| KOTA (RP) - Persatuan Artis Seniman Komedi Indonesia (PaSKI) Riau, menggelar dua lomba secara bersamaan, yakni lomba mirip wajah tokoh Riau dan lomba lawak, 27-30 Juli, di Bandar Serai (Purna MTQ) Pekanbaru. Lomba tersebut akan memperebutkan total hadiah sebanyak Rp17 juta dan piala tetap dari Ketua PaSKI Pusat, Indro Warkop.
‘’Kita akan menggelar lomba lawak dan lomba mirip wajah tokoh Riau. Pendaftaran kita buka sejak 1-25 Juli, sedangkan lombanya dilaksanakan 27-30 Juli mendatang,’’ ujar Ketua Panitia Lomba, Bens, kepada Riau Pos, Jumat (30/6), di Sekretariat PaSKI Riau. Dijelaskannya, tema lawak bebas, asal tidak berbau SARA maupun terlalu vulgar atau berbau porno. Satu grup maksimal tiga orang dengan mengirimkan satu lembar foto grupnya. Sementara itu khusus untuk lomba mirip wajah tokoh Riau, baik pejabat, pahlawan, budayawan/seniman dan sebagainya. Peserta lomba ini juga harus mengirimkan satu lembar foto close up. Pendaftaran tidak dipungut bayaran dan boleh sebanyak-banyaknya. Juara 1-3 akan direkomendasikan PaSKI Riau untuk mengikuti audisi API 4 dan festival lawak tingkat nasional lainnya. Rencananya, pada iven tersebut, Ketua dan Sekjen PaSKI Pusat akan hadir menyaksikan bersama. Karena itu, Bens mengharapkan kepada masyarakat yang berminat untuk ikut lomba ini segera mendaftarkan diri ke sekretariat PaSKI Riau, Bandar Serai (Purna MTQ) Pekanbaru, Jalan Sudirman. Pelawak senior Riau Otong Lenon yang menjabat Ketua PaSKI Riau menyebutkan, lomba ini merupakan upaya PaSKI untuk mencari bibit-bibit pelawak handal. Apalagi di Riau dunia lawak sudah semakin marak dengan munculnya dua grup lawak ke tingkat nasional, yakni NyaNyaH dan tak lama lagi Puan. ‘’Kita akan merekomendasikan grup yang menang untuk ikut API 4 dan lomba lawak lainnya ditingkat nasional. Karena itulah, kita mengharapkan pesertanya sebanyak mungkin, agar bisa menyaring grup yang berkualitas,’’ ungkapnya mengakhiri.(fed) |
Posts Tagged ‘PASKI’
PaSKI Gelar Lomba Lawak dan Mirip Wajah Tokoh Riau
Saturday, July 1st, 2006Seniman Paski Tolak RUU Pornografi
Sunday, February 12th, 2006Oleh: Ramadhan Wibisono - detikcom
Jakarta - Pornografi dan pornoaksi selalu jadi hot. Nggak kalah hot, seniman Persatuan Komedian Indonesia (Paski) justru menolak RUU Pornografi menjadi undang-undang. Apa pasal?
“Kita sangat sulit menerima RUU ini, terutama pada substansi. Sebelumnya, substansi serupa sudah ada pada UU sejenis. Kita khawatir akan muncul masalah baru,” kata Ketua Paski Indro Warkop saat rapat dengar pendapat dengan Pansus RUU Pornografi dan Pornoaksi di Gedung MPR/DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (9/2/2006).
Indro berharap, bila UU ini harus ada, maka harus pula dibahas dengan bijak. “Jangan antam-kromong setiap goyangan dikatakan pornografi maupun pornoaksi. Kita ingin yang terbaik,” tambahnya.
Pendapat berbeda dengan Miing Bagito yang belum dapat menentukan penolakan dan persetujuannya dengan RUU ini. Ia mengaku belum membaca keseluruhan isi dari RUU tersebut. “Saya pribadi, tidak menolak ruu ini. Buat saya yang penting implementasinya,” imbuhnya.
