Posts Tagged ‘Komedi Tradisi’

Mbah Guno: Mencari Guru Lawak Itu Susah

Wednesday, July 19th, 2006

Sumber : Jaya Baya | 11 Mei 2006

Atas ijin pengelolanya, kami menerjemahkan naskah “Golek Guru Dhagelan Niku Angel” yang ada di blog Jaya Baya dan mengumumkan kembali untuk Anda. Shola.

Di kalangan pelawak Yogyakarta, nama Mbah Guno alias R. Susanto (79) sudah tidak asing lagi. Kaset album humornya tersebar ke mana-mana. Album yang terakhir berisi parodi lagu-lagu milik penyanyi Walang Kekek, Hj. Waljinah.

Album bertajuk “Kembang Kacang” yang keluar tahun 1900an itu laris ibarat kacang goreng. Di situ, Mbah Guno yang mendapat gelar Kangjeng Raden Tumenggung (KRT) Susanto Gunaprawiro dari Kraton Yogyakarta Hadiningrat, ini berduet dengan pentolan pelawak Mataram, Djunaedi alm. Salah satu bagian yang lucu adalah ketika Mbah Guno menyanyikan tembang dhandanggulo Badan Alus, “Ingkung wewe, bothokiro dhemit… gendruwo dipunsujeni, jrangkong garangaseme…”

Mbah Guno lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 3 Desember 1927. Menikah dengan Sri Palupi, anak seorang bupati Gunung Kidul (Mertodiningrat), dan dikaruniai 9 anak: Gunarso, Gunawati, Ratih Guntari, Endang Gunar Widiastuti, Wahyu Gupitawati, Guntoro, Hesti Gunarti, Novi Gunarsanti Gun Hartanto. Dari kesembilan anaknya itu ia dikaruniai cucu delapan orang. Pendidikan terakhir Mbah Guno adalah SMA Surakarta tahun 1950 dan pensiun dari guru STMN II Yogyakarta tahun 1987. Meskipun telah pensiun ia masih mengajar di jurusan teater ISI Yogyakarta sejak 1987 hingga sekarang.

Mbah Guno adalah putra ketiga abdi dalem Keraton Surakarta yang bernama Gunawan Sastroprawiro. Berikut ini wawancara Jayabaya dengan Mbah Guno di rumahnya di bilangan Mijilan Yogyakarta, 24 April 2006.

Mbah Guno kados taksih mucal ing ISI nggih? Leres, kula rumiyin asring tumut teater Asdrafi Jogja pimpinan Sri Murtono. Kula menika tiyang panggung, sok main wayang wong. Ing wayang wong dados dhapukan Petruk lan Cantrik Janaloka. Semanten ugi ing kethoprak lan dhagelan. Ing ISI (Institut Seni Indonesia) Jogja mulang dhagelan kangge kelengkapan mata kuliah teater. Pados guru dhagelan niku sakniki angel. Ora umum, ana guru kok dhagelan.

Mbah Guno masih mengajar di ISI (Institud Seni Indonesia, JC.) ya?

Benar. Saya dulu sering sekali ikut teater Asdrafi (Akademi Seni Drama dan Film) Yogyakarta pimpinan Sri Murtono. Saya ini orang Panggung, sering main wayang orang. Di wayang orang saya sering mendapat peran sebagai Petruk dan Cantrik Janaloka. Begitu juga di kethoprak dan lawakan. Di ISI Yogyakarta saya mengajar dhagelan untuk kelengkapan mata kuliah teater.

Mencari guru dhagelan itu sekarang susah. Tidak lazim, guru kok dhagelan. Guru dagelan itu modalnya harus cerdas, kalau tidak mana mungkin bisa. Pikirannya harus berisi humor setiap saat dan bisa membuat orang tertawa.

Meski umur saya sudah 78 tahun, tetapi belum pikun. Masih bisa nyanyi, nembang, keroncong stambulan, dan seriosa. Malah saya kenal dengan “Walang Kekek” Waljinah penyanyi keroncong Solo. Sebagai pelawak saya harus memiliki bahan yang banyak; bisa jadi aktor wayang wong, dhalang, dan pengrawit. Kaya perbendaharaan kalimat dan kata.

