Posts Tagged ‘Artikel’

Tawa

Friday, November 21st, 2008
Sumber: Catatan Pinggir | Majalah Tempo | Edisi 35/XXXVII 20 Oktober 2008

Oleh: Goenawan Mohammad

Kau menyukai lelucon dan aku menyukai tertawa. Justru ketika kita menyadari, dengan sedikit sakit, harapan yang sulit dipenuhi, impian yang rasanya mustahil. Tampaknya lawak bisa juga sebuah tanda murung. Atau ketakmampuan mencapai. Atau kesia-siaan.
(more…)

Ngupil

Tuesday, November 4th, 2008

Oleh: Jimmy Jeniarto*

Setiap orang pernah melakukan aktivitas uthik-uthik upil alias ngupil, yakni membersihkan kotoran di lubang hidung dengan menggunakan jari tangan. Ketika di dalam hidung terasa risi, maka jari tangan segera dimasukkan untuk mengkorek-korek sesuatu yang membuat risi lubang hidung tersebut. Sambil cengar-cengir, aktivitas uthik-uthik upil pun segera kemudian asyik dinikmati. (more…)

Korap Cak!*

Friday, May 30th, 2008

Oleh: Adrozen Ahmad

Namanya Bintang Maulana Zakariya. Usianya baru 14 tahun tapi sudah ‘menjabat’ sebagai penerbit sekaligus penulis media Korap Cak! alias ‘Korane Wong Sarap’—kata ‘Cak’ dimaksudkan sebagai kata panggilan akrab bagi orang Jawa Timur.

Koran yang baru terbit dua edisi ini adalah kreasi murid kelas dua Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Malang. Ditulis tangan di atas kertas folio bekas, di tengahnya diberi tagline berbunyi ‘Selalu Ada yang Lama’ dengan mencantumkan label harga Rp. 1.000. Dicetak 12 halaman dengan oplah tergantung sisa kertas kerja ayahnya, Khoirul Abadi, dosen Universitas Muhammadiyah Malang.

Sistem rubrikasinya juga tak kalah sophisticated dengan media cetak beneran. Beberapa di antaranya ada rubrik sastra dan olahraga.

Yang menarik lagi adalah isinya; reportase imajiner khas anak kreatif. Untuk ilustrasi fotonya digunting begitu saja dari koran atau majalah atau membikin sendiri karikatur atau komik—lantas dikasih judul, caption dan content sesuka hatinya.

Dalam rubrik olahraga misalnya, sebuah foto guntingan bergambar mobil balap Ferrari dikasih judul ”Lho.. Ferrari Kok Ngadat Ya?”. Kemudian di kolom beritanya ditulis, ‘Felippe Massa, pembalap Ferrari, merasa dirinya goblok lantaran mobilnya ngadat saat bertanding. ”My car is very bad,” ungkap Felippe saat ditemui tim Korap Cak! di Australia kemarin..”

Selanjutnya, coba tebak apa yang ada di rubrik sastra; plesetan sejumlah peribahasa. Misalnya: “Air susu dibalas dengan air mail”, “Ma’lu bertanya Ma’gue yang jawab”, “Nasir sudah menjadi tukang bubur,” dan lain sebagainya.

Itu belum apa-apa. Korap Cak! juga memiliki space untuk iklan yang tak kalah kocak. Misalnya, gambar Mak Erot digunting dan teksnya diganti. “Awas! Mak Erot ‘tembakan’. Cari Mak Erot asli.”

Tidak berhenti sampai di situ. Selain Korap Cak! Bintang juga bikin pamflet dan poster dari kalender bekas. Inilah penyebab dia diadukan ke Kepolisian karena pamflet bikinan Bintang dianggap mencemarkan nama baik sebuah Yayasan Pendidikan dan anak salah seorang pengelola Yayasan tersebut. Padahal Bintang terhitung masih di bawah umur, apakah hukum bisa menjangkaunya?