Miing pun berharap apabila RUU ini nantinya disetujui menjadi UU, maka DPR harus dapat memaksa semua pihak untuk menerapkannya. ” Ini karena generasi muda kita sudah sangat bobrok,” tandasnya. (wiq)
Juga Terungkap Kesenjangan Ekonomi Sesama Pelawak
Tuesday, December 27th, 2005Bila 300 Pelawak se-Indonesia Bermusyawarah
Tak selamanya pelawak identik dengan humor. Dalam acara musyawarah yang dihadiri ratusan pelawak di sebuah hotel di Jakarta justru para pelawak tak kalah kritisnya dengan anggota DPR. Mereka pun antusias membentuk wadah khusus profesi komedian pertama di Indonesia.
Kamis, 21 April 2005 bisa jadi hari bersejarah bagi dunia lawak di tanah air. Betapa tidak, di hari istimewa itu sedikitnya 300 pelawak di tanah air berkumpul dan saling curhat di Kirana Room Hotel Kartika Chandra Jalan Gatot Subroto Jakarta. Mereka menggelar acara bertitel ‘Musyawarah Pelawak Indonesia (MPI)’.
Acaranya berlangsung cukup sederhana. Bahkan gaungnya kalah jauh di banding peringatan ke-50 Konferensi Asia Afrika (KAA). Akan tetapi, musyawarah kemarin merupakan momentum terbentuknya Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI), yang merupakan organisasi pertama untuk menghimpun pekerja seni tawa.
Yang terpenting lagi, musyawarah kemarin juga menjadi ajang silaturahmi pertama para praktisi dunia lawak. Mulai dari pelawak era 1970-an semisal Edi Sud dan Krisbiantoro dengan mereka yang angkatan 1980-an (Yanto Stock On You dan Abah Us Us), hingga pelawak era 1990 dan 2000-an. Mereka yang angkatan 1990-an seperti Otong Lenong, Jimmy Gideon, Harry De Fretes, Indro Warkop, Timbul, Grup Bagito, dan Grup Srimulat. Sedang yang angkatan termutakhir seperti Taufik Savalas, Kiwil, Eko Patrio, hingga peserta Audisi Pelawak Indonesia (API) di sebuah stasiun televisi swasta. Bahkan, juga dengan sebagian pelawak daerah seperi John Tralala (Banjarmasin), Pecas Dahe (Solo), Didik Nini Towok (Jogjakarta), dan sejumlah pelawak daerah lainnya.
Acara terasa kurang lengkap. Sebab, tidak dihadiri tokoh legenda yang mengklaim pertama kali membentuk grup lawak yakni Guno Susanto dari Jogjakarta. Pelawak berusia 86 tahun itu tidak hadir karena sedang sakit.
”Ini yang kita sayangkan,” kata Tarzan, Ketua Panitia MPI, ditemui di sela rehat kemarin. Guno Susanto adalah pelawak berusia 86 tahun yang mengklaim pertama kali mendirikan grup lawak di Indonesia pada 1957 saat kuliah di IKIP Jogjakarta.
Kehadiran MPI bisa dibilang juga menghapus dikotomi kalangan pelawak antara yang tradisional dan modern. Personel Bagito, Dedi ‘Miing’ Gumelar, mengaku tidak ada pengelompokan antara pelawak tradisional dan non-tradisional tetapi memang ada genre sejumlah pelawak yang mempunyai pangsa pasar masyarakat tradisional atau non-tradisional. ”Ya lewat MPI ini kita coba buktikan kalau kami (pelawak) bisa bersatu,” ujar Miing di sela acara.
Acara MPI dibuka pukul 09.30 WIB. Sejumlah tokoh di luar dunia lawak terlihat hadir seperti Agum Gumelar (mantan Menhub) dan Erman Suparno (anggota DPR). Menariknya, tak satu pun pejabat pemerintahan tidak terlihat di deretan kursi undangan VIP. Dua pejabat yang diundang yakni Menbudpar Jero Wacik dan Gubernur DKI Sutiyoso ternyata tidak hadir.