(Meski begitu) hidup sebagai pelawak itu sekarang susah. Sebab sekarang penonton banyak yang pintar melucu. Malah pernah ada yang bisa membuat pelawaknya tertawa. Aneh, kan? Kalau melawak isinya hanya mengambil dari lawakan orang lain bakal ketahuan, waduh seperti apa malunya.

Mbah Guno pernah jadi pedalang?

Benar. Saya pernah belajar atau kursus dalang wayang kulit di Kraton Surakarta. Waktu itu gurunya KRT Dutadilogo, RW Atmocendono, dan RL Jogopradonggo. Tempatnya di SD Kasatriyan. KRT Dutadilogo mengajar teori pewayangan, KRT Armocendono sabetan atau jejeran, dan RL Jogopradonggo mengajar sulukan, yang kalau dijogja istilahnya lagon. Pendidikannya hanya satu tahun, dapat ijasah yang ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Mendiknas, JC) waktu itu. Jadi dalang juga mendapat ijasah. Setelah itu lalu pindah ke Yogya ikut perkumpulan wayang wong Gagrak Solo di Arena Budaya pimpinan Pak Sunarto dan langsung disuruh menjadi dalang wayang orang.

Jadi dalang itu harus menguasai gending dan tari. Waktu itu THR (Taman Hiburan Rakyat, JC) Yogya belum ada wayang orang. Paguyuban tari Gagrak Solo yang ada di Yogya ada empat: Langen Indria, Langen Beksa Wiromo, Puri Eka Budaya. Dan di wayang orang Tiong Hoa pimpinan Oh Wi Sun yang ada di Magelang saya juga ditunjuk menjadi dalangnya.

Sekeca dados dhalang menapa dhagelan? Kangge dhagelan racake sing nanggap remen kula ndhagel macak ngangge pantalon biru, dhasi, jas lan pecis. Benten kaliyan dados dhalang. Sisah sanget, sukune saged gringgingen melek sewengi. Sami-sami ongkose wekdal semanten HR dhalang wayang kulit Rp 300.000 lan dhagelan Rp 250.000. Kula nggih milih dhagelane, boten repot. Jalaran dhalang kedah ndhatengaken gamelan, sindhen, wayang kulit, lsp.

Mana lebih enak, menjadi dalang atau pelawak?

Untuk menjadi pelawak biasanya yang menanggap senang kalau saya memakai kostum pantalon biru, berdasi, berjas dan memakai peci. Beda dengan menjadi dalang. Susah sekali, kaki bisa kesemutan karena begadang semalaman. Karena itu sama-sama honor waktu itu menjadi dalang wayang kulit Rp 300.000 dan pelawak Rp 200.000, saya ya milih menjadi pelawak. Tidak repot. Sebab kalau mendalang harus mendatangkan gamelan, sinden, wayang kulit, dan sebagainya.

Selama saya menjadi pelawak, murid saya sudah banyak. Yang ada di Jakarta seperti Edy Sud, Bagio, Iskak, dan Drs. Sunarto. Malah waktu itu saya bikin grup Trio SGM (Sunarto, Guna, Murtadi) dan pernah dishooting TVRI Yogyakarta.

Selain menjadi pelawak saya juga merangkap menjadi MC berbahasa Jawa yang kalau pas kosong diisi dengan lawakan. Selain itu saya juga senang memberi kursus pranata adicara (MC juga cuma bahasanya Jawa, JC) se-DIY serta membuka penyembuhan tradisional alternatif supranatural untuk orang yang sakit maag, jantung, ginjel, liver, dan asma.

Sebagai orang Jawa saya punya tanggung jawab sebagai pengawal, pengawas, dan penjaga bahasa Jawa. Dan konskuensinya kalau ada penyiar radio yang salah menggunakan kalimat atau kata Jawa, langsung saya telepon. Gara-gara ini saya sering mendapat undangan kalau ada seminar atau sarasehan. Karena sekarang ini banyak orang salah menggunakan bahasa Jawa.

