Posts Tagged ‘komedian’

Jarwo Kwat Tidak Ditahan

Monday, January 7th, 2008

Sumber: Tempo Interaktif | Senin, 07 Januari 2008 | 20:13 WIB

TEMPO Interaktif, Tangerangb>:
Kejaksaan Negeri Tangerang memutuskan tidak menahan Jarwo Kwat, “Wakil Presiden Republik Mimpi”. “Setelah rapat dengan tim, tidak dilakukan penahanan,” ujar Godang Riyadi Siregar, Kepala Kejaksaan Negeri Tangerang malam ini.

Godang mengemukakan Jarwo tidak ditahan atas pertimbangan surat penangguhan penahanan dari Jarwo, keluarga dan 29 artis komedi.

Namun, kata dia, penanganan perkara tetap dilanjutkan ke persidangan dan harus tuntas. Kejaksaan tidak akan ikut campur jika ada penyelesaian dari pihak terkait saat kasus ini sedang berjalan. “Tapi proses hukum tetap berjalan,” ucap Godang. Dia yakin, Jarwo tidak akan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti.

Jarwo Kwat dengan penuh haru dan sambil terisak mengatakan terima kasih untuk semua yang sudah mendukungnya. “Terima kasih untuk semua teman-teman, keluarga dan seluruh masyarakat Indonesia, saya minta maaf,” katanya sambil terisak.

Jarwo yang didampingi tim dari Republik Mimpi dan Persatuan Kesenian Komedi Indonesia tidak memberikan keterangan apapun terkait kasus ini.

Joniansyah | Ayu Cipta

Kini Lebih Banyak Syuting Sinetron

Tuesday, May 29th, 2007
Sumber: Kedaulatan Rakyat | 29 May 2007

PELAWAK kondang Timbul kini tak begitu banyak muncul dalam panggung Srimulat. Kegiatan yang saat ini sedang digeluti, selain pentas keliling di berbagai kota bersama artis Sido Muncul juga lebih banyak ikut beberapa produksi syuting sinetron.

Diakui, untuk pentas order lawak dan seni tradisi juga tetap dilakoni. Hanya saja, karena waktunya lebih banyak untuk syuting sinetron order pentas lawak terbatas. “Syuting sinetron lebih banyak menyita waktu dan tenaga. Karena itu, harus bisa bagi waktu agar semua bisa berjalan lancar,” ujar Timbul, kepada KR, sebelum naik panggung menyemarakkan acara Gelar Budaya Jogja Bangkit 2007, di halaman TVRI Yogya, Sabtu malam (26/5).

Dia mengatakan, sebagai pelawak berangkat dari seni tradisi masih tetap konsisten mempunyai kegelisahan untuk melestarikan dan mengembangkan sesuai tuntutan zaman. Dalam membuat pentas lawak dan ketoprak dalam penyajiannya diperlukan kemasan inovatif, namun tetap berpijak pada pakem. “Misalnya, Saya dulu ketika ikut membikin ketoprak humor mampu memikat masyarakat. Hanya saja, dalam membuat tontonan tradisi yang dikemas inovatif membutuhkan konsep penyajian matang dan kreativitas. Selain itu, pemain yang dipandang mampu mendukung konsep penyajiannya. Yang lebih penting, perlu kebersamaan saling mendukung mulai dari sutradara, pemusik, pemain, kru artistik, lampu dan tim kreatif produksi,” ujar Timbul. Keinginan Timbul yang belum dapat terwujud membangun kebersamaan rasa guyub antar seniman tradisi terdiri pelawak, seniman ketoprak dan seniman tradisi lainnya. (Cil)-d.

Lahir Akibat Ortu Main Plesetan

Tuesday, May 15th, 2007

Sumber: Kedaulatan Rakyat | 15 May 2007


SEKARANG baru saja musim reshuffle tiba, saya sudah dapat jatah jadi ‘Menteri Plesetan Indonesia’, demikian candaan diungkapan Ucup Kelik Pelipur Lara yang karuan disambut tawa pengunjung yang memadati ruang talkshow di Pascallis Hall Purwokerto, Kamis belum lama ini. Kelik yang saat itu diundang sebagai pembicara dalam acara Bursa Buku 2007. Berbarengan itu Kelik meluncurkan buku plesetannya yang berjudul ‘Plesetan Republik Indonesia, Gerr Sama Wapres Ucup Kelik’.

Menanggapi dari beberapa penanya tentang humor sekarang yang cenderung mengarah kepada pornografi, Kelik berpendapat tidak semua pelawak selalu menggunakan humor-humor jorok. Dia juga menuturkan memang humor seperti ini sangat mudah memancing tawa tapi kalau terlalu vulgar humor semacam ini akan menjadi memuakkan. “Saya tidak munafik kalau banyak banyolan atau plesetan saya mengarah ke hal begituan (porno-red) tapi saya pilah dengan menggunakan kata yang umum dan tidak terlalu vulgar,” kata bujangan hitam manis ini.

Menurutnya, dia juga lebih menitikberatkan pada plesetan yang sejak lama dia gunakan untuk melawak. Baginya plesetan merupakan cara yang cukup tepat untuk mengekspresikan diri dalam guyonnya untuk menyikapi keadaan di sekitarnya. “Plesetan kata dan guyonan saya melihat kondisi yang terjadi di lapangan. Terutama saat ada isu hangat, langsung saya buat plesetannya,” kata lelaki yang bernama asli R Kelik Sumarwoto ini.

Keberhasilan Kelik hingga menjadi komedian cerdas lantaran sejak kecil tercipta dari dunia plesetan, maksudnya akibat ibu-bapaknya main plesetan. Karuan candanya disambut gerr pengunjung. (Ero)-g.