Panitia juga sengaja mendaulat pelawak Otong Lenong tampil di hadapan undangan untuk memamerkan keahliannya di bidang seni lenong. Setelah itu panitia memberikan cendera mata kepada Edi Sud atas jerih payahnya di dunia lawak khususnya di era 1970-an. Otong Lenong bisa jadi mewakili pelawak lawas yang kurang memanfaatkan ketenarannya sehingga hidup penuh ‘keterbatasan’ di hari sepi manggung.
Bahkan, Otong Lenong sekarang harus berhijrah dari Ibukota ke kampung halamannya di Pekanbaru.
Suasana acara berlangsung gayeng. Beberapa pelawak terlihat guyub membicarakan kabar dan kesibukannya masing-masing. Agenda acara diisi sejumlah materi persiapan pembentukan organisasi PaSKI beserta ketua umumnya. Miing didaulat memimpin rapat paripurna untuk membahas tata tertib persidangan. Nah, dari sesi ini para pelawak terlihat keseriusannya mengajukan argumentasi dari setiap materi tata tertib. Peserta saling menginterupsi ketika Miing menawarkan siapa yang layak duduk sebagai pimpinan sidang sementara.
”Saya interupsi. Yang paling layak memimpin sidang adalah Miing. Dia memang ahlinya karena sudah saya ajari,” ujar Derry Empat Sekawan mengawali interupsi. Hampir lima pelawak mengemukakan pendapatnya. Materi yang diajukan cukup berbobot meski sesekali disertai joke segar. Selanjutnya Mamik Slamet, personel Srimulat, mengacungkan jarinya untuk mengemukakan pendapatnya.
”Ada baiknya teman-teman bersepakat untuk menghemat waktu. Kita dibatasi waktu karena malam ini jam duabelas harus selesai,” kata Mamik yang disambut koor ’setuju’ peserta lain.
Melihat rekan-rekannya beradu argumentasi, peserta lain terlihat ikut mengamati serius. Sebagian lagi ada yang asyik berbicara sesama pelawak. Seperti Marwoto, misalnya, yang duduk di bagian belakang tampak berbincang santai dengan pelawak Untung. Demikian juga Eko Patrio yang terlihat bercengkerama dengan Akri dan Parto. Tiga personel Patrio itu memang duduk di kursi sederet. Sedang Timbul juga terus menyimak serius Miing yang memimpin rapat. Toh, bisa jadi karena tidak tahan duduk di kursi, Timbul pun duduk santai dengan kaki bersila. Timbul sesekali juga ngobrol dengan seorang lelaki teman duduknya.
Menariknya, saat jam istirahat sejumlah pelawak terlihat berdiri bergerombol sambil menyantap hidangan makan siang. Rupanya mereka sedang kasak-kusuk membicarakan pencalonan ketua umum. Sejumlah tim sukses bemanuver untuk mencari dukungan demi terpilihnya sang kandidat yang dijagokan.
Ada sejumlah kandidat yang hendak maju dalam pemilihan ketua umum PaSKI, yakni Tarzan, Miing, Indro Warkop, dan sejumlah nama beken lainnya. Bahkan, menjelang acara berlangsung, Eko Patrio disebut-sebut juga bakal maju untuk menjadi salah satu kandidat. Hingga berita ini ditulis belum diketahui siapa kandidat yang terpilih menjadi ketua umum PaSKI untuk kali pertamanya.
Tak kalah pentingnya, acara MPI juga membicarakan AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) PaSKI. Mukadimah organisasi juga dibahas. Uniknya, Mukadiman PaSKI terkesan menyadur sebagian isi pembukaan (preambule) UUD 1945. Isinya sebagai berikut,”
Didorong oleh keinginan luhur agar berkehidupan yang lebih baik maka perjuangan Seniman Komedi Indonesia telah sampai pada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa menghantarkan para seniman Komedi Indonesia kepada terbentuknya organisasi yang merdeka, bersatu, berdaulat, dan beradab.