Nanti Konggres Basa jawa IV di Semarang saya akan mengusulkan tentang tatanan Hanacaraka dengan cara yang berbeda. Dialoritik tanda E dihilangkan seperti kata gendheng dan gendheng tulisannya sama tetapi artinya berbeda karena tanda itu tidak ada di mesin ketik atau komputer. Gendheng bisa berarti orang gila atau stress, dan bisa juga berarti atap rumah.(R. Dwi S. JB)

Ludruk

Monday, July 17th, 2006

Beberapa definisi tentang ludruk

Seni ludruk merupakan seni rakyat tradisional yang banyak digemari masyarakat. Pertunjukan ini merupakan semacam teater rakyat yang membawa cerita-cerita: Balada kepahlawanan misalnya Sawunggaling, Trunodjojo, Tragedi yang berupa persitiwa yang menyedihkan misalnya cerita: Branjang Kawat, Sarip Tambakyoso, atau cerita yang bersifat komedi. Pada dasarnya pertunjukan ludruk merupakan perpaduan dari seni panggung dengan operette (sandiwara yang sebagian besar dialognya dilagukan). Dalam ludruk nyanyian yang didendangkan disebut Gendingan Jula-juli. Bentuknya menyerupai pantun yang biasa disebut parikan. Isinya berupa nasehat, sindiran atau sketsa masyarakat yang berbau kritik (biasanya kritik sosial). Dibawakan oleh pelawak yang dinyanyikan atau didendangkan secara humoris, diiringi oleh gamelan.

Sumber: http://www.petra.ac.id/

*** 

 

Ludruk adalah seni panggung yang berasal dari Jawa Timur. Awalnya, Ludruk muncul dari kesenian rakyat, Besutan. Seni Besutan dulunya dipentaskan di jalan raya dan ditonton oleh orang banyak.

Ludruk telah menyebar ke seluruh pelosok Jawa Timur yang berbudaya Arekan, mulai dari Jombang hingga Jember.

Ludruk berbeda dengan kethopra, karena ludruk bercerita tentang kehidupan sehari-hari dan terkadang bercerita tentang situasi yang sedang terjadi saat ini seperti apa yang sedang terjadi di pemerintaha. Biasanya ludruk dibuka dengan tandhakan (tarian) seperti Tari Ngremo, atau beskalan Putri untuk ludruk gaya Malang. Pembukaan pertunjukan ludruk biasanya diisi dengan parikan (tembang) yang isinya merespon situasi yang sedang hangat di masyarakat.

Dialog dalam ludruk biasanya menggunakan dialek Surabaya (Suroboyoan), sedangkan untuk ludruk di Probolinggo, Lumajang, dan Jember menggunakan bahasa Madura.

Salah satu tokoh ludruk yang protagonis dan terkenal adalah tokoh Jawara dari Madura bernama Sakera.

Sumber: Wikipedia

***

Ludruk, merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Pementasan ludruk Dapat disaksikan di hari tertentu di Surabaya Mall People Ammucement Park (THR) Jl.Kusuma Bangsa 110 atau Taman Budaya Cak Durasim Jl.Genteng Kali Jam 20.00 - 24.00 WIB.

Sumber: Situs Pemerintahan Surabaya 

***

Seni Komedi Milik Sendiri

Saturday, July 15th, 2006

LODROK 1

Sumber: Situs Pemerintah Sumenep | Sabtu, 11 Februari 2006 pukul 21:42 wib.

Lodrok adalah pertunjukan teater musikal tanpa topeng dan saat ini sangat populer di daerah Sumenep. Terminologi yang digunakan berubah–ubah. Ia berasal dari bahasa Jawa yang diserap oleh bahasa Indonesia. Bentuk pertunjukan itu disebut dua istilah yang berasal dari jawa: Ludruk dan Kethoprak.

