang-bincang yang selama ini muncul di televisi. Host tiba-tiba boleh memperolok penontonnya dan dengan ringan mengambil alih jawaban tamunya sehingga tamunya tak sempat berbicara. Bahkan, ia menyiapkan diri untuk menjadi olok-olokan bersama. Maka, penonton televisi bisa menikmati aksi Tora Sudiro yang melempar kerupuk ke mulut Tukul, yang tubuhnya siap menelan lemparan makanan tuannya bak seekor anjing.

Dunia singgah

Fenomena Tukul lalu menjadi cermin bahwa program televisi yang populer adalah sebuah dunia konstruksi dan dekonstruksi berbagai wujud kehidupan sosial, entah bahasa, tata cara bergaul, seks, religi, politik, dan lain-lain.

Fenomena Tukul dengan program Empat Mata-nya adalah konstruksi kembali dunia sosio-historis ngobrol-ngobrol di warung kopi dalam kultur tradisi lisan. Yang kemudian, mengalami konstruksi ke dalam dunia tradisi lisan baru, yakni dunia tekno kapital visual yang dipenuhi dunia obrolan. Meminjam istilah Roland Barthes, inilah dunia mitologi masyarakat modern alias sastra rakyat hari ini, yang penyebarannya langsung masuk ke ruang-ruang keluarga.

Maka, layaknya dunia ngobrol warung kopi, ia adalah dunia tempat singgah untuk kumpul-kumpul antarteman. Sebuah dunia katarsis, sebuah waktu yang sejenak, untuk melupakan berbagai persoalan hidup, rutinitas, dan tata nilai sehari-hari maupun berbagai bentuk krisis dan bencana serta politik yang tak memberi harapan. Milan Kundera dengan genial menyebutnya sebagai “program lupa”.

Dunia Tukul menjadi dunia singgah yang melupakan batas jabatan, cita rasa, profesi, kelas, hingga kesantunan. Inilah dunia antarteman dalam penghormatan yang terbuka, cair, spontan, meski kadang sangat sarkas, sehingga tidak ada masalah untuk saling bersapa dengan menggunakan kata “Katrok” hingga “goblok”. Bisa diduga, meski populer, tidak semua pemirsa bisa menerima acara ini.

Alhasil, kalaupun fenomena Tukul sering disebut “absurd”, harap mahfum, dunia budaya populer adalah absurditas kultural itu sendiri. Sebuah dunia campur aduk, dari profan hingga kasar, yang tidak perlu tetapi diperlukan, dipuja dan diolok, metropopolis dan ndeso, penuh senyum dan brutal, religius dan munafik, terbuka dan fanatik.

Bukankah ini cermin wajah masyarakat kita sendiri? Puas?

Garin Nugroho Pengamat Komunikasi Budaya

Tamasya ke Negeri Mimpi

Saturday, March 10th, 2007

Sumber: Koran Tempo |Sabtu, 10 Maret 2007

Penulis: Budiyati Abiyoga (produser film, praktisi komunikasi massa)

Impian-impian, sebagai basis kreativitas, adalah anugerah luar biasa dari Tuhan untuk manusia yang tidak dimiliki makhluk lain. Keseharian hidup tidak selalu indah dan mulus, bahkan bisa penuh keprihatinan dalam soal ekonomi atau tekanan-tekanan dan hambatan lain. Dan harapan-harapan melalui mimpi bisa menjadi semacam saluran pelepas agar seseorang mampu bertahan menjalani kehidupannya.

Nah, menyangkut program acara televisi yang bermimpi-ria–seperti acara parodi politik Republik Mimpi di Metro TV yang dikritik Menteri Komunikasi dan Informatika, saya ingin urun rembuk sesuai dengan pola pikir saya sebagai pekerja/pendidik dan praktisi komunikasi massa.

Media televisi, seperti media massa lain, sangat menonjol perannya pada saat aktivitas masyarakat pada umumnya lumpuh karena berbagai bencana menimpa negeri kita, termasuk banjir besar yang baru menimpa Ibu Kota. Koran-koran tidak pernah absen, walaupun ada media cetak yang sempat tidak terbit beberapa hari karena kantornya kebanjiran. Radio tetap mengudara, televisi tidak henti-henti membuat laporan kejadian langsung dari tempat-tempat rawan. Betapa luar biasanya aset nasional yang bernama media massa.