Data Komedian Indonesia [updated]

Tuesday, July 25th, 2006

Salam Humor,

Jojon Center menyampaikan duka cita kepada korban Gempa dan Tsunami yang melanda warga Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Semoga amal ibadahnya diterima di sisiNya. Dan buat yang selamat, mari kita tetap waspada.

Berikut ini adalah pembaharuan data sementara komedian dan grup lawak di Indonesia. Data terbaru kami beri warna hijau. Data ini akan selalu kami perbarui. Kami juga sangat membutuhkan bantuan Anda untuk turut melengkapi data-data ini.

Catatan:

Berdasar masukan-masukan Anda, mulai 15 Maret 2006 kami mengubah materi Data Komedian Indonesia dengan membagi antara data grup komedi dan komediannya. Terus terang susah juga mengumpulkan data-data grup dan anggotanya. Jadi kami mohon dengan hormat kesediaan Anda untuk membantu kami mengumpulkan data. Silahkan menghubungi kami di jojon.center@gmail.com atau 081931190424 (sementara ini baru bisa terima sms saja).

Keterangan Singkatan:

API: Audisi Pelawak TPI, ABG: Audisi Band Gelo, Alm.: Almarhum/almarhumah

Grup

#
69

A
Arboyo API
Aurat Sarat (Band)

B
Bagito
Bagio Cs. Grup
Bioss Op ABG (Jakarta)
Bajaj

C
Cagur

D
D’Bodors
Dagelan Mataram
Demimor (Jakarta)
D’KabayanD’Kabayan

E
Elbeha
Empat Sekawan

F

G
Geng Kobra (Band | Yogyakarta)
Glopot API
Gama (Yogyakarta)
Geblesan (Banyumas)
Gado-gado ABG (Cilacap)
Gaya Tho Band ABG (Malang)

H
Hoki API

I

J
Jayakarta Grup
Jamal Cs (Medan)

K

Kasas API
Kondo API
Kekel (Medan)
Koreo (Jakarta)
Kosan API (Jakarta)
Kaos (Surabaya)
Kocori ABG (Yogyakarta)
Kuch Kuch Hota Hae (Surabaya)

L
Limau API
LAS (Medan)

M
Mboys (Yogyakarta)
Markus (Bandung)

N
Ngelantur API
Nyahnyah API (Riau)
Nyiur Melambai (Band)

P
Patrio
Pancaran Sinar Petromax (Band| PSP)
Padhyangan Project (Band | Bandung)
Project Pop (Band | Bandung)
Plat AB (Yogyakarta)
Padat Karya (Band | Solo)
Pecas nDahe (Band | Solo)
Pengantar Minum Racun (Band | PMR)
Penyot Sexy (Jakarta)
Produk Gagal (Yogyakarta)
Puan (Riau)
Pemuda Harapan Bangsa (PHD)
Pembela Kebenaran (Bandung)
POP ABG (Jakarta)

Q

R
Rajasusujahe (Band)

S
Srimulat
SOS
SQL
Sastromoeni (Band | Yogyakarta)
Suku Apakah (Band | Solo)
Seboel alm.
Segitiga Pengaman ABG (Bandung)
Sepoy-sepoy ABG (Yogyakarta)

T
Trio EBI alm.
Tomtam
Tape Ketan ABG (Jember)
Teamlo (Band | Solo)
Tomtam
Tjap Tugu Pahlawan (Surabaya)
Tolbing (Parto dkk.)

U
Urban (Bandung)

V

W
Warkop DKI
Wong Pitoe (Band | Solo)
Wahaha ABG (Pontianak)

X

Y

Z

Pelawak

A
Abah Us Us
Akri Patrio
Atik, Mpok
Aming Sugandi
Arwah Setiawan
Asmuni
Ateng alm.
Anya Dwinov
Asti Ananta
Abidin Domba
Aden Bajaj
Ali Zainal Abidin (Ali Limau)
Aom Kusman
Aldo Iwak Kebo (Yogyakarta)
Asep Sunandar Sunarya
Afit (Jamal Cs)
Atmonadi
Abrar (Nyahnyah)
Alim (Kekel)
Aida (Demimor)
Abdul (Ngelenong Nyok)

B
Basiyo alm. Yogyakarta
Bagiyo alm.
Bagiyo (partner Kirun)
Basuki
Bambang alm. Srimulat
Bambang Haryanto
Benyamin Sueb alm.
Bing Slamet alm.
Bedu
Betet
Bendot alm. (Srimulat)
Bolot, H
Bodong, H (lenong Betawi)
Beruk, Mbok (Yogyakarta)
Beni Kuncung (Yogyakarta)
Burhan (Pecas Ndahe)

C
Cici Tegal

D
Darto Helm alm.
Dono alm. | Warkop
Didik Nini Towok (Jogjakarta)
Didi Petet
Diran alm.
Dikin, Cak
Djudjuk Srimulat
Dedy “Miing” Gumelar (
Tubagus Dedy Gumilar) Bagito
Didin (
Tubagus Didin Pinasti) Bagito
Daan
Aria P Project
Derry 4 Sekawan
Deni Cagur
Deni (Wong Pitoe)
Dewo PLO (Yogyakarta)
Denny Chandra P Project
Doyok Srimulat
Dorce Gamalama
Dicky Candra
Dalijo (Yogyakarta)
Dibyo (Yogyakarta)
Deby Sahertian
Daryadi (Yogyakarta)
Darsono (Solo)
Didi (Jamal Cs)
Dera (Koreo)
Djuki (Dagelan Mataram)
David R (Mboys)
Doel Sumbing (Pecas Ndahe)

