Posts Tagged ‘MusikHumor’

Band-band Entertainer Bukan Sekadar Lucu!

Friday, May 9th, 2003
Sumber: Kompas | Jumat, 09 Mei 2003

Mereka bukan grup lawak. Namun, sekelompok musisi yang membuat musiknya secara rapi dan serius, tapi dikemas dengan nuansa humor. Unik! Dari sekian banyak grup musik, dengan berbagai genre dan ciri, terselip sebuah warna baru yang menjadi jualan utama band bersangkutan. Uniknya, band-band ini bukan sekadar sebagai entertainer yang berhasil membuat audiens terhibur. Tapi juga sebuah band yang secara serius mengemas musiknya menjadi sebuah karya yang menarik.

Awalnya kita mirip kabaret. Yang ikutan 30 orang! ujar Dinar, gitaris dari Seurious, band asal Bandung yang ngetop dengan lagu Tukang Jamu. Lalu, belakangan mereka merilis album dan melepas single Musik Jazz. Walaupun judulnya begitu, ternyata lagu ini dikemas warna musik rock. Malah dalam video klipnya, semua personel berdandan ala rocker heavymetal tahun ’80-an. Jadi, memang band, yang sekarang personelnya enam orang ini, merumuskan musik mereka sebagai musik rapi dan serius, tapi nakal di lirik.

Selain Seurious, kita juga mengenal Wong Pitoe. Band yang besar di kafe Jamz ini mendaur-ulang lagu Aserejenya Las Ketchup. Di tangan mereka, lagu itu berjudul Dasa- rese. Liriknya diubah dengan tema konyol, mengingatkan kita pada Project Pop beberapa waktu lalu. Malah di lagu karya mereka sendiri pun, warna kocak dan konyol tetap diperta- hankan. Misalnya, di single keduanya, Motor Kreditan. Tapi, Wong Pitoe sendiri menolak dibilang sebagai band parodi.

Awal kegilaan yang terjadi dalam band ini sebenarnya diawali dari usaha mereka mencoba usaha menjalin komunikasi dengan penonton. Gue gemes lihat muka penonton yang dingin. Gue selalu berpikir untuk mengomentari wajah-wajah mereka. Ternyata mereka suka, dan suasana pun terbangun,” ujar Denni, salah satu dari tiga vokalis Wong Pitoe.

Ternyata, teman-temannya pun menyimpan kegilaan yang sama. Dan, akhirnya kegilaan itu mulai masuk ke musik mereka. Mereka mulai mencoba membuat medley (beberapa lagu yang dirangkai jadi satu komposisi) lagu-lagu dengan urutan yang bisa bikin orang tertawa.

Bukan Parodi

Hanya dua band inikah yang punya kekhasan pada cara bermusik dengan suasana lucu? Sebenarnya kita sudah pernah melihat kemiripan konsep dua grup di atas dengan Naif, yang punya vokalis dengan aksi panggung super kocak. Belum lagi lirik-lirik lagu dan pilihan warna aransemen tiap lagunya yang begitu berbeda. Walaupun tipis, Seurious, Wong Pitoe, maupun Naif, tampak serupa. Mereka bukan band parodi, tapi band dengan konsep bermusik yang menawarkan kelucuan dan kekonyolan.

Band-band seperti mereka memang tidak menjamur sebagai artis rekaman. Tapi, kalau kita rajin pergi ke acara-acara sekolah seperti Pensi, banyak lagi band-band serupa. Band yang bukan sekadar band, tapi kumpulan para entertainer. Karena mereka berada di panggung bukan sekadar main band, tapi juga menghibur kita.

Ada beberapa nama band dengan konsep sama lainnya yang muncul. Di Jakarta mungkin dikenal nama Penyot Sexy. Dari Solo ada Pecas Endahe (plesetan dari kata pecah endase, dalam bahasa Jawa yang berarti pecah kepalanya). Dan dari Yogyakarta mucul Produk Gagal. Bisa diyakini ada grup-grup serupa di kota-kota lain seluruh Indonesia.

Masing-masing punya cerita berbeda tentang proses terbentuknya. Tapi, ada beberapa yang mirip-mirip. Wong Pitoe, awalnya memang dibuat untuk kafe. Lalu, dalam proses menjalin komunikasi dengan penonton, akhirnya terbentuklah kondisi Wong Pitoe seperti sekarang ini. Wong Pitoe yang kocak, walaupun bukan sebuah grup lawak.

Seurious terbentuk secara dadakan. Berawal dari acara kampus, 30 orang yang pengin manggung. Selain enam orang personel band, yang lain menyanyi, menari, dan beratraksi. Tadinya, memang cuma buat nampang sekali. Tapi, ternyata banyak yang suka, dan mereka diminta kembali tampil. Iseng-iseng akhirnya mereka minta bayaran.

Eh, mereka mau bayar, ya, kita jalanin, kenang Dinar. Dan akhirnya semua berlanjut. Dan enam orang yang tersisa sampai sekarang ini yang benar-benar serius sama grup yang terbentuk di Bandung ini.

Satu contoh lagi bisa diambil dari grup asal Yogyakarta, Produk Gagal. Ceritanya, sepulang nonton pertunjukan wayang, mereka menemukan gendang yang tertinggal. Iseng-iseng mereka mainkan lagu-lagu-nya PMR (Pengantar Minum Racun, grup dangdut modern yang juga kocak) dan PHB (Pemuda Harapan Bangsa, musiknya mirip PMR). Enggak sampai seminggu, mereka dapat tawaran main.

