Cover Boy Bertampang Pas-pasan

Sumber: Koran Tempo | Minggu, 24 Desember 2006

Lawakannya renyah, berani menertawai diri sendiri.

“Saya tunggu di rumah besok jam enam pagi,” kata Tukul Arwana ketika dihubungi via telepon selulernya. Pekan-pekan belakangan, Tukul banyak mengisi acara di luar kota, sehingga baru Rabu lalu bisa menyediakan waktu.

Ya, boleh dibilang, hari-hari Tukul sungguh supersibuk. Selain kerap diundang pentas di luar kota, lima kali sepekan dia menjadi pembawa acara Empat Mata di TV7, yang sekarang bernama Trans-7. Ia juga tampil dalam acara Catatan Si Tukul di RCTI dua kali sepekan, plus sekali seminggu muncul dalam Ketawa Sore di Trans TV.

Tapi mencari rumah Tukul di bilangan Jalan Sawo Ujung, Cipete Utara, Jakarta Selatan, tak sesulit meminta waktunya. Hampir setiap orang di kawasan itu bisa menunjukkan lokasinya dengan detail, termasuk ciri-ciri rumahnya.

Tukul memang sedang naik daun. Namanya berkibar menyusul kian digemarinya acara Empat Mata. Sampai-sampai ungkapan khasnya di acara itu, “kembali ke laptop”, kini menjadi jargon yang ngetren di berbagai kalangan.

Jam menunjuk pukul 05.50 saat Tempo tiba di rumah sang pelawak. Tukul memiliki dua rumah cukup besar dan tiga rumah petak yang dikontrakkan. Menurut dia, rumah pertamanya, yang sejajar dengan tiga rumah kontrakan, ditempatinya bersama istri dan anaknya. Sedangkan rumah keduanya dijadikan posko, tempat bertukar pikiran dan meramu ide kreatif lawakan bersama teman-temannya.

Di garasi rumah keduanya, terparkir Kijang Innova berwarna krem. Mobil inilah yang kerap membawanya ke mana-mana, terutama ke lokasi syuting. Sedangkan di halaman, nongkrong sedan Galant tua berwarna ungu. Menurut seorang anak buahnya, mobil itu merupakan kendaraan pertama yang dibeli Tukul dari hasil jerih payahnya sebagai pelawak.

Tak lama kemudian, Tukul muncul mengenakan kaus singlet putih dan celana pendek hitam, tanpa alas kaki. Penampilannya apa adanya. Kami duduk di teras rumah keduanya. Pembantu rumahnya kemudian datang membawa mi instan rebus, gorengan tempe-tahu, dan teh manis panas. “Masih pagi, kita sarapan dulu sambil ngobrol,” kata Tukul.

Tukul berkisah tentang kedua rumahnya dan tiga rumah kontrakannya. Menurut dia, semua itu dibeli secara bertahap, satu per satu. Pada 1995, saat baru menikah dengan Susiana, perempuan Minang, ia mengontrak rumah di sana. Saat rezeki mulai mengalir, ia kemudian membeli rumah petak yang dikontraknya itu. Setelah sekitar 10 tahun, barulah ia bisa membeli rumah-rumahnya itu. “Saya betah tinggal di sini karena suasananya kekeluargaan,” katanya menjelaskan.

Di rumahnya yang cukup asri, Tukul punya kebiasaan unik. Malam menjelang tidur, dia biasanya nonton DVD film horor. Ia suka film horor karena menegangkan. Katanya, suasananya menantang, sesuai dengan dia yang memang suka tantangan.

Kebiasaan uniknya yang lain adalah memetik bunga melati malam-malam. Di halaman rumahnya, pelawak berambut cepak itu menanam pohon melati yang dibiarkan merambat hampir merimbuni seluruh halamannya. “Saya suka melati. Meski bunganya kecil, harumnya luar biasa,” Tukul menerangkan.

Sekitar pukul 07.15, Tukul minta izin untuk mandi. Dua jam berselang, ia ditunggu syuting rekaman Catatan Si Tukul di studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Rencananya ia akan melakukan syuting rekaman dua episode acara komedi yang ditayangkan sejak awal Desember itu.

Sebelum berangkat, Tukul, yang mengenakan kaus berkerah oranye, jins belel, dan sepatu kulit hitam, pamit kepada istri dan anak perempuan semata wayangnya, Novita Eka Afriana, 7 tahun. Sepanjang perjalanan, Tukul malah lebih banyak bercerita tentang perjalanan kariernya sebagai pelawak. “Ceritanya sangat panjang dan mengharukan.”

Lahir di Kampung Perbalan, Purwosari, Semarang, Jawa Tengah, 16 Oktober 1963, sejak remaja Tukul kerap tampil melawak di panggung 17 Agustusan. Ia lulus Sekolah Menengah Atas Kartini Semarang pada 1983. Dua tahun kemudian, pria bernama asli Riyanto itu merantau ke Jakarta. Ia berkeinginan merintis karier sebagai pelawak di Ibu Kota.

Tapi Tukul gagal. Anak ketiga dari empat bersaudara keluarga Abdul Wahid dan Sutimah (almarhumah) itu kembali ke kampung halamannya dan menjadi sopir omprengan. Ia kemudian membentuk grup Purba Ria dan mengikuti sejumlah lomba lawak yang digelar di Semarang. Tukul dan grupnya menyabet beberapa gelar juara. Itu memompa semangatnya kembali ke Jakarta untuk mengadu peruntungan pada 1989.

Ternyata gelar juara lawak tak menjamin kariernya mulus. Tukul banting setir menjadi sopir pribadi hingga 1992. Setahun kemudian, ia melamar menjadi penyiar radio humor, Suara Kejayaan, Jakarta. Honornya sekitar Rp 75 ribu. Padahal ia harus membayar kontrakan rumahnya Rp 150 ribu per bulan. Akhirnya, demi menutupi kekurangannya, ia bekerja serabutan: menjadi pemandu acara atau melawak di sejumlah tempat.