E
Edi Sud
Effendi Gazali
Engkus D’Bodor
Eman 4 Sekawan
Eko Patrio
Eko Srimulat
Engkus (
Uyan) D’Bodor
Ester
Elmi (Urban)
Emil (Pecas Ndahe)

F

Fani Fadila (Ucup Bajaj Bajuri)
Five-V
Fahmi (Nyahnyah)
Fahrul (Gama)
Faiq (Gama)
Firdaus
Farid (grupnya Reza Bukan)

G
Guno Susanto dari Jogjakarta
Gogon
Gito Yogyakarta
Gati Yogyakarta
Ginanjar 4 Sekawan
Gideon Grup
Gepeng alm.
Gareng Rakasiwi (Yogyakarta)
Gundi (Kondo | Yogyakarta)

H
Harry De Fretes
Helmy Harahap (LAS)Helby (Koreo)

I
Indro Warkop
Iwan Rajawali
Iszur Muchtar
P-Project
Ibing
Kusmayatna, Kang
Indra Safera alm.
Indra Birowo Extravaganza
Iskak alm.
IweL
Irfan Hakim
Iyang P Project
Isa Bajaj
Indra Dahfaldy (LAS)
I Bayu Priatno (Mboys)
Ipin (Kosan)

J
Jaya Suprana
Jimmy Gideon
Jojon
John Tralala (Banjarmasin)
Jatikusumo (personel Kuartet S)
Jamal API
Joned (Yogyakarta)
Junaidi alm. (Yogyakarta)
Joehana P Project
Jalal alm. (Madura)
Joni Gudel

K
Krisbiantoro
Kartolo (Surabaya)
Kasino alm. Warkop
Kirun
Karjo ACDC (Srimulat)
Kadir Srimulat
Kelik Pelipur Lara
Kiwil
Kubil
Komeng (
Alfiansyah)

L
Lesus
Lina (
Demimor)
Lina Puan
Lesmono

M
Malih
Mastur
Mamiek Slamet Srimulat
Mandra
Marwoto
Mat Solar (Nasrullah)
Misye Arsita
Mieke Amalia
Monox Limau (Sumono)
Mono (sering juga dipanggil Nomo)
Marsidah (Yogyakarta)
Memet
Melky Bajaj
Manyul/Topo (Yogyakarta)
Mang Diman (Badan Kesenian Angkatan Kesenian)

Mamay (Kosan)
Milko (Solo)

N
Nori, Mpok
Ngabdul (Yogyakarta)
Nunung Srimulat
Nurbuat Srimulat
Narji Cagur
Nani Widjaya
Noeroel (Pecas Ndahe)

O
Otong Lenong
Opie Kumis
Omaswati
Oon Project P
Odie Project P
Okki Lukman
Oni SOS
Ogi SOS
Ophe (Nyahnyah)
Ocha (Koreo)
Oyik (Kaos)

P
Parto Patrio (
Eddy Supono)
Polo
Paul alm. Srimulat
Pepeng
Pete Srimulat
Pretty Asmara
Pili Glopot
Pongge (Produk Gagal)
Putri (Demimor)
Pendhek (Pecas Ndahe)

Q
Qomar

R
Raswan Rajawali
Ranudikromo (Dagelan Mataram)
Rabies (Yogyakarta)
Ragil API
Ranto Edi Gudel (Solo)
Rieke Diah Pitaloka
Rini S Bonbon
Ronald Ekstravagansa
Rohana Srimulat
Roni Dozer Karli Extravaganza
Robi Tumewu
Rudi Ribut
Ria Irawan
Reggy Lawalata
Rudi Djamil (Solois Sunda)

Rifky (Kosan)

S
Sogi Indra Duaja Extravaganza
Setiawan Tiada Tara (Yogyakarta)
Sule SOS
Sol Saleh alm.
Subur alm. Srimulat

Sarpin (Dagelan Mataram)
Suparni (Dagelan Mataram)
Sofyan Hadi Waluyo alm. (Dagelan Mataram)
Suryana Fatah (D’Kabayan)

Suwanto (Gama)
Sukardi (Kaos)
Salim (Kekel)
Sion (Gideon)

T
Teguh Rahardjo (Pendiri Srimulat)
Timbul
Tile alm.
Tika Panggabean
Tessy (Kabul)
Tukul Arwana
Tesa Kaunang
Tike Priatna Kusuma Extravaganza
Tarsan
Taufik Savalas
Tora Sudiro Extravaganza
Trubus alm.
Tata Dado
Topan
Tompel
Tatang anak Gepeng
Tomo (Pecas Ndahe)
Tarida Gloria

U
Ulfa Dwiyanti
Udjo Project P
Unang ex. Bagito
U’uk alm. Jayakarta
Untung
Ucha Limau (M.Furqon)
Ucok Baba
Untung (Kekel)
Ucok (Kaos)

V
Vera Srimulat
Vera SQL
Virnie Ismail Extravaganza

W
Wak Iyah (Palembang)
Wendy Cagur
Wisben (Yogyakarta)
Wadino (a.k.a. Bandempo | Dagelan Mataram)
Wawan Hanura (P Project)
Wawan (Kondo | Yogyakarta)
Wanda (Urban)
Weka Adhi S. (Mboys)
Widi PuanWawa Sofyan (D’Kabayan)
Wisik (Pecas Ndahe)

Y

Yanto | Stock On You (meninggal Pebruari 2006)
Yati B29
Yati Pesek
Yossi Project P
Yulia Rahman
Yopi (Kondo | Yogyakarta)
Yeyen Puan
Yan Asmi (D’Bodor)
Yadi Sembako
Yoik (Pecas Ndahe)

Z
Zulfahmy Lubis (LAS)


Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mengirim data ke Jojon Center. Silahkan mengirim data ke jojon.center@gmail.com atau sms ke 081931190424.

