Sumber: Koran Tempo | Kamis, 08 Maret 2007
Geger Riyanto, PEMINAT MASALAH SOSIAL-HUMANIORA
Ketika hendak berburu burung, Dick Cheney berbuat ceroboh karena menembak seorang pengacara kaya, Harry Whittington, yang disangka buruannya. Tak lama setelah itu, Wakil Presiden Amerika Serikat tersebut menjadi bulan-bulanan dunia komedi Negeri Abang Sam. Seorang komedian, David Letterman, bertutur bahwa perburuannya tersebut merupakan upaya sang Wakil Presiden menghentikan persebaran wabah flu burung.
Lalu belakangan ini, dalam bursa kandidat Presiden Amerika, sudah terhitung sejumlah tokoh yang mencalonkan diri. Mengapa jumlahnya begitu banyak? Menurut Letterman, tak lain karena kinerja nan buruk pemerintah Bush telah menurunkan standar seorang Presiden Amerika.
Bayangkan seandainya di negeri ini disiarkan acara televisi semacam Late Night Show-nya Letterman tersebut, akankah acara itu mendapat sambutan yang baik? Tentunya jawaban pesimistis akan kita dapatkan. Apakah karena acara semacam itu kurang diminati oleh masyarakat Indonesia, yang notabene berbudaya ketimuran? Tampaknya tidak, karena pada kenyataannya, parodi politik yang serupa dengannya di Tanah Air memiliki rating penonton yang tinggi.
Kekuatan humor
Benar anggapan Socrates, gelak tawa dipicu oleh suatu kondisi ketika orang lain terendahkan derajatnya. Misalnya kita tertawa menyaksikan Dono dari Warkop ketika wajahnya dianalogikan dengan kendaraan bajaj pada salah satu filmnya, atau tatkala pelawak Tukul Arwana menjelek-jelekkan dirinya sendiri.
Karena itu, saya kira dunia politik merupakan bahan guyonan yang sangat empuk sepanjang masa. Soalnya, ada keadaan alami pada alam bawah sadar manusia yang berkecenderungan mendendam kepada sosok penguasa, terlebih kepada penguasa yang sewenang-wenang. Namun, hasrat ini tak bisa diungkapkan secara eksplisit. Berdasarkan tesis psikoanalis Sigmund Freud, melalui penceritaan humor, kehendak bawah sadar dapat diekspresikan karena khalayak ramai menganggap bahwa guyonan tersebut tidak diungkapkan dengan serius atau bahkan tidak berdasarkan fakta.
Sadar akan kebutuhan psikologis yang fundamental akan kebebasan berekspresi, negeri-negeri yang demokratis membuka lebar-lebar ruang sehingga tiap warga negara dapat mengekspresikan aspirasi politiknya dengan satire. Dunia komedi Amerika dapat menjadikan kabinet Bush, dengan gaya memerintahnya yang bak koboi, sasaran lelucon satire yang sangat empuk.
Tapi sesatire apa pun komedi yang diracik, pada akhirnya tersimpulkan dengan ungkapan pelawak Tukul bahwa hal ini just for laugh, just for kidding. Maka, bagi Amerika, tak ada yang berhak menghentikan seorang Letterman, Jay Leno, Conan O’ Brien, untuk memotret pemerintah konservatif Bush secara satire. Amerika menikmatinya. Selain itu, boleh dikatakan bahwa humor merupakan instrumen kritik politik yang tajam.
Berbeda halnya pada pemerintahan yang otoriter. Dalam buku yang diedit Frans Husken dan Huub de Jonge, tercatat bahwa pada masa kekuasaan Orde Baru, begitu banyak humor yang menyindir pemerintah lewat penceritaan dari mulut ke mulut. Di situlah celah yang menyalurkan kehendak bawah sadar masyarakat Indonesia untuk mengkritik sosok penguasa yang otoriter.
Antropolog James Danandjaja pernah menyimpulkan mengapa humor merupakan cara yang tepat untuk menggambarkan dunia politik Indonesia. Menurut dia, hal itu karena kebudayaan politik yang patrimonial dan antikritik masih mengubur begitu dalam hasrat masyarakat mengekspresikan pandangan politiknya.
Kini, setelah demokrasi bergulir, dapatkah pandangan politik yang satire itu diekspresikan secara langsung, sebagaimana di negara-negara yang demokratis? Setelah reformasi berembus, semakin banyak cerita berkembang dari mulut ke mulut. Humor-humor politik mulai dimuat dalam situs-situs dan buku-buku. Tapi tidak serta-merta muncul sosok komedian atau kelompok lawak yang secara langsung dan personal mengumbar guyonan politik.
Yang pertama mencobanya, Republik BBM. Acara yang menyajikan parodi sebuah negara dengan bumbu humor politik yang satire ini lain daripada yang lain, sehingga mendapat sambutan yang cukup baik dari konsumen televisi. Tapi acara ini tidak berusia panjang, setelah lobi misterius dilakukan oleh pihak istana kepresidenan kepada stasiun televisi terkait.
Acara ini kemudian mengganti namanya menjadi Republik Mimpi di televisi lain. Setelah beberapa kali acara ini ditayangkan dan mendapat rating penonton yang tinggi, mendadak pihak sponsor menyatakan hendak berhenti dan Kementerian Komunikasi dan Informatika hendak melayangkan somasi terhadapnya. Eksistensi acara ini kembali terancam. Siapa pun bisa membaca penanda ini, bahwa masyarakat Indonesia mengalami deja vu, kembalinya senyawa kekuasaan yang antikritik.
Mengapa acara komedi ditempatkan di malam hari oleh pihak televisi pada umumnya? Sebab, acara tersebut bisa menjadi ritus untuk membebaskan pikiran yang penat akan kepadatan hidup di siang hari. Maka demikian juga fungsi acara lelucon politik itu, sehingga ia mendapat tempat di hati pemirsa televisi.
Melalui tawa, kehendak bawah sadar yang dinamai Freud sebagai Id, menyeruak keluar dari pikiran yang terkekang walau hanya sesaat. Dalam bukunya yang berjudul Redeeming Laughter: The Comic Dimension of Human of Human Experience (1997), sosiolog Peter Berger bahkan berpandangan bahwa perasaan ekstase yang dicapai melalui gelak tawa sebanding dengan pengalaman tenggelam dalam transendensi religiositas.
Kendati pada umumnya humor tidak pernah dianggap sebagai narasi yang bersifat serius, wajar bila pemerintah otoriter, dalam sindrom power complex-nya, sangat awas terhadap celah-celah perlawanan yang bahkan sekecil humor. Namun, persoalannya, hal ini terjadi pada negara yang notabene pemimpinnya mengaku demokratis. Sebuah paradoks? Untuk beberapa hal, seharusnya pemerintah bersyukur. Sebab, mungkin dengan adanya humor, salah seorang menteri kita bisa berlega hati karena korban banjir di Jakarta masih bisa tertawa-tawa.