Sabtu, keesokan harinya, kita disuruh main di kampus STIE YKPN (Jogja) jelas Pongge, mantan anggota band yang sekarang jadi manager band ini. Tapi, dari ketidaksengajaan itu, mereka sekarang mulai membuat karya-karya mereka sendiri. Tentu agar karya yang mereka miliki bisa direkam dan dijual.

Konsep Serius

Grup seperti ini biasanya punya banyak personel. Seperti Seurious yang di awal berdirinya punya 30 orang personel. Atau kita lihat Produk Gagal yang punya 16 pemain, termasuk seorang DJ (Disc Jockey). Ada beberapa band yang personelnya selalu berubah. Sepertinya mereka tinggal nunggu jadwal panggilan. Kalau berhalangan, ya, digantikan dengan yang lain. Sedikit berkesan tidak serius sih, tapi ya memang begitu konsep bandnya.

Seperti Penyot Sexy, sebuah grup asal Jakarta. Sering kali band ini terlihat berganti personel dalam setiap kesempatan manggungnya. Paling hanya beberapa personel yang tetap, dengan semangat untuk terus mengangkat band tersebut. Tapi lucunya, para personel pengganti di band-band macam Penyot Sexy, Produk Gagal, dan sebagainya itu, ya, teman-teman dekat mereka juga. Kelihatannya seperti ganti shift saja!

Sayangnya, belum ada contoh grup entertainer seperti band-band ini yang sukses dalam penjualan album. Walau hampir tiap band mengaku bahwa penjualan album bukan yang utama bagi mereka, yang penting bisa bahagia melihat orang tertawa saat mereka manggung. Itu tantangannya! Kalau mereka tertawa dan terlibat dengan kami, wah, itu memberikan kepuasan yang luar biasa, jelas Denny dari Wong Pitoe.

Untung saja penjualan album yang seret tersebut ditutup dengan jam panggung mereka yang tinggi. Rasanya pentas hiburan kurang meriah tanpa kehadiran mereka. Lagi pula sepertinya band-band kocak ini memang agak sulit dinikmati kekocakannya tanpa melihat penampilan mereka langsung. Itu salah satu alasan yang membuat penjualan album mereka tidak sebanyak jumlah orang yang datang ke pertunjukan mereka.

Satu lagi kelebihan band seperti ini; mereka selalu punya konsep untuk setiap pertunjukan. Termasuk selalu menyiapkan kostum yang akan mereka pakai. Misalnya, kita mau bikin tema sepak bola. Maka kostumnya pun disesuaikan, terang Pongge.

Dan tentunya tema obrolan di atas panggung pun bisa disesuaikan. Walaupun tidak menutup kemungkinan melebar hingga soal Perang Irak dan Inul Daratista.

Tidak Laku

Walaupun dianggap sulit sukses dalam penjualan album, mereka tetap berusaha. Semua band genre ini menyatakan serius dalam penggarapan musiknya. Kita bisa lihat hasilnya dong. Tidak mudah lho memedley lagu-lagu yang bikin orang tertawa. Atau memelesetkan nada-nada yang sudah dibuat serius oleh pencipta aslinya. Dan, tentunya lebih sulit lagi menciptakan sendiri nada-nada yang memancing orang untuk tersenyum saat mendengarkan.

Bermain dengan lirik-lirik yang nakal, itu resep jitu untuk membangun suasana yang diinginkan. Walaupun sebenarnya lirik mereka pun tidak sembarangan. “Walaupun liriknya bercanda, tapi Motor Kreditan punya maksud yang serius,” jelas Denny tentang salah satu lagu andalan Wong Pitoe tersebut.

Hal-hal seperti itu menjadi tantangan yang lebih serius untuk band-band ini. Oke deh, mereka sudah berhasil mengatasi tantangan menaklukan penonton di panggung. Tapi, tantangan berikutnya adalah menaklukkan para pendengarnya agar mau mendengarkan mereka lewat kaset atau CD.

Bukan cuma itu. Mereka juga harus menjaga citra dirinya untuk tidak terjebak menjadi sebuah grup lawak. Memadukan gaya canda dengan musik yang serius, memang bukan hal yang mustahil. Tapi, terbukti lumayan sulit. Di sinilah kemampuan entertaining mereka diuji.

Beberapa syarat diajukan mereka sebagai resep agar tantangan-tantangan tersebut bisa diatasi. Bahwa band membutuhkan orang-orang yang serius dan berani hidup dengan musik gaya mereka itu. Tidak lagi bergonta-ganti personel atau main saat mereka mau saja. Termasuk harus selalu mengasah kemampuan komunikasi mereka.

Nah, kita sebagai penikmat merekalah yang akan menilai. Apakah mereka berhasil menghibur kita lewat album atau cukup nonton di panggung saja? Apakah mereka benar-benar mendapatkan apa yang mereka inginkan? Apakah mereka benar-benar entertainer sejati, atau sekadar anak band yang kebetulan punya sense of humour yang tinggi?

TEGUH ANDRIANTO/DHARMA S SOEDIRMAN, Tim MUDA
KAWANKU/SANDY I MAHENDRA

Grup lawak?Masalah gonta-ganti personel sudah biasa dalam band-band entertainer macam Wong Pitoe ini (Adhi, si vokalis yang dilingkari gambarnya, sudah cabut dari band). Tapi lucunya, personel penggantinya tetap dari teman-teman nongkrong mereka juga