Wawancara Indro Warkop Di Male Emporium

Saturday, June 24th, 2006

Bacaan Pria Berisi, Male Emporium (ME), mengumumkan wawancara mereka dengan Indro Warkop sebagai Man Of The Month 24/06/2006. Judulnya lumayan menggoda isinya juga menarik sebagai bahan buat belajar.

INDRO WARKOP: SAYA SUKA YANG TOMBOI DAN BERDADA BESAR…

rela menyingkirkan kepentingan pribadi demi sebuah kebersamaan. Mereka bisa memendam yang namanya kebencian, untuk mendapatkan hal yang baik. Bukan hanya untuk kepentingan nama WARKOP, melainkan juga memuaskan penggemar. Saya bilang ke anak-anak, Kalau kalian bisa seperti itu, Insya Allah kelak kalian enggak akan berani korupsi. Karena apa? Karena kalian selalu ingin membahagiakan orang, bukan menyengsarakan orang.

Indrodjojo Kusumonegoro, alias Indro, alias Joy, adalah satu-satunya anggota grup komedi WARKOP DKI yang masih tersisa. Setelah kepergian (Alm.) Kasino pada Desember 1997, karena penyakit kanker otak dan (Alm.) Dono pada 30 Desember 2001, karena kanker paru-paru, otomatis Indro kini harus berjuang sendiri untuk mengisi periuk nasinya.

“Alhamdulillah, Allah masih memberikan Indro WARKOP layak jual. Terbukti dari sinetron WARKOP yang saya bintangi sendiri punya rating dan sharing yang baik. Ternyata masih banyak orang yang sayang sama saya,” kata kelahiran 8 Mei 1958, putra tunggal dari pasangan (Alm.) R. Moch. Oemargatab dan (Alm.) R.Ay. Soeselia ini.

Indro berkisah, awalnya ia tidak pernah berkeinginan untuk jadi komedian. Ayahnya yang seorang perwira tinggi di kepolisian dan pernah menjabat sebagai Kepala DKPN (Dinas Pengawas Keselamatan Negara) serta Kepala Dewan Tanda Jasa dan Kehormatan Negara, membuat Indro kecil bercita-cita untuk mengikuti jejak sang ayah, jadi tentara atau polisi. Tapi ternyata, niat tersebut malah tidak direstui oleh ayahnya.

“Pada saat sakit, bapak malah kirim surat ke ibu yang isinya melarang saya jadi militer, apalagi jadi polisi. Alasan bapak, ia tidak mau melihat nantinya saya tergilas, apalagi sampai terbawa arus. Karena tidak direstui bapak, cita-cita saya jadi tentara akhirnya terbang,” kenang Sarjana Ekonomi dari Universitas Pancasila, yang ditinggal wafat sang ayah sejak masih berusia 9 tahun ini.

Tapi ketika akhirnya memutuskan menjadi komedian, Indro mengaku sempat juga merasa kurang percaya diri. Maklum saja, keluarga besarnya memang kebanyakan berprofesi sebagai militer, pejabat dan pengusaha, tidak ada yang berprofesi sebagai seorang entertainer seperti dirinya. Tapi sang ibu malah memberikan banyak dukungan.

“Ibu saya bilang, selama profesi saya tidak memberikan kemungkinan untuk korupsi dan merugikan orang lain, go a head!” cerita Indro.

Yang pasti dari dunia komedi, suami dari Nita Octobijanthi dan ayah tiga anak ini telah memperoleh popularitas dan materi. Bagaimana sosok Indro WARKOP yang sesungguhnya? Berikut wawancara panjang dan terbuka dengan pria pemilik hobi motor besar yang pernah aktif di kepramukaan dan sekaligus jadi Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas (Supeltas) tentang banyak hal. Termasuk, hal yang paling pribadi sekalipun.

Selain shooting sinetron, apa lagi kegiatan Anda sekarang?

Saya sekarang sedang fokus untuk mempersatukan anak-anaknya WARKOP. Ini demi kesenangan batin. Saya ingin mereka tahu bahwa bapak-bapak mereka adalah orang-orang yang bukan hanya memikirkan diri sendiri, melainkan juga orang lain. Sebagai contoh kasus, isi lawakan WARKOP tak jarang berisi sindiran terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat. Intinya, saya ingin dengan kebersamaan, anak-anak WARKOP juga bisa memikirkan nasib orang lain dengan apa pun yang mereka miliki. Nilai-nilai seperti itulah yang kini saya tanamkan pada anak-anak kami.

Maksudnya, Anda kini bertindak selaku ‘Bapak Asuh’ bagi anak-anak (Alm.) Kasino dan (Alm.) Dono?

Itu yang coba saya lakukan. Saya berusaha selalu memperhatikan mereka. Misalkan, ketika ada di antara anak Mas Dono atau Mas Kasino yang lagi ulangan atau ujian, saya akan telepon mereka. Awalnya memang ada kendala, terutama ketika saya melakukan pendekatan ke anak-anaknya Mas Dono. Bukannya apa-apa, anak-anak Mas Dono adalah tipe anak-anak rumahan, dan sejak dulu bahkan tidak pernah didekatkan kepada kami. Tapi, saya terus mencoba. Sayalah yang turun mendekati mereka. Toh sekarang anak-anak Mas Dono malah memanggil saya dengan sebutan bapak.