Di Jawa istilah “kethoprak” saat ini mengacu pada suatu jenis pertunjukan teater musikal tanpa topeng, yang menampilkan gabungan narasi dan nyanyian. Temanya biasanya berdasarkan cerita tentang pahlawan lokal atau legenda. Pertunjukan itu tampil dengan pemain berbusana jawa lama dengan iringan musik gamelan. Rombongan terdiri dari gabungan pemain laki – laki dan perempuan. Namun saat ini tidak lagi menampilkan pemain laki–laki dan perempuan, tetapi semua pemainnya laki–laki.

Kethoprak terdapat di seluruh pulau Jawa, tetapi konon berasal dari Jawa Tengah. Menurut suatu hipotesis asal–usulnya adalah raket, yaitu sejenis pertunjukan pendek tanpa topeng yang pada mulanya berdasarkan nyanyian dan tarian sewaktu menumbuk padi, kemudian kira – kira abad ke-14 dijadikan tarian keraton. Pada akhir abad ke-19 , kethoprak muncul sebagai genre pertunjukan teater tersendiri. Di dalamnya terkandung dongeng rakyat dan legenda kuno, pelawak serta gagasan awal cukup besar dari pewayangan, terutama pada tripologi tokoh di dalam tiga golongan, yaitu dewa leluhur, bangsawan, dan pelawak–pelayan.

Pada dasawarsa–dasawarsa pertama abad ke-20 kethoprak dipengaruhi oleh komedi stambul, yaitu suatu bentuk pertunjukan yang memperlihatkan ciri gabungan dari pengaruh eropa, timur tengah dan malaysia serta dari wayang orang dan akhirnya dari seni film. Kethoprak kini dianggap sebagai sejenis pertunjukan “ teater rakyat “.

Menurut sebagian besar penulis istilah “ kethoprak “ diperkirakan berasal dari tiruan bunyi “ prak – prak “ tiruan lesung . selain itu istilah itu diperkirakan terkait dengan istilah “ ketok “ ataupun istilah “ keprak “ sejenis kentongan kayu bercelah yang diperkirakan berasal dari lesung danyang digunakan sebagai pemberi isyarat dalam berbagai pertunjukan tari dan teater.

Lodruk, teater musikal tanpa topeng. Hanya terdapat di daerah Jawa Timur dan berasal dari Surabaya. Ia berasal dari badoot dan ludrug, yakni tari duet yang salah satu penarinya berbusana perempuan ( dan terbukti pada akhir abad ke-19) , yang berasal dari suatu tari duet banci laki – laki yang disebut “ lerok” . dalam bahasa Indonesia modern istilah badut berarti pelawak. Di dalam bahasa Madura luddruk atau loddrok berarti “ tukang lelucon atau pelawak “, dan mengacu pada con lelucon atau punakawan, dagel . Istilah – istilah tersebut menekankan pentingnya unsur jenaka didalam kemunculan jenis teater itu.

Setiap pertunjukan ludruk memperlihatkan baik unsur kebudayaan tradisional jawa dan Madura maupun tema modern nasionalis–komunis–Indonesia. Pertunjukan itu diiringi oleh gamelan dan sebagian dengan keroncong. Genre pertunjukan itu, yang bukan hanya dipentaskan dan dotonton oleh rakyat jelata dari daerah perkotaan tetapi juga dari daerah pedesaan, senantiasa tersangkut did alam pergolakan awal abad ke–20 (perjuangan kemerdekaan, penduduk jepang, Revolusi). Dan bersifat satiris tentang keadaan politik dan sosial. Pada tahun 1965 perkembanan ludruk itu terhenti secara mendadak dengan peralihan kekuasaan (dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto) yang disusul dengan pembersihan politik yang besar. Dewasa ini, sejak kira–kira sepuluh tahun terakhir, rombongan ludruk dibentuk kembali di bawah pengawasan ketat dari dinas intelejen. Meskipun pada awalnya rombongan itu hanya terdiri dari pemain laki – laki, kini perempuan ditampilkan juga.