Hidupnya terasa kian berat setelah dia menikah pada 1995. Demi menyambung hidup, ia terpaksa menjual cincin kawin dan kalung. Saat itu, Tukul benar-benar hidup prihatin. Ia hanya bisa memberikan uang belanja kepada istrinya Rp 3.000 setiap hari. “Hampir setiap hari menu makannya cuma nasi putih sama oseng-oseng kangkung,” katanya mengenang.

Namanya mulai dikenal saat dia menjadi figuran klip video penyanyi cilik Joshua. Pertama-tama, ia ikut dalam klip video lagu Air yang populer dengan kata “diobok-obok” itu. Untuk perannya ini, Tukul mendapat honor Rp 160 ribu.

Pada 1997, dia melamar ke Srimulat, grup lawak yang didambakannya sejak pertama kali merantau ke Jakarta. Tukul diterima. Tapi, setelah sekitar dua tahun bergabung, ia dinilai tak bisa mengikuti langgam lawakan grup itu. Ia mendapat surat peringatan. Isinya teguran bahwa kualitas permainannya tak memenuhi syarat. “Saya sedih sekali karena waktu itu istri sedang hamil tua,” katanya ketika kami tiba di studio RCTI pada pukul 08.35.

Syuting yang dimulai pukul 09.30 itu berlangsung hingga pukul 14.30. Rihat sekitar satu jam (11.30-12.30), Tukul memanfaatkan waktu tersebut dengan makan siang prasmanan yang disediakan kru acara itu. Menunya nasi gudeg, ayam goreng, dan telur bacem. “Saya tidak punya pantangan dalam urusan makan,” ujar Tukul, yang di atas panggung sering mengaku sebagai mantan cover boy bernama Reynaldi.

Tukul mengaku tak punya jadwal makan yang ketat. Pokoknya, kalau merasa lapar, ya, makan. Dalam sehari dia kadang makan tiga kali, kadang empat kali, tapi tak jarang cuma dua kali. Sebetulnya ia paling suka makan telur mata sapi dan sambal goreng petai. “Kalau saya sekarang makan petai, kasihan kru RCTI, bisa pingsan,” katanya seraya tergelak.

Kelar syuting, ia memutuskan kembali ke rumah. Ia ingin istirahat sejenak sebelum malamnya melanjutkan syuting Empat Mata. Yang mengagetkan, ia memilih naik sepeda motor. Tukul diboncengkan asistennya, Teguh. Menurut dia, itu lebih efisien dan lebih cepat karena bebas macet.

Sejak duduk di sekolah menengah pertama, dia sudah gemar naik sepeda motor. Tapi baru benar-benar kesampaian punya motor setelah ia menjadi pelawak di Jakarta. “Dulu kan saya kere. Boro-boro beli motor, makan saja susah,” kata pelawak yang pekan lalu baru membeli motor Harley-Davidson itu.

Petangnya, sekitar pukul 18.00, kami berangkat menuju lokasi syuting Empat Mata di Pengadegan, Jakarta Selatan. Dan lagi-lagi Tukul memilih naik sepeda motor membonceng asistennya. Istri dan anaknya menyusul dengan Kijang Innova. Rabu malam itu, ia akan melakukan syuting dua episode. Yang satu rekaman untuk edisi Natal, satunya lagi siaran langsung.

“Terus terang, awalnya saya nggak pede menjadi presenter acara ini,” kata Tukul sambil menunggu syuting dimulai. Acara yang mulai digelar pada 28 Mei 2006 itu adalah obrolan santai seputar masalah sosial yang dikemas dalam komedi. Setiap episode selalu menghadirkan bintang tamu–rata-rata selebritas–untuk diwawancarai.

Sebagai pembawa acara, Tukul harus memiliki karakter genit, nakal, dan sok pinter. Nah, demi menunjang hal itu, ia dilengkapi sebuah laptop. Dalam acara tersebut, ia tampak cekatan mengoperasikan komputer jinjing itu. “Padahal, aslinya saya nggak bisa komputer. Saya juga nggak punya laptop,” katanya.

Ihwal sepak terjangnya yang genit di acara itu, awalnya ini sempat membuat istrinya cemburu. “Awalnya saya memang syok juga. Tapi, setelah Mas Tukul menjelaskan, saya bisa mengerti,” kata sang istri, yang malam itu nonton
bersama anaknya, menjelaskan.

Lalu berapa sih honornya sebagai presenter? Tukul tak segera menjawab. Ia pura-pura merenung. “Tulis saja honornya lumayan,” ujarnya. “Atau tulis saja pokoknya memuaskan, deh.”

Pulang syuting, Tukul mengajak makan di warung kudapan di bilangan Blok S, Jakarta Selatan. Saat itu sekitar pukul 23.30. “Kita makan sate kambing langganan saya, ya,” ujarnya. “Saya telah menjadi pelanggan tetap sejak 1990-an.”

Sambil menikmati sate kambing, ia bercerita bagaimana bisa kenal dengan semua pedagang di kawasan itu. Waktu itu, ia indekos di sekitar Blok S dan selalu makan di warung kudapan di kawasan tersebut, secara bergiliran, setiap malam. “Yang membuat saya dikenal, semua pedagang di sana sempat diutangi,” katanya. NURDIN KALIM

Kelik Melipur Lara dengan Plesetan

Sumber: Kompas | Minggu 29 Oktober 2006

oleh: FRANS SARTONO

Pelawak Kelik Pelipur Lara bercerita saat ia bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kelik saat itu tak menggunakan kumis palsu seperti yang biasa dikenakan ketika memerankan tokoh Wapres Ucup Kelik di Republik BBM. Kalla menanyakan ihwal hilangnya kumis, dan Kelik menjawab dengan plesetan: “Kalau kumis saya tak ada, insya Allah kumiskinan negeri ini juga tak ada Pak!”