Terlepas dari masalah hukum dan personal affair (jika ada) di antara kedua pihak, inilah apa yang diperdebatkan Henri Bergson dan beberapa analis komedi—salah satunya adalah Earl Shaftesbury, tentang pertanyaan kunci mengenai humor. Bergson mengajukan gagasan bahwa yang inti adalah ’Apa yang menyebabkan seorang individu tertawa?’** sedangkan Shaftesbury bertanya sebaliknya, ’Apa efek sosial dari lelucon?’***

Dalam konteks Bintang dan Korap Cak!-nya perdebatan kedua kubu ini relevan. Bintang memandang lelucon dari sudut pandang Bergson bahwa ia akan mendapatkan efek dari lelucon dengan koran mini usil dan pamflet sederhana bikinannya yang ditempel pada dinding bangunan Yayasan tersebut.

Sementara pihak Yayasan penggugat keluarga Bintang melihat dari sudut pandang Shaftesbury, bahwa lelucon bikinan Bintang bisa mengakibatkan rusaknya nama baik Yayasan dan keluarga penggugat—sebagai efek dari lelucon bikinan Bintang.

Tapi apapun itu, bagi saya bintang adalah anak yang cerdas. Bahkan almarhum Romo Mangun punya istilah yang lebih tepat untuk anak macam dia yaitu, ‘nakal’ alias banyak akal.**** ‘Nakal’ karena komentar-komentar dalam koran mininya, dan banyak akal karena produktivitas dan kreativitasnya dalam berkarya.

Kalau saya punya institusi yang bisa kasih penghargaan untuk Bintang, akan saya beri dia penghargaan Komedian Award 2008 untuk kategori kreator media cilik.

*Cerita tentang Bintang dan Korap Cak!-nya ini merupakan Laporan dalam rubrik Hukum Majalah Tempo edisi 26 Mei-1 Juni 2008 hal. 48 dengan judul Pencemaran Nama Baik; Poster Usil Koran Folio. Disunting sebagian oleh penulis dengan mengubah teks seperlunya.

**Henri Bergson, Laughter; An Essay on The Meaning of Comic, terj. Cloudesley Brereton and Fred Rothwell, 2003.

***Michael Billig, Laughter and Ridicule; Toward a Social Critique of Humour, 2005.

****YB. Mangunwijaya, Impian dari Yogyakarta, 2003.

Gemuk

Wednesday, May 28th, 2008

Oleh: Adrozen Ahmad

Tuhan menciptakan manusia dalam wujud yang berbeda-beda, salah satunya adalah tubuh gemuk. Jika orang bule menyebutnya fat maka teman-teman sekampung saya menamakannya gembrot.

Barangkali karena dianggap melawan mainstream terkadang orang yang merasa bertubuh ’ideal’ menjadikan mereka bahan tertawaan dengan memberi julukan bermacam-macam. Seorang di antara ‘korban’nya adalah teman saya.

Oleh sebab tubuhnya yang gemuk besar dan warna kulitnya yang juga agak gelap ia sering dipanggil dengan sebutan ’Jin Botol’, barangkali yang dimaksud adalah Jin-nya Aladdin yang keluar dari lampu wasiat. Terkadang dengan sebutan itu cletukan nakal dari mulut-mulut kurang bertanggungjawab menyeruak seperti, “Hei, jangan gosok botolnya terlalu keras dong, ntar dia keluar, lho!” Atau sambil menggoda seorang teman wanita yang bertubuh kurus di sebelahnya, teman yang lain berkomentar, “Mbak, badannya krempeng bener, minta dikit gih dari perut dia,” begitu seterusnya.

Syukur kawan saya cukup bijak. Kalau amarahnya meluap bisa jadi bukan hanya jin botol, jin sumur pun pasti akan ia undang. ”Orang berlebih memang punya kesabaran berlebih, sobat,” kilahnya.

Mungkin lain ceritanya bila teman tersebut adalah perempuan. Kebetulan saya juga punya seorang teman perempuan berbadan gemuk yang selalu risau kalau dipanggil Gendut. Tapi saat saya tanya apakah dia tidak punya niat menurunkan berat badan dengan spontan dia menjawab, “Emang enak terus-terusan nahan lapar?”

Grup musik Dewa 19 mengatakan hidup adalah perjuangan, begitu pula menurunkan berat badan. Saya punya seorang teman perempuan lain yang pola makannya ngirit bukan kepalang. Saya salut karena itu berat. Tapi kalau keterusan juga tidak baik, bisa-bisa dibelai angin sepoi-sepoi sedikit saja sudah kena masuk angin. ”Benar bung, tubuh terlalu ramping itu tidak enak. Seperti kata Chairil Anwar, tinggal tulang-tulang yang diliputi baju,” kata seorang kawan memlesetkan puisi Karawang-Bekasi.