Istilah lain adalah adjing (ajhing) yaitu genre drama Madura yang paling awal, yang konon mendahului lodrok di Madura. Paling Tidak di derah Sumenep. Ada juga “pandjhak” atau “nadjagha” (Bangkalan, Pamekasan) yaitu rekan sepermainan di dalam pertunjukan topeng, di dalam “Salabadhan” atau “Podjhijan. Istilah lain yang terkait dengan kegiatan musikal yang bersifat parodi dan ritual adalah semprong ; menyangkut pelawak atau perangkat gong dari bambu yang mengiringi mereka pada acara “Salabadhan”.

Keberadaan adjing di Madura (disebut ajing di Bangkalan, pojian di Pamekasan, salabadhan di Sumenep ) yang berbeda dari apa yang dikatakan oleh rombongan daerah Sumenep sebagai ajhing yang telah mereka kenal atau pentaskan. Ajing itu adalah suatu pertunjukan yang bersifat “doa pembawa kebaikan keagamaan “ yang dimainkan oleh sekelompok laki–laki dan diiringi oleh orkes Saronen secara berturut–turut dipentaskan “tari Baladewa“, “tari randing“, diikuti dagelan tentang kehidupan sehari–hari dan adegan yang dipetik dari kisah seribu Satu Malam.

Beberapa keterangan tentang sejarah dan perkembangan rombongan ajhing di beberapa daerah. Di kecamatan Ambunten Sumenep sebuah rombongan ajhing atau semprong masih berpentas pada upacara ritual tertentu (rokat) diiringi oleh orkes Saronen. Menurut informasi, pada waktu itu ceritanya mengandung banyak lelucon dan tidak menyebutkan kerjaan apapun. Yang muncul pertama adalah tokoh Cuntrot. Berebusana celana dan kemeja lengan pendek, dia memakai selendang di leher, sebuah keris disisipkan dibelakang pundaknya; kaca mata hitam dan berkumis. Dia berjalan santai tanpa topi, diiringi gendhing pancal bereng. Selesai mengelilingi pentas tiga kali, dia kembali ketempat persiapan pemain. Busananya biasa saja, seperti pakaian sehari–hari; songkok beledu, celana dan baju untuk laki–laki, kain batik, kain kebaya, dan tutup kepala menerawang (tanpa sanggul Jawa) untuk perempuan. Satu–satunya hiasan untuk fantasi adalah sebuah bando yang disisipi bulu ayam dan kaca mata kehitam–hitaman, yang dikenakan oleh tokoh raja, ratu dan patih. Para pemuda memakai sebuah penjhung, yaitu sejenis selendang yang dijadikan ikat kepala dengan ujungnya terkulai disebelah kanan. Sebelum tahun 60-an , ajhing tampil tanpa panggung yang sebenarnya dan hanya dengan sehelai tirai latar belakang saja. Tanpa menarik biaya masuk, tetapi berpentas atas dasar undangan ketika ada pesta atau upacara pribadi. Pada awalnya rombongan itu hadir tanpa nama khusus .

Ludruk Madura diilhami unsur dagelan ajhing lama; permainan kata, mimik, gerak badan, serta wajah berias, warna hitam dan putih. Pelayan–pelayan tidak memotong percakapan tokoh utama dan sebagian besar adegan lucu mereka bersifat visual atau kial: kaps di lubang hidung yang bergerak ketika tokoh bernafas, satu lengan kemeja yang dibiarkan melambai tidak dipakai dan sebagainya. Raja tidak boleh merayu perempuan dan langsung naik panggung tanpa menari. Sebaliknya, para patih (pate) dari dulu selalu menari, dan berdiri ketika raja masuk, sebelum duduk kembali. Tahap berikutnya adalah ludruk sandiwara : patih pada waktu memakai perhiasan pergelangan tangan dan leher seperti di dalam busana keraton Jawa, tanpa tutup kepala, dan panggung sudah lengkap dengan tiga kain sebagai Background. Terakhir muncul ludruk–kethoprak pada tahun 70 – an . Pada saat itu, nama ludruk harus dirubah menjadi “ kethoprak “ supaya cocok dengan keadaan yang berlaku di Jawa. Dan Bahkan cerita harus disusun oleh para guru atau pegawai.