Plesetan menjadi senjata ampuh Kelik Sumaryoto (39) di pentas lawak. Unsur plesetan dia bawa saat mendukung Republik BBM, acara sejenis talk show komedi di Indosiar. Belakangan Kelik membawa plesetan dalam acara News Dot Com di Metro. Ini semacam parodi politik yang intinya sama dengan Republik BBM. Kedua acara itu digagas Effendi Ghazali. Plesetan kemudian mendapat porsi lebih riang pada Asal Plesetan, sketsa komedi di antv.

Plesetan adalah permainan olah alih kata atau frasa. Penggantian satu unsur kata yang lazimnya melekat pada kata tertentu menjadi unsur pemicu tawa. Lagu kondang Ruth Sahanaya, Kaulah Segalanya, oleh Kelik diplesetkan menjadi “Kaulah srigalanya (bagiku)…”.

Nama negara Swedia dijadikan bahan plesetan dengan menempatkannya sebagai peribahasa: Swedia payung sebelum hujan. Itu stok lama Kelik. Setidaknya sejak materi serupa dilontarkan Kelik ketika tampil bersama grup Elbeha (Lembaga Bantuan Humor) di TPI sekitar tahun 1997, sampai di Asal Plesetan.

Plesetan model permainan kata sejak lebih dari tiga dekade silam telah menjadi bahan guyonan pergaulan di Yogyakarta dan sekitarnya. Plesetan terselip spontan di antara percakapan sehari-hari, termasuk di sekolah atau tempat kerja. Ia menjadi celetukan penyiar radio. Begitu merakyatnya plesetan sampai pernah ada lomba plesetan di Yogya.

“Humor, plesetan, menjadi bagian kehidupan sehari-hari di rumah, di kampung. Jadi saya terlatih humor itu dari lingkungan,” kata Kelik yang tinggal di kampung Minggiran, Yogyakarta.

Plesetan, bagi yang telah terbiasa, akan muncul spontan. Setiap kata yang terlontar dari lawan bicara bisa disambar sebagai bahan plesetan. Bahkan, kata-kata yang keluar dari mulut sendiri pun bisa diplesetkan.

Dalam percakapan dengan Kompas misalnya, Kelik memplesetkan kata yang terucap spontan. Ketika terucap nama Aa Gym, ia langsung memplesetkan sendiri menjadi, “Aa Gym dan lampu wasiat.”

Sebagai lawakan, plesetan bagi Kelik adalah bahan spontan. Selain itu, ia rupanya mempunyai perbendaharaan kata atau stok plesetan melimpah. Ia tinggal mengeluarkan sesuai pancingan dari lawan bicara. Ia dengan cerdik mengemas bahan itu dalam format lawakan televisi.

Plesetan hanya salah satu materi lawakan. Ia juga mengambil materi dari dagelan Mataram. Ia misalnya sering menggunakan jarwo dosok atau penguraian unsur pembentuk sebuah kata. Ia juga menggunakan cangkriman atau tebak-tebakan. Akan tetapi, plesetanlah yang menjadi senjata ampuhnya.

Karier

Plesetan menjadi kendaraan yang membawa Kelik ke jenjang popularitas sebagai pelawak. Lelaki kelahiran Yogyakarta tahun 1967 ini berkenalan dengan dunia lawak televisi sejak kelas V sekolah dasar awal 1980-an. Ketika itu ia ikut dalam Jenaka KR, acara lawak di TVRI Yogyakarta. Lulus SMP tahun 1983 ia mengikuti lomba lawak tingkat Yogyakarta-Jawa Tengah dan mendapat juara pertama.

“Saat itu saya sudah berniat jadi pelawak. Kalau sekolah gagal, mending jadi pelawak,” kata Kelik, bungsu dari sembilan bersaudara.

Nyatanya Kelik tak bisa melanjutkan kuliah setelah sempat duduk di sebuah perguruan tinggi swasta di Yogya. Ia pergi ke Jakarta dan merintis dari bawah dunia perlawakan. Ia memulainya dengan ikut lomba lawak di Radio Suara Kejayaan (SK) pada 1987.

Ia lalu terlibat produksi pada acara komedi di televisi, seperti Senyum Sejenak (TVRI, 1988-1990), Bursa Komedi, Three In One di SCTV, sampai TPS (Tertawa Pagi Sekali, 1999) dan Pesta di Indosiar tahun 1997-2000.

Kini, Kelik memetik hasil ketekunan kreatifnya di jagat lawak.

Pelawak Harus Belajar Sesuaikan Tuntutan Zaman

Sumber: Kedaulatan Rakyat | 22 Oktober 2006


Para pelawak muda tersebut sebagian besar materi lawakannya universal menyesuaikan tuntutan zaman. Meski ada sebagian yang menggunakan semangat Dagelan Mataram di antaranya Wisben, Joned, Gareng Rakasiwi. Bahkan Wisben bersama pelawak muda membikin grup Dagelan Mataram Plus (DMP) yang dijadikan wadah guyub dan aktivitas melawak.

Menurut Marwoto, keberadaan pelawak muda Yogya tersebut sangat potensial. Hanya saja, mereka harus mau belajar dan menambah wawasan agar bisa berkembang. Terlebih, kalau mau menembus tampil melawak di Jakarta harus bisa menunjukkan kemampuan dan membangun relasi. Sebab, kadangkala materi lawakan ditampilkan di Yogya lucu, namun ketika dibawakan di Jakarta menjadi tidak menarik. ”Karena itu, pelawak muda Yogya dituntut bisa menyesuaikan diri dan terus belajar kalau ingin berkembang. Sebab, masyarakat saat ini lebih pintar dan kritis jika pelawak tidak bisa mengimbangi dengan belajar akan ketinggalan,” pesan Marwoto.