Kelihatannya memang tak jauh beda dari guyonan yang laku keras di kalangan kawan-kawan saya. Dalam dunia lawak kita pun tubuh atau salah satu anggota tubuh yang ’nyleneh’ masih menjadi jurus andalan untuk dijadikan bahan tertawaan.

Saya jadi teringat tulisan Darminto M. Sudarmo dalam bukunya Anatomi Lelucon di Indonesia. Dia menuliskan kegelisahan seorang Wimar Witoelar mengenai dunia komedi Nusantara bahwa selama ini content lawak kita berkutat seputar badut-badutan semata. Tidak percaya? Lihat saja di TV. Bukan hanya masalah berat badan. Tapi hal-hal fisik lain seperti mulut tonggos, kepala botak, kaki pincang, hidung bengkok, atau bagian tubuh ’tak lazim’ lain masih menjadi komoditi laris untuk ditertawakan.

Masih terngiang petuah salah seorang kawan yang dosen komunikasi. Dia bilang bahwa dalam dunia iklan, selama banyak iklan yang content-nya masih memunculkan produk itu sendiri, selama itu pula pangsa pasar yang mereka bidik bukan termasuk kalangan terdidik. Oh. Saya mengelus dada. Apakah dalam dunia komedi juga berlaku hukum yang sama.

Ah, Tuhan benar-benar menciptakan manusia dalam wujud yang berbeda-beda.

Maulana Nasruddin, Sufi Pelawak Sejuta Umat

Thursday, August 30th, 2007

Oleh: Adrozen Ahmad*

Syahdan, di keheningan malam saat Maulana Nasruddin sedang khusuk berdzikir di rumahnya ia mendengar seseorang masuk. Tanpa mengetuk pintu atau pun berulu’ salam, pastilah orang tersebut tidak sedang berniat untuk bertamu secara baik-baik.

Maulana Nasruddin pun waspada. Namun bukannya mengambil barang keras atau benda tumpul sebagai senjata, ia malah menyembunyikan diri di balik tembok. Lantas sambil menengadahkan tangan ke atas—dengan segenap rasa malu yang tersisa—kepada Tuhan ia berdo’a.

Kurang lebih do’anya berbunyi seperti ini, “Oh Tuhan Sang Penguasa Alam Semesta, Yang Maha Kaya dan Berkelimpahan. Mohon ampuni hambamu yang miskin dan hina dina ini. Hamba malu karena tak satu pun dari harta hamba yang berharga dan layak untuk dipergunakan oleh hambaMu yang sedang memerlukannya.”

Tentu saja banyak distorsi dalam sekelumit cerita di atas. Karena sebagaimana kisah-kisah tentang Maulana Nasruddin lainnya, baik yang tersampaikan dari mulut ke mulut ataupun yang tersebar di banyak milis humor—bahkan yang telah banyak dibukukan sekalipun—sulit dibuktikan keasliannya sebagai murni cerita mengenai sang Sufi tersebut.

Alih-alih ingin membuktikan keaslian cerita, di mana dia lahir, masa hidup hingga akhir hayat sang Sufi kocak ini saja tidak banyak orang tahu. Seolah kehidupan pribadinya lebur ke dalam sekian ratus atau bahkan mungkin sekian ribu kisah kocak mengenai dirinya yang dari tahun ke tahun seperti tiada hentinya direproduksi.

Dalam Wikipedia berbahasa Inggris tercatat bahwa Nasruddin hidup pada era abad pertengahan (sekitar abad ke-13 Masehi) di suatu tempat di Khorasan (sekarang daerah Iran bagian utara). Sedangkan menurut versi Turki, Nasruddin lahir di desa Hortu di Sivrihisar, Eskisehir pada abad yang sama. Menetap di Aksehir, Konya hingga akhir hayatnya. Selain versi Turki tersebut sebenarnya masih banyak lagi versi lain. Akan tetapi oleh beberapa kalangan masih banyak diragukan kebenarannya.