Ajhing juga merupakan “ritus lama” (slameddhan kona) yang diselenggarakan di makam keramat. Acaranya terdiri dari satu Ghambu yang ditarikan oleh dua orang penari laki–laki dan satu orang tarian ronggeng yang ditarikan oleh dua laki–laki berbusana perempuan. Seorang laki–laki berkaca mata hitam dan bersongkok, sambil menyandang tas, berjalan mengelilingi sebuah meja berisi sesajen 9 rasol) sambil terus berbicara dan bergurau. Para tokoh adegan yang menyusul adalah: Tuan (hampir pasti orang belanda), Pasoro Opas (pesuruh tuan di atas), Raden Abupati (bhupate) , Konieran (pelawak dan pasoro papate–pesuruh patih), dua dhinraddhin (raden) , dua ronggeng ( penari perempuan ) serta mantre tandhang ( juru tari ). Di kantornya, tuan tampak duduk , berdiri lalu memanggil pesuruhnya; mantre tandhang masuk lalu keluar; Raden Abupati lalu masuk ke kantor menari dan ke luar. Muncul para ronggeng, menari dan keluar sambil mengambil sesajen di meja; Tuan dan pesuruhnya lalu makan sisa sesajen di atas panggung sebelum keluar. Ghambhu memainkan peran sebagai pegawai Tuan dan Ronggeng sebagai pembantunya. Bentuk ajhing itu mirip slempangan yang mengejek serdadu yang telah mendaftar sebagai tentara Belanda maupun Belanda itu sendiri.

Pertunjukan yang disebut ronding atau saronen di Madura hanya merupakan sebagian pertunjukan ajhing lengkap. Perbedaan antara Lodrok dan kethoprak terutama tampak pada busana ; didalam loddrok , raja mengenakan baju berlengan panjang ; di dalam kethoprak , mereka bertelanjang dada dan hanya mengenakan berbagai perhiasan.

Di kalianget Barat , ajhing perempuan berkaca mata gelap dan mengenakan sejenis cadar. Pada saat bernyanyi ( ngejhung ) , mereka menutup mulut dengan sapu tangan karena malu ( todus ). Akan tetapi hal itu tidak laku di hadapan penonton, maka pertunjukan di ubah menjadi seperti yang ada sekarang.

Friday, May 12th, 2006

Sumber: Kompas | 12 Mei 2006

MALANG, KOMPAS - Materi cerita, komedi, dan banyak elemen dari pertunjukan teater tradisional ludruk sangat layak untuk diolah dan dijadikan materi tayangan, seperti Bajaj Bajuri. Melalui hal itu, ludruk berkesempatan untuk dihidupkan kembali.

Gagasan tersebut muncul pada sarasehan “Revitalisasi Ludruk” yang diselenggarakan Padepokan Sastra Tantular bekerja sama dengan Paguyuban Organisasi Ludruk Malang (Polma), Kamis (11/5). Terkait dengan hal itu, sebuah rumah produksi sedang mempelajari cara membawa ludruk ke pentas elektronik di Jakarta dan melakukan riset di Malang.

Pembicara dalam sarasehan itu adalah pengkaji ludruk Henricus Supriyanto; manajer rumah produksi di Jakarta, Iwan Subingar; sutradara serial sinetron Indra Tirtana; pemimpin grup ludruk Amin Sahara; dan pengurus Polma, Udin Jaenuri.

Menurut Iwan, bisnis rumah produksi dan tayangan televisi senantiasa haus dengan materi tayangan yang baru. Ludruk termasuk wilayah yang belum banyak dirambah, meski selama ini stasiun televisi, seperti TVRI, dan media lokal sudah banyak menjualnya.