Saya juga bercerita pada anak-anak Mas Dono dan Mas Kasino, bahwa ayah mereka adalah manusia biasa yang bisa membedakan mana kepentingan bersama dan mana kepentingan pribadi. Contohnya, Mas Dono dan Mas Kasino pernah tiga tahun musuhan dan saling enggak ngomong. Dengan bangga saya menceritakan itu pada anak-anak mereka. Saya bilang, “Jangankan kalian, ibu kalian saja enggak tahu mereka musuhan, apalagi penggemar.” Dalam arti, Mas Dono dan Mas Kasino tetap berusaha menyuguhkan hiburan bagi orang lain.

Itu sebuah bukti, bahwa mereka rela menyingkirkan kepentingan pribadi demi sebuah kebersamaan. Mereka bisa memendam yang namanya kebencian, untuk mendapatkan hal yang baik. Bukan hanya untuk kepentingan nama WARKOP, melainkan juga memuaskan penggemar. Saya bilang ke anak-anak, “Kalau kalian bisa seperti itu, Insya Allah kelak kalian enggak akan berani korupsi. Karena apa? Karena kalian selalu ingin membahagiakan orang, bukan menyengsarakan orang.” Saya selalu berusaha menanamkan contoh-contoh sederhana kepada anak-anak WARKOP dari apa yang dilakukan orangtua mereka dulu.

Katanya, tertawa itu sehat dan obat awet muda. Anehnya, banyak pelawak yang meninggal di usia muda, termasuk para personel WARKOP. Gimana tanggapan Anda?

Humor memang membuat orang sehat, tapi bagi pelaku humor kan belum tentu begitu. Buat kami para pelaku humor, humor atau komedi itu malah jadi sesuatu hal yang amat sangat serius. Mungkin lebih serius daripada para anggota DPR. Karena membuat orang tertawa itu kan enggak mudah. Diperlukan keseriusan untuk menangkap atau melontarkan humor, apalagi untuk melontarkan humor. Dalam arti, kita harus cerdas.

Salah satu contoh waktu kita melontarkan joke mengapa ABRI harus manunggal dengan rakyat? Kita bilang karena merujuk pada UUD 1945, pasal 33 yang garis besarnya menyebutkan kekayaan bumi Indonesia ini dikelola oleh negara dan diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Dalam hal ini, sama sekali enggak disebut kata-kata ABRI. Oleh karena itu, ABRI harus manunggal dengan rakyat supaya bisa ikut menikmati kekayaan negara.

Nah, komedi yang seperti itu akan sulit dilahirkan tanpa keseriusan. Waktu joke seperti itu kita lontarkan di hadapan penonton, yang kebanyakan memang anggota ABRI, mereka langsung geerrrrr… Bahkan, Benny Moerdani yang waktu itu menjabat sebagai Pangab dan ikut menonton acara juga tertawa. Mungkin, mereka menertawakan diri sendiri. He he he.

Dalam hal ini, bukannya saya mau mengatakan proses pencarian bahan lawakan berat sekali, sehingga bisa memendekkan umur. Tapi saya ingin meluruskan anggapan, bahwa seolah-seolah komedi atau humor itu urusan yang enteng-enteng saja. Dalam definisi WARKOP, komedi atau humor adalah sebuah hal yang serius. Mungkin, akhirnya orang lain yang menangkap komedi kita jadi sehat, karena mereka bisa tertawa, sedangkan kita yang membuat komedi jadi tidak sehat. Ha ha ha.

Tapi bukan berarti semua pelawak tidak sehat. Banyak pelawak yang usianya panjang sampai 70-an tahun. Soal Mas Kasino dan Mas Dono yang meninggal di usia muda, yah, memang sudah takdir dari Yang Di Atas. Dua-duanya terserang penyakit kanker. Mas Kasino kena kanker otak dan Mas Dono kena kanker paru. Padahal, dari mereka semua, yang gaya hidupnya kurang sehat adalah saya. Mas Kasino dan Mas Dono bukan perokok, sedangkan saya adalah perokok berat. Baru beberapa tahun belakangan ini, saya berhenti total merokok. Artinya, soal umur memang sudah jadi rahasia Allah, dan kita harus ikhlas.

Tapi yang pasti, kehilangan dua teman dekat tentunya sangat menyedihkan? Perasaan seperti apa yang Anda rasakan saat peristiwa itu terjadi?

Sewaktu Mas Kasino sakit, saya dan Mas Dono memang sudah siap akan kehilangan. Begitupun ketika pada akhirnya Mas Dono sakit, saya sendiri sudah siap akan kehilangan, karena itu adalah sebuah proses yang alamiah. Tapi, efeknya ternyata tidak sesederhana itu. Karena, tanpa saya sadari, WARKOP telah jadi salah satu elemen penting yang membentuk jati diri saya. Bisa dibilang, saya banyak belajar dari pola pikir Mas Dono dan Mas Kasino.

Karena WARKOP sudah demikian mempengaruhi hidup saya, tiba-tiba sekarang Mas Kasino dan Mas Dono sudah enggak ada, pastinya saya terpukul dan kehilangan betul. Kalau saya boleh jujur, saya bahkan sempat ketakutan. Ketakutan itulah yang membuat saya bertekad untuk bisa melestarikan apa yang sudah mereka tinggalkan. Sehingga, akhirnya terbentuklah Lembaga WARKOP.

Apa sih yang dimaksud dengan Lembaga WARKOP?

Ini adalah sebuah badan hukum yang didirikan oleh anak-anak kami pada 4 April 2002. Ada tujuh anak-anak WARKOP yang tergabung di lembaga ini. Ketuanya, anaknya Mas Kasino, Nana Kasino; wakilnya, anaknya Mas Dono, Aryo Dono dan bendaharanya, anak saya.