Marwoto merasakan, kebanyakan pelawak Yogya materi lawakannya bernuansa Jawa. Kalaupun tampil dengan menggunakan bahasa Indonesia, cita rasa Jawa tetap kental. ”Saya kira wajar karena kalau melihat Ketoprak Humor, dengan menggunakan bahasa Indonesia namun logat Jawanya tetap terasa. Demikian juga, saya pernah bersama Butet Kartaredjasa, bikin Dagelan Mataram tahun 1990-an untuk TPI, juga menggunakan bahasa Indonesia agar bisa diterima pelbagai lapisan masyarakat. Secara terpisah pelawak Yati Pesek setuju, kalau pelawak muda ingin maju harus belajar agar bisa menyesuaikan tuntutan zaman. Meski pelawak muda Yogya kebanyakan sudah mampu melemparkan joke-joke humor universal. Hanya saja, sebaiknya pelawak Yogya tetap belajar bahasa Jawa dan mencari bahan-bahan lawakan Jawa yang dapat menambah kemampuan. ”Kita bisa belajar dari Dagelan Mataram, meski dengan menggunakan bahasa Jawa sebenarnya materi lawakan cukup kuat dan satir. Bisa belajar kaset Dagelan Mataram Pangkur Jenggleng Basiyo materi lawakannya sangat bagus hingga sekarang kalau didengarkan masih lucu,” jelas Yati Pesek.

***

INGAT grup lawak tentunya tak bisa melupakan nama Dagelan Mataram, yang menjadi salah satu icon Yogyakarta. Dagelan Mataram telah melahirkan banyak pelawak terkenal andalan Yogyakarta, salah satunya Marsidah BSc. Selain dikenal sebagai pelawak, Marsidah juga kondang sebagai pemain ketoprak yang selalu menjadi rol atau pemain utama. Marsidah juga pernah menjadi denyut kehidupan kelompok dagelan yang cukup punya nama pada tahun 70-an hingga 80-an, yakni Jenaka KR. Bersama almarhum Handung Kussudiarjo dan almarhum Suwariyun, penampilan Marsidah senantiasa ditunggu-tunggu penggemarnya. Ditemui di rumahnya di Jl Madubronto Patangpuluhan, Yogya, Marsidah menuturkan masalah utama dalam dunia kocok perut yakni pada sumber daya manusia (SDM). Sebuah pertunjukan akan mempunyai isi atau bobot jika tidak hanya sekadar menyajikan tontonan menarik, tetapi harus juga diiringi dengan tuntunan yang baik pula. Untuk menyampaikan sebuah guyon dibutuhkan kepintaran, jadi tidak hanya asal-asalan ataupun malah ‘jorok’. Guyon Parikeno Menurut Marsidah, agar kesenian lawak tidak terlindas zaman perlu kiranya setiap pelawak mengasah diri agar kemampuan yang dimiliki benar-benar memenuhi syarat. ”Agar tak terlindas zaman, diperlukan SDM yang baik karena sangat menentukan pada saat pengemasan suatu pertunjukan,” ujar Marsidah.

Mengenai spesifikasi Dagelan Mataram, dijelaskan Marsidah, Dagelan Mataram lebih mengedepankan guyon parikena. Ibarat orang mencubit, yang dicubit tidak terasa sakit. Kalau pun para pelawak harus menyampaikan kritik, kritik itu disampaikan dengan cara yang santun sehingga yang dikritik tidak akan marah, melainkan hanya klecam-klecem. Hal lain yang menjadi ciri khas Dagelan Mataram adalah setiap penampilan selalu menyertakan cerita khas dengan alur cerita runtut. ”Improvisasi dalam Dagelan Mataram tidak sekental layaknya pentas lawak lainnya,” jelasnya. Menurut Marsidah, Dagelan Mataram sesungguhnya merupakan embrio lahirnya dagelan dengan nuansa plesetan.

Marsidah kemudian menyebut ‘mbahne pelawak’ Yogyakarta, yakni Basiyo sebagai pelawak komplit. Selain bisa memposisikan diri sebagai pemain, Basiyo juga piawai menyusun naskah lawak. Tak mengherankan jika sampai sekarang kaset rekaman lawakan Basiyo masih laris manis. Marsidah menjelaskan, seorang pelawak wanita dianjurkan jangan berperan sebagai pemanis saja atau bahan omongan saja tetapi ia juga sebaiknya mampu ikut ambil bagian dalam lakon tersebut, atau secara kasar dapat dikatakan ia dapat menyetir situasi. Dalam melemparkan leluconnya, Dagelan Mataram selalu santun, mereka mengandalkan kekuatan kata. Tidak pernah menggunakan bahasa tubuh sebagai pemancing tawa, apalagi gerakan kasar seperti memukul kepala dan sebagainya. Penilaian ini diberikan oleh budayawan M Habib Bari mantan penyiar RRI, TVRI dan sekarang menjadi konsultan TVRI Yogyakarta, serta pernah menggarap pentas gabungan dagelan se kota Yogyakarta.

Dagelan Mataram juga selalu ada ceritanya, bahkan, orang selalu mengidentikkan Dagelan Mataram dengan Ketoprak Mataram. Pantolan Ciri utama Dagelan Mataram, ada ceritanya, kemudian pancingan tawa mengandalkan dialog. Tidak ada adegan gerak tubuh dibuat-buat, kata-kata tidak kasar, tidak ada makian yang keterlaluan, dan tidak pernah jorok. ”Mereka tetap bisa lucu tanpa menggunakan kata-kata jorok,” kata Habib Bari. Kata-kata yang digunakan selalu menggelitik akal sehingga orang jadi tertawa. Misalnya mengucapkan kata yang pengertiannya tidak masuk akal. Sebagai contoh, pernah ada adegan dagelan. Seorang kaya tapi pelit. Kemudian ada tetangganya datang mau pinjam uang. Si pelit mau meminjami, dengan syarat si peminjam harus berendam di kolam selama satu malam. Istri calon peminjam mendorong suaminya untuk menerima syarat itu, nanti dia akan membakar sampah agar suaminya tidak kedinginan. Penonton dan pendengar tertawa ketika tahu bahwa si istri mengatakan akan membakar sampah di tempat yang jaraknya 100 meter dari kolam. Dalam jarak sejauh itu adalah tidak mungkin bisa menghangatkan suaminya yang sedang berendam di kolam.