Kemudian untuk membentuk suatu wadah yang melindungi, melestarikan, memajukan kesejahteraan serta membentuk kepribadian Seniman Komedi Indonesia yang berakhlak mulia yang berdasarkan rasa saling asah, asih, asuh, serta berkeadilan, maka diadakanlah Musyawarah para Seniman Komedi Indonesia di Jakarta….”
Dalam sidang komisi, proses pembahasan draf Mukadimah berjalan penuh keseriusan. Setiap pelawak bebas mengajukan pendapat asal tidak memaksa kehendak. Dan, sang ketua sidang komisi, Jatikusumo (personel Kuartet S), pun memimpin sidang dengan gaya khasnya yang kalem tetapi tegas mengambl keputusan. ”Saya ini dulu pelawak juga pernah jadi anggota DPR. Jadi, kalau urusan memimpin sidang komisi ya tidak kalah dengan Pak Qomar (anggota DPR dari Partai Demokrat),” ujarnya mengawali persidangan.
Di balik digelarnya MPI juga terungkap banyaknya kesenjangan ekonomi di antara kalangan pelawak. Utamanya antara pelawak yang sedang ngetop dengan pelawak lawas yang tidak ada kepastian kapan manggung lagi. Seperti kisah sedih Iwan dan Raswan (personel Grup Rajawali). Iwan mengaku sekarang hidupnya seolah berkebalikan dengan semasa dirinya jaya di era 1980-an, utamanya saat job manggung di TVRI terus mengalir. Sekarang hidupnya digantungkan dari pekerjaannya sebagai kepala sekolah.
”Saya dulu bisa mengumpulkan uang banyak. Tapi, sekarang seperti yang Anda lihat. Semua seadanya,” kata Iwan yang sekarang menjadi Kepala Sekolah di SMP Arena di Bekasi. Tapi, Iwan bisa jadi lebih beruntung.
Sebab, sebagian mantan pelawak sekarang ada yang beralih profesi menjadi tukang jual obat gatal, bahkan ada juga yang nekat dagang kakin lima. Salah satu mantan pelawak yang kurang beruntung itu adalah alm. Trubus, yang pernah mangkal dagang kaki lima di dekat kantor DPP Partai Golkar di Slipi Jakarta Barat. ”Mas Trubus dulu berjualan ikat pinggang di dagangan kaki limanya,” ujar Iwan.
Hal yang sama juga diakui Otong Lenong. Sekarng pria berubuh cebol itu beraktivitas sebagai pemilik warung nasi di Pekan Baru. ”Untuk menyalurkan lawakan, saya beruntung bisa berkiprah di televise lokal di Riau,” jelas Otong Lenong. Pelawak yang terkenal dengan logat Betawi memang asli Pekan Baru. Sebagian hidupnya di era 1990-an untuk dunia lawak, utamanya lenong. Tetapi, seiring dengan krisis moneter dan terserang sakit radang tenggorokan menahun, Otong pun pulang kampung ke Pekan Baru.
Baik Otong Lenong maupun Iwan Rajawali berharap lewat MPI, rekan-rekannya yang sedang ngetop dapat membantu untuk bisa manggung lagi.
”Ya, saya berharap mereka bisa mengangkat kami lagi,” jelas Otong. Agar tidak menghilangkan tali silaturahmi, Otong dibantu rekannya dari Pekan Baru menulis nomor telepon sejumlah pelawak terkenal di Jakarta, termasuk Taufik Savalas dan Indro Warkop.