Aset yang berharga ini tentunya harus bareng-bareng kita jaga. Jangan salah, kondisi pertelevisian tidaklah segebyar seperti yang ditonton pemirsa. Mengapa? Karena persaingan makin ketat, dengan makin banyaknya stasiun televisi yang harus berlomba-lomba membuat strategi dan program untuk mampu mengikat pemirsa. Porsi iklan diperebutkan, sumber daya manusia (SDM) diperebutkan, program-program franchise diperebutkan, sementara biaya program makin besar. Teorinya, upaya efisiensi dan efektivitas harus tetap menjaga kualitas produk dan pertimbangan pasar. Kenyataannya, karena beratnya dana investasi, yang terutama menjadi patokan manajemen adalah pertimbangan pasar.

Industri pertelevisian bertumpu pada simpul masyarakat konsumen yang mengapresiasi. Tolok ukur pasar ini dimonitor sangat intensif, terutama melalui survei program (channel rating and share), yang kurang-lebihnya mengukur persentase jumlah pemirsa yang terjaring, yang disajikan dalam suatu competitive programming map antarstasiun TV.

Yang pernah ditugasi melaksanakan riset adalah AC Nielsen dan Survei Research Indonesia, lalu sekarang ini AGB Nielsen Media Research. Setuju tidak setuju, atau percaya tidak percaya dengan hasil riset yang cuma satu-satunya ini, nyatanya map (peta) tersebut ibarat “peta suci” yang setiap hari menjadi acuan industri, karena sangat menentukan arah iklan–ke televisi mana dan ke program acara apa.

Tidak gampang membuat program yang menarik. Bayangkan, industri yang berpusat pada SDM ini setiap hari disodori “map suci” tersebut, sehingga bisa mengakibatkan berbagai program berjumpalitan pindah tempat/slot atau langsung terlempar ke luar arena. Demi rating (peringkat), ada kecenderungan stasiun televisi merambah semua segmen (all segments)–menjadi abu-abu ke atas dan ke bawah–juga merambah semua usia (all ages).

General TV seperti RCTI memimpin di depan melalui pengembangan SDM dari grup MNC yang intensif, diikuti SCTV dan Trans TV yang bersaing ketat. Trans 7 mulai menggeliat dengan program Tukul “Empat Mata” Arwana yang kreatif. Indosiar setelah AFI masih ditunggu pemirsa untuk sajian dengan gereget baru. TPI menjaring pemirsa dengan moto makin Indonesia. ANTV dan Global TV serta Lativi berimbang menjaring pemirsa. Jak TV dan O Channel mulai memikat pemirsa Ibu Kota.

Film-film impor masih diunggulkan banyak televisi untuk menjaring penonton, di samping tayangan “itu-itu juga” seperti sinetron yang menampilkan tokoh yang amat sangat menderita. Juga suguhan film laga dan horor yang di luar nalar, sadistis, berdarah-darah.

Metro TV sebagai televisi berita–walaupun juga dipenuhi acara hiburan selektif dari dalam dan luar negeri–dapat dikatakan tidak mungkin menembus persaingan dengan general TV yang memimpin tadi, kecuali untuk berita-berita khusus seperti kejadian bencana tsunami dulu, yang telah melonjakkan jumlah pemirsanya melalui berita-berita intensif dan akurat.

Republik Mimpi tampaknya karya orisinal dari dalam negeri, dan “sangat Indonesia”. Menurut pola pikir subyektif saya, acara itu justru bisa mengundang apresiasi pemirsa (yang pasar utamanya murni menengah-atas) terhadap Yudhoyono-Kalla khususnya, karena memiliki kebesaran hati untuk diparodikan melalui tayangan yang kreatif, menghibur, membuat relaks dan sekaligus cerdas itu. Aktor-aktor yang bermain juga terkesan cerdas, walaupun tampang mereka dibuat bego untuk memancing tawa pemirsa.