Dunia dagelan berkembang.

Muncul beberapa kelompok dagelan yang menamakan diri Dagelan Mataram. Meskipun penampilannya sudah tidak seperti pendahulunya. Mereka tampil dengan pakaian pantalon (celana panjang) dan berbahasa Indonesia. Namun mereka tetap menamakan diri dagelan Mataram. Karakteristik Dagelan Mataram sangat bervariasi, tetapi jika dilihat dari lahirnya Dagelan Mataram tempo dulu, konsepnya berdasarkan dengan kelucuan, canda yang sifatnya mengundang tawa, dengan sejumlah plesetan -plesetan yang menarik. Baik dari iringan gamelan karawitannya, melodi, syair, lagu dan irama yang bersifat lucu. Menurut Ketua Program Studi Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Drs Trustho MHum, semuanya menjadi khas, karena iringan dari gamelan disesuaikan dengan tema-tema lucu yang dikeluarkan dari dagelan itu sendiri.

Namun demikian pada intinya, keutamaan dari Dagelan Mataram adalah dialog kelucuan. Meskipun Karawitan yang mengiringi Dagelan Mataram bisa konser mandiri dan melucu, tapi tetap hanya sebagai musik pendukung saja. Santai Dijelaskan Trustho, Warga Yogya dan Solo sama-sama ‘Kroni’ Mataram, tetapi memang keduanya memilki temperamen yang berbeda, yaitu budaya keraton Yogyakarta lebih bersifat simbolik, sedangkan budaya keraton Solo lebih bersifat romantik, sehingga Dagelan Mataram dapat lepas dari kedua sifat-sifat tersebut, tetapi tergantung dengan karakter masing-masing orang yang membawakannya. Drs H Muhammad Saleh MBA, Kepala Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI Yogyakarta mengatakan. Dagelan Mataram telah menjadi ikon Yogyakarta. Sebagai aset budaya pihaknya ingin melestarikan acara tersebut melalui program yang sama meski dengan pemain yang berbeda. Ini sekaligus sebagai media untuk memberikan kesempatan pelawak-pelawak muda untuk berkembang. Namun diakuinya, dari sisi materi hal tersebut tidak akan sehebat pada masa Basiyo.

***

DEWASA ini, dunia lawak sudah menjadi komoditas bisnis. Alhasil, tak sedikit bermunculan organizer yang menangani grup lawak ini. Salah satunya, Abad Entertainment, event organizer yang terkenal paling unjuk gigi dalam bisnis pertunjukan lawak. Di balik nama besar Abad yang masih berusia 8 tahun ini, tersimpan upaya keras dari seluruh awak kapalnya saat meretas jalan menggapai kesuksesan pertunjukan demi pertunjukan lawak hingga seperti sekarang.

Anang Batas, pemilik Abad Entertainment membagi kisahnya kepada KR pada pertengahan hari yang cukup panas di markas abad di Jl Wijaya Kusuma. Anang yang saat itu terlihat santai dengan penampilan khasnya, kemeja dan celana gombrong selutut mengaku mengalami banyak hambatan dalam menggolkan proyek lawakan. Anang sendiri tak pernah sengaja mendirikan Abad. Menurutnya, ide awalnya adalah untuk memfasilitasi teman-teman pelawak untuk menggelar pertunjukan.

”Pelawak itu banyak ide namun susah sekali untuk mewujudkannya dalam suatu pementasan yang komersil. Jadi, sebenarnya ide awal didirikannya abad adalah mencoba menjembatani teman-teman agar bisa lebih disiplin lagi dalam menggarap ide mereka, mewujudkannya dalam suatu skrip yang jelas, mengatur performance mereka di atas panggung. Jika sudah seperti itu, akan jauh lebih mudah untuk membuat proposalnya untuk menggaet sponsor. Nah, itu adalah tugas saya,” kata Anang. q-o Banyaknya kendala tak tak menyurutkan pria kelahiran 12 Mei 1969 ini.

Baginya dunia lawak, terutama humor dan plesetan adalah nafas kehidupannya. Baginya, seluruh kegiatan yang dilakukan dengan rekan pelawak dan senimannya tak harus berujung pada keuntungan dan materi. Namun, lebih pada kepuasan batin. ”Memang, kita tak dapat menghiraukan masalah materi, namun bagi saya apa yang saya lakukan harus bisa mengandung 2 hal, materi dan kepuasan batin. Jika salah satu sudah didapat, cukuplah buat saya. Toh apa yang saya peroleh sekarang juga dari sini,” kata Anang yang telah menunjukkan bakatnya di bidang humor. Bagi dunia pertunjukan lawak, untuk menggandeng sponsor sangat susah. Masih banyak perusahaan yang tak berminat mengucurkan dana promosi mereka kepada pertunjukan lawak. Diceritakan Anang sebagai salah satu contoh, sejak tahun 1999 saat pertama kali menggarap Java Haha. ”Pada saat sama sekali tidak ada pihak sponsor yang mau melirik. Namun, kami tetap melanjutkannya. Pokoknya, even ini sekalian jadi kawah teman-teman. Ternyata niatan kami terkabul, buktinya banyak pelawak yang akhirnya tenar dari program Java Haha, salah satunya Teamlo. Dulu bayaran mereka cukup 250 ribu sekarang? Dan bagi saya, mendengar berita seperti ini saja sudah senang,” ungkap Anang.

