Gemuk

Oleh: Adrozen Ahmad

Tuhan menciptakan manusia dalam wujud yang berbeda-beda, salah satunya adalah tubuh gemuk. Jika orang bule menyebutnya fat maka teman-teman sekampung saya menamakannya gembrot.

Barangkali karena dianggap melawan mainstream terkadang orang yang merasa bertubuh ’ideal’ menjadikan mereka bahan tertawaan dengan memberi julukan bermacam-macam. Seorang di antara ‘korban’nya adalah teman saya.

Oleh sebab tubuhnya yang gemuk besar dan warna kulitnya yang juga agak gelap ia sering dipanggil dengan sebutan ’Jin Botol’, barangkali yang dimaksud adalah Jin-nya Aladdin yang keluar dari lampu wasiat. Terkadang dengan sebutan itu cletukan nakal dari mulut-mulut kurang bertanggungjawab menyeruak seperti, “Hei, jangan gosok botolnya terlalu keras dong, ntar dia keluar, lho!” Atau sambil menggoda seorang teman wanita yang bertubuh kurus di sebelahnya, teman yang lain berkomentar, “Mbak, badannya krempeng bener, minta dikit gih dari perut dia,” begitu seterusnya.

Syukur kawan saya cukup bijak. Kalau amarahnya meluap bisa jadi bukan hanya jin botol, jin sumur pun pasti akan ia undang. ”Orang berlebih memang punya kesabaran berlebih, sobat,” kilahnya.

Mungkin lain ceritanya bila teman tersebut adalah perempuan. Kebetulan saya juga punya seorang teman perempuan berbadan gemuk yang selalu risau kalau dipanggil Gendut. Tapi saat saya tanya apakah dia tidak punya niat menurunkan berat badan dengan spontan dia menjawab, “Emang enak terus-terusan nahan lapar?”

Grup musik Dewa 19 mengatakan hidup adalah perjuangan, begitu pula menurunkan berat badan. Saya punya seorang teman perempuan lain yang pola makannya ngirit bukan kepalang. Saya salut karena itu berat. Tapi kalau keterusan juga tidak baik, bisa-bisa dibelai angin sepoi-sepoi sedikit saja sudah kena masuk angin. ”Benar bung, tubuh terlalu ramping itu tidak enak. Seperti kata Chairil Anwar, tinggal tulang-tulang yang diliputi baju,” kata seorang kawan memlesetkan puisi Karawang-Bekasi.

Kelihatannya memang tak jauh beda dari guyonan yang laku keras di kalangan kawan-kawan saya. Dalam dunia lawak kita pun tubuh atau salah satu anggota tubuh yang ’nyleneh’ masih menjadi jurus andalan untuk dijadikan bahan tertawaan.

Saya jadi teringat tulisan Darminto M. Sudarmo dalam bukunya Anatomi Lelucon di Indonesia. Dia menuliskan kegelisahan seorang Wimar Witoelar mengenai dunia komedi Nusantara bahwa selama ini content lawak kita berkutat seputar badut-badutan semata. Tidak percaya? Lihat saja di TV. Bukan hanya masalah berat badan. Tapi hal-hal fisik lain seperti mulut tonggos, kepala botak, kaki pincang, hidung bengkok, atau bagian tubuh ’tak lazim’ lain masih menjadi komoditi laris untuk ditertawakan.

Masih terngiang petuah salah seorang kawan yang dosen komunikasi. Dia bilang bahwa dalam dunia iklan, selama banyak iklan yang content-nya masih memunculkan produk itu sendiri, selama itu pula pangsa pasar yang mereka bidik bukan termasuk kalangan terdidik. Oh. Saya mengelus dada. Apakah dalam dunia komedi juga berlaku hukum yang sama.

Ah, Tuhan benar-benar menciptakan manusia dalam wujud yang berbeda-beda.

Tags: ,

2 Responses to “Gemuk”

  1. I think you have done an excellent job with your site. I will return in the near future.

  2. hp coupons says:

    Thanks so very much for taking your time to create this very useful and informative site. I have learned a lot from your site. Thanks!! I think you have done an excellent job with your site. I will return in the near future.

Leave a Reply