Toh, pemirsa menengah-atas tidak akan begitu saja terpengaruh–hanya karena parodi Republik Mimpi–untuk menilai kinerja pemerintah. Analisis cerdas (bukan hiburan cerdas) lebih bisa diperoleh setiap hari dari media massa cetak/koran, yang memang bukan bermaksud menghibur, melainkan memberikan kejadian-kejadian aktual yang menampilkan perubahan sangat cepat dalam perkembangan berbagai aspek kehidupan, ditambah ulasan, analisis, opini, yang berskala nasional dan global. Sejujurnya, yang barangkali terkena dampak negatif adalah bekas presiden Megawati. Sebab, casting tokoh perempuan mirip Megawati dalam Republik Mimpi menampilkan kesan sangat “telmi”, walaupun mungkin saja pemain tersebut dalam kehidupan sehari-hari lebih cerdas dari yang lain.

Untuk pemberdayaan publik, pemerintah perlu mendukung program-program ideal dari televisi swasta, termasuk di antaranya Republik Mimpi. Minimal, jika pemerintah berniat mensomasinya, ya, sebatas dalam mimpi saja. Mengikuti pola pikir subyektif tadi, barangkali kita bisa bermimpi pemerintah mengimbau televisi lainnya untuk membuat program semacam Republik Mimpi. Jadi, publik semua segmen bisa ramai-ramai bermimpi bertamasya ke negeri-negeri mimpi, untuk sejenak melupakan impitan ekonomi, keterbelakangan pendidikan, pengangguran, dan bencana lingkungan.*

Tragedi Matinya Selera Humor

Thursday, March 8th, 2007

Sumber: Koran Tempo | Kamis, 08 Maret 2007

Geger Riyanto, PEMINAT MASALAH SOSIAL-HUMANIORA

 

Ketika hendak berburu burung, Dick Cheney berbuat ceroboh karena menembak seorang pengacara kaya, Harry Whittington, yang disangka buruannya. Tak lama setelah itu, Wakil Presiden Amerika Serikat tersebut menjadi bulan-bulanan dunia komedi Negeri Abang Sam. Seorang komedian, David Letterman, bertutur bahwa perburuannya tersebut merupakan upaya sang Wakil Presiden menghentikan persebaran wabah flu burung.

Lalu belakangan ini, dalam bursa kandidat Presiden Amerika, sudah terhitung sejumlah tokoh yang mencalonkan diri. Mengapa jumlahnya begitu banyak? Menurut Letterman, tak lain karena kinerja nan buruk pemerintah Bush telah menurunkan standar seorang Presiden Amerika.

Bayangkan seandainya di negeri ini disiarkan acara televisi semacam Late Night Show-nya Letterman tersebut, akankah acara itu mendapat sambutan yang baik? Tentunya jawaban pesimistis akan kita dapatkan. Apakah karena acara semacam itu kurang diminati oleh masyarakat Indonesia, yang notabene berbudaya ketimuran? Tampaknya tidak, karena pada kenyataannya, parodi politik yang serupa dengannya di Tanah Air memiliki rating penonton yang tinggi.

Kekuatan humor

Benar anggapan Socrates, gelak tawa dipicu oleh suatu kondisi ketika orang lain terendahkan derajatnya. Misalnya kita tertawa menyaksikan Dono dari Warkop ketika wajahnya dianalogikan dengan kendaraan bajaj pada salah satu filmnya, atau tatkala pelawak Tukul Arwana menjelek-jelekkan dirinya sendiri.

Karena itu, saya kira dunia politik merupakan bahan guyonan yang sangat empuk sepanjang masa. Soalnya, ada keadaan alami pada alam bawah sadar manusia yang berkecenderungan mendendam kepada sosok penguasa, terlebih kepada penguasa yang sewenang-wenang. Namun, hasrat ini tak bisa diungkapkan secara eksplisit. Berdasarkan tesis psikoanalis Sigmund Freud, melalui penceritaan humor, kehendak bawah sadar dapat diekspresikan karena khalayak ramai menganggap bahwa guyonan tersebut tidak diungkapkan dengan serius atau bahkan tidak berdasarkan fakta.

Sadar akan kebutuhan psikologis yang fundamental akan kebebasan berekspresi, negeri-negeri yang demokratis membuka lebar-lebar ruang sehingga tiap warga negara dapat mengekspresikan aspirasi politiknya dengan satire. Dunia komedi Amerika dapat menjadikan kabinet Bush, dengan gaya memerintahnya yang bak koboi, sasaran lelucon satire yang sangat empuk.