Ajang MPI ternyata juga untuk menyusun kode etik profesi seniman komedi seluruh Indonesia. Harapannya dengan adanya kode etik ini pelawak dapat mengembangkan kreativitasnya secara sehat dan intelektual. Kode etik itu bakal diberlakukan sebagai panduan etika tampil di pentas. ”Semacam kode etik begitu. Jadi kalau ada pelawak yang ngomong porno, ngomong binatang di panggung, bisa kita tegur bareng-bareng,” kata Miing.
Pentolan grup Bagito ini mengatakan, sudah masanya seniman komedi meningkatkan kemampuan intelektualnya sehingga tidak lagi melawak dengan mengandalkan bakat alami dan mengeksploitasi anggota badan.
Menurut Miing, gaya lawakan seperti itu seharusnya diganti dengan lawakan berdasar skenario dan etika tertentu. Dengan demikian lebih mengesankan profesionalitas.
”Sekarang banyak seniman komedi yang berasal dari kampus, beda dengan seniman komedi zaman dulu yang berawal dari tobong ketoprak atau ludruk. Masa lawakannya nggak bisa lebih santun seperti almarhum S.Bagyo,” kata Miing.
Sementara itu, Ketua Panitia MPI Tarzan mengatakan pembentukan PaSKI tidak untuk mengatur rejeki individu seniman komedi. Meski demikian, salah satu sesi dalam MPI akan diselipkan presentasi konsultan keuangan yang akan mengulas manajemen keuangan dan manajemen pribadi. “Pikiran itu dilandasi kenyataan banyak pelawak yang meninggal dalam keadaan kekurangan materi. Itu akibat ketika jaya, pegang banyak uang, hobinya hanya main judi dan tidak berinvestasi untuk menyiapkan diri ketika tidak laku lagi,” katanya.
Selain itu, Tarzan mengaku sedang terobsesi mengumpulkan para pelawak di tanah air. Ide tersebut bukan sekedar ingin sekedar menyatukan para pengocok perut. Tetapi, pria yang berpostur tinggi besar itu mengaku trenyuh ketiadaan kelembagaan dunia lawak berimbas pada ketidakjelasan nasib para pelawak.
”Lain soal kalau ada lembaga khusus yang menaruh perhatian bagi para pelawak. Mungkin saja lembaga itu kelak dapat berfungsi semacam koperasi, bahkan menghimpun dana pensiun untuk pelawak,” ujarnya sambil terkekeh.
Lewat lembaga itu Tarzan ingin mengencangkan tali silaturahmi antar pelawak, baik di Jakarta maupun di pelosok daerah. ”Saya kadang kehilangan komunikasi dengan teman-teman di daerah. Mau tahu alamatnya saja sulitnya minta ampun. Padahal, kita ingin tahu agar kelak dapat melayat kalau teman kita itu meninggal (dunia),” beber Tarzan. (AGUS MUTTAQIN, Jakarta)
Pelawak bermusyawarah dirikan organisasi PASKI
Tuesday, December 27th, 2005Sejak Paguyuban Pelawak Indonesia yang diketuai S Bagyo (almarhum) di tahun 80-an vakum, para pelawak merasa perlu memiliki institusi lagi. “Atas dasar keinginan teman-teman pelawak, rencana yang digagas sejak tahun 2000 ini akan segera terealisir. Sudah 70 persen persiapannya,” kata Tarzan, yang didampingi beberapa rekannya sesama pelawak seperti Indro Warkop, Komar dan Derry, Miing dan Didin, Us Us, dan lain-lain.
Gagasan mendirikan organisasi pelawak, kata Tarzan yang ditunjuk sebagai Ketua Panitia Musyarawah Pelawak ke-I dilandasi kenyataan, selama ini pelawak tidak memiliki wadah serta makin jarang berkomunikasi. “Selain itu, pelawak seringkali dibedakan dari artis. Sehingga, diperlukan wadah bagi kelompok seniman pelawak di Indonesia,” kata Tarzan.