Selain faktor sponsorship, sangat sulit membentuk konsumen untuk datang ke acara lawak. Mereka sering membandingkan tiket dengan pertunjukkan lain, dan masih beranggapan bahwa selembar tiket Rp 25 ribu sangat mahal untuk menonton pertunjukkan lawak. ”Dari situ saja, gimana tidak rugi, setiap kali pertunjukan, biaya produksi memakan banyak sekali biaya sementara pendapatan hanya mengandalkan pada jumlah pengunjung yang hanya 200 orang dari kapasitas 250 kursi,” ungkapnya. Namun begitu, Anang tetap nekat menggelar Java Haha yang hingga November ini sudah mencapai gelaran ke 20.

Meski sudah ada kemajuan karena sudah ada beberapa sponsor yang melirik pertunjukan namun tetap saja, pertunjukan yang mendatangkan profit hanya bisa dihitung dengan jari. ”Mau saya kasih bocoran? Hanya sekitar 2-3 kali mendapat untung, sedang 17 kalinya tekor,” terangnya sembari tertawa. Dengan keadaan seperti itu, harusnya Abad tak bertahan. Untungnya, Abad tak meggantungkan diri pada gelaran pertunjukan lawak saja, tetapi hanya sekitar 20 persen dibanding seluruh kegiatan perusahaan perusahaan yang menancapkan kuku pada entertainment, event organizer, production, marketing communication. ”Tidak tahu juga kenapa saya begitu bersemangat menggarap pertunjukan lawak. Bagi saya, hanya dengan aneka pertunjukkan ini bisa menjadi ajang bagi teman-teman untuk berproses dan mempermudah jalan mereka agar bisa dikenal publik. Seperti yang saya bilang, banyak dari pelawak yang masih ragu memilih lawak menjadi profesi dengan ketidakaturan pendapatan, karena yang seperti saya bilang tadi, kebanyakan dari mereka tak bisa marketing mereka sendiri. jika tak ada yang mengenal, mana ada yang akan memberika job,” terangnya. Anang sendiri mengaku, meski telah mempunyai bakat, pelawak biasanya paling tak mampu memarketkan diri mereka sendiri.

Kesulitan ini lah yang membuat sebagian besar masyarakat berpikiran bahwa pelawak bukanlah suatu pekerjaan yang mampu menjamin pendapatan yang terus menerus. ”Saya ingin menepis anggapan tersebut, saya tidak ingin calon pelawak muda kita yang punya potensi menjadi lemah dan patah semangat karena tidak yakin dengan masa depan mereka. Toh, sudah banyak yang membuktikan bahwa pelawak yang sukses bisa terus eksis selama mereka belajar dan berinovasi. Kehadiran Abad merupakan salah satu upaya untuk itu,” katanya.

Anggapan tersebut telah ditepis sendiri oleh Anang. Karena segala sesuatu yang dilakukan dalam hidupnya adalah karena bakat yang dimilikinya dan selalu berusaha keras untuk terus berkembang. Terbukti, nama Anang cukup dikenal sebagai mc yang doyan mengocok perut namun tak menghilangkan tujuan acara yang dipandunya. ”Sedari dulu, saya memang suka humor. Dalam berbagai program acara pun, di Abad misalnya, saya selalu menyisipkan humor untuk program yang diinginkan klien. Bagi saya, acara yang disisipi humor akan lebih cair dan jika kita bisa mengemasnya maka akan lebih bisa mengena meski launching suatu produk. Biasanya, klien pun lebih memilih konsep acara yang lebih santai dibanding yang serius,” terang Anang yang kini tengah menaruh perhatian pada dunia ketoprak ini.

Untuk itu, anang memberi tips, untuk menjadi pelawak, tak hanya membutuhkan bakat namun juga harus terus mengasah kemampuan. ”Pertunjukan ini merupakan ajang yang bagus karena mereka harus bekerjasama untuk membentuk lawakan yang bagus. Mereka harus mengikuti aturan, dan skrip yang ditentukan,” katanya. Jika mereka bekerja keras, ungkap Anang, hslnya tak akan sia-sai, mereka akan memukau banyak penonoton dan eksistensinya akan diakui. Mereka juga yang akan memetik hasilnya. Job mereka akan terus mengalir. Peliput : Aksan Susanto, Warisman, Diah Susanti, Haryadi, Anna Karenina, Sifura Yuli Astuti, Khocil Birawa, W Poer, Ronny SV .

Mono-Law: Format Baru Seni Lawak?

Sumber: Kedaulatan Rakyat | 22 Oktober 2006


SESUNGGUHNYA format Mono-Law; Lawak yang dibawakan secara monolog bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Dalam jagad perlawakan sebelumnya sudah dikenal gaya pementasan macam itu. Aneka Ria Srimulat dalam semua pertunjukannya menggunakan pola drama dua babak dan setiap babaknya hampir selalu dibuka dengan monolog seorang pelawak. Yang paling terkenal adalah almarhum Gepeng dengan kalimat pembukanya; ”Sudah lama ikut juragan. Juragan saya pergi ke Cekoslokcekoslavavakia” Sementara Timbul dengan gesture tubuhnya yang lentur suka membuat gerakan dan tarian sambil memain-mainkan propertinya berupa lap kain dan atau pembersih bulu ayam. Lebih lama lagi, pada pertunjukan yang lain almarhum Basiyo membuka lawakannya dengan monolog berbentuk ngudarasa. Bahkan hingga hari ini pelawak Mbah Guno masih sering tampil secara tunggal dan garingan lagi. Serta masih banyak bentuk kesenian tradisional lainnya yang mengawali pementasan dengan cara semacam itu. Jadi sekali lagi, monolog lawak bukanlah hal yang baru.

Namun apa yang yang dilakukan oleh Komunitas Conthong Jogja, SKH Kedaulatan Rakyat dengan Pentas Parade Mono-Law yang menampilkan 9 pelawak di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta belum lama ini pantas diapresiasi. Setidaknya mereka berani mencoba membuat sebuah terobosan baru. Ini sesuatu yang menyegarkan, karena selama ini terjadi stagnasi dalan dunia lawak. Memang benar telah ada acara audisi semacam API di salah satu televisi swasta, tetapi ia tidak menghasilkan apa-apa kecuali pelawak baru yang kadang lucu kadang tidak sama sekali. Itulah kenyataan yang tidak lucu dari dunia lucu-melucu. Lha wong mereka menang bukan karena lucu melainkan kuantitas SMS. Lucu sekali bukan?