Tapi sesatire apa pun komedi yang diracik, pada akhirnya tersimpulkan dengan ungkapan pelawak Tukul bahwa hal ini just for laugh, just for kidding. Maka, bagi Amerika, tak ada yang berhak menghentikan seorang Letterman, Jay Leno, Conan O’ Brien, untuk memotret pemerintah konservatif Bush secara satire. Amerika menikmatinya. Selain itu, boleh dikatakan bahwa humor merupakan instrumen kritik politik yang tajam.

Berbeda halnya pada pemerintahan yang otoriter. Dalam buku yang diedit Frans Husken dan Huub de Jonge, tercatat bahwa pada masa kekuasaan Orde Baru, begitu banyak humor yang menyindir pemerintah lewat penceritaan dari mulut ke mulut. Di situlah celah yang menyalurkan kehendak bawah sadar masyarakat Indonesia untuk mengkritik sosok penguasa yang otoriter.

Antropolog James Danandjaja pernah menyimpulkan mengapa humor merupakan cara yang tepat untuk menggambarkan dunia politik Indonesia. Menurut dia, hal itu karena kebudayaan politik yang patrimonial dan antikritik masih mengubur begitu dalam hasrat masyarakat mengekspresikan pandangan politiknya.

Kini, setelah demokrasi bergulir, dapatkah pandangan politik yang satire itu diekspresikan secara langsung, sebagaimana di negara-negara yang demokratis? Setelah reformasi berembus, semakin banyak cerita berkembang dari mulut ke mulut. Humor-humor politik mulai dimuat dalam situs-situs dan buku-buku. Tapi tidak serta-merta muncul sosok komedian atau kelompok lawak yang secara langsung dan personal mengumbar guyonan politik.

Yang pertama mencobanya, Republik BBM. Acara yang menyajikan parodi sebuah negara dengan bumbu humor politik yang satire ini lain daripada yang lain, sehingga mendapat sambutan yang cukup baik dari konsumen televisi. Tapi acara ini tidak berusia panjang, setelah lobi misterius dilakukan oleh pihak istana kepresidenan kepada stasiun televisi terkait.

Acara ini kemudian mengganti namanya menjadi Republik Mimpi di televisi lain. Setelah beberapa kali acara ini ditayangkan dan mendapat rating penonton yang tinggi, mendadak pihak sponsor menyatakan hendak berhenti dan Kementerian Komunikasi dan Informatika hendak melayangkan somasi terhadapnya. Eksistensi acara ini kembali terancam. Siapa pun bisa membaca penanda ini, bahwa masyarakat Indonesia mengalami deja vu, kembalinya senyawa kekuasaan yang antikritik.

Mengapa acara komedi ditempatkan di malam hari oleh pihak televisi pada umumnya? Sebab, acara tersebut bisa menjadi ritus untuk membebaskan pikiran yang penat akan kepadatan hidup di siang hari. Maka demikian juga fungsi acara lelucon politik itu, sehingga ia mendapat tempat di hati pemirsa televisi.

Melalui tawa, kehendak bawah sadar yang dinamai Freud sebagai Id, menyeruak keluar dari pikiran yang terkekang walau hanya sesaat. Dalam bukunya yang berjudul Redeeming Laughter: The Comic Dimension of Human of Human Experience (1997), sosiolog Peter Berger bahkan berpandangan bahwa perasaan ekstase yang dicapai melalui gelak tawa sebanding dengan pengalaman tenggelam dalam transendensi religiositas.

Kendati pada umumnya humor tidak pernah dianggap sebagai narasi yang bersifat serius, wajar bila pemerintah otoriter, dalam sindrom power complex-nya, sangat awas terhadap celah-celah perlawanan yang bahkan sekecil humor. Namun, persoalannya, hal ini terjadi pada negara yang notabene pemimpinnya mengaku demokratis. Sebuah paradoks? Untuk beberapa hal, seharusnya pemerintah bersyukur. Sebab, mungkin dengan adanya humor, salah seorang menteri kita bisa berlega hati karena korban banjir di Jakarta masih bisa tertawa-tawa.