Indro Warkop selaku Ketua Tim Perumus mengatakan, semangat mendirikan organisasi pelawak bukan untuk melawak. “Kalau organisasi yang melawak, kita sudah diwakili pejabat-pejabat. Sedangkan kita di sini mendirikan organisasi profesi komedian,” kata Indro.
Tentang munculnya skeptisme sejumlah pihak, yang melihat kenyataan sejumlah organisasi profesi di dunia hiburan yang stagnan, Indro mengatakan, organisasi pelawak berbeda dengan organisasi artis lain — seperti Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi), Persatuan Artis Indonesia (Parsi), Starina, Gabungan Artis Nasional (GAN) dan lain-lain — dalam konsep dan programnya.
“Organisasi ini merupakan wadah seniman komedi bukan pelawak. Karena seniman komedi itu lebih luas cakupannya yakni mereka yang bekerja pada bidang komedi. Jadi, penulis naskah, sutradara, atau siapapun yang berjiwa komedi kecuali politisi lucu, bisa menjadi anggota organisasi ini. Dan, kami sengaja tidak menentukan batasan tentang komedian,” kata Indro, seraya mengatakan dalam pelaksanaannya PASKI akan menggunakan jasa profesional untuk mengelolanya.
Sementara itu, Dedi ‘Miing’ Gumelar, yang disebut-sebut sebagai penggagas didirikannya organisasi pelawak ini mengatakan, organisasi pelawak harus berjalan. “Memang, perlu keberanian untuk memulai,” kata Miing, yang menggagas didirikannya organisasi ini pada tahun 2000. Miing sempat dicurigai akan menjadikan organisasi ini sebagai kendaraan politiknya.
Saat ini, menurut Miing, PASKI sudah memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Khusus pemilihan calon ketua, ada beberapa kriteria antara lain; memiliki self management yang baik, leadership, network dan bukan anggota organisasi kepartaian. “Karena PASKI bukan organisasi partisan,” kata Miing.
Musyawarah Pelawak Indonesia Ke-I akan diselenggarakan 21 April 2005 mendatang di Kirana Room Hotel Kartika Chandra, Jakarta mulai pukul 09.00-23.00 WIB.
“Sedikitnya kami mengantongi sekitar 200-an komedian yang berasal dari seluruh daerah di Indonesia.
Direncanakan juga, pejabat yang akan membuka musyawarah nanti adalah Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik serta ditutup oleh Gubernur DKI Sutiyoso.
“Tetapi, kalaupun pejabat negara tak datang, musyawarah tetap diadakan. Karena organisasi PASKI bersifat independen,” kata Miing.
Pelawak yang anggota Komisi X DPR, Komar berharap PASKI bisa membina pelawak agar tidak mengangkat materi berbau porno di dalam lawakannya. (mam)
Indro Warkop Didaulat Jadi Ketua Paski
Tuesday, December 27th, 2005
|
|||
|
“Saya terharu dengan dukungan teman-teman pelawak. Saya berkomitmen untuk melaksanakan seluruh keputusan musyarawah ini,”ujar satu-satunya personil Warkop DKI yang masih tersisa ini.
|
|||
|
Sebelum resmi terpilih sebagai ketua umum, Indro juga harus bersaing dengan beberapa kandidat lainnya yaitu Dedi “Miing” Gumelar, Tarsan, Eko Patrio, dan Qomar. Tapi kemudian 3 orang diantara mereka, Tarsan, Miing dan Eko mengundurkan diri. Indro menang telak dari Qomar dengan 137 suara, sementara Qomar hanya 67 suara.
|
|||
|
Indro berharap melalui PASKI, masalah kesejahteraan pelawak di masa tua nanti bisa jad ilebih terjamin. Banyak kasus di mana sejumlah pelawak tua yang mudanya sukses dan kaya, tetapi masa tuanya mengalami kesulitan ekonomi. “Kita ingin perjuangkan masalah kesejahteraan para pelawak, khususnya mereka yang sudah pada sepuh dan pensiun,” jelas penggemar fanatik Harley Davidson ini. |
|||
|