Pentas Parade tersebut di atas dimainkan dua malam berturut-turut dan cukup berhasil menghadirkan penonton. Pada hari pertama seluruh tempat duduk terisi penuh, banyak penonton yang rela duduk lesehan. Pentas berlangsung lancar, menghibur dan lucu. Ada banyak joke baru yang muncul. Sebuah keberhasilan yang menarik, karena menurut para pemain yang saya temui di belakang panggung, mereka mengakui ini adalah pentas yang sulit. Betapa tidak, setiap pelawak mendapat jatah waktu 30 menit untuk melawak secara menolog atau sendiri. Artinya selama waktu yang ditentukan itu ia harus mampu membuat penonton tertawa tanpa bantuan siapapun. Tidak boleh melakukan dialog dengan pemain lain. Termasuk dengan Acapela’s Pardiman yang menjadi pengiring musiknya. Pada pertunjukan hari itu ‘pemusik’ benar- benar nggak mau ngomong kecuali bermusik saja sesuai dengan kebutuhan pentas. Satu-satunya interaksi yang diperbolehkan adalah dengan penonton. Maka pelawak di sini dituntut harus cerdas.

Kecerdasan itu muncul pada hari pertama pertunjukan. Dengan membawakan lakon ”Orang Miskin Dilarang Sakit” naskah/sutradara Susilo ‘Den Baguse Ngarso’ dan Astrada Nano Asmorodono. Para pemain; Susilo, Marwoto, Yu Beruk dan Kirun secara bagus melemparkan humor-humor segar dan anyar. Susilo yang berperan sebagai dokter sekaligus sebagi pemain pertama yang harus nglakoni monolog cukup pintar memainkan properti sebagai alat bantu menciptakan kelucuan. Dengan kecerdasannya pula ia tega memainkan Marwoto sebagai properti. Dalam catatan saya ia tampil cukup maksimal, meskipun jatah waktu yang 30 menit belum terselesaikan dengan tepat.

Pemain kedua, Marwoto menjadi pasien miskin yang ngeyel sebagaimana Marwoto dalam kesehariannya. Justru dengan itu ia bisa tampil santai dan lucu. Tercatat pada menit ke 24 ia meninggalkan panggung. Yu Beruk tampil cantik malam itu, berperan sebagai istri Marwoto yang terpaksa harus menjual barang yang seharusnya tidak dijual. Terakhir, Kirun memainkan tokoh kasir Rumah Sakit. Meskipun dagelan yang ia sampaikan relatif datar namun berkat pengalaman sekaligus jam terbang yang ia miliki, Kirun mampu tampil konsisten sepanjang pertunjukan. Malah ia melebihi jatah waktu yang diberikan, ia ndagel hampir 45 menit. Bahkan lebih jika ditambahkan dengan kidungan jula-juli ala ludruk yang ia tampilkan sebagai pembuka acara. Lawasan memang tapi lumayan fresh!

Pada hari kedua pertunjukan, memainkan ”Sepanjang Malioboro” cerita Agus Leyloor dan disutradarai Bambang Paningron mulai nampak betapa sesungguhnya memang tidak mudah melawak apalagi secara monolog. Yati Pesek (penjual gudeg) cukup lucu namun belum cukup berhasil ‘menuntun’ pentas secara keseluruhan. Barangkali konsentrasinya agak terganggu dengan kehadiran Paidi (kere, penampil kedua) yang mondar-mandir. Padahal sebagai pemain pertama Yati Pesek punya peranan kunci dalam melanjutkan lakon berikutnya. Dan ketika Paidi harus bertugas monolog, terbukti cerita yang sebenarnya bagus itu belum cukup terbangun. Walhasil, walau Paidi berusaha keras untuk tetap melucu hingga melebihi 30 menit, tetap saja tidak seluruh dagelan yang ia lontarkan menghasilkan tawa.

Wisben (tukang becak) menjadi penyelamat lakon ini. Kerja samanya dengan musik pengiring serta kepiawaiannya memanfaatkan properti, termasuk sulap, bahkan termasuk catatan yang ia persiapkan sebelumnya menjadi kunci kesuksesannya tampil malam itu. Salah satu lawakannya yang melekat di ingatan saya adalah ketika ia mengatakan: ”Lapindo! Wong dilapi pisan ora resik”. Sebuah humor satir yang kontekstual. Sayang, penampil berikutnya Joned agak kedodoran membawakan peran sebagai psikiater. Aneka barang yang ia angkut ke atas panggung tidak dimanfaatkan secara optimal. Akting ala Mr Bean yang seharusnya potensial malah ia matikan sendiri. Sejujurnya Joned tidak terlalu gagal, ada beberapa joke yang baru dan segar.

Anti klimaks pertunjukan ini ada pada Bambang Rabies. Berperan sebagai preman yang seharusnya sangat terbuka kemungkinan untuk menciptakan berbagai kelucuan. Misalnya dengan memainkan kelemah-lembutan seorang preman atau berbagai kontradiksi kocak yang bisa diungkapkan dalam dunia preman. Celakanya Rabies -diakuinya di atas dan di belakang panggung-belum cukup siap dengan bahan lawakan untuk monolog kali ini. Untungnya ia telah lumayan berhasil membuat sebuah kelucuan dengan meng-Arab-kan salah satu lagu Ebiet G Ade. Jadi secara keseluruhan pentas kali ini boleh dibilang cukup memuaskan.

Konsep melawak dengan cara ‘baru’ ini juga bisa menjadi alat pengukur alias indikator ke-pelawak-an seseorang. Bahkan ia bisa ditiupkan sebagai trend baru dalam Seni Lawak Indonesia. Kenapa tidak? Ha-ha-ha… q – c

 

*) Yuswantoro Adi, Pelukis dan pengamat tontonan.