Lewat lembaga ini sekarang anak-anak kami tengah memperjuangkan HAKI (Hak Kekayaan Atas Intelektual) atas hasil karya orangtuanya yang memang telah saya hibahkan pada mereka. Mumpung saya masih hidup, saya memang ingin membagikan hak-hak mereka secara proporsional atas nama mereka sendiri.

Yang menarik lagi, WARKOP dijadikan panutan oleh banyak pelawak muda. Apa komentar Anda tentang hal tersebut?

He he he, jujur saja saya bilang, WARKOP itu kegedean nama. Kadang-kadang saya bingung sendiri banyak pelawak sekarang yang ngejadiin WARKOP sebagai idola. Padahal kalau dari segi materi, kita mungkin kalah jauh dibanding mereka.

Balik lagi, mungkin karena dari dulu WARKOP concern dengan dunia komedi yang dimiliki anak muda. Enggak bisa dipungkiri, yang namanya becandaan itu kan miliknya anak muda. Biarpun ada orangtua yang suka becanda, porsinya pasti hanya sedikit. Kepedulian inilah yang membuat orang lain jadi respect terhadap WARKOP. Contohnya, WARKOP dulu sangat mensupport berdirinya LHI (Lembaga Humor Indonesia). Banyak pelawak-pelawak muda pada masanya lahir dari ajang ini, seperti Pepeng, Nana Krip dan Tom Tam grup.

Tapi yang saya sayangkan, gaya komedi para pelawak sekarang itu hampir mirip-mirip dengan WARKOP dulu. Contohnya, seperti Basho atau Ngelaba, yang konsepnya mirip acaranya WARKOP di TVRI dulu. Tapi kita enggak nyalahin, toh buktinya mereka juga sukses.

Anda merasa iri melihat fenomena itu?

Jangankan sekarang, dulu saja kami tidak pernah memiliki rasa takut akan tersaingi oleh yang lain. Artinya, kami enggak pernah punya rasa iri. Alhamdulillah, meski Bagito dulu booming, kita tetap bisa eksis. Karena kami percaya yang namanya rejeki itu sudah diatur Tuhan.

Dulu aja kalau kita mau serakah, tiap malam kita bisa manggung di dua sampai tiga tempat. Dalam sebulan, kita bisa 60 kali manggung. Tapi lagi-lagi kita berpikir, kalau semua job kita ambil, akan ada orang yang marah. Pelawak-pelawak lain tentunya akan marah. Itu yang membuat kami tetap berpikir proporsional.

Yang kini jadi pertanyaan, mengapa film-film WARKOP dulu itu banyak mengeksploitasi kemolekan tubuh wanita?

Film itu sebuah komoditi yang mencakup berbagai komponen. Nah kita hanya salah satu komponen dalam sebuah film, yaitu bertanggung jawab dalam unsur komedinya saja. Kita tidak dalam kapasitas menentukan apakah kita akan mengeksploitisir wanita cantik atau tidak. Itu adalah wewenangnya produser. Kedudukan kita saat itu hanya sebagai pemain, gak lebih gak kurang. Artinya, di film kita memang enggak mau idealis, hanya sekadar cari duit saja. Toh kalau Anda mau teliti, film komedi manapun, baik buatan dalam negeri atau luar negeri, pasti melibatkan wanita cantik dan seksi, karena itu memang sudah jadi permintaan pasar.

Yang pasti, nama besar WARKOP memang membuat banyak figuran wanita yang cantik dan seksi datang berbondong-bondong ke lokasi shooting kami. Saat itu, tampil sebagai figuran di WARKOP memang jadi salah satu jaminan sukses, karena setelah itu pasti banyak film lain yang memakai jasa si figuran.

Lantas, sejauh mana kedekatan para personel WARKOP dengan artis-artis seksi tersebut? Apa ada yang sempat terlibat cinlok?

Ha ha ha, kalau ada pepatah yang mengatakan tikus mati di lumbung padi, itu juga yang pernah kami rasakan. Bayangkan waktu di film, kita pernah dikelilingi segitu banyak cewek di mana mereka bisa seenaknya ganti pakaian di depan kita. Jujur saja, kami masing-masing pernah punya pengalaman cinta yang pada akhirnya jadi badai dalam rumah tangga. Menurut saya, itu memang pengalaman jelek yang enggak perlu ditiru. Tapi Alhamdulillah semuanya selamat dari badai. Saya hanya berpikir positif saja, dengan pernah merasakan badai, kita jadi bisa membandingkan mana yang baik dan mana yang enggak.

Yang pasti, kalau ada yang lagi mengalami cinlok, kami bertiga cukup terbuka untuk bercerita. Kita bertiga saling mengerti dan menjaga rahasia, sampai akhirnya keluarga sendiri pada tahu.

Maksudnya, rumah tangga Anda pernah terguncang karena kehadiran wanita lain?

Seperti yang saya bilang di atas, saya memang sempat kena badai. Badai yang saya alami mungkin yang paling besar dibanding yang dialami Mas Dono dan Mas Kasino. Dan itu merupakan kasus pertama kalinya anggota WARKOP ada yang kena badai. Kejadiannya antara 1986 sampai 1990, dengan artis yang pernah jadi lawan main WARKOP (untuk nama, Indro minta off the record, red.). Saat itu rumah tangga saya nyaris berantakan. Alhamdulillah, Allah kasih hidayah dan akhirnya saya sadar.