“Ludruk dalam kemasan yang direka sebagai tayangan dengan rating tinggi belum banyak dilakukan. Misalnya, Ketoprak Humor yang pada masa jayanya bisa mencapai rating 4,3 dari angka tertinggi 12,” tutur Indra.

Iwan berpendapat, ludruk harus mengubah diri untuk beradaptasi dengan kebutuhan pasar. “Bukan sekadar mencari point of view dari ludruk, melainkan juga mencari point of sale. Misalnya, dengan perbaikan teknik panggung, aktualisasi cerita, serta kehadiran bintang tamu untuk menyedot perhatian pemirsa,” kata Iwan.

Henri menyatakan, usaha membawa ludruk ke panggung televisi selama ini tidak mendapat hasil yang memadai meski dalam satu dekade terakhir usaha ke arah itu dilakukan.

“Hal yang dibutuhkan bukan sekadar usaha membawa ludruk ke tayangan televisi, melainkan usaha menjadikan ludruk bersinggungan dengan bisnis televisi secara luas. Seperti yang dialami oleh lenong Betawi dengan bisnis pertelevisian yang menghasilkan varian paling mutakhir, yakni tayangan Bajaj Bajuri,” ujar Henri. (ODY)

Surabaya

Wednesday, May 14th, 2003

 

Sumber: Kompas | Rabu 14 Mei 2003

KETIKA ontran-ontran di pucuk pimpinan Kota Surabaya yang sempat memprihatinkan warganya itu sirna, maka ada baiknya cerita itu diserahkan kepada para pemain ludruk saja. Dengan demikian para pemimpin itu bisa berkonsentrasi memikirkan rakyatnya dan memberikan kesempatan kelompok ludruk untuk maju berkembang.

SEPERTI dalam rangka perayaan hari jadi ke-710 Kota Surabaya mereka menanggap ludruk yang selama ini luput dari perhatian sang penguasa kota. Tanggapan ini bukan lagi ludruk tertentu saja, melainkan berupa gelaran festival ludruk yang dilangsungkan di Gedung Ketoprak, Kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.

Sebuah kegiatan yang berprospek karena sang Wali Kota Bambang DH sudah mulai merealisasikan gagasan memikirkan para senimannya. Termasuk di antaranya adalah gelar pameran lukisan di Balai Kota yang sudah dimulai sebelumnya.

Gelar festival ludruk ini tak hanya terbatas hiburan untuk penggemar ludruk, justru makna yang tersirat bagaimana komunitas seniman ludruk mampu menangkap perubahan zaman. Ini berarti pula, seniman ludruk mau tidak mau harus lebih cerdas dan kreatif memaknai kesenian ludruk di tengah-tengah perubahan zaman itu sendiri.

“Bagaimanapun masyarakat ludruk sendiri yang harus memiliki kesadaran membangun sumber daya manusianya, sehingga keberadaannya tidak terpinggirkan,” kata Heri Lentho Prasetyo, seniman tari yang ikut menyaksikan gelaran festival ludruk di Gedung Ketoprak, THR Surabaya.

Heri mencontohkan, kesenian tradisi wayang kulit yang sampai sekarang ini tidak hanya sekadar bertahan hidup, tetapi bahkan digemari warga masyarakat secara luas. Tentu ini juga karena adanya upaya untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

“Wayang kulit bisa survive, ya karena senimannya kreatif. Jadi, kalau ludruk tidak ingin dipinggirkan, ya senimannya harus cerdas dan kreatif,” ujarnya.

FESTIVAL ludruk yang dikemas oleh Dinas Pariwisata Kota Surabaya bekerja sama dengan panitia festival ludruk se-Surabaya ini diikuti tujuh grup ludruk masing-masing ludruk Mega Budaya, Orjag, Fajar Budaya, Irama Budaya, Setia Budi Jaya, Gema Tribrata dan ludruk Universitas Adi Buana Surabaya.

Sesuai agenda, festival ludruk ini berlangsung selama dua hari, Senin dan Selasa (12-13/5). Pada hari Senin malam, gelaran ludruk ini diawali dengan tampilan grup ludruk Mega Budaya yang sehari-harinya nobong di Pulo Wonokromo.