Lebaran Meriah di Layar Kaca

Sumber: KCM | 20 Oktober 2006

JAKARTA, KCM–Lebaran sudah di depan mata. Hingar bingarnya pun kini sudah terasa. Seabreg kegiatan pun tentunya sudah dirancang jauh-jauh hari. Seperti Mudik misalnya, hingga kini seolah menjadi tradisi yang kudu dilakukan setiap tahunnya.

Sayangnya tak semua bisa melakukannya. Tapi, tak usah bersedih jika Anda tak bisa melakukannya tahun ini. Cukup berlebaran di rumah saja. Toh, anda masih bisa dihibur dengan seabgreg sajian beragam televisi yang bakal memanjakan Anda selama tiga hari berturut-turut, mulai menjelang malam takbiran hingga Hari Raya kedua. Asyik bukan?

Ya, sejumlah televisi swasta sudah pasang kuda-kuda dari jauh-jauh hari untuk merebut hati pemirsanya di hari kemenangan. Seabreg program mulai ditawarkan dari mulai acara musik, talkshow, panggung bobodoran hingga menyajikan film-film terlaris di Hollywood sana.

Tak ubahnya tahun lalu program-program unggulan masing-masing stasiun televisi masih dijadikan amunisi untuk menarik pemerisanya. TRANS TV, misalnya, pada malam takbiran kali ini diperkuat dengan Extravaganza, yang mengambil judul Takbir Extravaganza. Ditayangakan pada pukul 19.00 WIB dengan mengetengahkan tema Takbiran dan Lebaran.

Hal serupa juga dilakukan stasiun Indosiar, lewat tayangan Srimulat dengan lakon Ketupat Srimulat. Pementasan berdurasi 120 menit akan hadir pada Lebaran pertama, pukul 22.00 dengan diperkuat Kadir, Tarzan, Nunung, Basuki, Nurbuat, Tessy, Gogon, Eko DJ, Doyok, Rohana, dan Tukul. Didukung pula oleh sejumlah artis seperti Asti Ananta, Cut Memey, dan Pengky.

“Srimulat memang menjadi semacam trade mark. Kenapa kami menghadirkan Srimulat, karena kami merasa ada semacam “beban moral”,” begitu ujar Direktur utama Indosiar, Handoko, kepada pers di Jakarta.

Sinema spesial Lebaran juga akan mewarnai sajian Indosiar selama empat hari. Diawali dengan flm About A Boy (24/10), Big Fat Liar (25/10), Patch Adam (26/10) dan Twins (27/10).

Sementara TPI, hadir dengan salah satu program unggulannya, yakni dengan menggelar Grand Final Kubah Dai dan Dai’ah, yang disiarkan langsung dari Teater Tanah Airku, TMII, Sabtu (21/10), pukul 20.30 WIB.

SCTV, dikatakan manajer humas Budi Darmawan, pada Lebaran kali ini akan meyangkan program acara bertajuk Sana Sini Lebaran, yang akan menampilkan Raffi Ahmad dan Jakabaret. Tayangan ini akan disajikan secara berturut-turut selama Lebaran, pukul 07.30 wib.

Lain lagi dengan TV7, kali ini menghadirkan komedi talkshow yang dipandu Tukul Arwana, yang akan hadir lewat 4 Mata Spesial Takbiran dan 4 Mata Spesial Idul Fitri. Kedua acara ini akan tayang pada Senin (23/10) pukul 22.30 WIB dan Rabu (25/10) pukul 21.00 WIB.

Akan hadir pula Canda Tanya Spesial Idul Fitri. acara ini akan ditayangkan Rabu (24/10) pukul 21.00 WIB dengan menghadirkan bintang-bintang kocak seperti Taufik Savalas, Ryeke Dyah Pitaloka, Jojon, Olga dan Ragil.

Musik Lebaran

Tak hanya itu saja, seabreg sajian musik juga dihadirkan untuk memeriahkan Hari Kemenangan. TRANS TV juga akan menayangkan dua program musik eksklusif yang khusus dikemas dalam rangka Idul Fitri, yaitu Peter Pan dan Konser Idul Fitri Siti Nurhaliza. Musik kompilasi Peter Pan akan hadir pada pukul 18.00 WIB dan Konser Siti Nurhaliza akan tayang pada pukul 23.00 WIB.

Di hari yang sama, hadir pula Konser Takbiran dengan menghadirkan sederet musisi papan atas, seperti Krisdayanti & Anang, Opiek, Ari Lasso, dan Radja, serta Dewi Persik.

Memeriahkan Lebaran, SCTV akan menghadirkan Musik Spesial Dewa 19 dengan menghadirkan bintang tamu dari Padi, Fadli dan Yoyo. Ada juga kelompok musik kocak, Teamlo. Mereka akan berkolaborasi dengan aja lewat sajian “Aku Temlo Karena Kau Radja”.

Sedengkan TPI punya “Konser Mega Bintang” akan ditayangkan pada Selasa (24/10) pukul 21.30 WIB. Acara ini merupakan acara komedi musikal yang akan menampilkan aksi ’Cagur, ’Teamlo’, ’SOS’ dan Rina ’Jurnal’. Kali ini mereka akan memparodikan penampilan band-band papan atas seperti Dewa, Ratu, Samsons, Peterpan, Rhoma Irama dan lain sebagainya.

Dihari berikutnya pemirsa akan dibuai oleh kolaborasi apik antara musik pop dan dangdut melalui kemerduan suara Gita KDI, Ikhsan Idol, Titi DJ, Saipul Jamil, Yuli KDI, Shoma KDI serta Ilham Idol. Gelaran Musik Spesial “Semua Jadi Satu” ini ditayangkan pada Rabu, 25 Oktober pukul 21.30 WIB.

Penulis: EH