Keragaman versi mengenai asal muasal dan masa hidup sufi pelawak ini menunjukkan betapa luas ia dikenal. Saking populernya sampai-sampai banyak bangsa yang mengklaim Nasruddin sebagai warga kebangsaan mereka. Antara lain Arab, Persia, Turki, dan Uzbekistan. Maka tidak heran jika nama ‘Nasruddin’ seolah berubah-ubah sesuai dengan bahasa setempat di mana dia pernah dikenal.

Hal ini bisa dipahami karena Nasruddin adalah salah seorang filsuf populis dan seorang bijak. Ia dikenal karena anekdot-anekdotnya yang banyak memasukkan persoalan sehari-hari sebagai bahan leluconnya. Bahkan di China dia juga dikenal dengan sebutan Afanti, seorang pahlawan rakyat jelata dari Uyghurs (istilah China untuk orang Turki).

Kiranya kepopuleran Nasruddin dalam dunia komedi masih belum tertandingi khususnya di wilayah Asia hingga sekarang. Barangkali ia termasuk dalam kategori komedian yang telah menjadikan humor sebagai weltanchauung atau filosofi hidup seperti yang Wittgenstein bilang bahwa “Humor ist keine Stimmung, sondern eine Weltanschauung” (Humor bukanlah soal perasaan tapi soal filosofi hidup-pen).

Pemosisian humor sebagai filosofi hidup itulah kiranya yang menjadikan kehidupan Nasruddin penuh dengan kekonyolan yang kerap mengundang senyum bahkan tawa. Namun penting sekali diingat bahwa aroma humor dalam kisah-kisah tersebut bukan asal lucu. Tapi senantiasa syarat akan pesan moral dan pelajaran berharga bagi siapapun yang mau memperhatikannya.

Lebih dari itu, dia adalah sufi yang mengajarkan nilai-nilai kesufian melalui humor sebagaimana Jalaluddin Rumi mengajarkan kesufian dalam bentuk sajak-sajak. Bahkan pada zaman setelahnya cerita-cerita tentang Nasruddin menjadi salah satu pelajaran yang diajarkan pada murid-murid di kalangan kaum sufi. Di Indonesia, kisah-kisah tentang Nasruddin juga banyak bertebaran di kalangan pesantren yang laris manis bak kacang goreng sebagai bahan obrolan di antara para santri.

Memang, citra diri Nasruddin yang tergambar secara eksplisit maupun implisit dalam kisah-kisah kocaknya senantiasa tidak jauh dari citra dungu, miskin dan terbelakang. Dan tentu saja dia sendiri tidak mau repot-repot untuk ambil peduli terhadap citra yang orang lekatkan pada dirinya.

Justru pada tataran itulah menunjukkan pada sisi mana dia berpihak. Hal ini tampak pada citra diri Nasruddin yang juga dikenal sebagai simbol komedian satiris Timur Tengah yang tidak takut berhadapan dengan kekuatan rezim pemerintahan tirani pada zamannya.

Begitulah. Seperti apapun citra yang dunia lekatkan pada dirinya, Nasruddin tetaplah sebuah fenomena luar biasa dalam dunia komedi sufi. Hingga sekarang pengaruhnya masih kuat terasa. Kisah-kisah lucunya bahkan masih dapat kita temui di sekitar kita dan seolah seperti tak lekang dimakan zaman.

Ia adalah citra dunia itu sendiri. Kadang rasional kadang irrasional. Kadang aneh kadang normal. Kadang bodoh kadang cerdik. Kadang dangkal kadang mendalam. Sederhananya dia adalah seorang yang tidak mudah ditebak.

Kisah-kisahnya juga memunculkan kesan bahwa tidak ada yang sempurna dalam diri manusia. Yang sempurna hanya Tuhan semata. Hal ini tentu saja berseberangan dengan konsep Insan al-Kamil (Manusia seutuhnya) milik ibn al-Arabi yang menyatakan bahwa manusia akan menjadi sempurna jika dia sudah wahdat al-wujud (bersatu dengan Tuhannya).

Satu hal lagi yang menambah keunikan pada dirinya. Yaitu dia mampu menyampaikan persoalan rumit dalam bahasa sederhana dan kocak pula. Salah seorang figur komedian yang diharapkan muncul di tengah badai masalah yang sedang melanda negeri kita.***

*Adrozen Ahmad adalah Direktur Program Jojoncenter, mahasiswa Filsafat UGM.