Makanya, waktu akhirnya Mas Dono dan Mas Kasino kena badai juga, saya coba nasihati mereka. Bukannya sok tua, tapi karena saya sudah terlebih dulu ngerasain badai kayak gini. Waktu saya nasehati Mas Dono, awalnya dia sempat marah banget. Tapi Alhamdulillah semuanya lewat.

Saya hanya bersyukur, untungnya dulu belum zamannya infotainment dan tabloid. Coba kalau kejadiannya sekarang, mungkin kasus perselingkuhan kami akan jadi sasaran empuk tayangan-tayangan gosip seperti itu. Untungnya lagi, dulu itu kita dekat dengan wartawan lebih sebagai teman. Jadi kalau ada kejadian seperti ini, saya bisa bilang ke mereka, “Ok, gue sangat menghormati profesi elo dan sangat menjunjung tinggi kebebasan pers. Tapi pernah enggak elo berpikir efeknya pada anak-anak kami. Mereka akan dikucilkan oleh teman-temannya dan dikata-katain sehingga jadi minder.” Alhamdulillah, dulu sih teman-teman wartawan mau mengerti dengan alasan seperti ini. Coba kalau sekarang, himbauan seperti ini pasti enggak akan mempan. He he he.

Kalau boleh tahu, alasan apa yang membuat Anda akhirnya sadar, dan memilih kembali ke keluarga?

Saat itu memang ada pergolakan yang kuat di batin saya. Di satu sisi, saya takut kehilangan keluarga, tapi di sisi lain saya sangat mencintai wanita lain. Saat itu kalau enggak kuat-kuat mental saya mungkin bisa jadi gila. Tapi di tengah pergolakan itu, saya akhirnya ingat anak-anak saya. Saya malu karena ternyata saya sudah tidak bersikap fair kepada mereka. Saya egois dan hanya memikirkan diri saya sendiri. Perlahan-lahan kesadaran untuk kembali kepada keluarga pun akhirnya muncul. Karena sebagai kepala keluarga, saya punya tanggung jawab untuk menjaga keutuhan rumah tangga saya.

Supaya tidak kena ‘badai’ lagi, kiat apa yang kini Anda terapkan untuk menjaga keutuhan rumah tangga?

Bagi saya, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Saya pernah mengalami badai yang amat sangat kuat, tentunya sekarang kalau ada mendung sedikit saya harus sudah siap-siap jangan sampai badai itu terulang kembali. Sekarang saya benar-benar takut nyerempet-nyerempet. Jujur saja, saya memang bukan orang yang bersih, tapi saya juga penakut. Artinya, saya pernah alami sesuatu yang demikian menakutkan dan enggak mau mengulanginya lagi.

Yang pasti, saya berusaha untuk tidak lagi membanding-bandingkan istri saya dengan wanita manapun di dunia ini. Karena kalau kita sudah mulai membanding-bandingkan istri, artinya kita sudah berada di pinggir jurang, dan siap-siap aja buat kecebur. He he he. Dalam hal ini, kita harus saling bisa menerima kelebihan dan kekurangan pasangan kita.

Selain itu, saya dan istri juga semakin sadar bahwa kepercayaan itu mahal sekali harganya. Kami saling introspeksi diri. Sekarang kami semakin menjunjung tinggi kejujuran dan keterbukaan. Contohnya, kalau saya bertemu dengan teman wanita dan saya mengajaknya makan, maka saya akan bercerita ke istri. Saya pikir, daripada istri saya mendengarnya dari orang lain, kan lebih baik dari mulut saya sendiri. Begitupun sebaliknya dengan istri saya.

Bisa cerita sedikit tentang istri Anda?

Kami pacaran sejak masih SMA. She’s my first love. Mungkin karena saya orangnya easy going, saya jadi agak terlambat punya pacar. Meski begitu saya punya kriteria wanita idaman. Physically, cewek itu harus tinggi besar dan kalau bisa rambutnya juga pendek. Ya, saya suka cewek yang rada-rada tomboi. Secara seks, saya suka yang ukuran dadanya besar. Nah, semua kriteria itu saya temukan dalam diri istri saya.

Apakah Anda juga berselera dengan wanita indo? Buktinya, artis wanita di film-film WARKOP kebanyakan berwajah indo.

Ha ha ha, itu kan seleranya produser, atau mungkin seleranya bangsa ini. Coba pikir, bukan hanya di film WARKOP, dari dulu bintang film yang dianggap cantik selalu bertampang indo. Jadi kalau ada yang bilang produser film enggak cinta produk dalam negeri, ya… memang benar.

Kalau saya pribadi, secara seksual malah lebih tertarik kulit berwarna ketimbang bule. Istilahnya, kalau ada yang memaksa saya harus dengan bule, saya akan bilang tolong carikan bule yang rambutnya hitam, atau lebih baik carikan orang Negro sekalian. Sorry ini hanya sekadar contoh, kalau saya nonton blue film, saya lebih suka yang pemainnya Latin atau yang Negro, enggak suka nonton yang bule.

Tapi WIL Anda dulu kan indo. Kok bisa tertarik dengan dia?

Wah ini pertanyaan nakal, he he he. Kebetulan dia memang indo, tapi bukan itu yang saya lihat. Secara fisik dia memang cocok dengan kriteria saya, tomboi dan she has big boops. Selain itu dia juga smart. Buat saya cewek smart itu seksi. Point-point itulah yang membuat akhirnya saya kena badai. Ha ha ha.

Orang melihat sosok dan hobi Anda sangat maskulin. Apakah itu merupakan refleksi dari kepribadian Anda?