Komunitas ludruk tobong ini mengusung cerita Warisan Leluhur. Setelah tampilan ludruk dari kawasan Wonokromo itu, menyusul penampilan ludruk Orjag (Orang Jagir-Red) dengan cerita Tragedi Metropolis.

Sebelum masuk pada babakan cerita, grup ludruk dari Jagir ini pun tak meninggalkan pakem ludruk dengan tari remonya dengan kidungan atau parikannya yang khas ludrukan.

Suguhan seniman ludruk Orjag ini masih terkesan sederhana, terlebih tatkala friksi-friksi dari konflik yang hendak mereka bangun berkutat pada ruang dialog yang tak sampai pada tataran ekspresif-eksploratif.

Seperti yang mereka ceritakan, Marjoko, seorang lelaki ganteng agak sombong, anak orang kaya dan terhormat yang sudah empat tahun menjalin kisah cinta dengan Suryani menampik kehendak sang pacar agar segera dinikahinya.

Dengan kesombongannya sebagai anak orang kaya, Marjoko memutuskan hubungan cinta dengan imbalan uang Rp 100.000. Sebagai perempuan, Suryani pun marah dan melemparkan selembar uang kertas itu ke lantai. Kemudian, Marjoko yang sombong dan sok ganteng itu pun membalasnya dengan tamparan ke wajah sang pacarnya.

Suryani, anak gadis keluarga almarhum Karman, lalu mengadukan perlakuan kasar Marjoko kepada kakaknya, Parman. Sontak, darah Parman pun mendidih karena tidak terima atas perlakuan kasar Marjoko kepada adiknya itu.

Adu jotos pun tak terelakkan antara Parman cs dan Marjoko cs. Adegan berantem ini sudah menjadi bagian dari panggung ludruk karena tak pernah lepas dari adegan laga sebagaimana pada kesenian tradisi ketoprak.

Cerita ini berakhir dengan amat sederhana pula, tatkala Parman dan Suryani mendatangi keluarga Marjoko. Akhirnya keduanya pun bersatu kembali.

SELANJUTNYA giliran grup ludruk Fajar Budaya dari Kalijudan sebagai penampil ketiga (terakhir) pada hari pertama gelaran festival. Grup ludruk dari Kalijudan ini mengangkat cerita Pendekar dari Gunung Kumitir.

Seperti halnya kedua grup ludruk sebelumnya, ludruk Fajar Budaya ini pun mengawali pementasan dengan tari remo dan kidungan Suroboyo. Kidungan yang mereka suguhkan pun tak jauh berbeda dengan sajian kedua penampil sebelumnya, yakni bermuatan pesan sponsor kepariwisataan.

“Jawa Timur indah dan nyaman, akeh turis sing podo kerasan”. Penggalan kudungan ini adalah bagian dari pesan sponsor yang tertangkap penonton yang memenuhi sebagian besar kursi.

Kidungan ataupun parikan yang kerapkali dipenuhi kecerdasan olah rasa sekaligus olah pikir seniman ludruk, nyaris tak terdengar. Terkecuali ketika seorang seniman (pengidung-Red) sekaligus pelawak dari komunitas Fajar Budaya sedikit cerdas mengungkapkan realitas keboborokan di negeri ini dengan parikannya yang menyentil bahwa hukum harus ditegakkan dan penegakan hukum harus tegas dan tegas!

Kisah kepahlawan termasuk kependekaran adalah bagian yang masih mengental pada kesenian ludruk. Karena itu pula, tak ayal jika sebagian besar penonton yang menyaksikan suguhan dari komunitas ludruk Fajar Budaya menyambutnya dengan gegap gempita tepuk tangan.

Mengenai festival ludruk ini, Didik Mangkuprojo, salah seorang seniman pelawak berkomentar, “Memang bagus ada festival, tapi bagaimana kelanjutannya,” katanya. (TIF)