Ha ha ha, jangan salah, saya orangnya malah gampang tersentuh. Enggak tahu kenapa ya, saya ini orangnya cengeng. Bisa dibilang, saya ini badannya Rambo tapi hatinya Rinto, he he he. Ada satu hal yang membuat saya tidak bisa menahan air mata adalah kalau saya melihat ketidakadilan dan kesedihan yang dialami anak-anak.

Sebagai contoh, kalau sedang menonton AFI (Akademi Fantasi Indosiar), saya bisa ikut-ikutan menangis melihat ada peserta yang tereliminasi. Karena saya mengibaratkan anak-anak itu seperti anak-anak saya sendiri. Saya bisa merasakan bagaimana hati orangtua mereka akan merasa terpukul melihat anaknya gagal.

Tapi soal temperamental, saya juga biangnya. Makanya kalau enggak ada urusan penting, saya paling malas keluar rumah. Bukannya apa-apa, melihat lalu lintas yang semrawut, hati saya bisa resah. Hal-hal seperti itu bisa membakar emosi saya. Kalau saya boleh jujur, saya enggak pernah takut mukul orang meski itu tentara sekalipun. Kalau saya anggap saya benar, saya berani, asalkan enggak bawa senjata. Saya lebih berani berantem tangan kosong dan sendirian, ketimbang main keroyok.

Gimana awal mulanya Anda tertarik dengan motor besar?

Hobi ini turun dari bapak saya. Mungkin nakalnya bapak saya terhadap jabatan adalah menginventarisir semua motor besar yang ada di kepolisian. Saat itu mungkin motor besar bapak saya ada sekitar 20 motor.

Dari kecil, karena melihat bapak saya gagah sekali naik Harley, saya punya cita-cita suatu saat harus punya Harley. Selain itu saya juga ingin punya mobil jip dan van. Sampai sekarang, hobi terhadap Harley dan jip masih saya geluti. Motor Harley saya sekarang ada enam, tapi kebanyakan motor-motor tua, yang dulu saya beli seharga Rp 400 ribu. Yang terbaru hanya Road King Police 1996.

Tidak tertarik koleksi mobil mewah?

Ha ha ha, bukannya enggak mau, tapi memang enggak mampu. Seperti saya sudah bilang di atas, WARKOP itu kan memang kegedean nama. Soal materi sih enggak seberapa dibanding pelawak-pelawak lain, Eko Patrio, misalnya. Lagian seandainya pun saya mampu membeli mobil mewah, saya enggak akan membelinya. Saya malah ingin beli mobil taktis buatan PINDAD supaya bisa nubrukin mobil bus dan metromini yang enggak patuh aturan lalu lintas. Ha ha ha…

Soal penampilan Anda yang akrab dengan rambut gondrong, tato dan anting, apa ini ada kaitannya dengan hobi motor besar Anda?

Betul banget. Selama ini kan orang selalu menganggap pria yang pakai anting dan bertato itu selalu negatif. Nah, saya ingin membuktikan tidak semuanya seperti itu. Bisa jadi ini merupakan wujud pemberontakan dari diri saya terhadap situasi orang-orang yang melihat fisik sebagai sebuah parameter.

Contohnya, sewaktu saya jadi pemimpin di Harley, saya malah suruh teman-teman memakai pakaian yang segarang-garangnya. Saya ingin menunjukkan meski penampilan kita garang, tapi perilaku kita tetap positif. Buktinya salah satu kegiatan yang kita lakukan dalam rangka ulang tahun Club Harley, adalah membersihkan rambu-rambu lalu lintas di jalan. Mungkin bagi orang lain itu hal sepele, tapi kami malah menganggapnya sebagai sesuatu yang penting untuk dilakukan. Itu merupakan wujud rasa terima kasih dan kepedulian kita terhadap jalanan yang sudah memberikan kita banyak kenikmatan.

Lalu bagaimana komentar istri dan anak-anak melihat penampilan Anda yang seperti itu?

He he he, kalau saya enggak pakai anting, anak-anak saya malah nanya. Mereka malah menyuruh saya tindik banyak di kuping. Dalam hal penampilan, saya memang cukup demokratis. Kalau istri atau anak-anak saya juga mau pakai anting banyak di kuping, ya silakan. Alhamdulillah meski penampilan saya seperti ini, anak-anak saya at least hingga saat ini enggak pernah terlibat hal-hal yang negatif.

Selain motor besar, apa lagi yang Anda koleksi?

Saya dulu mengoleksi pisau untuk collector item. Cukup banyak koleksi pisau saya. Tapi ketika krisis moneter, sedikit demi sedikit mulai saya jual. Dari kecil saya suka mengoleksi pisau. Selain itu saya juga suka mengoleksi topi, terutama topi Harley. Jumlah topi saya sampai sekarang sudah mencapai ratusan. Saya suka pakai topi sejak muda. Itu juga yang membuat kepala saya jadi cepat botak. He he he.

Last question, di hadapan istri dan anak-anak, apakah sosok Anda juga dikenal humoris?

Kalau itu ditanyakan ke anak-anak, jawabannya beragam. Waktu diwawancarai wartawan, anak saya malah bilang saya ini sosok ayah yang galak dan mau menang sendiri. Padahal, maksud saya lebih kepada ingin menerapkan demokratisasi di keluarga. Artinya, anak-anak saya harus belajar bertanggung jawab sejak dini terhadap apa yang dilakukannya. Kesimpulannya, saya mungkin tipe ayah yang keras dalam menerapkan disiplin. Tapi saya sama sekali tidak pernah melakukan kekerasan fisik kepada anak-anak. Tidak seperti para mahasiswa STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) yang suka menyiksa adik kelasnya. He he he.[]